Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
 
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 
Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

6.(para imam, pemimpin umat Allah)
Sementara para imam, sesuai dengan tingkat partisipasi mereka dalam kewibawaan, menunaikan tugas Kristus sebagai Kepala dan Gembala, mereka atas nama uskup menghimpun keluarga Allah sebagai rukun persaudaraan yang sehati sejiwa, dan melalui Kristus mengantarnya dalam Roh menghadap Allah Bapa[ ]. Untuk menjalankan pelayanan itu, seperti juga untuk tugas-tugas imam lainnya, dikurniakan kuasa rohani, yang diberikan untuk membangun umat[ ]. Seturut teladan Tuhan, dalam membangun Gereja para imam harus bergaul dengan semua orang penuh perikemanusiaan. Janganlah mereka bertindak terhadap mereka mengikuti selera orang-orang[ ], melainkan menurut tuntutan-tuntutan ajaran dan hidup kristen, dengan mengajar serta memperingatkan mereka juga sebagai putera-puteri yang terkasih[ ], menurut pesan Rasul: Siap-sedialah, entah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegurlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran? (2Tim 4:2)[ ].
Maka termasuk tugas para imam sebagai pembina imanlah, mengusahakan entah secara langsung atau melalui orang-orang lain, supaya mereka yang beriman masing-masing dibimbing dalam Roh Kudus untuk menghayati panggilannya sendiri menurut Injil, untuk secara aktif mengamalkan cinta kasih yang jujur, dan untuk hidup dalam kebebasan yang dikurniakan oleh Kristus kepada kita[ ]. Hanya sedikit sajalah manfaat upacara-upacara betapa pun indahnya, atau himpunan-himpunan betapa pun suburnya bila itu semua tidak diarahkan untuk membina orang-orang menuju kedewasaan kristiani[ ]. Untuk memupuk kedewasaan itu mereka dibantu oleh para imam, supaya dalam peristiwa-peristiwa besar maupun kecil mampu menangkap apakah yang dituntut oleh situasi, dimanakah letak kehendak Allah. Hendaknya umat kristen dibina juga, supaya jangan hanya hidup untuk diri sendiri, melainkan ? menanggapi tuntutan perintah baru tentang cinta kasih ? supaya mereka saling berbagi rahmat, sesuai dengan kasih kurnia yang diterima oleh masing-masing[ ], dan dengan demikian semua melaksanakan tugas-tugas mereka secara kristiani dalam masyarakat.
Sungguh pun para imam mempunyai kewajiban terhadap semua orang, hendaknya mereka secara istimewa bertanggung jawab atas kaum miskin dan lemah. Sebab Tuhan sendiri menunjukkan, betapa Ia menyatu dengan mereka[ ], dan pewartaan Injil kepada mereka merupakan tanda karya Almasih[ ]. Hendaknya secara khas pula mereka perhatikan generasi muda, begitu juga para suami-isteri dan orangtua; dihimbau agar mereka berkumpul dalam rukun-rukun persaudaraan, untuk saling membantu, supaya dalam hidup yang sering penuh kesukaran mereka lebih mudah lebih penuh bertindak secara kristiani. Hendaknya para imam menyadari, bahwa semua religius pria maupun wanita merupakan bagian yang istimewa di rumah Tuhan, dan karena itu layak mendapat pelayanan yang khas demi kemajuan rohani mereka, demi kesejahteraan seluruh Gereja. Akhirnya hendaknya mereka penuh keprihatinan terhadap mereka yang sakit dan menjelang ajalnya, mengunjungi mereka, dan meneguhkan mereka dalam Tuhan[ ].
Tugas Gembala tidak terbatas pada reksa pastoral terhadap kaum beriman secara perorangan, melainkan sudah sewajarnya diperluas pula untuk membina jemaat kristen yang sejati. Adapun untuk sebagaimana mestinya memupuk semangat menjemaat, semangat itu jangan hanya mencakup Gereja setempat, melainkan harus pula ,eliputi Gereja semesta. Jemaat setempat hanya mengembangkan reksa pastoral umat berimannya sendiri, melainkan digerakkan oleh semangat misioner wajib pula merintis jalan menuju Kristus bagi semua orang. Tetapi jemaat hendaknya secara khas merasa bertanggung jawab atas para katekumen dan baptisan baru, yang langkah demi langkah harus dibina untuk makin mengenal dan menghayati hidup kristen.
Tiada jemaat kristen dibangun tanpa berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi suci. Maka disitulah harus dimulai segala pembinaan semangat menjemaat[ ]. Supaya perayaan itu sungguh tulus dan mencapai kepenuhannya, harus mendorong umat ke arah pelbagai karya cinta kasih, usaha saling membantu, kebiatan misioner, dan aneka bentuk kesaksian kristiani. Selain itu, melalui cinta kasih, doa, teladan dan ulah pertobatan, jemaat gerejawi menunjukkan keibuannya yang sejati dengan mengantar jiwa-jiwa kepada Kristus. Sebab jemaat merupakan upaya yang efektif, untuk memperlihatkan kepada mereka yang belum beriman atau merintiskan bagi mereka jalan menuju Kristus serta Gereja-Nya, dan untuk membangkitan semangat kaum beriman, memelihara kehidupan mereka, dan meneguhkan mereka bagi perjuangan rohani.

