Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

117.Altar harus ditutup dengan sekurang-kurangnya satu helai kain altar berwarna putih. Pada altar atau di dekatnya dipasang sekurang-kurangnya dua lilin bernyala; tetapi boleh juga empat, bahkan enam, khususnya pada hari Minggu dan hari raya wajib. Bila uskup diosesan memimpin Misa di keuskupannya, dipasang tujuh lilin. Di samping itu, hendaknya ada sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib yang dipajang pada altar atau di dekatnya. Boleh juga lilin dan salib yang dihias dengan sosok Kristus tersalib itu dibawa dalam perarakan masuk. Kitab Injil (Evangeliarium ), bukan Buku Bacaan Misa ( Lectionarium ), dapat diletakkan pada altar, kecuali kalau kitab itu dibawa dalam perarakan masuk.

118.Begitu pula hendaknya disiapkan:
a. di tempat duduk imam: Misale dan bila diperlukan, buku nyanyian;
b. di mimbar: Buku Bacaan Misa ( lectionarium );
c. di meja samping:
(1) piala, korporale, purifikatorium dan bila diperlukan, palla;
(2) patena dan, kalau diperlukan sibori-sibori ;
(3) hosti untuk komuni imam selebran, diakon, para pelayan,dan umat;
(4) ampul berisi air dan ampul berisi anggur, kecuali kalau barang-barang ini diantarkan oleh umat waktu perarakan persembahan;
(5) bejana air suci, kalau ada pemberkatan dan perecikan dengan air suci;
(6) patena untuk komuni umat;
(7) perlengkapan untuk membasuh tangan.
Sangat dianjurkan agar piala ditutup dengan kain; warnanya dapat putih atau sesuai dengan warna liturgi hari yang bersangkutan.

119.Di sakristi hendaknya disiapkan busana liturgis (bdk. no. 337-341) untuk imam, diakon, dan pelayan-pelayan lain sesuai dengan bentuk perayaan :
a.
untuk imam: alba, stola, dan kasula;
b. untuk diakon: albam stola, dan dalmatik. Namun dalmatik juga dapat ditiadakan, jika tidak diperlukan atau jika perayaannya tidak begitu meriah;
c. untuk pelayan lainnya: alba atau busana lain yang sudah disahkan.[*]

Semua petugas yang memakai alba, juga menggunakan singel dan amik, kecuali kalau bentuk alba tidak memerlukannya.

Kalau ada perarakan masuk, hal-hal berikut juga perlu disiapkan:
(1) Kitab Injil (Evangeliarium) ;
(2) pada hari Minggu dan hari raya: pedupaan dan wadah dupa ( kalau dipakai pedupaan );
(3) salib dan lilin bernyala untuk dibawa dalam perarakan.

120.Setelah jemaat berkumpul, imam dan para pelayan, dengan mengenakan busana liturgis masing-masing, berarak menuju altar. Urutannya sebagai berikut :
a. Pelayan yang membawa pedupaan berasap, bila dipakai dupa.
b. Pelayan-pelayan yang membawa lilin bernyala, mengapit akolit atau pelayan lain yang membawa salib.
c. Para akolit dan pelayan-pelayan yang lain.
d. Lektor; dapat membawa Kitab Injil ( Evangeliarium ), bukan Buku Bacaan Misa (Lectionarium) yang sedikit diangkat.
e. Imam yang memimpin perayaan Misa.

Kalau dipakai dupa, sebelum perarakan mulai, imam membubuhkan dupa ke dalam pedupaan dan memberkatinya dengan tanda salib tanpa mengatakan apa-apa.

121.Pada waktu perarakan menuju altar, dilagukan nyanyian pembuka (bdk. no. 47-48)

122.Setibanya di depan altar, imam dan para pelayan membungkuk khidmat.
Kalau dalam perarakan ini dibawa salib, maka salib itu dipajang di dekat altar sehingga berfungsi sebagai salib altar, dan hanya salib itulah yang harus digunakan; kalau ada salib lain, lebih baik salib perarakan ini dipajang di tempat lain ( diluar panti imam ). Lilin-lilin yang dibawa oleh para pelayan, ditempatkan di dekat altar.

123.Imam menuju altar dan menciumnya sebagai tanda penghormatan. Kalau dianggap perlu, imam lalu mendupai salib dan berkeliling mendupai altar.

