Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

1.PAULUS USKUP

HAMBA PARA HAMBA ALLAH
BERSAMA BAPA-BAPA KONSILI SUCI
DEMI KENANGAN ABADI


DEKRIT TENTANG
KEGIATAN MISIONER GEREJA


Pendahuluan)
KEPADA PARA BANGSA Gereja diutus oleh Allah untuk menjadi “sakramen universal keselamatan”[ ]. Untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hakiki sifat katoliknya, menaati perintah Pendirinya (lih. Mrk 16:16), Gereja sungguh-sungguh berusaha mewartakan Injil kepada semua orang. Sebab para Rasul sendiri, yang menjadi dasar bagi Gereja, mengikuti jejak Kristus, “mewartakan sabda kebenaran dan melahirkan Gereja-gereja”[ ]. Adalah tugas para pengganti mereka melestarikan karya itu, supaya “sabda Allah terus maju dan dimuliakan” (2Tes 3:1), dan Kerajaan Allah diwartakan dan dibangun di mana-mana.
Tetapi dalam situasi zaman sekarang, yang menimbulkan keadaan umat manusia yang serba baru, Gereja, garam dunia dan terang dunia (lih. Mat 5:13-14), dipanggil secara lebih mendesak untuk menyelamatkan dan membaharui semua ciptaan, supaya segala sesuatu dibaharui dalam Kristus, dan supaya dalam Dia orang-orang merupakan satu keluarga dan satu Umat Allah.
Maka Konsili suci bersyukur kepada Allah atas karya-karya gemilang, buah hasil kegiatan serta kebesaran hati seluruh Gereja, dan ingin menggariskan azas-azas kegiatan misioner serta menghimpun daya segenap kaum beriman. Maksudnya supaya Allah yang menempuh jalan salib yang sempit, di mana-mana menyebarluaskan kerajaan Kristus Tuhan, yang dengan pandangan-Nya merangkum segala abad (lih. Sir 36:19), dan menyiapkan jalan bagi kedatangan-Nya.

2.BAB SATU

AZAS-AZAS AJARAN

Rencana Bapa)
Pada hakekatnya Gereja peziarah bersifat misioner, sebab berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa[ ].
Adapun rencana itu bersumber pada “cinta” atau “kasih asal” Allah Bapa. Dialah Asal tanpa Asal; dari pada-Nyalah Putera lahir dan Roh Kudus berasal melalui Putera. Karena kemurahan-Nya yang melimpah dan belaskasihan Bapa yang bebas menciptakan kita serta penuh kasih memanggil kita, untuk bersama dengan-Nya ikut menikmati kehidupan dan kemuliaan-Nya. Dengan murah hati Ia melimpahkan dan tiada hentinya mencurahkan kebaikan ilahi-Nya, sehingga Dia yang menciptakan segalanya, akhirnya menjadi “semuanya dalam segalanya” (1Kor 15:28), dengan sekaligus mewujudkan kemulian-Nya dan kebahagiaan kita. Tetapi Allah berkenan memanggil orang-orang bukan hanya satu per satu, tanpa hubungan manapun satu dengan yang lain, untuk ikut serta dalam kehidupan-Nya. Melainkan Ia berkenan menghimpun mereka menjadi Umat, supaya di situ para Putera-Nya, yang semula tercerai-berai, dikumpulkan menjadi satu (lih. Yoh 11:52).

