Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU PRAPASKAH IV/C/2013

Yos 5:9a.10-12  2 Kor 5:17-21  Luk 15:1-3.11-32


PENGANTAR 
Injil Lukas hari ini merupakan suatu perumpamaan yang sangat bagus dan mengharukan tentang kebaikan hati dan belas kasih seorang bapak terhadap anaknya. Perumpamaan itu merupakan gambaran tentang betapa besar belaskasih Allah kepada kita sebagai orang berdosa. Bila kita mau bertobat, akan diterima kembali oleh-Nya disertai pengampunan penuh kasih yang tiada taranya.

HOMILI
Seluruh Injil Lukas Bab 15 memuat tiga perumpaan tentang sesuatu yang hilang namun diketemukan kembali, yaitu tentang domba (ay.1-7), dirham (ay.8-10) dan anak yang hilang (ay.11-32). Kita yang jujur akan segera merasa, bahwa perumpamaan tenang anak yang hilang itu menggambarkan kehidupan kita masing-masing, baik sebagai orang tua maupun sebagai anak, sebagai sebagai anak bungsu maupun anak sulung. Tetapi juga berlaku untuk hubungan kita satu sama lain dalam status apapun. Menurut karakter, watak, pembawaan ciri khusus kita sendiri, kita dapat belajar banyak dari perumpamaan sederhana namun kena ini.

Paus Beato Yohanes Paulus II dalam dokumen Anjuran Apostolik, yang berjudul “Rekonsiliasi dan Penyesalan” (“Reconciliatio et Paenitentia”) mengatakan sebagai berikut: “Perumpamaan tentang anak yang hilang itu pertama-tama adalah suatu ceritera tentang kasih yang takterperikan dari Allah Bapa, yang melimpahkan kepada putera-Nya sebagai anugerah rekonsiliasi seutuhnya ketika Ia (Putera-Nya itu) datang kembali kepada-Nya. Perumpamaan ini mengingatkan kita akan kebutuhan akan transformasi hati yang mendalam, yakni dengan menemukan kembali belaskasihanBapa, dan dengan mengatasi kesalahpahaman dan permusuhan di antara saudara-saudara laki-laki dan perempuan”. Ada tiga pelajaran yang dapat kita peroleh dalam perumpaan Injil hari ini.

  1. Menurut adat kunaYahudi,anak sulung berhak menerima warisan rangkap dari ayahnya, sedangkan adiknya hanya menerima sepertiga. Tetapi si anak bungsu dalam perumpamaan itu, yang minta bagian harta miliknya sebagai warisan meskipun ayahnya masih hidup, sebenarnya menghina ayahnya.Si anak bungsu ini  merasa terlalu lama bila harus menunggu sampai ayahnya meninggal dahulu untuk memiliki milik waisannya  Dan ketika permintaannya dipenuhi, si bungsu itu menghabiskan segenap miliknya dengan hidup berfoya-foya dengan segenap akibatnya yang buruk. Akibatnya ia hidup sangat melarat, menderita dan nyaris bisa makan secara pantas. Kata “milik” harta si bungsu yang habis seperti disebut dalam Injil Lukas, bukanlah sekadar milik materiilnya. Yang ingin dikemukakan dalam Injil ialah, bahwa si bungsu itu bukan hanya kehilangan kekayaan materiilnya, melainkan terutama kehilangan martabat dirinya sendiri, nilai pribadinya sendiri.
  2. Ayah kedua anaknya, si sulung dan si bungsu itu bagi banyak  orang dianggap memberi kesan sebagai seorang ayah, yang tidak bijaksana. Dinilai memalukan dan kurang mampu mendidik anaknya, dan mengikuti semua keinginannya. Ternyata ayah itu malahan menyambut si bungsu “yang telah hilang” itu dengan merangkul dan mencium dia, dan diberi pakaian yang terbaik. Tetapi Yesus membenarkan sikap dan perbuatan si Bapa itu terhadap si bungsu. Apa yang dilakukan si ayah itu adalah perbuatan kasih. Ia ikut merasakan apa yang diderita orang lain (sebagai “compassio”), sebagai ungkapan kelembutan hati dan kasihnya.
  3. Reaksi si anak sulung ialah marah ketika  melihat apa yang  terjadi ketika adiknya kembali, dan menyaksikan apa yang dilakukan ayahnya terhadap adiknya yang begitu tak pantas itu. Reaksinya itu sepintas lalu bisa dimengerti dan adil. Tetapi dari segi lain, meskipun ia merasa telah melaksanakan tugas pekerjaannya sebagai seorang putera dengan setia, namun dari keluhannya itu tidak terungkapkan rasa kasih atau kerelaan hatinya dalam melaksanakannya. Ia justru merasa seolah-olah diperlakukan oleh ayahnya sebagai pekerja belaka. Ia merasa tidak mengalami ungkapan penghargaan dan rasa terima kasih dari ayahnya. Ia taat dan setia melaksanakan tugas yang diberikan ayahnya kepadanya, tetapi ia merasa menghadapi ketidakadilan. Kehidupan dan perbuatan adiknya, yang begitu rendah nilainya, justru dianggap seolah-olah “tidak apa-apa”! Menurut si sulung ayahnya dianggap berhak dan berkewajiban menolak kedatangan adik bungsunya itu. Si bungsu sudah merendahkan nama keluarga, tetapi diterima begitu baik, sedangkan si sulung yang setia merasa dianggap sebagai orang asing!

Apa pesan Yesus dalam Injil hari ini ialah rekonsiliasi.
Tuhan menerima orang berdosa dan orang-orang yang dalam masyarakat di bidang sosial dan keagamaan kurang atau tidak dihargai. Syaratnya bagi Tuhan ialah penyesalan dan pertobaan. Kepada si sulung ayahnya berkata: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu”. Penerimaan kembali adiknya yang hilang dan bahwa diketemukan kembali, tidak bertentangan dengan kesetiaan kakaknya kepada ayahnya. Pertobatan membuka pintu baru untuk memasuki rekonsiliasi dan hidup bersama penuh pengertian dan kasih. Setiap orang sungguh bertobat kepada Tuhan akan rela berrekonsiliasi dengan sesamanya.

Hari ini disebut Hari Minggu “Laetare”, artinya bergembiralah. Mengapa? Kita di tengah perjalanan berusaha bertobat selama masa puasa dan pantang ini diingatkan, bahwa orang yang bertobat akan bergembira, sebab ia akan diterima kembali oleh Allah penuh belaskasihan sebagai putera-Nya sendiri.

 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/