Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

30.Di antara doa-doa yang dibawakan oleh imam, Doa Syukur Agung menduduki tempat utama. Doa itu merupakan puncak seluruh ibadat. Di samping itu, ada doa pembuka, doa persiapan persembahan, dan doa komuni. Doa-doa itu disampaikan oleh imam kepada Allah atas nama seluruh umat kudus dan semua yang hadir, dan melalui dia Kristus sendiri memimpin himpunan umat.[*] Oleh karena itu, doa-doa tersebut disebut "doa presidensial"( doa pemimpin ).

31.Sebagai pemimpin jemaat, imam berwenang menyampaikan sejumlah ajakan yang tercantum dalam tata perayaan yang bersangkutan. Sesuai ketentuan rubrik, pemimpin boleh menyesuaikannya supaya lebih selaras dengan daya tangkap umat beriman, Tetapi imam hendaknya selalu memperhatikan intisari ajakan yang diberikan dalam buku liturgis dan mengungkapkannya secara singkat. Begitu pula, wewenang imam pemimpinlah untuk mewartakan Sabda Allah dan memberikan berkat terakhir. Kecuali itu, imam dapat memberikan pengantar sangat singkat pada
(1) pada Ritus Pembuka, yaitu sesudah salam dan sebelum ritus tobat;
(2) pada Liturgi Sabda sebelum bacaan?bacaan;
(3) pada Liturgi Ekaristi sebelum prefasi, tetapi tidak pernah dalam Doa Syukur Agung sendiri; dan
(4) pada Ritus Penutup sebelum pengutusan.

32.Seturut hakikatnya , doa-doa "presidensial" harus dibawakan dengan suara lantang dan ucapan yang jelas, supaya mudah di tangkap oleh jemaat. Sebaliknya jemaat wajib mendengarkannya dengan penuh perhatian.[*] Oleh karena itu, sementara imam membawakan doa tak boleh di bawakan doa lain atau nyanyian. Juga tidak boleh dimainkan organ atau alat musik lainnya.

33.Sebagai pemimpin, imam melambungkan doa-doa atas nama Gereja dan atas nama jemaat yang berhimpun. Tatapi kadang-kadang ia berdoa juga untuk dirinya sendiri, supaya dapat melaksanakan tugasnya dengan khidmat dan penuh perhatian. Doa-doa pribadi semacam itu, yakni doa sebelum pemakluman Injil, doa pada persiapan persembahan, dan doa sebelum serta sesudah komuni imam, dia ucapakan dalam hati.

34.Seturut hakikatnya, Misa merupakan perayaan "jemaat".[*] Oleh karena itu, sangat pentinglah dialog antara pemimpin dan umat beriman yang berhimpun; begitu pula aklamasi-aklamasi sangat besar artinya.[*]Semua itu bukan hanya tanda lahiriah perayaan bersama, melainkan juga sarana untuk membina dan memperdalam kebersatuan anatara imam dan umat.

35.Aklamasi dan jawaban-jawaban umat beriman terhadap salam dan doa-doa imam menciptakan tingkat partisipasi aktif yang harus ditunjukan jemaat dalam setiap bentuk Misa. Dengan demikian, tindakan seluruh jemaat dapat diungkapkan secara jelas dan ditingkatkan.[*]

36.Bagian-bagian lain dalam perayaan Ekaristi yang sangat berguna untuk memupuk partisipasi umat beriman yang berhimpun terutama ialah : pernyataan tobat, syahadat, doa umat, dan doa Bapa Kami. Maka doa-doa tersebut dibawakan oleh seluruh jemaat yang hadir.

37.Akhirnya, masih ada teks-teks lain:
a. sebagian merupakan ritus atau kegiatan tersendiri, seperti Kemuliaan , mazmur tanggapan, bait pengantar Injil ( dengan atau tanpa alleluyah ), Kudus, aklamasi anamnesis, madah syukur sesudah komuni;
b. Sebagian lagi mengiringi ritus lain, seperti nyanyian pembuka, nyanyian persiapan persembahan, nyanyian pemecahan roti ( Anak domba Allah ), dan nyanyian komuni.

