Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXIV/B/2018

Yes 50:5-9a; Yak 2:14-18; Mrk 8:27-35;

PENGANTAR
    Dalam Injil Markus hari ini Yesus, yang selalu bergaul dengan murid-muird-Nya, bertanya kepada mereka : "Menurut kamu, siapakah Aku ini?". Mereka telah menyaksikan Dia mengadakan mukjizat : mengusirsetan, menyembuhkan orang sakit, memperbanyak roti, bahkan membangkitkan kembali orang mati. Mereka tidak menjawab langsung secara pribadi, tetapi pandangan orang-orang lain. Akhirnya Petrus menjawab atas nama murid-murid-Nya itu : "Engkau adalah Mesias!". Dalam perayaan Ekaristi ini, marilah kita mendengarkan dari Yesus sendiri apakah artinya bagi Diri-Nya sendiri menjadi Mesias (Almasih).

HOMILI
    Ternyata di zaman Yesus tidak ada pengertian yang sama tentang Mesias. Ada yang menganggap Mesias sebagai raja, keturunan Daud, sebagai imam atau sebagai nabi seperti Elias atau Musa, bahkan sebagai raja dengan kekuasaan politik dan tentara. Sekarang pun pandangan atau gambaran orang tentang Yesus sebagai Penyelamat masih berbeda-beda. Ada yang berpendapat, umat kristiani harus tampil seperti Elia, yang secara terbuka dan jelas dengan sistem, institusi dan politik nasional. Apa yang dialami Elia (lih. 1 Raj 17 dan 20) menunjukkan, bahwa menggunakan kekerasan, tidak menghasilkan perdamaian dan keadilan bagi masyarakat yang menderita dari ketidakadilan dan kemiskinan. Ada pula golongan yang berpendirian seperti Yeremias, yakni bahwa hal Gereja adalah suatu hal pribadi, suatu segi "privaat" atau "private", hidupnya beragama adalah "personal". Bukan urusan atau hubungan dengan orang lain! Bila dikatakan dengan bahasa zaman kita sekarang ini: "Di dunia modern dewasa ini agama adalah urusan pribadiku sendiri, tak perlu dikaitkan dengan orang lain".

    Karena itu sekarang pun Yesus bertanya kepada kita seperti kepada Petrus dan murid- murid-Nya yang lain : "Menurut kamu, siapakah Aku ini? Dan kita akan menjawab seperti Petrus: "Engkau adalah Mesias!" Namun arti jawaban Petrus yang kita pakai itu harus dipahami secara benar pula. Yakni bahwa Yesus sebagai Mesias, Penyelamat, datang untuk menyelamatkan semua orang, seluruh masyarakat dunia, bukan hanya untuk individu-individu tersendiri. Secara total, baik sebagai keseluruhan maupun sebagai perorangan. Tidak ada keselamatan perorangan dalam Kristus yang lepas dari hubungannya dengan lainnya. Sekarang pun kita harus selalu menjawab pertanyaan Yesus ini : "Menurut kamu, siapakah Aku ini?"

    Siapakah Yesus sebagai Mesias itu?

    1. Yesus lahir dari suku Yuda, bukan dari suku imam Lewi, maupun dari keluarga imam Zadok.Yesus bukanlah seorang politisi.

  2. Ia tidak berpolitik, namun memperhatikan politik, karena perutusan-Nya di dunia ini tidak mungkin di laksanakan di luar keadaan politik yang berlangsung.

   3. Yesus paling banyak bukan berada dan tampil di Yerusalem, melainkan di Kaparnaum, di Palestina sebelah utara, di mana terletak jalan penghubung utama, dan di mana pula terdapat kantor-kantor pemungut pajak. Ia berada di Yerusalem terutama bila bersangkutan dengan ibadat.

    4. Yesus memperhatikan orang-orang yang kerasukan setan, yang sakit, orang-orag berdosa dan rakyat yang tidak diperhatikan masyarakat. Sambil menghayatinya sendiri dalam hidup-Nya Yesus menyampaikan ucapan-ucapan "Berbahagialah" sebagai pewartaan keadilan alkitabiah. Keadilan yang otentik inilah yang mendorong-Nya untuk memperhatikan dan melibatkan diri sepenuhnya dengan orang-orang sakit, berkekurangan, tersingkir dan lapar. Ia menjadi teman orang-orang berdosa, bukan dengan nengadili dan menghukum melainkan dengan mengajak mereka mengubah jalan hidup mereka. Rela "bersama dengan sesama", itulah yang diajarkan kepada kita dan dilaksanakan-Nya sendiri.

    5. Di zaman-NyaYesus bukan mau mewartakan dan mendirikan kerajaan politik Daud, melainkan Kerajaan Allah! Yesus sebagai anak bangsa sungguh mau berusaha memenuhi apa yang selalu diharapkan bangsa Israel. Yang diharapkan Yesus adalah kasih! Karena itu intisari Kabar Gembira yang diwartakan Yesus adalah kasih! Namun selalu harus diperhatikan, bahwa Yesus bukanlah seorang sosial revolusioner. Ia bukan bersikap dan berbuat terutama dengan mencela atau memusuhi ketidakadilan itu, melainkan lebih dengan menghadapinya dengan kasih. Dalam perumpamaan-perumpamaan yang dipakai-Nya itulah, Ia bukan terutama menunjukkan jahatnya ketidak-adilan, melainkan menunjukkan betapa baik dan indahnya kasih kepada sesama.

    Pada akhir Injil hari ini Yesus berkata : "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan Aku dan karena Injil, ia akan menyelamat-kannya" (ay. 34-35). Syarat menjadi murid Yesus sejati ialah, bahwa setiap yang telah dibaptis harus bersedia memegang teguh kemuridannya yang otentik kepada-Nya, dengan persembahan diri secara total, berani menyangkal dan sanggup mengorbankan dirinya sendiri. Jalan salib bukanlah hanya untuk Yesus belaka, melainkan untuk setiap orang yang mau mengikut Dia. Tetapi kemenangan atau keberhasilan menjadi murid sejati Yesus hanya akan dicapai oleh mereka, yang sanggup memanggul salib! Menolak syarat ini berarti memilih pihak setan. Sebab dengan demikian hidupnya sungguh hanya berfokus pada kepentingan duniawi diri sendiri. Hidup orang yang memang telah dibaptis, namun bertentangan dengan Kristus, akan dibawa kepada kehancuran. Sebaliknya dengan mengikuti Kristus, meskipun melalui penderitaan dan maut, kita dibawa kepada kehidupan sejati.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/