Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
Materi iman

 

 

PENGANTAR KITAB HAKIM-HAKIM

Kitab Hakim-Hakim menggambarkan masa lalu Israel yang tidak begitu semarak seperti zaman Musa yang kepadanya Allah telah menyatakan diri-Nya di Sinai. Orang harus melihat secara teliti untuk menemukan bara api yang masih menyala dari apa yang telah dibakar. Setelah pembebasan luar biasa yang dialami oleh mereka yang melakukan eksodus, Kitab Hakim-Hakim mengajarkan kepada kita bahwa di dunia sekarang ini tidak dapat memliki kebebasan kecuali apa yang kita menangkan sendiri. Pengajaran-pengajaran tersebut memperkuat pangalaman kita sendiri. Karena walaupun Kristus memberi kita kebebasan, hal tersebut masih menuntut dari kita begitu banyak pengorbanan diri sendiri demi sesuatu yang berharga. Serupa dengan itu, walaupun bapa leluhur kita memenangkan kemerdekaan bangsa kita, kita masih harus berjuang dengan susah payah menuntut dan memperoleh hidup hak kita.

Awal kitab ini menggambarkan bagaimana bangsa Israel berhasil mendiami bagian-bagian tidak subur dari tanah orang Kanaan dan bagaimana mereka melihat dengan iri hati tanah-tanah subur du mana kaum kafir tinggal. Kendatipun tinggal di perkemahan, mereka mulai menjadi petani kecil-kecil setelah berabad-abad, mengembalakan kawanan ternaknya menelusuri padang-padang rumput. Hal ini menunjukan suatu transformasi nilai yang amat besar, namun karena terjadi pada masa perubahan yang sangat cepat, munculah krisis nilai yang besar.

Kitab Hakim-Hakim ini pertama memberi tekanan pada godaan untuk memuja berhala, para petani Kanaan mempunyai suatu agama yang sangat menarik, yaitu merayakan kekuatan-kekuatan hidup dan kesuburan. Mereka berkumpul pada pesta-pesta rakyat atau di hutan yang suci, dimana mereka melakukan upacara pelacuran yang dianggap suci seraya meminta dari alah-alahnya, para Baal, tahmat berupa hujan dan hasil pertanian yang baik. Sangat sulit bagi kaum Israel untuk tidak ikut bersama kaum kafir dalam upacara-upacara itu.

Disamping mengalami keterasingan budaya dan agama, kaum Israel dijadikan kurban oleh berbagai kelompok penindas dan penjarah yang membuat hidup mereka penuh dengan kesengsaraan.

Para pembebas

Pada situasi seperti itu kaum Israel, sebagai suatu bangsa yang tidak terorganisir dan malah terbagi atas kelompok-kelompok yang bersaing, hanya mengikuti para pemimpin yang muncul dari anatara mereka. Para pemimpin tersebut adalah kaum laki-laki dari daerah pedalaman (luar kota) yang kadang-kdang kala memperoleh kemenagan-kemenagan yang besar (lih bab 4-5).

Mereka memanggil orang itu kaum Sofetim, suatu kata yang mempunyai arti kepala-kepala dan hakim-hakim. Demikian terjadi bahwa mereka yang tidak pernah duduk dipengadilan disebut hakim-hakim. Tetapi mungkin kata ”Hakim-hakim” harus dimengerti dengan cara lain. Orang-orang ini menjadi alat-alat keadilan Allah.

Hakim-hakim bukalah orang-orang suci. Namun orang Israel mengenal mereka sebagai juru selamat yang diberikan Yahweh dalam kasih-Nya kepada meraka. Sesuangguhnya tindakan membunuh seorang pemimpin musuh atau membunuh sepuluh orang Filistin bukanlah suatu tindakan yang bersiga keagamaan. Akan tetapi kalau kta mengingat waktu dan situasi emreka, para pemimpin ini menunjukan keberanian dan keimanannya di tengah-tengan para pengecut. Dalam usaha mengatasi kepasifan bangsanya mereka mempersiapkan suatu tahapan baru dalam sejarah bangsanya.

Perbuatan-perbuatan para hakim selalu diceriterakan kembali dengan gembira, selama bertahun-tahun dan akhirnya berubah menjadi legenda. Akan tetapi, penulis yang kemudian menggabungkan semua cerita ini dalam satu kitab menemukan satu benang merah yang menyatukan, yaitu menerangkan alas an tertundanya penaklukan-penaklukan dan tahapan-tahapan pembebasan. Ia menulis urutan kejadiannya.

  • Kaum Israel menjauhi Yahweh dan jatuh kedalam perjanjian berhala.
  • Karenanya.Yahweh menyerahkan mereka ketangan musuh mereka.
  • Kaum Israel mengakui kesalahan mereka dan memohon kepada Yahweh.
  • Yahweh kemudian mengirimkan pembebas

Tetapi ketika mendapatkan kemenangan, setelah suatu jangka waktu yang penuh perdamaian mereka mengabaikan lagi misi mereka. Dalam dunia sekArang ini tidak ada pembebasan yang tetap dan menyeluruh.

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik)

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id