38.Semua teks hendaknya dibawakan dengan suara lantang dan ucapan yang jelas. Ketentuan ini berlaku bagi imam dan diakon, maupun bagi lektor dan seluruh umat. Namun masing-masing teks, entah itu bacaan, doa, kata-kata pengantar, aklamasi, atau nyanyian, harus dibawakan sesuai dengan maksud dan tujuannya; juga harus sesuai dengan bentuk perayaan dan kemeriahannya. Di samping itu, harus pula diperhatikan sifat bahasa dan ciri khas bangsa yang bersangkutan.

Oleh karena itu, seturut rubrik dan kaidah-kaidah berikut, istilah "diucapkan" atau "dibawakan" dapat diartikan juga sebagai "dilagukan" atau "didaras", asal asas-asas yang diuraikan di atas dipatuhi.

39.Rasul Paulus menganjurkan kepada himpunan umat yang menantikan kedatangan Tuhan, supaya mereka melagukan mazmur, madah, dan lagu-lagu rohani ( lih. Kol 3:16 ). Orang bernyanyi karena hatinya gembira (lih .Kis 2:46). Dengan tepat Agustinus berkata, "Orang yang penuh cinta suka bernyanyi"[*] Ada juga peribahasa kuno, "yang bernyanyi dengan baik berdoa dua kali."

40.Karena alasan itu, dan dengan mempertimbangkan kekhasan bangsa dan kemampuan jemaat liturgis yang bersangkutan, penggunaan nyanyian dalam perayaan Misa hendaknya dijungjung tinggi. Memang, tidak selalu perlu melagukan semua teks yang dimaksudkan sebagai nyanyian, misalnya dalam misa harian. Tetapi, hendaknya sungguh diupayakan agar dalam perayaan liturgi pada hari Minggu dan hari-hari raya wajib nyanyian-nyanyian yang ditentukan untuk pelayan dan umat selalu dilagukan.

Untuk menentukan teks-teks mana yang akan dilagukan, hendaknya didahulukan yang lebih penting, yakni: teks-teks yang dilagukan oleh imam atau diakon atau lektor dengan jawaban oleh umat, atau teks yang dilagukan oleh imam dan umat bersama-sama.[*]

41.Meskipun semua nyanyian sama, nyanyian gregorian yang merupakan ciri khas liturgi Romawi, hendaknya diberi tempat utama. Semua jenis musik ibadat lainnya, khususnya nyanyian polifoni, sama sekali tidak dilarang, asal saja selaras dengan jiwa perayaan liturgi dan dapat menunjang partisipasi seluruh umat beriman.[*] Dewasa ini, makin sering terjadi himpunan jemaat yang terdiri atas bermacam-macam bangsa. Maka sangat diharapjan agar umat mahir melagukan bersama-sama sekurang-kurangnya beberapa bagian ordinarium Misa dalam Bahasa Latin, terutama Credo dan Pater noster dengan lagu yang sederhana.[*]

42.Tata gerak dan sikap tubuh imam, diakon, para pelayan, dan jemaat haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga:
(1) seluruh perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun;
(2) makna aneka bagian perayaan dipahami secara tepat dan penuh; dan
(3) partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan.[*] Oleh karena itu, ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawiserta kesejahteraan rohani umat Allah harus lebih diutamakan daripada selera pribadi dan pilihan yang serampangan.

Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi Kudus. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula.[*]

43.Umat hendaknya berdiri :
a. dari awal nyanyian pembuka, atau selama perarakan masuk menuju altar sampai dengan doa pembuka selesai;
b. pada waktu melagukan bait pengantar Injil ( dengan atau tanpa alleluya);
c. pada waktu Injil dimaklumkan;
d. selama syahadat;
e. selama doa umat;
f. dari ajakan Berdoalah, Saudara sebelum doa persiapan persembahan sampai akhir perayaan Ekaristi, kecuali pada saat-saat yang disebut di bawah ini.