124.Kemudian, imam pergi ke tempat duduk. Semua tetap berdiri, dan bila nyanyian pembuka selesai, imam bersama dengan seluruh umat membuat tanda salib sementara imam berkata: Dalam (Demi) nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, dan umat menjawab: Amin
Lalu imam memberi salam kepada umat. Ia menghadap ke arah umat, membuka tangan dan mengucapkan salah satu rumus salam yang tersedia. Kemudian imam atau seorang pelayan lain dapat menyampaikan kata pengantar amat singkat tentang Misa yang dirayakannya.

125.Kemudian menyusul pernyataan tobat. Sesudah itu, dilagukan atau diucapkan Tuhan Kasihanilah sesuai dengan petunjuk rubrik (bdk.no.52).

126.Seturut ketentuan, kemudian dilagukan atau diucapkan kemuliaan (bdk.no. 53).

127.Lalu, sambil membuka tangan imam mengajak umat: Marilah kita berdoa, lalu langsung mengatupkan tangan. Semua hadirin bersama dengan imam berdoa sejenak dalam hati. Setelah itu imam merentangkan tangan dan membawakan doa pembuka (kolekta), yang ditutup oleh umat dengan seruan : Amin.

128.Sesudah doa pembuka (kolekta), semua duduk. Imam dapat menyampaikan pengantar amat singkat agar umat mendengarkan sabda Tuhan dengan baik. Kemudian, lektor pergi ke mimbar dan mewartakan bacaan pertama dari Buku Bacaan Misa yang sudah tersedia di sana sejak sebelum misa. Umat mendengarkannya. Sesudah bacaan, lektor berseru: Demikianlah sabda Tuhan, dan umat menjawab dengan seruan: Syukur kepada Allah.

Tepat sekali bila sesudah bacaan diadakan saat hening sejenak, supaya umat dapat merenungkan sebentar apa yang telah mereka dengar.

129.Sesudah bacaan, pemazmur atau lektor sendiri membawakan ayat-ayat mazmur tanggapan. Umat menanggapi dengan menyerukan / melagukan ulangan.

130.Kalau sebelum Injil masih ada bacaan kedua, lektor mewartakannya dari mimbar. Umat mendengarkannya dan, sesudah bacaan, memberi tanggapan dengan seruan seperti di atas (no.128). Tepat sekali bila sesudah bacaan diadakan saat hening sejenak.

131.Kemudian, semua berdiri dan melagukan bait pengantar Injil dengan atau tanpa alleluya sesuai dengan masa liturgi (bdk.no.62-64).

132.Selama dilagukan bait pengantar Injil, jika dipakai dupa, imam mengisi pedupaan dan memberkatinya. Kemudian, imam mangatupkan tangan, membungkuk khidmat ke arah altar sambil berdoa dalam hati: Sucikanlah hati dan budiku

133.Jika Kitab Injil terletak di atas altar, sekarang imam mengambilnya dan membawanya ke mimbar, dengan sedikit diangkat. Waktu pergi ke mimbar imam didahului oleh putra altar yang dapat membawa pedupaan dan lilin bernyala. Semua yang hadir menghadap ke arah mimbar, dan dengan demikian menunjukkan penghormatan khusus kepada Injil Kristus.

134.Di mimbar itu, imam membuka Kitab Injil dan sambil membuka tangan berkata : Tuhan sertamu, lalu mengatupkan tangan. Umat menjawab : Dan sertamu juga. Kemudian imam berkata : Inilah Injil Yesus Kristus?Dengan ibu jari imam membuat tanda salib pada Injil yang akan diwartakan, lalu pada dahi, mulut,dan dadanya. Hal yang sama juga dilakukan oleh umat. Umat menyerukan aklamasi : Dimuliakanlah Tuhan. Bila dipakai dupa (bdk.no. 277-278), imam mendupai Kitab Injil. Sesudah itu imam mewartakan Injil, dan sesudah pewartaan, ia melagukan atau menyerukan aklamasi : Demikianlah sabda Tuhan, yang dijawab umat dengan seruan : Terpujilah Kristus. Sesudah itu imam mencium Kitab Injil sambil berdoa dalam hati : Ya Tuhan, karena pewartaan Injil ini, hapuskanlah dosa kami.

