Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

1.PAULUS USKUP


HAMBA PARA HAMBA ALLAH
BERSAMA BAPA-BAPA KONSILI SUCI
DEMI KENANGAN ABADI

DEKRIT TENTANG PEMBINAAN IMAM


PENDAHULUAN

Konsili suci menyadari sepenuhnya, bahwa pembaharuan yang DIINGINKAN bagi SELURUH Gereja sebagian besar tergantung dari pelayanan para imam, yang dijiwai oleh Roh Kristus[ ]. Maka Konsili secara resmi menyatakan, bahwa pembinaan imam memang penting sekali. Konsili menguraikan berbagai prinsip dasarnya, yang meneguhkan ketetapan-ketetapan yang telah diuji melalui praktek berabad-abad lamanya, dan mengintegrasikan ke dalam unsur-unsur baru, yang selaras dengan Konstitusi-Konstitusi maupun Dekrit-Dekrit Konsili ini serta dengan perubahan-perubahan zaman yang aktual. Demi kesatuan imamat katolik pembinaan imam itu sungguh perlu bagi semua imam dari kedua klerus dan dari semua ritus. Oleh karena itu peraturan-peraturan berikut, yang secara langsung menyangkut klerus diosesan, dengan mempertimbangkan perlunya penyesuain-penyesuaian, berlaku bagi semua golongan imam.

I. PENYUSUNAN METODE PEMBINAAN IMAM DI SETIAP NEGARA

Mengingat begitu bermacam-ragamnya bangsa maupun daerah, disini hanya dapat disusun ketetapan-ketetapan yang serba umum bagi semua. Maka disetiap negara dan untuk setiap ritus hendaknya disusun ?Pedoman pembinaan Iman? yang khusus. Pedoman itu harus dikukuhkan oleh Konferensi-Konferensi Uskup[ ], pada saat-saat tertentu ditinjau kembali, dan disetujui oleh Takhta suci. Hendaknya menurut pedoman itu ketetapan-ketetapan umum disesuaikan dengan situasi khas setempat dan semasa, supaya pembinaan imam selalu menanggapi kebutuhan-kebutuhan pastoral daerah-daerah yang dilayani.

2.II. PENGEMBANGAN PANGGILAN IMAM SECARA LEBIH INTENSIF


Pengembangan panggilan[ ] termasuk kewajiban seluruh jemaat kristen, yang harus menumbuhkannya terutama dengan perihidup kristen yang sepenuhnya. Dalam hal itu sangat besarlah sumbangan keluarga-keluarga, yang dijiwai semangat iman dan cinta kasih serta ditandai sikap bakti, menjadi bagaikan seminari pertama; begitu pula paroki-paroki, yang memungkinkan kaum remaja ikut mengalami kehidupan jemaat yang subur. Para guru, dan semua saja yang dengan suatu cara lain ikut bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak dan kaum muda, terutama himpunan-himpunan katolik, hendaknya berusaha mendidik kaum remaja yang diserahkan kepada mereka sedemikian rupa, sehingga dapat menerima panggilan ilahi serta mengikutinya dengan sukarela. Hendaknya semua imam sedapat mungkin menunjukkan semangat kerasulan mereka dalam menumbuhkan panggilan. Hendaknya mereka menarik minat kaum remaja terhadap imamat, dengan cara hidup mereka yang memancarkan kerendahan hati, ketekunan bekerja, kegembiraan hati, dan sikap saling mengasihi serta kerja sama persaudaraan antara mereka sendiri.
Termasuk tugas para Uskup mendorong kawanan mereka untuk memajukan panggilan, dan mengusahakan perpaduan serta segala tenaga maupun daya-upaya. Hendaknya mereka, sebagai bapa sejati, tanpa menghemat pengorbanan, membantu para calon, yang menurut penilaian mereka dipanggil oleh Tuhan untuk ikut melaksanakan perutusan-Nya.
Kerja sama aktif segenap Umat Allah untuk mengembangkan panggilan itu menanggapi karya penyelenggaraan ilahi, yang kepada mereka yang oleh Allah dipilih untuk ikut mengemban imamat hirarkis Kristus, menganugerahkan bakat-bakat yang menunjang, serta dengan rahmat-Nya menolong mereka. Penyelenggaraan Allah itu jugalah, yang mempercayakan kepada para pelayan Gereja yang sah, supaya sesudah mengetahui kecakapan para calon, memanggil mereka yang sudah teruji, dan dengan maksud yang tulus serta kebebasan sepenuhnya memohon diperkenankan mengemban tugas seluhur itu, kemudian mentakdirkan mereka dengan meterai Roh Kudus bagi ibadat kepada Allah serta pengabdian kepada Gereja[ ].
Konsili terutama menganjurkan upaya-upaya bantuan kerja sama umum yang tradisional, misalnya doa yang tekun, ulah pertobatan kristen, serta pembinaan umat beriman yang makin mendalam melalui pewartaan dan katekese, pun dengan memanfaatkan pelbagai upaya komunikasi sosial, semuanya untuk menjelaskan betapa perlu panggilan imam itu, dan hakekat maupun keluhurannya. Selain itu Konsili memerintahkan, supaya karya-karya untuk panggilan, yang menurut dokument-dokument kepausan yang bersangkutan telah atau masih harus didirikan disetiap keuskupan, daerah atau negara, mengatur secara metodis dan serasi seluruh kegiatan pastoral untuk menumbuhkan panggilan, dan selanjutnya dengan bijaksana dan penuh semangat memajukan kegiatan itu[ ]. Sementara itu hendaklah jangan diabaikan upaya-upaya pendukung, yang penuh manfaat disediakan oleh ilmu-ilmu psikologi dan sosiologi zaman sekarang.
Begitu pula karya untuk mengembangkan panggilan, dijiwai hati yang lapang terbuka, harus melampaui batas-batas masing-masing keuskupan, negara, tarekat religius dan ritus, serta ? sementara memperhatikan kebutuhan-kebutuhan Gereja semesta ? pertama-tama membantu daerah-daerah, yang secara lebih mendesak membutuhkan pekerja-pekerja bagi kebun anggur Tuhan.