Umat hendaknya duduk:

a. selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama mazmur tanggapan;
b. selama homili;
c. selama persiapan persembahan;
d. selama saat hening sesudah komuni.

Umat berlutut pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengijinkan, entah karena banyaknya umat yang hadir, entah karena sebab-sebab lain. Mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi hendaknya membungkuk khidmat pada saat imam berlutut sesudah konsekrasi.

Akan tetapi, sesuai dengan ketentuan hukum, Konferensi Uskup boleh menyerasikan tata gerak dan sikap tubuh dalam tata Tata Perayaan Ekaristi dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat.[*] Namun, hendaknya Konferensi Uskup menjamin bahwa penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian perayaan Ekaristi yang bersangkutan. Kalau umat sudah terbiasa berlutut sejak sesudah Kudus sampai dengan akhir Doa Syukur Agung, kebiasaan ini seyogyanya dipertahankan.

Demi keseragaman tata gerak dan sikap tubuh selama perayaan, umat hendaknya mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh diakon, pelayan awam, atau imam, selaraas dengan petunjuk buku-buku liturgis.

44.Istilah tata gerak mencakup juga:
(1) tindakan dan perarakan imam bersama diakon dan para pelayan menuju altar;
(2) perarakan diakon yang membawa Kitab Injil menuju mimbar sebelum pemakluman Injil;
(3) perarakan umat beriman yang mengantar bahan persembahan dan maju untuk menyambut komuni. Hendaknya tata gerak ini dilaksanakan dengan anggun, sesuai dengan kaidah masing-masing, dan diiringi dengan nyanyian yang serasi.


45.Beberapa kali dalam Misa hendaknya diadakan saat hening, Saat hening juga merupakan bagian perayaan,[*] tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Sebelum pernyataan tobat umat mawas diri, dan sesudah ajakan untuk doa pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang telah didengar. Sesudah komuni umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati.

Bahkan sebelum perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat.

46.Ritus Pembuka meliputi bagian-bagian yang mendahului Liturgi Sabda, yaitu perarakan masuk, salam, kata pengantar, pernyataan tobat, Tuhan Kasihanilah, Kemuliaan, dan doa pembuka; semua bagian ini memiliki ciri khas sebagai pembuka, pengantar, dan persiapan.

Tujuan semua bagian itu ialah mempersatukan umat yang berhimpun dan mempersiapkan mereka, supaya dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak.

Seturut kaidah buku-buku liturgis, Ritus Pembuka dihilangkan atau dilaksanakan secara khusus, kalau Misa di dahului perayaan lain.

47.Setelah umat berkumpul, imam bersama dengan diakon dan para pelayan berarak menuju altar. Sementara itu di mulai nyanyian pembuka. Tujuan nyanyian tersebut ialah: membuka Misa, membina kesatuan umat yang berhimpun, mengantar masuk ke dalam misteri masa liturgi atau pesta yang dirayakan, dan mengiringi perarakan imam beserta pembantu-pembantunya.

48.Nyanyian pembuka dibawakan silih-berganti oleh paduan suara dan umat atau bersama-sama oleh penyanyi dan umat. Dapat juga dilagukan seluruhnya oleh umat atau oleh paduan suara saja. Nyanyian tersebut dapat berupa mazmur dengan antifonnya yang di ambil dari Graduale Romanum atau dari Graduale Simplex. Tetapi boleh juga digunakan nyanyian lain yang sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, asal teksnya disahkan oleh Konferensi Uskup.[*]

Bila tidak ada nyanyian pembuka, maka antifon pembuka yang terdapat dalam Misale dibawakan oleh seluruh umat bersama-sama atau oleh beberapa orang dari mereka, ataupun oleh seorang pembaca. Dapat juga imam sendiri membacakannya sesudah salam; bahkan imam boleh mengubah antifon pembuka menjadi kata pengantar (bdk. no. 31).

