Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

11.(Menuju kedewasaan pribadi)
Hendaknya asas-asas pendidikan kristen dipatuhi dengan saksama, serta dengan cermat dilengkapi dengan penemuan-penemuan mutakhir psikologi dan pedagogi yang sehat. Melalui sistem pendidikan yang disusun dengan bijaksana dalam diri para seminaris perlu ditumbuhkan juga kedewasaan kepribadian yang semestinya, yang terutama ternyata dalam sifat kejiwaan yang stabil, dalam kemampuan mengambil keputusan yang dipertimbangkan, dan dalam cara menilai peristiwa-peristiwa serta orang-orang dengan saksama. Hendaklah para seminaris membiasakan diri untuk mengatur sifat perangai mereka. Hendaknya mereka dibina untuk mencapai keteguhan jiwa, dan pada umumnya belajar menghargai keutamaan-keutamaan, yang dijunjung tinggi oleh orang-orang, serta menimbulkan penghargaan terhadap pelayan Kristus[ ], misalnya: kejujuran, usaha tiada hentinya demi keadilan, kesetiaan terhadap janji-janji, sopan-santun dalam perilaku, kesederhanaan dalam berbicara yang disertai cinta kasih.
Tata-tertib kehidupan di Seminari hendaklah dipandang bukan hanya sebagai pelindung yang tangguh bagi hidup bersama dan cinta kasih, melainkan sebagai bagian yang perlu dalam seluruh pendidikan untuk mencapai penguasaan diri, mendukung pendewasaan pribadi yang mantap, dan membentuk disposisi-disposisi jiwa lainnya, yang sangat membantu keserasian dan kesuburan kegiatan Gereja. Tata-tertib itu hendaknya dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga terbentuklah disposisi batin para seminaris untuk menerima kewibawaan para pemimpin berdasarkan keyakinan pribadi atau suara hati (lih. Rom 13:5) serta alasan-alasan adikodrati. Peraturan-peraturan tata-tertib hendaknya diterapkan sesuai dengan umur para seminaris, sehingga mereka sendiri, membiasakan diri untuk menggunakan kebebasan dengan bijaksana, bertindak secara sukarela dan penuh semangat[ ], pun juga bekerja sama dengan rekan-rekan sepanggilan dan kaum awam.
Seluruh corak hidup di Seminari, yang diliputi semangat kesalehan dan keheningan serta ditandai rasa terdorong untuk saling membantu, hendaklah diatur sedemikian rupa, sehingga sudah merupakan suatu permulaan kehidupan iman dikemudian hari.

12.(Waktu untuk pembinaan rohani yang lebih intensif; masa pembinaan pastoral)
Supaya dasar pembinaan rohani makin bertambah mantap, dan para seminaris menekuni panggilan mereka berdasarkan pilihan yang dipertimbangkan masak-masak, termasuk kewenangan para Uskuplah menetapkan waktu tertentu bagi pembinaan rohani yang lebih intensif. Termasuk wewenang mereka pula mempertimbangkan kegunaan waktu terluang dalam proses studi, atau masa pembinaan pastoral yang memadai, supaya para calon imam dapat diuji secara lebih saksama. Begitu pula, sesuai dengan situasi masing-masing daerah, termasuk wewenang para Uskup mengambil keputusan tentang pengunduran saat yang sekarang ini ditetapkan oleh Hukum Kanonik umum untuk pentahbisan; begitu pula mempertimbangkan adanya kesempatan, supaya para seminaris, seusai studi teologi, melaksanakan diakonat mereka untuk jangka waktu yang mencukupi, sebelum menerima Tahbisan imam.

13.V. PENINJAUAN KEMBALI STUDI GEREJAWI

(Studi persiapan untuk studi gerejawi)
Sebelum memulai studi gerejawi yang sesungguhnya, hendaknya para seminaris dibekali dengan pendidikan humaniora dan ilmiah, yang memungkinkan kaum muda menempuh studi tingkat tinggi dalam negeri. Selain itu hendaknya mereka mengetahui pengetahuan bahasa latin, yang memungkinkan mereka memahami dan memanfaatkan sekian banyak sumber ilmu dan dokument-dokument Gereja[ ]. Hendaklah dipandang perlu studi bahasa liturgi yang khas bagi masing-masing ritus, pun hendaknya sangat dianjurkan pengetahuan bahasa-bahasa Kitab suci dan tradisi.

14.(Studi gerejawi hendaknya lebih diserasikan)
Dalam meninjau kembali studi gerejawi hendaknya yang terutama mau dicapai ialah: supaya vak-vak filsafat dan teologi disusun secara lebih serasi, dan semuanya berpadu secara laras untuk makin menyingkapkan kepada para seminaris Misteri Kristus. Misteri itu menyangkut seluruh sejarah umat manusia, tiada hentinya meresapi Gereja, dan terutama berkarya melalui pelayanan imam[ ].
Supaya pandangan itu sejak awal pembinaan tersalurkan kepada para seminaris, hendaknya studi gerejawi dimulai dengan kursus pengantar dalam jangka waktu secukupnya. Pada awal studi itu Misteri Keselamatan hendaknya diuraikan sedemikian rupa, sehingga para seminaris memahami makna, tata-susunan maupun tujuan pastoral studi gerejawi, pun sekaligus dibantu untuk mendasari dan merasuki seluruh hidup mereka dengan iman, serta diteguhkan dalam menghayati panggilan mereka dengan penyerahan diri dan hati gembira.

15.(Peninjauan kembali studi filsafat)
Vak-vak filsafat hendaknya diajarkan sedemikian rupa, sehingga para seminaris pertama-tama diantar untuk mendapat pengertian yang mantap dan koheren tentang manusia, dunia dan Allah, bertumpu pada pusaka filsafat yang tetap berlaku[ ]. Sementara itu perlu diindahkan pula penyelidikan-penyelidikan filsafat yang aktual, terutama yang berpengaruh cukup besar dikalangan bangsa mereka sendiri begitu juga kemajuan mutakhir ilmu-pengetahuan. Demikianlah para seminaris akan menangkap dengan cermat mentalitas zaman sekarang, dan menjalani persiapan yang bermanfaat untuk menjalin dialog dengan orang-orang semasa[ ].
Sejarah filsafat hendaknya diajarkan sedemikian rupa, sehingga para seminaris menyelami asas-asas terdalam pelbagai sistem, mempertahankan apa yang disitu terbukti benar, mampu menyingkapkan akar-akar anggapan-anggapan yang sesat serta menyanggahnya.
Cara mengajar sendiri hendaklah membangkitkan pada diri murid cinta akan kebenaran, yang harus dicari, dikaji dan dibuktikan melulu menurut kenyataan, sementara batas-batas pengetahuan manusiawi diakui dengan jujur. Hendaknya diperhatikan dengan saksama kaitan yang erat antara filsafat dan masalah-masalah kehidupan yang nyata, begitu pula soal-soal yang sedang mengasyikkan pemikiran para seminaris. Mereka sendiri pun hendaknya ditolong untuk memahami hubungan-hubungan antara penalaran-penalaran filsafat dan misteri-misteri keselamatan, yang dalam teologi ditelaah dalam terang iman yang lebih luhur.

<<   >>