Dalam membangun jemaat kristen para imam tidak pernah bekerja demi suatu ideologi atau bagi suatu partai; melainkan mereka berkarya sebagai pewarta Injil dan gembala Gereja, untuk mendukung pertumbuhan rohani Tubuh Kristus.

7.II. HUBUNGAN PARA IMAM DENGAN SESAMA

(Hubungan para Uskup dan para imam)
Semua imam bersama para Uskup berperanserta menghayati satu imamat dan satu pelayanan Kristus sedemikian rupa, sehingga kesatuan pentakdisan dan perutusan itu sendiri menuntut persekutuan hirarkis mereka dengan Dewan para Uskup[ ]. Persekutuan itu kadang-kadang dengan jelas sekali mereka tampilkan dalam konselebrasi Liturgi; di situ sekaligus mereka ungkapkan, bahwa mereka merayakan Perjamuan Ekaristi dalam persatuan dengan para Uskup[ ]. Maka para Uskup, berdasarkan kurnia Roh Kudus yang dalam Tahbisan suci dianugerahkan kepada para imam, memandang mereka sebagai pembantu dan penasehat yang sungguh dibutuhkan dalam pelayanan dan tugas mengajar, menguduskan dan menggembalakan umat Allah[ ]. Sudah sejak zaman kuno itu di maklumkan oleh dokument-dokument liturgi Gereja, yakni bila secara resmi Allah dimohon untuk mencurahkan atas diri imam yang ditahbiskan ?roh rahmat dan nasehat, supaya ia membantu dan membimbing umat dengan hati yang bersih?[ ], seperti dulu di padang gurun roh Musa telah disalurkan ke dalam hati tujuh puluh pria yang bijaksana[ ], ?yang dipekerjakan oleh Musa sebagai pembantunya, sehingga ia dengan mudah memimpin umat yang tak terbilang jumlahnya?[ ]. Maka karena persekutuan dalam satu imamat dan satu pelayanan itu, hendaknya para Uskup memandang para imam sebagai saudara dan sahabat mereka[ ], serta sedapat mungkin memperhatikan kesejahteraan mereka baik jasmani maupun terutama rohani. Sebab terutama merekalah yang menanggung beban tanggung jawab yang cukup berat atas kesucian para imam mereka[ ]. Maka hendaknya mereka usahakan sedapat mungkin pembinaan terus-menerus para imam[ ]. Hendaknya para Uskup dengan senang hati mendengarkan para imam, bahkan meminta nasehat mereka, dan merundingkan dengan mereka hal-hal, yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan karya pastoral dan kesejahteraan keuskupan. Agar supaya itu sungguh dilaksanakan, hendaknya dengan cara yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan-kebutuhan zaman sekarang[ ], menutut bentuk dan norma-norma yang ditetapkan oleh hukum, dibentuk dewan atau senat para imam[ ], yang mewakili semua imam, untuk dengan nasehat-nasehatnya membantu Uskup secara efektif dalam memimpin keuskupannya.
Adapun para imam hendaknya memandang kepenuhan Sakramen Imamat yang ada pada para Uskup, dan dalam diri mereka menghormati kewibawaan Kristus Gembala Tertinggi. Hendaknya mereka berpaut pada Uskup mereka dengan cinta kasih yang tulus dan sikap patuh-taat[ ]. Kepatuhan para imam itu, yang diresapi semangat kerja sama, berdasarkan partisipasi mereka dalam pelayanan Uskup, yang diberikan kepada para imam melalui Sakramen Tahbisan dan perutusan kanonik[ ].
Zaman kita sekarang persatuan para imam dengan para Uskup semakin dibutuhkan. Sebab sekarang ini, karena pelbagai faktor, usaha-usaha kerasulan tidak hanya perlu mengenakan bermacam-macam bentuk, tetapi juga melampaui batas-batas satu paroki atau keuskupan. Maka tidak seorang imam pun mampu menunaikan tugas perutusannya secara memadai, bila ia bertindak secara tersendiri dan sebagai perorangan. Imam hanya mampu melaksanakan misinya, bila ia berpadu tenaga dengan para imam lainnya, di bawah bimbingan mereka, yang memimpin Gereja.

