Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
|---|---|
| 11. | (Usaha para imam untuk mendapat penggilan-panggilan imam) Sang Gembala dan Pemelihara jiwa-jiwa[ ] sedemikian rupa mendirikan Gereja-Nya, sehingga umat yang telah di pilih dan diperoleh-Nya dengan Darah-Nya[ ] senantiasa dan hingga akhir zaman harus memiliki imam-imamnya, supaya jangan pernahlah umat kristen bagaikan domba tanpa gembala[ ]. Memahami kehendak Kristus itu, para Rasul, atas dorongan Roh Kudus, memandang sebagai kewajiban mereka memilih pelayan-pelayan, ?yang akan cakap juga untuk mengajar orang-orang lain? (2Tim 2:2). Kewajiban itu pasti termasuk perutusan imamat juga. Karena misi itu lah pula imam ikut serta merasakan keprihatinan Gereja semesta, supaya jangan pernah umat Allah di dunia kekurangan pekerja-pekerja. Akan tetapi, karena ?pengemudi kapal dan para penumpangnya ? mempunyai kepentingan bersama?[ ], maka hendaknya segenap umat kristen diajak memahami kewajibannya untuk dengan aneka cara menyumbangkan usahanya, dengan berdoa terus-menerus, begitu pula melalui upaya-upaya lain yang tersedia bagi mereka[ ], supaya Gereja selalu mempunyai imam-imam, yang sungguh diperlukan untuk menjalankan misinya yang ilahi. Pertama-tama hendaknya para imam memperhatikan sepenuhnya, supaya melalui pelayanan sabda maupun kesaksian hidup mereka sendiri, yang jelas menampilkan semangat pengabdian dan kegembiraan Paska yang sejati, mereka mengajak umat beriman menyadari keluhuran serta mutlak perlunya imamat. Dan bila ada pemuda-pemuda atau mereka yang sudah lebih dewasa, yang ? menurut penilaian para imam yang cermat-bijaksana ? memang cakap untuk pelayanan seagung itu, hendaknya mereka, - tanpa menghemat usaha atau memperhitungkan jerih-payah ? membantu para pemuda itu, supaya menyiapkan diri dengan baik, dan kemudian suatu ketika , tanpa mengurangi kebebasan mereka sepenuhnya lahir maupun batin, dapat dipanggil oleh para Uskup. Guna mencapai tujuan itu bermanfaat sekalilah bimbingan rohani yang tekun dan bijaksana. Para orangtua dan guru-guru, serta siapa saja yang dengan suatu cara atai lain berkecimpung dalam pendidikan anak-anak dan kaum muda, hendaknya mendidik mereka sedemikian rupa, sehingga mereka memahami keprihatinan Tuhan terhadap kawanan-Nya, memikirkan kebutuhan-kebutuhan Gereja, dan siap sedia untuk dengan kebesaran jiwa menjawab Tuhan yang memanggil mereka, bersama nabi: ?Lihatlah aku, utuslah aku? (Yes 6:8). Akan tetapi jangan sekali-kali diharapkan, seolah-olah sabda panggilan Tuhan itu menyapa hati si calon imam dengan cara yang luar biasa. Sebab sabda itu harus ditangkap serta dipertimbangkan berdasarkan isyarat-isyarat, yang setiap hari memperkenalkan kehendak Allah kepada orang-orang kristen bijaksana. Dan tanda-tanda itu hendaknya dipertimbangkan dengan saksama oleh para imam[ ]. Oleh karena itu kepada mereka sangat dianjurkan Karya-karya panggilan, pada tingkat keuskupan maupun pada tingkat nasional[ ]. Dalam kotbah-kotbah, dalam katekese, melalui majalah-majalah, perlu diuraikan dengan jelas kebutuhan-kebutuhan Gereja setempat maupun Gereja semesta. Arti maupun keluhuran pelayanan imam hendaknya dipaparkan sejelas-jelasnya. Sebab dalam pelayanan itulah beban-beban yang amat berat berpadu dengan kegembiraan yang meluap; dan dalam pelayanan itu ? menurut ajaran Bapa Gereja ? terutama dapat diberikan kepada Kristus kesaksian cinta kasih yang sungguh agung[ ]. |
| 12. | BAB TIGA KEHIDUPAN PARA IMAM I. PANGGILAN PARA IMAM UNTUK KESEMPURNAAN (Panggilan para imam untuk kesucian) Karena Sakramen Tahbisan para imam dijadikan secitra dengan Kristus Sang Imam, sebagai pelayan Sang Kepala, untuk membentuk dan membangun seluruh Tubuh-Nya, yakni Gereja, sebagai rekan-rekan kerja Tingkat para Uskup. Sudah pada pentakdisan Babtis mereka, seperti semua orang beriman, menerima tanda serta kurnia panggilan dan rahmat seagung itu, sehingga ditengah kelemahan manusiawi pun[ ], mereka mampu dan harus menuju kesempurnaan, menurut amanat Tuhan: ?Hendaknya kalian menjadi sempurna, seperti Bapamu di sorga adalah sempurna? (Mat 5:48). Para