Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXVI / B

Bil 11:25-29  Yak 5:1-6  Mrk 9:38-43.45.47-48

PENGANTAR
Kita sebagai  umat Allah  berhimpun  bersama  untuk   mendengarkan sabda Allah dalam diri Yesus Kristus. Isi pokok ketiga bacaan hari ini, yakni Kitab Bilangan, Surat Yakobus dan Injil Markus, mengajak kita untuk bersedia menyelenggarakan suatu kritik diri, otokritik atau mawas diri dengan rendah  hati, agar kita sungguh pantas menerima Kristus dalam Ekaristi


HOMILI   

      Sangat  menyolok, bahwa  Markus dalam   Injilnya yang  sama, yakni dalam  Bab 9 berceritera tentang peristiwa yang mengagumkan. Dalam ayat 14-29 dikisahkan bahwa murid-murid Yesus tidak berhasil mengusir setan dari seorang anak. Tetapi sebaliknya dalam Injilnya hari ini, dalam ayat 38-40, Markus menulis bahwa ada seorang yang bukan murid Yesus, namun berhasil mengusir setan.       
      Reaksi murid-murid Yesus untuk melarangnya bisa dimengerti, yaitu bahwa  seseorang yang bukan pengikut-Nya namun dapat mengusir setan! Kenyataannya Yesus tidak memperbolehkan murid-muridNya untuk melarangnya! Dengan tegas Yesus berkata: “Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita!” (ay. 40).

      Mendengar ucapan Yesus itu timbullah pertanyaan dalam hati kita: “Di manakah kesalahan murid-murid Yesus?” Atau secara lebih positif: “Bagaimana sebenarnya ajaran Yesus, bila kita ingin menjadi murid-Nya yang sejati?”.
      Ketika mereka bertanya: “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?”, Yesus menjawab: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (ay.28-29). Ternyata pendirian dan sikap yang dimiliki murid-murid Yesus dalam melakukan perbuatan mereka, tidak seperti diajarkan dan diteladani oleh Yesus Guru mereka! Keberhasilan orang yang bukan murid Yesus, namun ternyata mampu mengusir roh jahat, dilihat dan dirasakan oleh murid-murid Yesus sebagai bahaya atau ancaman bagi “status resmi mereka sebagai murid Yesus”.

      Ternyata   status kedudukan, pangkat, jabatan   atau apapun bentuknya, yang dimiliki seseorang bukanlah otomatis  merupakan jaminan atau tanda  kesung-guhan keberhasilannya. Sikap murni, jujur, tidak mementingkan diri sendiri dalam melaksanakan tugas, itulah yang ingin disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya. Bukan status kedudukannya! Setiap orang, siapapun, baik resmi sebagai murid Yesus, maupun yang tidak mengenal Yesus, bila ia bersikap dan berbuat seperti dilakukan oleh Yesus, maka ia sungguh berpihak pada Yesus. “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita”,tegas-Nya! Memiliki status apapun, harus dilengkapi dengan sikap kasih dan kelembutan hati. Yesus tidak marah dan tidak menghalangi apabila ada orang yang memang bukan  murid-Nya, namun dalam  kenyataan dapat mengusir setan atau berbuat baik. “Sesungguhnya, siapa saja memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah Pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan ganjarannya” (ay.41).

      Ternyata   untuk sungguh  dapat berpihak pada Yesus, dibutuhkan kritik diri, otokritik atau mawas diri. Yesus mengajak murid-muird-Nya mawas diri dalam gaya hidup dan pelayanan atau tugas mereka. Yesus memang berbicara dengan bahasa semit yahudi harian yang kasar, untuk menegaskan sikap-Nya terhadap orang-orang yang menjadi batu sandungan bagi sesama, khususnya bagi anak-anak. Namun dibalik bahasa kasar itu Yesus ingin mengajak setiap orang untuk membebaskan diri dari kasih egosentris. Kasih diri ini begitu kuat, sehingga hanya berputar  mengelilingi dirinya sendiri. Sampai kasih kepada Allah dan sesama tak lagi diperhatikan.
      Sifat manusia egosentris   sangat mendalam  inilah yang diibaratkan oleh Yesus sebagai tangan, kaki dan matanya, yang harus dipenggal dan dicukil, untuk menyelamatkan tubuhnya supaya tetap sungguh sehat. Namun, Yesus bukan mengharuskan mengadakan multilasi secara medis. Ia hanya ingin agar kita memenggal atau menjauhkan kita dari egoisme terhadap sesama kita.

      Kita sebagai orang yang secara  resmi adalah kristiani, sebagai orang yang telah dibaptis dalam Kristus,  harus berani mengadakan mawas diri. Agama kita sendiri adalah agama yang benar dan baik. Namun kenyataan bahwa kita memeluk agama yang benar, bukanlah dengan sendirinya  kita adalah orang kristiani yang baik. Seperti dahulu murid-murid Yesus menganggap dirinya mampu berbuat segalanya, karena merasa memiliki status resmi sebagai “murid Yesus”, ternyata mereka tidak mampu mengusir roh, dan iri hati bahwa ada orang lain yang bukan murid Yesus, namun berhasil melakukannya. Bahkan ketika Yesus diadili pun, murid-murid-Nya melarikan diri. Dan di Kalfari ketika Yesus disalib di Golgota ,  murid-muird-Nya tidak menampakkan diri kecuali Yohanes!

      Yesus bersabda: “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”(Mat 11:29). Para Santo dan Santa selalu berdoa mohon dan menghayati kerendahan hati dalam hidup mereka. Banyak orang sekarang ini hidup dalam masyarakat dan tata budaya, yang menaikkan promosi diri untuk sukses, keberhasilan, kompetisi, popularitas dan banyak kehebatan lain. Apakahkah kerendahan hati yang diajarkan Yesus menghambat segala kemajuan? Apakah ajaran Kristus menghambat kemajuan zaman kita untuk semakin berkembang? Bagaimana kita harus memegang keseimbangan antara kerendahan hati dan kemajuan sukses di zaman ini?  Haruskah kita mengorbankan salah satu di antara kedua hal itu, yaitu kerendahan hati kristiani atau kebesaran diri? Apakah kerendahan hati bertentangan dengan keluhuran kristiani? Namun, Yesus  adalah seorang pemimpin sejati yang adil, jujur, rendah hati dan mahakasih! Dialah teladan hidup kita yang paling benar!

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/