8.(Persatuan persaudaraan dan kerja sama antara para imam)
Berkat Tahbisan, yang menempatkan mereka pada Tingkat imamat biasa, semua imam bersatu dalam persaudaraan sakramental yang erat sekali. Khususnya dalam keuskupan, yang mereka layani di bawah uskupnya sendiri, mereka merupakan satu presbiterium. Sebab walaupun para imam menjalankan bermacam-macam tugas, mereka hanya mengemban satu imamat demi pengabdian kepada sesama. Sebab semua imam diutus untuk bekerja sama demi hanya satu karya, entah mereka melayani atau menjalankan pelayanan yang melampaui batas-batas paroki, atau mencurahkan tenaga untuk penelitian ilmiah atau untuk menyalurkan ilmu, atau juga menjalankan pekerjaan tangan sambil ikut mengalami nasib para pekerja, bila atas persetujuan Kuasa gerejawi yang berwenang itu dipandang berguna, atau akhirnya menjalankan karya-karya kerasulan lainnya atau kegiatan-kegiatan yang mendukung kerasulan. Semua imam bekerja sama hanya demi satu tujuan, yakni pembangunan Tubuh Kristus, yang khususnya pada zaman sekarang meliputi bermacam-macam tugas serta meminta penyesuaian-penyesuaian baru. Oleh karena itu pentinglah bahwa semua imam, baik diosesan maupun religius, saling membantu, supaya mereka selalu mengerjakan karya bersama demi kebenaran[ ]. Jadi setiap imam berhubungan dengan para anggota presbiterium lainnya karena ikatan-ikatan khas cinta kasih rasuli, pelayanan dan persaudaraan. Sudah sejak kuno itu dilambangkan dalam Liturgi, bila imam-imam yang hadir diundang untuk bersama dengan Uskup pentahbis menumpangkan tangan atas calon tahbisan, dan bila mereka bersama, sehati sejiwa, mempersembahkan Ekaristi suci. Maka masing-masing imam dipersatukan dengan rekan-rekannya seimamat karena ikatan cinta kasih, doa dan aneka macam kerja sama; dan demikian tampillah kesatuan, yang seturut kehendak Kristus dengan sempurna menghimpun para murid-Nya, supaya dunia mengetahui Putera diutus oleh Bapa[ ].
Maka dari itu hendaknya para imam yang sudah lebih lanjut usia sungguh menerima mereka yang lebih muda sebagai saudara, serta memberi bantuan dalam karya-kegiatan dan kesulitan-kesulitan di masa awal pelayanan mereka, begitu pula mencoba memahami cara berfikir mereka meskipun itu berlainan dengan visi mereka sendiri, serta penuh simpati mengikuti kegiatan-kegiatan yang mereka prakarsai. Begitu pula imam-imam muda hendaknya menghormati usia serta pengalaman para imam yang lebih tua, meminta nasehat mereka tentang hal-hal yang menyangkut reksa pastoral, dan dengan senang hati bekerja sama dengan mereka.
