Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

16.(peningkatan studi teologi)
Hendaknya vak-vak teologi diajarkan dalam cahaya iman, di bawah bimbingan Magisterium Gereja[ ] sedemikian rupa, sehingga para seminaris dengan saksama menimba ajaran katolik dari perwahyuan ilahi, menyelaminya secara mendalam, menjadikannya bahan renungan untuk meningkatkan hidup mereka[ ], serta mampu mewartakan, menguraikan dan mempertahankannya dalam pelayanan dikemudian hari sebagai imam.
Hendaklah para seminaris diajak dengan sungguh tekun mempelajari Kitab suci, yang bagaikan harus menjiwai seluruh teolog[ ]. Sesudah mendapat pengantar secukupnya, hendaknya mereka dengan cermat diperkenalkan dengan metode menafsirkan Kitab suci. Hendaklah mereka mendalami tema-tema perwahyuan ilahi yang paling mendasar, dan dalam membaca serta merenungkan Kitab suci setiap hari mengalami, betapa hidup rohani mereka didorong dan diperkaya[ ].
Hendaknya teologi dogmatik diuraikan secara terencana, dimulai dengan penyajian tema-tema kitabiah. Hendaklah dipaparkan kepada para seminaris apa saja yang disumbangkan oleh para Bapa Gereja Timur maupun Barat, untuk dengan setia menyalurkan dan mengulas kebenaran-kebenaran Wahyu secara rinci; begitu pula sejarah dogma selanjutnya, seraya diperhatikan hubungannya dengan sejarah umum Gereja[ ]. Kemudian, untuk seutuhnya mungkin membahas misteri-misteri keselamatan, hendaklah para seminaris belajar menyelaminya secara makin mendalam melalui refleksi teologis berpaduan S. Tomas, serta memahami antar hubungannya[ ]. Hendaknya mereka diajar menyadari, bahwa misteri-misteri itu senantiasa hadir dan berkarya dalam upacara-upacara Liturgi[ ] dan dalam seluruh hidup Gereja. Begitu pula hendaklah mereka belajar memecahkan soal-soal manusiawi dalam terang Wahyu, menerapkan kebenaran-kebenarannya yang kekal pada situasi manusiawi yang silih-berganti, dan mewartakannya kepada sesama semasa dengan cara yang sesuai[ ].
Demikian pula hendaklah vak-vak teologi lainnya diperbaharui melalui kontak yang lebih hidup dengan Misteri Kristus dan sejarah keselamatan. Secara khas hendaklah diusahakan penyempurnaan teologi moral. Hendaknya itu diuraikan secara ilmiah, lebih mengacu kepada ajaran Kitab suci, sehingga sungguh menjelaskan keluhuran panggilan umat beriman dalam Kristus serta kewajiban mereka untuk demi kehidupan dunia menghasilkan buah dalam cinta kasih. Begitu pula dalam penjelasan tentang Hukum Kanonik dan penyampaian sejarah gereja hendaknya diperhatikan hubungan dengan Misteri gereja, menurut Konstitusi dogmatis tentang Gereja, yang telah dimaklumkan oleh Konsili ini. Liturgi suci harus dipandang sebagai sumber utama yang sungguh perlu bagi semangat kristen yang sejati, dan diajarkan seturut maksud Konstitusi tentang Liturgi, artikel 15 dan 16[ ].
Sementara dipertimbangkan situasi perlbagai daerah yang serba aneka, hendaknya para seminaris diajak makin mengenal Gereja-Gereja dan Jemaat-jemaat gerejawi yang terpisah dari Takhta Apostolik di Roma, supaya mereka mampu menyumbangkan jasa mereka demi semakin tercapainya pemulihan kesatuan antara semua orang kristen menurut ketetapan-ketetapan Konsili ini[ ].
Begitu pula hendaknya para seminaris diajak makin memahami agama-agama lain, yang cukup tersebar dimasing-masing daerah, supaya mereka lebih mengenali kebaikan serta kebenaran, yang berkat penyelenggaraan Allah terdapat pada agama-agama itu, belajar menyanggah kesesatan-kesesatan, dan dapat menyalurkan kepenuhan cahaya kebenaran kepada mereka yang belum menikmatinya.