imam wajib mencapai kesempurnaan itu berdasarkan alasan yang khas, yakni: karena dengan menerima Tahbisan mereka secara baru ditakdiskan kepada Allah. Mereka menjadi sarana yang hidup bagi kristus Sang Imam Abadi, untuk dapat melangsungkan di sepanjang masa karya-Nya yang mengagumkan, yang dengan kekuatan adikodrati telah mengembalikan keutuhan segenap umat manusia[ ]. Maka karena setiap imam dengan caranya sendiri membawakan pribadi Kristus sendiri, maka ia diperkaya juga dengan rahmat istimewa, agar supaya dengan melayani jemaat yang diserahkan kepadanya serta segenap umat Allah, ia lebih mampu menuju kesempurnaan Dia, yang peranan-Nya dihadirkan olehnya, dan supaya kelemahan manusia daging disembuhkan oleh kesucian Dia, yang bagi kita telah menjadi Imam Agung, ?kudus, tidak mengenal dosa, tanpa noda, terpisahkan dari kaum pendosa? (Ibr 7:26). Kristus, yang oleh Bapa telah disucikan atau ditakdiskan dan diutus ke dunia[ ], ?telah menyerahkan Diri bagi kita, untuk menebus kita dari segala kejahatan, dan untuk menguduskan bagi Dirinya suatu umat milik-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik? Itit 2:14); demikianlah melalui kesengsaraan-Nya Kristus telah memasuki kemuliaan-Nya[ ]. Begitu pula para imam, yang ditakdiskan dengan pengurapan Roh Kudus dan diutus oleh Kristus, mematikan dalam diri mereka perbuatan daging, dan membaktikan diri seutuhnya dalam pengabdian kepada sesama, dan dengan demikian mampu melangkah maju dalam kesucian, yang telah mereka terima dalam Kristus, menuju kedewasaan penuh[ ]. Oleh karena itu, sambil menunaikan pelayanan Roh dan keadilan, para imam, asal membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kristus yang menghidupkan dan menuntun mereka, makin diteguhkan dalam kehidupan roh. Sebab melalui kegiatan Liturgi setiap hari, begitu pula melalui seluruh pelayanan mereka, yang mereka jalankan dalam persekutuan dengan Uskup maupun rekan-rekan imam, mereka sendiri menuju kesempurnaan hidup. Kekudusan para imam besar sekali artinya untuk dengan subur menjalankan pelayanan mereka. Sebab, sungguh pun rahmat Allah juga melalui pelayan-pelayan yang tak pantas mampu melaksanakan karya keselamatan, tetapi lazimnya Allah memilih menampilkan karya-karya agung-Nya melalui mereka, yang lebih terbuka bagi dorongan dan bimbingan Roh Kudus, dan karena persatuan mereka yang mesra dengan kristus serta kekudusan perihidup, bersama Rasul dapat menyatakan: ?Aku hidup, bukan lagi aku, melainkan Kristuslah yang hidup dalam diriku? (Gal 2:20). Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan-tujuan pastoralnya, yakni pembaharuan Gereja ke dalam, penyebaran Injil ke seluruh dunia, lagi pula dialog dengan dunia zaman sekarang, Konsili ini sungguh-sungguh mengajak semua imam: hendaknya mereka dengan memanfaatkan upaya-upaya yang cocok seperti telah dianjurkan oleh gereja[ ], selalu berusaha menuju kekudusan yang semakin luhur, sehingga dari hari ke hari mereka menjadi sarana yang makin sesuai dalam pengabdian kepada segenap umat Allah. |
| 13. | (Pelaksanaan ketiga fungsi imamat menuntut dan sekaligus mendukung kesucian) Pada hakekatnya para imam akan mencapai kesucian dan menunaikan tugas-tugas mereka dalam Roh Kristus, secara tulus dan tanpa mengenal lelah. Sebab karena mereka itu pelayan sabda Allah, maka setiap hari mereka membaca dan mendengarkan sabda Allah, yang wajib mereka sampaikan pada sesama. Bila mereka sekaligus berusaha meresapkannya dalam hati, mereka akan menjadi murid-murid Tuhan yang kian sempurna, seturut pesan Rasul Paulus kepada Timoteus: ?Renungkanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya, supaya kemajuanmu nyata bagi semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan ajaranmu; bertekunlah dalam semuanya itu. Sebab dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan mereka yang mendengar engkau? (1Tim 4:15-16). Karena seraya mencari bagaimana dapat menyalurkan lebih baik kepada sesama apa yang telah mereka renungkan[ ], maka akan secara lebih mendalam menikmati ?kekayaan kristus yang tidak terselami? (Ef 3:8) dan pelbagai