Hendaknya para imam, dijiwai semangat persaudaraan, jangan melalaikan keramahan menjamu[ ], memupuk kemurahan hati dan berbagi harta-milik mereka[ ], pun terutama menunjukkan sikap prihatin terhadap mereka yang sakit, tertimpa kesedihan, tertekan oleh beban kerja yang terlampau berat, merasa kesepian, merantau jauh dari tanah air, dan mengalami penganiayaan[ ]. Hendaknya mereka dengan senang hati dan gembira berkumpul juga untuk menyegarkan jiwa, seraya mengenangkan sabda undangan Tuhan sendiri kepada Rasul yang sudah lelah: ?Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak!? (Mrk 6:31). Kecuali itu, supaya para imam dapat saling membantu mengembangkan hidup rohani dan intelektual, supaya mereka mampu bekerja sama semakin baik dalam pelayanan, serta terhindarkan dari bahaya-bahaya kesepian yang barangkali muncul, hendaknya dikembangkan kehidupan bersama atau rukun hidup antara mereka. Kebersamaan hidup itu dapat mempunyai berbagai bentuk, menurut beranekanya kebutuhan-kebutuhan pribadi maupun pastoral; misalnya: bersama-sama tinggal serumah bila itu mungkin, atau makan bersama, atau setidak-tidaknya seringkali atau secara berkala mengadakan pertemuan. Hendaknya sungguh dihargai dan dikembangkan dengan tekun pula perserikatan-perserikatan, dikukuhkan dengan anggaran dasar atas persetujuan Kuasa gerejawi yang berwenang, dengan maksud mendorong para imam menuju kesucian melalui praktek pelayanan mereka, dan dengan demikian melayani seluruh jajaran para imam, melalui tata hidup yang sesuai dan disetujui bersama maupun bantuan timbal balik secara persaudaraan.
Akhirnya, berdasarkan persekutuan dalam imamat, hendaknya para imam menyadari, bahwa mereka mempunyai kewajiban-kewajiban istimewa terhadap mereka yang sedang mengalami kesukaran-kesukaran. Hendaknya mereka itu di tolong pada waktunya, bila perlu juga melalui peringatan yang bijaksana. Mereka yang jatuh dalam kesalahan-kesalahan tertentu hendaknya selalu ditampung dengan cinta kasih persaudaraan dan kebesaran jiwa. Para imam hendaknya secara intensif memanjatkan doa kepada Allah bagi mereka itu, serta selalu menghadapi mereka sebagai saudara dan sahabat.

