Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA IV/C/2019

Yer 1:4-5.17-19; 1 Kor 12:31-13:13; Luk 4:21-30;

PENGANTAR
    Dalam Bacaan pertama Yeremia tampil sebagai seorang nabi, yang terus terang menunjukkan keadaan buruk masyarakat di zamannya. Tetapi sekaligus ia mewartakan harapannya agar masyarakatnya itu akan diselamatkan. Nabi ini harus menanggung risiko kata-kata dan perbuatannya : ia ditentang, menderita dan mati dibunuh. Nasib yang sama dialami oleh Yesus. Yesus adalah juga seorang nabi namun sekaligus sebagai Penyelamat yang mewartakan dan melaksanakan keselamatan umat manusia. Namun harus juga menempuh jalan salib sebelum Ia akhirnya menerima kemuliaan kebangkitan-Nya. Karena itu tidak mengherankan, bahwa ketika Yesus bertanya kepada orang banyak siapakah diri-Nya itu sebenarnya, Ia mendengar beberapa jawaban : Engkau adalah Yohanes Pembaptis, atau Nabi Elias atau Nabi Yeremia. Marilah kita mendengarkan,menerima dan merenungkan sabda Tuhan tentang diri-Nya dengan hati terbuka.

HOMILI
    Pada waktu tampil di rumah ibadat di Nasaret, tempat asal-Nya, Yesus membacakan kitab Nabi Yesaya tentang seorang tokoh yang diurapi Allah dan diutus-Nya untuk membawa keselamatan umat manusia. Dan pada kesempatan itu Yesus berkata, bahwa diri-Nyalah utusan yang dimaksudkan itu! Ternyata orang-orang sekampung di Nasaret heran, bagaimana Ia dapat menyampaikan pernyataan tentang diri-Nya itu kepada mereka. Bukankah Dia itu orang dari Nasaret, si anak Yusuf? Yesus tahu, bahwa mereka ingin supaya Ia juga dapat melakukan hal-hal luarbiasa seperti dilakukan-Nya di Kapernaum. Tetapi Yesus tidak mau, dan Ia menegaskan : "Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya". Artinya, Yesus menolak sikap dasar setiap orang siapapun juga, yang hanya menginginkan kepentingan dirinya sendiri! Karena itu Yesus menunjuk tokoh Nabi Elia dan Nabi Elisa, yang ternyata tidak menolong orang-orang sedaerah mereka masing-masing, melainkan justru menolong orang asing. Kedua nabi itu tidak melayani orang-orang sebangsa mereka sendiri, sebab mereka tidak menghargai tugas kenabian nabi-nabi mereka sendiri itu.

    Orang-orang Nasaret juga tidak mau menerima Yesus sebagai seorang nabi yang dapat dipercaya, sebab Yesus termasuk keluarga golongan rendah. Ia hanya dari keluarga tukang kayu, orang biasa, bukan termasuk orang besar atau orang penting. Dan karena mereka bersikap tidak mau menerima diri Yesus sebagai nabi, maka Yesus tidak mau pula berbuat apapun di Nasaret. Maka ketika mendengar kata-kata Yesus itu, mereka marah dan mau menyingkirkan Dia.

    Bukankah keadaan semacam itulah yang juga sering kita alami sendiri? Seperti yang dapat terjadi di dalam keluarga, di dalam lingkungan tetangga atau kalangan rekan kerja ataupun dalam masyarakat luas? Latar belakang ketegangan itu adalah egoisme ataupun keinginan akan kepentingan diri sendiri. Orang-orang semacam itu memiliki atau mempunyai sikap posesif. Suatu pendapat dan sikap dasar, entah benar atau tidak benar, dianggap mutlak dan tak terubahkan. Apabila nafsu memiliki (sifat posesif) itu tidak terpenuhi, maka timbullah suatu reaksi untuk melawan, bahkan cenderung untuk bersikap dan berbuat kasar terhadap sesama. Kerapkali latar belakang peristiwa kekerasan yang sering terjadi itu adalah sikap dasar posesif, nafsu ingin memiliki, rasa cemburu dan iri hati.

    Injil Lukas hari ini memperlihatkan kepada kita tokoh diri Yesus sebagai seorang pribadi yang lembut dan murah hati. Pandangan-Nya yang luas, dan jiwa-Nya yang agung. Tetapi seperti orang-orang di Nasaret yang dihadapi Yesus, bukankah dalam diri kitapun ada iri hati dan kepentingan diri sendiri serta sifat posesif? Seperti orang-orang sezaman dengan Yesus, kita sekarang inipun tidak atau belum mampu untuk melihat kesucian Yesus justru sebagai manusia yang sabar. Terutama sifat taat-Nya kepada kehendak Allah pada saat-saat ketika Ia dihina dan menderita dalam melakukan tugas panggilan-Nya sebagai Penyelamat.

    Kita belum mau menerima keterbatasan dan kekurangan kita sendiri! Seperti mereka sezaman dengan Yesus, kita pun masih menderita kebutaan pandangan. Mengapa? Seorang pribadi hanya dilihat sebagai "orang besar", apabila ia berasal dari golongan orang besar. Orang yang raut tubuh dan wajahnya mengesankan dan penampilannya berwibawa. Padahal Yesus hanya anak Yusuf dan hanya tukang kayu! Allah menghendaki agar kita menjadi manusia yang harus hidup dan berbuat seperti Yesus, yakni secara jujur, adil dan penuh kasih terhadap sesama, dan sesuai dengan keadaan dan kemampuan segenap warga masyarakat yang bersangkutan.

    Kita semua ini adalah orang-orang yang telah dibaptis dan juga telah menerina krisma atau penguatan. Itu berarti kita semua tanpa kekecualian sungguh dipanggil untuk mengambil bagian dalam semangat kenabian / profetis Gereja, seperti dalam Perjanjian Lama Yeremia, Elia, Elisa, dan terakhir yakni Yohanes Pemandi, dan akhirnya terutama dalam Perjanjian Baru, yaitu Yesus Kristus.

    Syaratnya ialah bersedia untuk meninggalkan sikap mementingkan diri sendiri saja, picik dalam pandangan dan pendapat, yang dikuasai sifat posesif yang sangat kuat. Tetapi terutama harus memperhatikan apa yang benar, dan selalu memikirkan kepentingan orang lain. Yesus memang berasal dari Nasaret, tetapi bukan hanya dipanggil untuk Nasaret, melainkan untuk segala tempat di mana Ia dibutuhkan dan didengarkan Tetapi di mana pun kita berada, kita hanya akan berjumpa dan diselamatkan oleh Yesus, apabila kita bersedia meninggalkan sifat pribadi yang sangat posesif dan selalu hanya mau memegang teguh pendirian pribadi yang bertentangan dengan ajaran Yesus.

    

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/