Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXVI/A/2017

Yeh. 18:25-28; Flp 2:1-11; Mat 21:28-32;

PENGANTAR
    Dalam Injil Matius yang akan kita dengarkan hari ini, Yesus dengan menggunakan suatu perumpamaan memberi keterangan kepada murid-muridNya tentang arti ketaatan orang kepada perintah yang diberikan untuk dilaksanakan. Perumpamaan itu sangat sederhana, namun sangat penting dan mendasar, isi pelajarannya untuk menentukan sikap hidup kita yang benar.

HOMILI
     Dalam perumpamaan di dalam Injil Matius, Yesus bercerita tentang seorang bapak yang memberikan kesempatan bekerja di kebun anggur kepada kedua anaknya. Anak yang pertama menjawab bersedia akan melakukannya, namun kenyataannya tidak melakukannya. Anak kedua menolak tawaran kerja itu, namun akhirnya melaksanakannya.

    Injil Matius hari ini (Mat 21:28-32) sebenarnya merupakan lanjutan dari pesan Injil Matius sebelumnya (Mat 21:23-27). Masalahnya ialah bahwa Yesus setiap kali berbicara atau mengatakan sesuatu selalu dengan kuasa. Padahal Ia adalah orang biasa, orang dari Nasaret seperti lain-lainnya. Maka orang-orang Yahudi dan imam-imam bertanya kepada-Nya : "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?" (Mat 21:23). Menghadapi mereka itu Yesus tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi menjawab kembali dengan pertanyaan kepada mereka : "Dari manakah baptisan Yohanes (Pemandi)? Dari surga atau dari manusia?" Inilah latar belakang yang harus kita ketahui mengenai isi perumpamaan Yesus hari ini.

    Sepintas lalu perumpamaan itu tampaknya sederhana, tapi sangat mendalam pesannya. Yesus mau menerangkan sikap dasar setiap orang, apabila ia mau sungguh hidup beragama. Beragama bukanlah sekedar resmi memeluk suatu agama, bahkan resmi disebut dalam KTP. Hidup beragama harus sungguh beriman, bersikap dan berbuat sesuai dengan imannya itu dengan sungguh-sungguh! Bukan sekedar resmi dan tampak lahiriah belaka!

    Para pemimpin agama Yahudi sebenarnya tahu bahwa yang dilakukan Yohanes Pemandi bukanlah sembarangan, melainkan dari Allah, dan juga yang dilakukan Yesus berasal dari Allah sendiri. Tetapi mereka itu bersikap dan berbuat seperti anak yang pertama dalam perumpamaan, yang berkata "Ya, ya", namun tidak melakukannya. Tetapi sebaliknya orang-orang yang dalam masyarakat mereka anggap sebagai golongan atau klas rendah, sebagai "sampah masyarakat" yaitu pemungut cukai, perempuan sundal, orang miskin, mereka justru disebut Yesus seperti anak yang kedua, yang sebelumnya memang menolak permintaan ayahnya untuk bekerja, tetapi kemudian menyesal dan sungguh melaksanakan perintah atau permintaan ayahnya!

    Anak yang pertama itu menggambarkan sikap tidak serius dan tidak jujur dari orang-orang pimpinan resmi masyarakat Yahudi dalam hal kerohanian atau batiniah. Sebaliknya orang-orang pemungut cukai dan wanita-wanita pelacurternyata lebih jujur, sebab mereka itu berani dan bersedia mengubah sikap hidup mereka! Pemungut cukai dan pelacur dianggap masyarakat paling berdosa dan tidak taat kepada ajaran agama. Pemungut cukai dibenci orang, karena bekerja untuk sistem pajak orang asing (kekuasaan pemerintahaan Romawi), dan memeras bangsanya sendiri untuk kepentingan penjajah. Dan pelacur dilihat sebagai tidak punya harga diri, tidak setia, dan berani menjual diri. Kedua golongan itu percaya kepada warta pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes Pemandi dan Yesus, sedangkan pemimpin-pemimpin agama, juga kaum Farisi justru sebaliknya! Jadi sebenarnya pemimpin-pemimpin ini lebih memeras dan merendahkan martabat bangsanya sendiri, dan tidak setia kepada ajaran agama atau iman yang sebenarnya atau yang otentik.

    Apa pesan Injil Matius hari ini kepada kita?

    Kita diminta menjaga murni jati diri kita yang sungguh otentik kristiani. Kita harus senantiasa jujur, tulus dan setia akan ajaran Kristus yang dituangkan dalam agama kita. Kita harus memiliki dan menghayati iman kristiani kita yang sejati.Apabila kita mengaku bahwa kita ini beragama, dan mengaku beriman kepada Yesus Kristus, maka kita tidak layak bersikap dan memperlihatkan diri kepada Allah dan kepada sesama secara bertopeng atau secara pura-pura! Baptis kita, sakramen-sakramen lain apapun yang telah kita terima, harus selalu tercermin secara murni dan utuh dalam sikap, dalam berpikir, dalam bertindak, pendek kata dalam segenap tingkah laku kita.

    Kita harus selalu sadar dan berusaha untuk menerima dan melaksanakan kehendak Allah dalam setiap situasi dan kondisi kita masing-masing atau bersam. Tawaran keselamatan Allah kepada kita harus selalu kita terima dengan jujur dan tulus, kendati kita ini tetap manusia yang lemah.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/