Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA IV/B/2018

Ul 18:15-20; Kor 7:32-35; Mark 1:21-28;

PENGANTAR
    Injil Minggu Markus yang lalu berceritera tentang Yesus yang memanggil murid-murid-Nya untuk mengikuti Dia (Mark 1:14-20). Hari ini Injilnya memperlihatkan bagaimana Yesus menghadapi atau berkonfrontasi dengan setan dengan otoritas sabda-Nya (Mark 1:21-28). Pesan Injil hari ini ialah, kita dipanggil berada bersama dengan Yesus, dan bersama Yesus melaksanakan tugas kenabian kepada masyarakat dalam hidup kita sehari-hari, di manapun, kapanpun, bagaimanapun, masing-masing sesuai dengan kedudukan dan tugasnya.

HOMILI
    Markus pada Injilnya bercerita bagaimana Yesus berbicara "sebagai orang yang berkuasa" atau Ia berbicara dengan otoritas. Dan dengan kuasa atau otoritas-Nya itu Ia mengusir setan, sebagai lambang segala macam kejahatan ("yang jahat"). Dengan demikian dengan kata-kata atau gajaran-Nya Ia mengajak kita untuk mengubah hati kita, berpikir, bersikap dan berbuat secara lain, secara baru, dalam hidup kita dan berpegangan Injil sebagai kabar gembira. Seperti kita dengar dalam Bacaan I (Ul 18:15-20) maupun dalam Injil (Mark 1:21-28) kita berhadapan dengan otoritas orang-orang yang menyampaikan sabda Allah. Para nabi berbicara benar dan otentik, sebab Allah menampatkan sabda-Nya dalam mulut para nabi-Nya itu.

    Musa dalam Bac.I mengatakan, bahwa Allah akan membangkitkan se-rang nabi yang akan menyampaikan firman Allah. Nabi itu adalah Yesus dari Nasaret, yang di Kaparnaum berbicara dan menyampaikan ajaran-Nya dengan otoritas. Yesus berbicara dengan otoritas, karena Ia adalah Sabda Allah yang hidup. Kita sebagai murid-murid-Nya yang telah dibaptis adalah saksi-saksi-Nya, bahwa Yesus adalah Sabda Allah yang hidup. Kita tidak dapat mewartakan sabda Allah dengan otoritas kita sendiri, yang memang tidak kita miliki. Kita harus mewartakan sabda-Nya dengan otoritas-Nya, bukan dengan otoritas kita sendiri.

    Sebagai anggota Gereja, atas dasar sakramen baptis dan sakramen krisma/penguatan kita mempunyai peran sebagai nabi, atau tugas kenabian. Dengan demikian segenap hidup kita harus merupakan cermin hidup Yesus atau didengarkan sebagai gema Sabda Allah, baik dalam kata maupun perbuatan. Pewartaan kita ialah hidup kita. Para nabi adalah tokoh-tokoh yang menentang "status quo" keadaan orang yang hidup berlawanan dengan kehendak Allah, bahkan dan terutama menentang raja-raja, imam-imam dan nabi-nabi palsu. Mereka ini sebagai pemerintah yang berkuasa atau sebagai pemimpin keagamaan justru menggunakan kedudukan mereka untuk menindas rakyat jelata, kaum janda dan yatim piatu. Yesus melakukan tugas kenabian ini dalam situasi masyarakat di mana Ia hidup.

    Orang-orang kecil dalam masyarakat Yesus itu merupakan korban orang-orang, kelompok atau institut yang hidup dan berbuat dengan kekuatan "yang jahat", setan, roh jahat, dan telah mengubah sikap dan semangat hidup mereka, yang total berentangan dengan kehendak Allah. Egoisme dalam segala bentuk. Nah, itulah yang dipupuk dan diperkuat dan digunakan oleh roh jahat atau setan. Dengan latar belakang inilah Yesus sambil mewartakan kabar gembira (Injil) sekaligus juga mengusir dan me-nyingkirkan setan, roh jahat yang mencengkeram hati orang banyak.

    Sekarang ini, duapuluh abad kemudian, juga di tanah air sendiri pun roh-roh jahat itu berkeliaran di mana-mana, seperti di alami oleh Yesus dalam zaman-Nya. Tokoh-tokoh pemerintahan, wakil-wakil resmi rakyat, kelompok-kelompok keagamaan yang bersifat fanatik dan fundamentalis, masing-masing di tempat tugas mereka, mereka itulah yang sadar atau tidak sadar dikuasai dan dipengaruhi roh jahat.

    Menghadapi situasi dan kondisi serupa itulah Yesus tampil menawarkan ajaran murni, kabar gembira, Sabda Allah yang otentik. Sebagai Almasih Yesus tampil dan berbicara dengan otoritas, dan kuasa mengusir setan. Apa yang dilakukan para Nabi dalam Perjanjian Lama, dilakukan oleh Yesus, namun dengan kuasa khusus sebagai Almasih. Para rasul meneruskan perutusan Kristus itu. Tetapi sekarangpun segenap murid-murid-Nya, yaitu semua orang yang sudah dibaptis harus mengambil bagian perutusan pewartaan sabda Allah itu.

    Kita, umat kristiani, bila ingin menjadi orang kristiani sejati harus mau dan bersedia ikut mewartakan sabda Allah/Injil yang otentik (bukan karangan atau pendapat pribadi!), dan ikut mengusir roh jahat dengan doa yang sungguh-sungguh dan mendalam, dan disertai kesaksian hidup kristiani sehari-hari yang otentik. Artinya berpegangan pada iman kristiani, dalam hidup sehari-hari kita harus ada kesatuan/kesamaan antara pikiran, sikap dan perbuatan sebagai orang katolik sejati.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/