49.Setibanya di panti imam, imam, diakon, dan para pelayan menghormati altar dengan membungkuk khidmat.

Kemudian, sebagai tanda penghormatan, imam dan diakon mencium altar; sesuai dengan tingkat perayaan, imam dapat juga mendupai salib dan altar.

50.Seusai nyanyian pembuka, imam, sambil berdiri di depan tempat duduk, bersam-sama dengan seluruh umat membuat tanda salib. Kemudian imam menyampaikan salam kepada umat untuk menunjukan bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah mereka. Salam tersebut dengan jawaban dari pihak umat memperlihatkan misteri Gereja yang sedang berkumpul.

Setelah imam menyampaikan salam kepada umat, imam, atau diakon, atau pelayan lain dapat memberikan pengantar sangat singkat kepada umat tentang Misa yang akan dirayakan.

51.Kemudian, imam mengajak umat untuk menyatakan tobat. Sesudah hening sejenak, seluruh umat menyatakan tobat dengan rumus pengakuan umum. Sesudah itu, imam memberikan absolusi.Tetapi absolusi ini tidak memiliki kuasa pengampunan seperti absolusi dalam Sakramen Tobat.

Pada hari Minggu, khususnya selama Masa Paskah, Pernyataan Tobat dapat diganti dengan pemberkatan dan perecikan dengan air suci untuk mengenang pembaptisan.[*]

52.Pernyataan tobat selalu disambung dengan Tuhan Kasihanilah, kecuali kalau seruan Tuhan Kasihanilah telah tercantum dalam pernyataan tobat. Sifat Tuhan Kasihanilah ialah berseru kepada Tuhan dan memohon belaskasihan-Nya. Oleh karena itu, Tuhan Kasihanilah biasanya dilagukan oleh seluruh umat, artinya : silih- berganti oleh umat dan paduan suara atau solis.

Pada umumnya, masing-masing seruan Tuhan Kasihanilah diulang satu kali. Akan tetapi, berhubung dengan bahasa setempat, dengan lagu ataupun sifat pesta, Tuhan Kasihanilah itu boleh diulang-ulang lebih banyak. Kalau Tuhan Kasihanilah dibawakan sebagai bagian pernyataan tobat, setiap aklamasi didahului ayat yang sesuai.

53.Kemuliaan adalah madah yang sangat dihormati dari zaman kristen kuno. Lewat madah ini Gereja yang berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah Bapa dan Anakdomba Allah, serta memohon belaskasihan-Nya. Teks madah ini tidak boleh di ganti dengan teks lain. Kemuliaan di buka oleh imam atau , lebih cocok, oleh solis atau oleh kor, kemudian dilanjutkan oleh seluruh umat bersama-sama, atau oleh umat dan paduan suara bersahut-sahutan, atau hanya oleh kor. Kalau tidak dilagukan, madah Kemuliaan dilafalkan oleh seluruh umat bersama-sama atau oleh dua kelompok umat secara bersahut-sahutan.

Kemuliaan dilagukan atau diucapkan pada hari-hari raya dan pesta, pada perayaan-perayaan meriah, dan pada hari Minggu di luar Masa Adven dan Prapaskah.

54.Kemudian, imam mengajak umat untuk berdoa. Lalu semua yang hadir bersama dengan imam hening sejenak untuk menyadari kehadiran Tuhan, dan dalam hati mengungkapkan doanya masing-masing. Kemudian, imam membawakan doa pembuka yang lazim disebut "collecta", yang mengungkapkan inti perayaan liturgi hari yang bersangkutan. Selaras dengan tradisi tua Gereja, doa pembuka diarahkan kepada Allah bapa, dengan pengantaraan Putra, dalam Roh Kudus,[*] dan diakhiri dengan penutup trinitaris atau penutup panjang sebagai berikut :

Kalau doa diarahkan kepada Bapa :
Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu,
Tuhan kami,
yang bersama dengan Dikau,
dalam persatuan Roh Kudus
hidup dan berkuasa,
Allah, kini dan sepanjang masa.