3.Di Seminari-seminari Menengah, yang didirikan untuk memupuk tunas-tunas panggilan, para seminaris hendaknya melalui pembinaan hidup rohani yang khas, terutama dengan bimbingan rohani yang cocok, disiapkan untuk mengikuti Kristus Penebus dengan semangat rela berkorban dan hati yang jernih. Hendaknya mereka, dibawah bimbingan para pemimpin yang penuh kebapaan, dengan kerja sama para orang tua yang sangat membantu, menjalani hidup yang cocok dengan usia, mentalitas dan perkembangan kaum muda, serta sesuai sepenuhnya dengan prinsip-prinsip psikologi yang sehat. Sementara itu hendaklah diperhatikan juga perlunya pengalaman-pengalaman manusiawi secukupnya serta hubungan biasa dengan keluarga mereka sendiri[ ]. Kecuali itu semuanya, yang selanjutnya dalam dekrit ini ditetapkan tentang Seminari Tinggi, hendaknya, - sejauh cocok untuk tujuan maupun metode pendidikan di Seminari Menengah ? disesuaikan dengannya pula. Studi yang harus ditempuh oleh para seminaris harus diatur sedemikian rupa, sehingga mereka tanpa dirugikan dapat melanjutkannya dilain tempat, sekiranya kemudian memilih status hidup yang lain.
Dengan tekun pula hendaknya dikembangkan tunas-tunas panggilan diantara para remaja dan kaum muda di lembaga-lembaga khusus, yang menanggapi situasi setempat melayani tujuan Seminari-seminari Menengah, begitu pula dikalangan mereka, yang menempuh studi di sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Selain itu hendaknya dikembangkan lembaga-lembaga maupun usaha-usaha lainnya bagi mereka, yang pada usia lebih lanjut mengikuti panggilan ilahi.

4.III. TATA-LAKSANA SEMINARI-SEMINARI TINGGI

(Seluruh pembinaan harus berhubungan erat dengan tujuan pastoral)
Seminari Tinggi sungguh perlu bagi pembinaan imam. Seluruh pendidikan seminaris disitu harus bertujuan: supaya seturut teladan Tuhan kita Yesus Kristus, Guru, Imam dan Gembala, mereka dibina untuk menjadi gembala jiwa-jiwa yang sejati[ ]. Maka hendaknya mereka disiapkan untuk pelayanan sabda: supaya mereka makin menyelami makna sabda Allah yang telah diwahyukan, dengan merenungkannya kian diresapi olehnya, serta mengungkapkannya dengan kata-kata maupun perilaku mereka. Hendaknya mereka disiapkan bagi pelayanan ibadat dan pengudusan: supaya seraya berdoa dan melalui perayaan Liturgi suci mereka melaksanakan karya keselamatan melalui korban Ekaristi dan Sakramen-sakramen. Hendaknya mereka disiapkan pula untuk pelayanan kegembalaan: supaya mereka tahu menghadirkan Kristus bagi sesama, Dia yang tidak ?datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang? (Mrk 10:45; bdk. Yoh 13:12-17), dan dengan mengabdikan diri kepada siapa saja, memperoleh banyak orang (bdk. 1Kor 9:19).
Oleh karena itu semua aspek pembinaan, rohani, intelektual dan disipliner, hendaknya secara terpadu diarahkan kepada tujuan pastoral itu. Untuk mencapai tujuan itu hendaklah semua pembimbing dan dosen bekerja sama dengan tekun, sambil dengan setia mematuhi kewibawaan Uskup.

5.(Para pembimbing Seminari hendaknya dipilih dengan seksama dan dibina secara efektif)
Pendidikan para seminaris tergantung dari peraturan-peraturan yang bijaksana, dan terutama dari para pembina yang cakap. Maka dari itu hendaknya para pembimbing dan dosen Seminari dipilih dari antara pribadi-pribadi yang sungguh baik[ ]. Hendaklah mereka sungguh disiapkan melalui studi yang terjamin mutunya, pengalaman pastoral yang secukupnya, dan pembinaan yang khas dibidang rohani serta pendidikan. Maka perlulah dikembangkan lembaga-lembaga untuk mencapai tujuan itu, atau sekurang-kurangnya kursus-kursus yang diprogramkan dengan cermat, begitu pula pertemuan-pertemuan para pembina Seminari, yang diselenggarakan secara berkala.
Hendaknya para pembimbing dan dosen sungguh menyadari, betapa hasil pembinaan para seminaris tergantung dari cara mereka berpikir dan bertindak. Di bawah pimpinan Rektor hendaknya mereka memelihara persatuan semangat maupun perpaduan kegiatan yang erat sekali, begitu pula antara mereka sendiri dan para seminaris mewujudkan rukun kekeluargaan sesuai dengan doa Tuhan: ?Hendaklah mereka bersatu? (bdk. Yoh 17:11). Hendaknya dalam hati para seminaris mereka makin menemukan kegembiraan panggilan mereka sendiri. Hendaknya Uskup tiada hentinya, dengan kasih yang istimewa, menyemangati mereka yang berkarya di Seminari, dan bagi para seminaris membawakan diri sebagai bapa yang sejati dalam kristus. Akhirnya hendaknya semua imam memandang Seminari sebagai jantung keuskupan, dan dengan sukarela menyumbangkan bantuan mereka[ ].

  >>