Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA III/B/2015

Yun 3:1-5.10  1 Kor 7:29-31 Mrk 1:14-20


PENGANTAR
      Yesus Kristus datang untuk mewartakan kabar gembira kepada umat manusia yang akan diselamatkan-Nya. Dan sesudah Yohanes Pembaptis, yang menyiapkan kedatangan-Nya ditangkap dan dipenjara, Yesus tampil pun dan berkata: Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!Kabar gembira Yesus itu sekarang inipun dialamatkan kepada kita juga. Marilah kita dalam merayakan Ekaristi ini berusaha semakin memahami makna kabar gembira tentang pertobatan yang disampaikan kepada kita, baik oleh Yohanes Pembaptis maupun oleh Yesus sendiri itu.

HOMILI
      Seruan Yesus untuk bertobat berlaku bagi semua orang, baik orang yang percaya maupun yang tidak percaya kepada-Nya. Mengapa? Karena pertobatan yang dimaksudkan Yesus, menurut Injil atau secara alkitabiah bukan hanya berarti suatu penyerahan diri, penyesalan atau kesedihan, melainkan sebaliknya suatu pembebasan dan kegembiraan hidup. Jadi bukan suatu kemunduruan, melainkan suatu proses kemajuan dan perkembangan rohani pribadi manusia yang positif.

      Sebelum Yesus tampil, dalam masyarakat Yahudi “bertobat” berarti mundur, berbalik atau putar kembali. Misalnya bila ada seseorang, yang pada suatu ketika merasa dirinya berada dalam langkah hidupnya yang tidak “beres”, maka ia berhenti, mengadakan peninjauan hidupnya, dan mengadakan suatu keputusan untuk mematuhi perintah dan Perjanjian dengan Allah. Putusan ini sungguh merupakan suatu perubahan yang benar. Suatu gerak ”putar balik”! Dengan demikian pertobatan memiliki suatu makna dan nilai moral. Sebab bertobat berarti mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan, membaharuinya atau mengadakan suatu reformasi corak hidupnya. Suatu berak maju (progresif) bukan mundur (regresif).

      Yesus mengubah dan memajukan arah gerak hidup kita. Bertobat bukan kembali kepada Perintah Lama dan mematuhi Taurat. Melainkan berani melangkah ke depan walaupun jauh untuk memasuki Kerajaan Allah, suatu keselamatan dan kebahagiaan, yang diberikan secara bebas dan dengan cuma-cuma oleh Allah yang mahaadil.

      Patut kita perhatikan adanya pergantian urutan giliran yang harus kita sadari. Urutan sebelumnya ialah, bahwa kita sebagai manusia bertobat dulu, dan kemudian Allahlah yang baru membalasnya. Sekarang sebaliknya, datanglah keselamatan Allah dalam diri Yesus dahulu, lalu baru datanglah pertobatan sebagai jawaban kita. Itulah sebenarnya yang disebut “Kabar Gembira”. Ciri khusus pertobatan injili atau  alkitabiah. Tuhan bukan menunggu sampai manusia mulai maju dulu, lalu melangkah ke depan untuk mengubah hidupnya, yaitu dengan berbuat baik, yang dilihatnya sebagai keselamatannya, seakan-akan sebagai ganti atau balasan segenap usahanya itu. Inilah perbedaan ajaran Kristus dibandingkan dengan ajaran-ajaran lain: Kristus bukan mulai dengan pertama-tama mewartakan tugas dan kewajiban, melainkan anugerah atau pemberian. Bukan mulai dengan hukum atau perintah, melainkan dengan rahmat dan anugerah!

      Yesus berkata: Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! Bertobat dan percaya bukanlah dua kata yang sekadar berurutan dan berbeda isinya. Dalam arti alkitabiah: bertobat adalah percaya! Dengan denikian sebaliknya percaya berarti bertobat! Paus (Emeritus) Benediktus XVI menulis Surat Apostolik  “Porta Fidei”, Pintu Kepada Iman (2011).Kepercayaan atau iman adalah pintu untuk memasuki Kerajaan Allah. Lazim dikatakan bahwa pintu adalah kemurnian. Karena itu pintu adalah lambang iman. Tidak mustahil bagi setiap seorang untuk percaya, sebab Allah telah menciptakan kita dengan kebebasan dan otak/pikiraan, justru untuk membuat kita mampu untuk percaya.

      Iman atau kepercayaan kita aneka cirinya. Ada suatu iman (faith) yang disetujui oleh pikiran kita, sebagai suatu kepercayaan (trust), yang dimiliki masing-masing pribadi perorangan. St. Bernardus mengungkapkan iman serupa ini dengan berkata: “ Apa yang tidak mampu kumiliki sendiri, kuambil dari Kristus!”.

      Ibaratnya bertobat dan percaya berarti seolah-olah melakukan sesuatu secara tiba-tiba dan serentak. Sebelum berusaha berbuat jasa untuk menerima balasannya, kita menerima keselamatan dan berada di Kerajaan Allah. Kita kurang sadar, Allah sendirilah yang mengundang kita berbuat demikian. Ia sungguh sangat menantikan tanggapan kita. Namun Allah sendirilah orang pertama,yang terkejut, mengapa begitu sedikit dan begitu dinginlah tanggapan umat manusia ciptaan-Nya itu!

      Apa kesimpulan kita? – Bertobat,- ternyata bukanlah suatu ancaman, yang membuat kita takut dan sedih, dan membuat kita bermuka suram dan lesu dalam hidup kita! Sebaliknya Bertobat adalah suatu tawaran atau undangan begitu luhur dan mulia untuk kebebasan dan kegembiraan hidup kristiani sejati dalam Kristus! Sungguh Yesus adalah “Kabar Gembira sejati” sepanjang segala zaman”.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/