Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI Minggu Biasa XXVII/A/2017

Yes 5:1-7; Flp 4:6-9; Mat 21:33-43;

PENGANTAR
    Seperti beberapa Minggu terakhir, bahkan juga Minggu depan, Yesus memberi keterangan tentang nilai-nilai dan ciri-ciri dasar, yang harus dimiliki penghuni "Kerajaan Allah", yaitu masyarakat baru yang diwartakan dan didirikan Yesus, serta diterangkan dalam bentuk berbagai perumpamaan. Pesan Yesus yang ingin disampaikan kepada kita dalam Injil Matius hari ini ialah, bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Kita yaitu Gereja adalah kebun anggur Tuhan, yang harus dipelihara dengan baik agar dapat diharapkan hasilnya yang baik pula.

HOMILI
    Seperti dalam Perjanjian Lama (Bac. I) Yesaya juga menggambarkan bangsa Israel sebagai kebun anggur. Yesus menggunakan gambaran yang sama untuk menerangkan siapakah dan bagaimanakah orang-orang yang ingin mengikuti Dia untuk diselamatkan. Pemelihara bangsa Israel dalam Perjanjian Lama ialah para nabi, tetapi ternyata pohon-pohon anggur itu menghasilkan buah anggur asam! Mereka tidak menerima para nabi yang diutus Allah untuk memelihara mereka. Menolak para nabi itu berarti mereka tak menerima dan menolak kehendak Allah sendiri, yang mau menyelamatkan umat-Nya.

    Matius menggunakan gambaran tentang kebun anggur dalam Perjanjian Lama untuk menggambarkan keadaan orang-orang Yahudi sezaman-Nya. Mereka menolak dan membunuh utusan-utusan Allah, yaitu Yohanes, bahkan juga Yesus Putera Allah. Dalam Perjanjian Baru ada kebun anggur yang baru pula.

    Dalam Perjanjian Baru kebun anggur itu adalah kita sebagai Gereja. Bagaimanapun keadaan Gereja sebagai kebun anggur dengan buahnya yang manis ataupun asam, kebun anggur itu tidak akan ditinggalkan Tuhan pemiliknya, apalagi dimusnahkan. Allah pemiliki kebun anggur, yaitu umat manusia, ternyata masaih mengadakan usaha terakhir, yaitu mengutus putera-Nya sendiri, disertai keyakinan bahwa mereka pasti akan mendengarkan dan taat kepada-Nya. Namun hasilnya justru sebaliknya! Yesus pun dibunuh! Dalam perumpamaan itu terungkaplah sikap dasar perlawanan manusia terhadap kehendak Allah. Karena Yesus adalah putera dan ahli waris, maka dengan membunuh Dia, mereka merasa dapat langsung menjadi pemilik kebun anggur itu! Inilah suatu perlawanan, ketidaktaatan total kepada Allah, yang kemudian menjadi kenyataan dalam pembunuhan Yesus di kayu salib!

    Tetapi ada janji dari Yesus : kebun anggur itu tidak akan dimusnahkan! Sebab diantara pekerja-pekerja di kebun anggur masih ada orang-orang yang baik, dapat dipercaya dan setia. Jadi pasti ada orang-orang yang akan bersedia bekerja disana. Itu sebabnya Yesus dalam Injil berkata : "Belum pernahkah kamu membaca dalam Kitab Suci : Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru". Yesus dengan kata-kata itu mau menunjukan, bahwa kematian-Nya bukanlah berarti, bahwa Allah itu kalah. Sebab penderitaan dan kematian di salib akan diikuti dengan kemulian dalam kebangkitan-Nya. Bukan kekalahan melainkan justru kemenangan! Karena itu kebun anggur itu akan tetap dapat menghasilkan anggur baik yang manis.

    Bagi kita makna perumpamaan tentang kebun anggur ini ialah, bahwa kebun anggur itu adalah kita, umat kristiani, Gereja. Nah, dalam Gereja-Nya ini kita semua diingatkan akan belas kasih Allah kepada siapapun, termasuk mereka yang akan diluar lingkungan, kelompok Gereja kita. Kita diajak meninjau atau melihat dengan jujur keadaan hidup kita, sikap hidup dan perlakuan kita terhadap sesama kita, siapapun juga. Sikap dasar hidup kita ditunjukan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi (Bac. II). "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi, Saudara-saudara semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, itulah yang harus kamu pikirkan" (Flp 4-7:8).

    Maka apa sebenarnya pesan perumpamaan hari ini kepada kita? Kebun anggur itu adalah umat Gereja! Penggarap-penggarap atau pekerja-pekerja-Nya adalah kita sendiri, masing-masing menurut kedudukannya. Bisa keluarga, bisa lingkungan dan paroki, bisa kelompok rekan kerja, bisa masyarakat kita. Kita semua akan diminta perhitungan sesuai dengan tanggung jawab kita. Gereja kita, baik diparoki kita, maupun Keuskupan kita, bahkan seluruh Gereja di Indonesia, adalah kebun anggur besar yang masih membutuhkan pekerja-pekerja yang baik, dan setia. Kita sekaligus harus berdoa dan mohon kepada Tuhan, pemilik kebun anggur, yaitu Gereja-Nya, jangan samapi berkata kepada kita : "Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa, yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu" (Mat 21:43). Imam, biarawan-biarawati, awam, segenap umat Allah tanpa terkecuali, diberi tugas oleh Yesus untuk menggarap kebun anggur-Nya. Jangan sampai Tuhan berkata : "Aku menanti supaya dihasilkan buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkan hanya buah anggur yang asam".

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/