135.Kalau tidak ada lektor, imam sendiri membawakan dari mimbar semua bacaan, dan jika perlu juga mazmur tanggapan serta bait pengantar Injil. Kalau dipakai dupa, dimimbar pula ia mengisi pedupaan dan memberkatinya lalu berdoa : Sucikanlah hati dan budiku?sambil membungkuk khidmat.

136.Sambil berdiri di dekat tempat duduk atau di mimbar atau kalau dianggap baik, ditempat lain yang serasi, imam menyampaikan homili. Sesudah homili, dapat dilaksanakan saat hening sejenak.

137.Syahadat dilagukan atau didaras oleh imam bersama-sama dengan umat (bdk.no.68) sambil berdiri. Pada kata-kata Ia dikandung dari Roh Kudus?menjadi manusia seluruh umat membungkuk khidmat; tetapi pada hari Raya Kabar Sukacita dan pada Hari Raya Natal semua berlutut.

138.Kemudian menyusul doa umat yang dipimpin oleh imam dari tempat duduknya. Dengan tangan terkatup,imam mengajak umat mengambil bagian didalamnya. Ujud-ujud doa umat dimaklumkan oleh diakon, solis, lektor atau pelayan yang lain, dari mimbar atau dari tempat lain yang cocok. Umat berpartisipasi dalam doa yang aklamasi sesudah tiap-tiap ujud. Sambil merentangkan tangan, imam mengakhiri rangkaian ujud-ujud itu dengan doa.

139.Setelah doa umat selesai, semua duduk dan kalau ada perarakan persembahan, nyanyian persiapan persembahan dimulai (bdk.no.74).

Akolit atau pelayan awam lain menata korporale, purifikatorium, piala, palla dan Misale pada altar.

140.Dianjurkan agar umat beriman berpartisipasi dalam persiapan persembahan dengan mengantar roti dan anggur untuk perayaan Ekaristi dan persembahan lain untuk keperluan Gereja dan orang-orang miskin. Bahan persembahan umat beriman diterima oleh imam dibantu akolit atau pelayan-pelayan lain. Roti dan anggur untuk Ekaristi diterima oleh imam selebran lalu diletakkan pada altar, sedangkan bahan persembahan lain diletakkan di tempat yang cocok (bdk.no.73).

141.Di altar, imam menerima patena dengan roti dari pelayan yang membantunya, lalu dengan kedua belah tangan mengangkatnya sedikit diatas altar sambil mengucapkan dalam hati doa : Terpujilah Engkau. Setelah itu patena dengan roti diletakkan diatas korporale.

142.Kemudian, imam pergi ke sisi altar. Putra altar menyampaikan ampul berisi anggur, lalu imam menuangkan anggur ke dalam piala. Kemudian putra altar menyampaikan ampul berisi air, lalu imam menuangkan sedikit air ke dalam piala sambil berkata dalam hati: sebagimana dilambangkan?.Setelah kembali ke tengah dengan kedua tangan imam mengambil piala, mengangkatnya sedikit di atas altar sambil berdoa dengan suara lembut: Terpujilah Engkau. Lalu piala diletakkan di atas korporale, dan bila dianggap perlu ditutup dengan palla.[*]

Tetapi, kalau tidak ada nyanyian persiapan persembahan, dan alat musik pun tidak dimainkan, waktu mengangkat roti dan anggur imam boleh mengucapkan rumus Terpujilah Engkau dengan suara lantang, dan umat menanggapinya dengan aklamasi: Terpujilah Allah selama-lamanya .

143.Setelah piala diletakkan di atas altar, imam membungkuk khidmat dan berdoa dalam hati: Dengan rendah hati dan tulus,??

144.Bila dipakai dupa, imam lalu mengisi pedupaan, dan mendupai bahan persembahan, salib, dan altar. Kemudian, seorang pelayan mendupai imam dari sisi altar. Akhirnya pelayan yang sama mendupai umat.

145.Sesudah doa Dengan rendah hati dan tulus?..atau sesudah pendupaan, imam membasuh tangan pada sisi altar. Waktu air dituangkan atas tangannya oleh seorang pelayan, imam berdoa dalam hati Ya Tuhan, bersihkanlah.

<<   >>