9.(Hubungan para imam dengan kaum awam)
Karena Sakramen Tahbisan para imam Perjanjian Baru menunaikan tugas sebagai bapa dan guru, yang amat luhur dan penting sekali dalam dan bagi umat Allah. Akan tetapi bersama sekalian orang beriman mereka sekaligus menjadi murid-murid Tuhan, yang berkat rahmat panggilan Allah diikutsertakan dalam kerajaan-Nya[ ]. Sebab bersama siapa saja yang telah lahir kembali karena Baptis, para imam menjadi sesama saudara[ ], sebagai anggota satu Tubuh Kristus yang sama, yang pembangunannya diserahkan kepada semua anggota[ ].
Oleh karena itu para imam harus memimpin umat sedemikian rupa, sehingga mereka tidak mencari kepentingan sendiri, melainkan kepentingan Yesus Kristus[ ], bekerja sama dengan umat beriman awam, dan ditengah mereka membawakan diri menurut teladan Sang Guru, yang diantara sesama ?tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan menyerahkan nyawa-Nya demi penebusan banyak orang? (Mat 20:28). Hendaknya para imam dengan tulus mengakui dan mendukung martabat kaum awam beserta bagian perutusan Gereja yang diperuntukkan bagi mereka. Hendaknya para imam sungguh-sungguh menghormati pula kebebasan sewajarnya, yang menjadi hak semua orang di dunia ini. Hendaknya mereka dengan senang hati mendengarkan kaum awam, secara persaudaraan mempertimbangkan keinginan-keinginan mereka, dan mengakui nilai pengalaman maupun kecakapan mereka di pelbagai bidang kegiatan manusia, supaya mereka mampu mengenali tanda-tanda zaman. Sementara menguji roh-roh apakah memang berasal dari Allah[ ], hendaknya imam-imam dalam cita-rasa iman menemukan sekian banyak karisma kaum awam, yang bersifat lebih sederhana maupun yang lebih tinggi, mengakuinya dengan gembira, serta dengan seksama mendukung pengembangannya. Diantara anugerah-anugerah Allah alinnya, yang terdapat melimpah dikalangan umat beriman, layak dipelihara secara khas kurnia-kurnia, yang menyebabkan tidak sedikit diantara mereka merasa tertarik ke arah hidup rohani yang lebih mendalam. Begitu pula hendaknya para imam penuh kepercayaan menyerahkan kepada kaum awam tugas-tugas pengabdian kepada Gereja, sambil memberi mereka kebebasan serta ruang gerak, bahkan mengundang mereka juga, untuk atas kerelaan sendiri memanfaatkan peluang yang baik dengan memulai kegiatan-kegiatan[ ].
Selanjutnya para imam ditempatkan di tengah kaum awam, untuk mengantarkan semua kepada kesatuan cinta kasih, ?sambil saling mengasihi sebagai saudara, dan saling mendahului dalam memberi hormat? (Rom 12:10). Jadi termasuk tugas merekalah memperpadukan berbagai mentalitas sedemikian rupa, sehingga dalam jemaat beriman tidak seorang pun merasa diri terasing. Para imam menjadi pembela kesejahteraan umum, yang atas nama Uskup harus mereka usahakan, pun serta merta pendukung kebenaran yang gigih, supaya umat beriman jangan diombang-ambingkan oleh bermacam-macam angin pengajar[ ]. Kepada keprihatinan mereka yang istimewa dipercayakan pula mereka, yang telah meninggalkan penerimaan Sakramen-sakramen, bahkan barangkali iman mereka juga. Hendaknya selaku gembala yang baik para imam jangan lupa mengunjungi mereka. Seraya mengindahkan peraturan-peraturan tentang ekumenisme[ ], hendaknya para imam jangan melupakan saudara-saudari, yang belum berada dalam persekutuan gerejawi sepenuhnya dengan kita.
Akhirnya, hendaknya para imam menyadari tanggung jawab mereka pula atas mereka semua, yang tidak mengenal Kristus sebagai Penyelamat mereka.
Adapun umat beriman hendaknya menyadari, bahwa mereka mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap para imam mereka, dan karena itu penuh kasih menghadapi mereka sebagai gembala-gembala serta bapa-bapanya. Begitu pula, sementara ikut merasakan keprihatinan para imam, hendaknya umat sedapat mungkin membantu mereka dengan doa maupun kegiatan, supaya mereka mampu mengatasi kesukaran-kesukaran mereka dengan lebih lancar, dan lebih berhasil juga dalam menjalankan tugas-tugas mereka[ ].

