Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU PRAPASKAH III/A/2011

    Kel 17:3-7  Rm 5:1-2.5-8  Yoh 4:5-42

PENGANTAR

    Kebutuhan air untuk tetap hidup digambarkan dalam Bacaan I. Bangsa Israel dalam perjalanan di padang gurun membutuhkan air. Kebutuhan air juga diceriterakan dalam Injil Yohanes hari ini. Air sebagai lambang kebutuhan rohani untuk diselamatkan diterangkan Yesus dalam wawancara-Nya dengan seorang perempuan Samaria. Dari kekayaan  yang tercantum dalam ceritera Yohanes itu, kita diajak kali ini menimba salah satu ajaran  penting Yesus tentang kedudukan dan martabat perempuan, serta sikap-Nya terhadap kita, baik laki-laki maupun terutama perempuan. Ajaran ini juga merupakan air hidup sejati yang kita butuhkan.

HOMILI

    Latar belakang ceriterta Injil Yohanes tentang percakapan-Nya dengan wanita atau perempuan Samaria di pinggir sumur  menggambarkan pesan dan sikap Yesus tentang perempuan/wanita  yang harus kita perhatikan. Bagaimanapun perempuan, yang diciptakan Tuhan sebagai teman hidup laki-laki, harus dihargai tak kurang dari pada laki-laki itu sendiri.

    Dalam Kitab Suci ternyata, bahwa Yesus menjunjung tinggi perempuan.  Ini terbukti bahwa Yesus sebagai Penyelamat mengasihi perempuan berdosa dan pelacur (lih. Yoh 7:53-8:11; Luk 7:36-50; Mat 21:31-32). Sikap ini tak dapat dipahami oleh kaum Farisi. Demi tujuan karya penyelamatan-Nya Yesus tak ragu-ragu melanggar kebiasaan atau pandangan adat Yahudi dengan bergaul dengan perempuan. Ceritera Injil Yohanes hari ini memuat percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria pada perigi Yakub. Hal itu dianggap tidak pantas untuk seorang laki-laki, apalagi untuk seorang rabbi (Yoh 4:27). Ada contoh-contoh lain tentang sikap Yesus terhadap perempuan.

    Misalnya Ia membiarkan diri-Nya disentuh oleh seorang perempuan yang sakit leleh darah, yang karenanya dianggap menjadi najis (lih. Mrk 5:27-34). Lagi untuk menolong seorang perempuan yang terbungkuk, dan sudah diikat oleh setan 18 tahun lamanya, Yesus tidak segan melanggar hukum Sabat, agar supaya "puteri Abraham" (demianlah nama/sebutan kehormatan bagi perempuan!) itu dibebaskan dari keadaan dirinya yang malang itu (lih.Luk 13:10-17).

    Banyak sekali mukjizat yang dilakukan Yesus justru untuk menolong kaum perempuan, misalnya:  menantu perempuan Petrus (Mrk 1:29-31); puteri Yairus (Mrk 5:21-43); seorang  perempuan keturunan bangsa Siriah-Fenesia (Mrk 7:24-30); Maria Magdalena (Luk 8:2). Yesus ikut berdukacita dengan janda di kota Naim dan terharu hati-Nya, sehingga Ia merasa belaskasihan kepadanya (Luk 7:13). Dan permohonan perempuan yang berbangsa Siriah-Fenisia, bukan Yahudi, tidak ditolak oleh Yesus (Mrk 7:28-29). Dan kerelaan serta semangat berkorban seorang janda, yang hanya mampu memasukkan uang kecil sebagai korban ke dalam peti dana di Bait Allah, justru dipuji oleh Yesus (Mrk 12:41-44).

Selanjutnya bukti kasih dari Maria di Betania, yang mengurapi kepala dan kaki Yesus, dibela dan dibenarkan perbuatannya (Mrk 14:3-8; Yoh 12:1-8). Yesus menerima perempuan-perempuan sebagai pengikut-Nya dan menerima pertolongan, yang mereka berikan kepada-Nya (Luk 8:2-3). Bahkan Ia mau menumpang di rumah  2 perempuan bersaudara di Betani, sebab Ia  menghendaki agar keduanya itu mendengarkan wejangan-wejangan-Nya (Luk 10:38). Bahkan pada waktu Ia di Yerusalem berjalan memanggul salib-Nya, Yesus masih mengajak dan meneguhkan seorang perempuan yang meratapi-Nya (Luk 23:27-31).

Nah, dengan latar belakang contoh-contoh itu, dalam pembicaraan-Nya dengan perempuan Samaria dalam Injil hari ini, Yesus tampil sebagai pewarta kehendak  Allah, yang mau menyelamatkan manusia tanpa perbedaan. Yohanes dalam ceriteranya  bukan pertama-tama mau mengatakan, bahwa perempuan itu harus  bertobat  dari  jalan hidupnya yang buruk, tetapi lebih menekankan, bahwa perempuan itu meskipun dalam keadaan berdosa tetap mau percaya.

Perempuan itu datang ke sumur untuk mengambil air. Tetapi setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Yesus, perempuan itu seolah-olah lupa akan tujuannya datang ke sumur untuk mencari air. Sebagai orang yang sadar akan keburukan hidupnya ia peka mendengarkan dan memahami maksud-Nya. Sampai ia yakin Yesus adalah nabi. Menanggapi keyakinan si perempuan itu, Yesus memberitahukan kepada perempuan itu, bahwa Ia adalah Almasih, Penyelamat yang dinanti-nantikan. Si perempuan itu meninggalkan tempayan, tempat air yang dibawanya, seolah-olah dilupakannya, dan malahan pergi ke kota untuk memberitahukan kabar gembira yang dialaminya itu kepada orang banyak.

Meskipun bukan eksklusif, ternyata dalam berita Injil hari ini kita diingatkan bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa. Orang berdosa yang bertobat diselamatkan. Bukan hanya itu, orang berdosa bahkan juga digunakan oleh Yesus untuk ikut menyiapkan pertobatan juga dalam hati sesama. Manusia yang berdosa adalah laki-laki dan perempuan, maka  sesudah bertobat yang diminta Yesus untuk ikut menolong sesamanya supaya bertobat dan diselamatkan adalah juga laki-laki dan perempuan! Demikianlah kerendahan sekaligus kebesaran manusia, laki-laki dan perempuan, diakui sebagai sama dan diperlakukan Yesus secara adil.

Meskipun para Rasul Yesus adalah laki-laki, namun Yohanes dalam Injilnya juga berceritera, bahwa ketika Yesus bangkit Ia menampakkan diri kepada Maria Magdalena (Yoh 20:11-18). Kesemuannya itu membuktikan, bahwa Yesus dalam pewartaan dan perbuatan-Nya tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan.

Harkat orang perempuan memang harus sungguh dihargai, seperti dilakukan oleh Yesus, seperti dapat kita lihat dalam Injil hari ini. Ini adalah air hidup sejuk yang dibutuhkan masyarakat di manapun untuk dapat hidup dengan baik. Amin.

 

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/