17.(Metode pendidikan yang cocok dalam pelbagai vak)
Pendidikan intelektual janganlah melulu bertujuan menyampaikan pengetahuan-pengetahuan saja, melainkan hendaknya diarahkan kepada pembinaan pada seminaris yang sejati dan mendalam. Oleh karena itu hendaknya metode-metode pendidikan ditinjau kembali, baik mengenai kuliah-kuliah, wawancara dan latihan-latihan, maupun mengenai cara menggairahkan studi para seminaris, baik pribadi maupun dalam kelompok-kelompok kecil. Hendaknya sungguh-sungguh diusahakan kesatuan dan mutu seluruh pendidikan, dengan menghindari jumlah terlampau besar vak-vak maupun kuliah-kuliah, dan mengesampingkan masalah-masalah, yang praktis tidak relevan lagi, atau yang termasuk studi akademis lebih tinggi.

18.(Studi khusus bagi mereka yang berbakat tinggi)
Termasuk tugas para Uskup mengusahakan, supaya orang-orang muda, yang menilik sifat-perangai, keutamaan serta tingkat kecerdasan mereka memang cocok, diutus ke lembaga-lembaga, fakultas-fakultas atau universitas-universitas, agar diberbagai bidang teologi dan dalam ilmu pengetahuan lainnya yang dipandang sungguh berguna, disiapkan imam-imam yang dengan menempuh pendidikan ilmiah yang lebih mendalam mampu memenuhi pelbagai kebutuhan kerasulan. Tetapi hendaklah pembinaan rohani dan pastoral mereka, terutama sebelum tahbisan imam, jangan diabaikan.

19.IV. PEMBINAAN PASTORAL
(pembinaan dalam pelbagai bentuk reksa pastoral)
Keprihatinan pastoral mendalam, yang harus merasuki seluruh pendidikan para seminaris[ ], meminta juga supaya mereka dibina dengan tekun dalam segala sesuatu, yang secara khs menyangkut pelayanan imam, terutama katekese dan pewartaan, ibadat Liturgi dan pelayanan Sakramen-Sakramen, karya cinta kasih, tugas menghadapi mereka yang sesat dan tidak percaya, dan tugas-tugas pastoral lainnya. Hendaknya mereka dididik dengan saksama untuk memberi bimbingan rohani, supaya mereka mampu membina semua putera-puteri Gereja terutama untuk penuh kesadaran menghayati hidup kristen berjiwakan kerasulan, dan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban status hidup mereka. Hendaknya para seminaris belajar dengan perhatian sebesar itu juga membantu para religius pria maupun wanita, supaya mereka tetap hidup dalam rahmat panggilan mereka, dan berkembang menurut spiritualitas pelbagai Tarekat mereka[ ].
Pada umumnya hendaknya dalam diri seminaris dikembangkan kecakapan-kecakapan yang diperlukan untuk berdialog dengan sesama, misalnya: kemampuan untuk mendengarkan orang lain, dan untuk dalam semangat cinta kasih membuka hati bagi bermacam-macam segi kebutuhan manusia[ ].

20.(Pembinaan untuk mengembangkan kerasulan)
Hendaknya para seminaris juga diajar memanfaatkan sumbangan yang dapat diberikan oleh ilmu-ilmu pedagogi, psikologi dan sosiologi[ ], menganut metode-metode yang tepat dan norma-norma Pimpinan Gereja. Begitu pula hendaklah mereka disiapkan dengan cermat untuk membangkitkan dan menggairahkan kerasulan awam[ ], begitu pula untuk mengembangkan aneka bentuk kerasulan yang lebih efektif. Hendaknya mereka diresapi semangat katolik yang sejati, sehingga mereka membiasakan diri untuk melampaui batas-batas keuskupan, bangsa maupun ritus, dan membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan seluruh Gereja, dengan hati yang siap-sedia untuk dimana-mana mewartakan Injil[ ].

<<   >>