Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU PASKAH VII/A/2011

Kis 1:12-14  1 Ptr 4:13-16  Yoh 17:1-11a


PENGANTAR
          Dalam Bacaan I diceriterakan, bahwa para murid Yesus berkumpul bersama Maria Bunda Yesus dalam doa, menunggu kedatangan Roh Kudus. Petrus dalam Bacaan II menegaskan, bahwa Roh Kristus ada dalam hati umatnya. Dalam Injil Yohanes terdengarlah doa Yesus kepada Bapa-Nya. Para murid-Nya mendengar sendiri betapa erat hubungan antara Yesus dan Bapa-Nya. Tetapi dalam doa-Nya itu Yesus juga menegaskan, bahwa Ia bersatu dengan Bapa, tetapi juga dengan murid-murid-Nya. Roh Kuduslah yang menyatukan semuanya itu. Roh Kudus yang sama menolong Yesus dan segenap murid-Nya, termasuk kita semua.

HOMILI
          Dalam Injil Yohanes yang kita dengarkan hari ini, kita diingatkan kembali betapa pentingnya doa bagi segenap hidup kita. Sepanjang hidup-Nya, dalam mengajar, menolong orang lain, sebelum mengambil putusan apapun, seperti disaksikan dalam Kitab Suci, Yesus selalu berdoa. Dalam doa-Nya itulah kita dapat menarik kesimpulan betapa erat hubungan Yesus dengan Allah Bapa, yang mengutus-Nya. Isi pokok perutusan Bapa kepada Yesus Putera-Nya ialah untuk menyampaikan kasih-Nya kepada manusia, kita semua, yang diciptakan-Nya. Bukan demi keperluan atau kepentingan-Nya sendiri, -- sebab Ia tidak membutuhkan apapun! -- , melainkan melulu untuk mengungkapkan kasih-Nya yang tiada batasnya.

          Doa yang dilakukan Yesus itu, menurut Injil Yohanes, dilakukan-Nya “dalam perjamuan malam terakhir”. Dan “Yesus menengadah ke langit dan berdoa”. Demikianlah sambil memberikan diri-Nya  seutuhnya secara sakramental (simbolis dan profetis) dalam Perjamuan Malam Terakhir, yang kemudian akan dilaksanakan seutuh-utuhnya secara tampak di Kayu Salib. Yesus menyatukan semua itu dalam doa-Nya kepada Bapa. Dalam mengadakan pemberian diri-Nya dalam bentuk perjamuan, dan dalam bentuk penderitaan dan kematian-Nya di salib itu, Yesus dalam doa-Nya menyatakan kepada Bapa-Nya, bahwa Ia telah melaksanakan tugas yang diserahkan kepada-Nya. Seluruh hidup, perbuatan dan kematian-Nya dipersembahkan sebagai ungkapan kemuliaan tertinggi kepada Bapa-Nya. Semua orang yang diserahkan kepada Yesus dianggap-Nya sebagai milik Bapa-Nya. Maka segala sesuatu yang dilakukan Yesus kepada segenap murid-Nya, kepada kita, kepada semua orang, dilaksanakan-Nya sebagai kemuliaan kepada Bapa-Nya. Di situlah terungkap hubungan yang begitu erat antara Allah Bapa dan Allah Putera, tetapi sekaligus juga dengan Allah Roh Kudus. Roh Kudus inilah, yang kita tunggu kedatangan-Nya dalam Pentakosta, sebagai penyatu Kasih antara Allah Bapa, Putera dan kita semuanya.

          Karena kita semua inilah adalah anggota  Gereja yang didirikan oleh Kristus, maka Roh-Nya inilah yang harus selalu menjadi sumber kesatuan kristiani sejati Gereja dalam seluruh keberadaan dan perbuatannya. Dalam doa-Nya, di tengah para murid-Nya dalam Perjamuan Malam Terakhir, seperti dikatakan dalam Injil Yohanes har ini, jadi didengarkan oleh para murid-Nya, Yesus mohon, agar segenap murid-Nya itu dipelihara oleh Bapa, supaya selalu mewujudkan kesatuan “sama seperti Kita” (Yoh 17:11). Begitu erat!

          Yesus tahu dunia akan membenci pengikut-pengikut-Nya, akan mengingin-kan perpecahan di antara mereka supaya terserai-berai. Maka Yesus berdoa agar Bapa memelihara mereka, jangan sampai seorang pun akan hilang!
         
Kita sekarang inipun dalam perayaan Ekaristi kita mendengarkan doa Yesus demi persatuan dan persau-daraan kita semua sebagai murid-murid-Nya. Dan seperti dahulu para murid mendengarkan doa Yesus dalam Perjamuan Malam Terakhir, sekarang pun kita mendengarkan doa Yesus untuk kesatuan kita dalam Perayaan Ekaristi. Persatuan kita dalam Bapa, Putera, dan Roh Kudus harus sungguh dapat merupakan ciri khas jatidiri atau identitas kita sebagai orang kristiani sejati. Marilah kita dalam bersama-sama merayakan Ekaristi ini mendengarkan kembali doa Yesus untuk persatuan dan persaudaraan, yang akan kami dengan menerima Yesus dalam tubuh dan darah-Nya dalam Ekaristi. Semoga persatuan kita dengan Yesus dan sesama kita seperti didoakan-Nya menjadi kenyataan.

Jakarta, 3 Juni 2011

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/