10.III. PENYEBARAN PARA IMAM DAN PANGGILAN-PANGGILAN IMAM

(Penyebaran para imam)
Kurnia rohani, yang oleh para imam telah diterima pada pentahbisan mereka, tidak menyiapkan mereka untuk suatu perutusan yang terbatas dan dipersempit, melainkan untuk misi keselamatan yang luas sekali dan universal ?sampai ke ujung bumi? (Kis 1:8). Sebab pelayanan imam manapun juga ikut memiliki jangkauan luas dan universal perutusan, yang oleh Kristus dipercayakan kepada para Rasul. Sebab Imamat Kristus, yang sungguh-sungguh ikut dihayati oleh para imam, tidak dapat lain kecuali ditujukan kepada semua bangsa di segala zaman, dan tak mungkin dipersempit oleh batas-batas suku, bangsa atau kurun waktu, seperti secara gaib dipralambangkan dalam pribadi Melkisedekh[ ]. Maka hendaknya para imam menyadari, bahwa mereka wajib mengindahkan keprihatinan semua jemaat. Oleh karena itu para imam keuskupan-keuskupan, yang lebih kaya panggilan, hendaknya dengan sukarela menyediakan diri, seijin atau atas anjuran Ordinaris mereka, untuk melaksanakan pelayanan mereka di kawasan-kawasan, daerah-daerah misi, atau dalam karya-karya, yang serba kekurangan imam.
Selain itu hendaknya norma-norma tentang inkardinasi dan ekskardinasi ditinjau kembali sedemikan rupa, sehingga unsur kelembagaan yang sudah kuno itu, kendati tetap lestari, toh lebih kena menanggapi kebutuhan-kebutuhan pastoral zaman sekarang. Tetapi di mana pun kondisi kerasulan membutuhkannya, hendaknya dipermudah saja bukan hanya penyebaran para imam untuk sungguh menanggapi situasi, melainkan juga karya-karya pastoral yang khas untuk bermacam-macam kelompok sosial, yang perlu dilaksanakan di kawasan atau negara tertentu, atau di daerah manapun juga. Dapat berguna pula mendirikan beberapa seminari internasional, diosis-diosis atau prelatura-prelatura personal yang khusus, atau lembaga-lembaga semacam itu. Dengan cara-cara yang perlu ditetapkan bagi masing-masing usaha, dan tanpa pernah mengurangi hak-hak para ordinaris setempat, imam-imam dapat bergabung atau diinkardinasi pada lembaga-lembaga itu demi kesejahteraan Gereja semesta.
Akan tetapi, ke daerah baru, terutama bila bahasa maupun adat istiadatnya belum dikenal dengan baik, hendaknya para imam sedapat mungkin dapat di utus seorang demi seorang, melainkan seturut teladan para murid Kristus[ ], sekurang-kurangnya berdua atau bertiga, supaya dengan demikian mereka saling membantu. Begitu pula cukup pentinglah bahwa hidup rohani mereka sungguh-sungguh dipelihara, pun juga kesehatan jiwa raga mereka. Selain itu, sejauh mungkin hendaknya bagi mereka masing-masing. Penting sekali jugalah, bahwa mereka yang melawat ke bangsa yang baru, berusaha mengenal dengan baik bukan saja bahasa daerah itu, melainkan juga sifat perangai psikologis maupun sosial yang khas bagi bangsa itu. Kalau memang mereka bermaksud melayaninya dengan kerendahan hati, mereka harus dapat berkomunikasi sesempurna mungkin dengannya, menganut teladan rasul Paulus yang menyatakan tentang dirinya: ?Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba bagi semua orang, supaya aku boleh memperoleh mereka sebanyak mungkin. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memperoleh orang-orang Yahudi ?? (1Kor 9:19-20).

<<   >>

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/