3.(Perutusan Putera)
Rencana Allah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia itu terlaksana bukan saja seolah-olah secara tersembunyi dalam jiwa manusia, ataupun melalui usaha-usaha mereka, juga yang bersifat keagamaan, untuk mencari Allah dengan pelbagai cara, kalau-kalau mereka dapat menjamah atau menemukan-Nya, meskipun Ia tidak jauh dari kita masing-masing (lih. Kis 12:27). Sebab usaha-usaha itu perlu diterangi dan disembuhkan, sungguh pun, atas rencana atas semua rencana penyelenggaraan Allah yang murah hati, itu semua akhirnya dapat dipandang sebagai pendidikan menuju Allah yang benar atau sebagai persiapan Injili[ ]. Namun untuk membangun perdamaian atau persekutuan dengan diri-Nya dan untuk menghimpun masyarakat persaudaraan antar manusia pendosa, Allah telah memutuskan untuk secara baru dan definitif memasuki sejarah bangsa manusia dengan mengutus Putera-Nya dalam daging kita. Allah bermaksud merebut manusia dari kuasa kegelapan dan setan (lih. Kol 1:13; Kis 10:38) melalui Dia, dan dalam Dia mendamaikan dunia dengan diri-Nya (lih. 2Kor 5:19). Maka Allah menetapkan Putera-Nya, yakni Perantara-Nya dalam menciptakan alam semesta[ ], menjadi ahli waris segala-sesuatu, untuk membaharui semuanya dalam Dia (lih. Ef 1:10).
Sebab Kristus Yesus diutus ke dunia sebagai Perantara sejati antara Allah dan manusia. Karena Ia Allah, maka dalam Dia berdiamlah seluruh kepenuhan keallahan secara jasmani (Kol 2:9). Tetapi menurut kodrat manusiawinya Ia Adam baru, dan ditetapkan menjadi gembala umat manusia yang diperbaharui, penuh rahmat dan kebenaran (Yoh 1:14). Maka Putera Allah menempuh jalan penjelamaan yang sejati, supaya manusia ikut serta memiliki hakekat ilahi. Demi kita Ia telah menjadi miskin sedangkan Ia kaya, supaya karena kemiskinan-Nya kita menjadi kaya (2Kor 8:9). Putera manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang, yakni bagi semua orang (lih. Mrk 10:45). Para Bapa suci selalu mewartakan, bahwa apa yang tidak dikenakan oleh Kristus, juga tidak disembuhkan[ ]. Akan tetapi Ia mengenakan pada diri-Nya kodrat manusiawi seutuhnya, seperti terdapat pada kita manusia yang malang dan miskin, namun tanpa dosa (lih. Ibr 4:15; 9:28). Sebab tentang diri-nya bersabdalah Kristus, yang dikuduskan oleh Bapa dan diutus-Nya ke dunia (lih. Yoh 10:36): “Roh Tuhan ada diatas-Ku, karena Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan Warta gembira kepada kaum miskin Ia telah mengutus-Ku, untuk menyembuhkan mereka yang remuk-redam hatinya, untuk mewartakan pembebasan bagi para tahanan dan penglihatan bagi orang-orang buta’ (Luk 4:18). Lagi pula: “Putera Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan apa yang telah hilang” (Luk 19:10).
Adapun apa yang sesekali telah diwartakan oleh Tuhan, atau terlaksana dalam Dia demi keselamatan bangsa manusia, itu harus diwartakan dan disebarluaskan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8), mulai dari Yerusalem (lih. Luk 24:47) sedemikian rupa, sehingga apa yang sekali telah dilaksanakan demi keselamatan semua orang, di sepanjang waktu memperbuahkan hasil pada mereka semua.

4.(Perutusan Roh Kudus)
Untuk melaksanakan itu Kristus mengutus Roh Kudus dari Bapa, supaya Ia mengerjakan karya penyelamatan-Nya dalam jiwa manusia, dan menggerakkan Gereja untuk memperluas diri. Pantang diragukan, bahwa Roh Kudus dulu pun sudah berkarya di dunia, sebelum Kristus dimuliakan[ ]. Tetapi pada hari Pentekosta Roh turun atas para murid, untuk tinggal bersama mereka selama-lamanya (lih. 14:16); tampillah Gereja secara resmi dihadapan banyak orang; mulailah penyebaran Injil melalui pewartaan diantara para bangsa; dan akhirnya dipralambangkan persatuan bangsa-bangsa dalam sifat katolik iman, melalui Gereja perjanjian Baru, yang bersabda dengan semua bahasa, memahami dan merangkul semua bahasa dalam cinta kasih, dan dengan demikian mengatasi percerai-beraian Babel[ ]. Sebab dari Pentekosta mulailah “Kisah para Rasul”, seperti berkat turunnya Roh Kudus atas Perawan Maria dikandunglah Kristus, dan berkat turunnya Roh Kudus atas Kristus ketika sedang berdoa Ia didorong untuk memulai karya pelayanan-Nya[ ]. Adapun Tuhan Yesus sendiri, sebelum dengan suka rela menyerahkan hidup-Nya, sedemikian rupa merekayasa pelayanan rasuli dan menjanjikan akan mengutus Roh Kudus, sehingga keduanya terpadukan dalam menyuburkan karya penyelamatan dimana-mana dan senantiasa[ ]. Disepanjang waktu Roh Kuduslah yang “menyatukan” segenap Gereja “dalam persekutuan dan pelayanan, melengkapinya dengan pelbagai kurnia hirarkis dan karismatis”[ ], dengan menghidupkan lembaga-lembaga gerejawi bagaikan jiwanya[ ], dan dengan meresapkan semangat misioner, yang juga mendorong Kristus sendiri, ke dalam hati Umat beriman. Ada kalanya pula Roh Kudus secara kelihatan mendahului kegiatan merasul[ ], seperti Ia tiada hentinya juga menyertai serta memimpinnya dengan pelbagai cara[ ]