Kalau doa diarahkan kepada Bapa, tetapi pada akhir doa disebut juga Putra:
Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami,
yang bersama dengan Dikau,
dalam persatuan Roh Kudus,
hidup dan berkuasa,
Allah, kini dan sepanjang masa.

Kalau doa diarahkan kepada Putra:
Sebab Engkaulah Tuhan, pengantara kami,
Yang bersama dengan Bapa,
Dalam persatuan Roh Kudus,
Hidup dan berkuasa,
Allah, kini dan sepanjang masa.

Umat memadukan hati dalam doa pembuka, dan menjadikannya doa mereka sendiri dengan aklamasi: Amin.

Dalam setiap Misa hanya ada satu doa pembuka.

55.Bacaan-bacaan dari Alkitab dan nyanyian-nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dari Liturgi Sabda, sedangkan homili, syahadat, dan doa umat memperdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Sebab dalam bacaan, yang diuraikan dalam homili, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya.[*] Di situ Allah menyingkapkan misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan makna rohani. Lewat sabda-Nya, Kristus sendiri hadir di tengah-tengah umat beriman.[*] Sabda Allah itu diresapkan oleh umat dalam keheningan dan nyanyian, dan diimani dalam syahadat. Setelah dikuatkan dengan sabda, umat memanjatkan permohonan-permohonan
dalam doa umat untuk keperluan seluruh Gereja dan keselamatan seluruh dunia.

56.Liturgi Sabda haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mendorong umat untuk merenung. Oleh karena itu, setiap bentuk ketergesa-gesaan yang dapat mengganggu permenungan harus sungguh dihindari. Selama Liturgi Sabda, Sangat cocok disisipkan saat hening sejenak, tergantung pada besarnya jemaat yang berhimpun. Saat hening ini merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah, dengan dukungan Roh Kudus, dan untuk menyiapkan jawaban dalam bentuk doa. Saat hening sangat tepat dilaksanakan sesudah bacaan pertama, sesudah bacaan kedua, dan sesudah homili.

57.Dalam bacaan-bacaan dari Alkitab, sabda Allah dihidangkan kepada umat beriman, dan khazanah harta Alkitab dibuka bagi mereka.[*] Maka, kaidah penataan bacaan Alkitab hendaknya dipatuhi, agar tampak jelas kesatuan Perjanjian Lama ? Perjanjian Baru dengan sejarah keselamatan. Tidak diizinkan mengganti bacaan dan mazmur tanggapan, yang berisi Sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Alkitab.[*]

58.Dalam Misa umat, bacaan-bacaan selalu dimaklumkan dari mimbar.

59.Menurut tradisi, pembacaan itu bukanlah tugas pemimpin perayaan, melainkan tugas pelayan yang terkait. Oleh karena itu, bacaan-bacaan hendaknya dibawakan oleh lektor, sedangkan Injil dimaklumkan oleh diakon atau imam lain yang tidak memimpin perayaan. Akan tetapi, kalau tidak ada diakon atau imam lain, maka Injil dimaklumkan oleh imam selebran sendiri. Juga kalau lektor tidak hadir, bacaan-bacaan sebelum Injil pun dapat dibawakan oleh imam selebran sendiri.

Sesudah setiap bacaan, petugas, siapapun dia, melagukan atau melafalkan aklamasi yang ditanggapi oleh jemaat. Dengan tanggapan itu, jemaat menghormati sabda Allah yang telah mereka sambut dengan penuh iman dan rasa syukur.

<<   >>