5.(Gereja diutus oleh Kristus)
Sejak semula Tuhan Yesus “memanggil mereka yang dikehendaki-Nya serta untuk diutus-Nya mewartakan Injil” (Mrk 3:13; lih. Mat 10:1-42). Begitulah para Rasul merupakan benih-benih Israel baru, pun sekaligus awal mula Hirarki suci. Kemudian, sesudah sekali, dengan wafat serta kebangkitan-Nya, Tuhan menyelesaikan dalam diri-Nya rahasia-rahasia keselamatan kita serta pembaharuan segala sesuatu, menerima segala kuasa di sorga dan di bumi (lih. Mat 28:18), sebelum Ia diangkat ke sorga (lih. Kis 1:11), Ia mendirikan Gereja-Nya sebagai sakramen keselamatan. Ia mengutus para Rasul ke seluruh dunia, seperti Ia sendiri telah diutus oleh Bapa (lih. Yoh 20:21), perintah-Nya kepada mereka: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan babtislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus: ajarlah mereka melakukan segala-sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19 dsl.). “pergilah ke seluruh dunia, dan wartakanlah Injil kepada semua makhluk. Barang siapa percaya dan di babtis, akan selamat; tetapi siapa tidak percaya, akan dihukum” (Mrk 16:15 dsl.). Maka dari itu Gereja mengemban tugas menyiarkan iman serta keselamatan Kristus, baik atas perintah jelas, yang oleh para Rasul telah diwariskan kepada Dewan para Uskup yang dibantu oleh para imam, bersama dengan Pengganti Petrus serta Gembala Tertinggi Gereja, maupun atas daya-kekuatan kehidupan, yang oleh Kristus disalurkan kepada para anggota-Nya; “dari pada-Nyalah seluruh tubuh, - yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan setiap anggota, - menerima pertumbuhan dan membangun dirinya dalam kasih” (Ef 4:16). Oleh karena itu perutusan Gereja terlaksana dengan karya-kegiatannya. Demikianlah Gereja, mematuhi perintah Kristus dan digerakkan oleh rahmat serta cinta kasih Roh Kudus, hadir bagi semua orang dan bangsa dengan kenyataannya sepenuhnya, untuk – dengan teladan hidup maupun pewartaannya, dengan sakramen-sakramen serta upaya-upaya rahmat lainnya – menghantarkan mereka kepada iman, kebebasan dan damai Kristus, sehingga bagi mereka terbukalah jalan yang bebas dan teguh, untuk ikut serta sepenuhnya dalam misteri Kristus.
Perutusan itu terus berlangsung, dan disepanjang sejarah menjabarkan perutusan Kristus sendiri, yang diutus untuk mewartakan Kabar Gembira kepada kaum miskin. Atas dorongan Roh Kristus Gereja harus menempuh jalan yang sama seperti yang dilalui oleh Kristus sendiri, yakni jalan kemiskinan, ketaatan, pengabdian dan pengorbanan diri sampai mati, dan dari kematian itu muncullah Ia melalui kebangkitan-Nya sebagai Pemenang. Sebab demikianlah semua Rasul berjalan dalam harapan. Dengan mengalami banyak kemalangan dan dukaderita mereka menggenapi apa yang masih kurang pada penderitaan Kristus bagi Tubuh-Nya yakni Gereja (lih. Kol 1:24). Sering pula darah orang-orang kristiani menjadi benih[ ].

  >>