ragam hikmat Allah[ ]. Sementara tetap menyadari, bahwa Tuhanlah yang membuka hati orang-orang[ ], dan keluhuran sabda tidak berasal dari mereka sendiri, melainkan dari kekuatan Allah[ ], dalam kegiatan menyalurkan sabda sendiri mereka akan lebih erat bersatu dengan Kristus Sang Guru dan dibimbing oleh Roh-Nya. Bila demikian mereka bergaul dengan Kristus, mereka ikut serta mengalami cinta kasih Allah, yang misteri-Nya yang tersembunyi sejak kekal[ ] telah diwahyukan dalam Kristus. Sebagai pelayan Liturgi, terutama dalam korban Ekaristi, para imam secara khas membawakan Pribadi Kristus, yang telah menyerahkan diri sebagai korban demi pengudusan manusia. Itulah sebabnya, mengapa mereka di undang, untuk ikut ikut menghayati apa yang mereka laksanakan: sementara merayakan misteri wafat Tuhan, hendaknya mereka berusaha mematikan anggota-anggota tubuh mereka dari cacat-cela dan nafsu-nafsu[ ]. Dalam misteri korban Ekaristi, saat para imam melaksanakan tugas utama mereka, karya penebusan kita terus-menerus diwujudkan[ ]. Maka dari itu sangat dianjurkan, supaya Ekaristi dirayakan setiap hari, yang meskipun tidak dihadiri oleh umat beriman, tetapi tetap merupakan tindakan Kristus dan Gereja[ ]. Begitulah, sementara para imam menggabungkan diri dengan tindakan Kristus Sang Imam, mereka setiap hari mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, dan seraya menyambut Tubuh Kristus, mereka dengan ketulusan hati ikut mengalami cinta kasih Dia, yang mengurniakan Diri sebagai santapan kepada umat beriman. Begitu pula dalam melayani Sakramen-sakramen mereka menyatukan diri dengan maksud dan cinta kasih Kristus. Secara khusus itu mereka jalankan, bila mereka nampak bersedia sepenuhnya dan selalu untuk melayani Sakramen Tobat, setiap kali itu secara wajar diminta oleh umat beriman. Dalam mendoakan ibadat harian mereka menyuarakan maksud Gereja, yang atas nama seluruh umat manusia bertabah dalam doa, dalam persatuan dengan Kristus, yang ?senantiasa hidup untuk menjadi pengantara kita? (Ibr 7:25). Sambil membimbing dan menggembalakan umat Allah, para imam didororng oleh Sang Gembala Baik, untuk menyerahkan nyawa mereka demi domba-domba mereka[ ], pun siap sedia juga untuk pengorbanan yang paling luhur, mengikuti teladan para imam, yang pada zaman sekarang pun tidak menolak untuk mengorbankan hidupnya. Sebagai pembina imam mereka sendiri ?penuh keberanian untuk memasuki tempat yang kudus dalam Darah Kristus? (Ibr 10:19), dan menghadap Allah ?dengan hati yang tulus ikhlas dalam kepenuhan iman? (Ibr 10:22). Mereka mempunyai harapan yang teguh bagi jemaat beriman mereka[ ], untuk dapat menghibur siapa saja yang mengalami bermacam-macam tekanan, dengan hiburan-hiburan, seperti mereka sendiri juga dihibur oleh Allah[ ]. Selaku pemimpin jemaat mereka menjalankan askese yang khas bagi gembala jiwa-jiwa, dengan mengesampingkan keuntungan-keuntungan pribadi, tanpa mencari apa yang berfaedah bagi diri mereka, melainkan dengan mengusahakan apa yang bermanfaat untuk banyak orang, supaya mereka diselamatkan[ ]. Mereka tetap melangkah maju untuk menunaikan reksa pastoral secara lebih sempurna, dan bila diperlukan, bersedia menempuh cara-cara berpastoral yang baru, dibawah bimbingan Roh cinta kasih, yang ?bertiup ke mana Ia berkenan?[ ]. |
| 14. | (Keutuhan dan keselarasan kehidupan para imam) Di dunia zaman sekarang banyak sekali tugas yang harus dijalankan, dan sangat beranekalah masalah-persoalan yang mencemaskan orang-orang serta sering kali perlu segera mereka pecahkan, sehingga tidak jarang mereka terancam bahaya terombang-ambingkan kian-kemari. Para imam sendiri, yang terlibat dalam tugas-kewajiban yang bertubi-tubi dan terbagi-bagi perhatiannya, dengan cemas dapat bertanya-tanya, bagaimana mereka mampu memperpadukan kehidupan batin dengan kegiatan lahiriah mereka. Keutuhan hidup itu tidak tercapai melulu dengan mengatur secara lahiriah karya-karya pelayanan, pun tidak melalui praktek latihan-latihan rohani semata-mata, betapa pun itu semua ikut mendukung keselarasan hidup. Tetapi para imam mampu mewujudkan keutuhan itu, bila dalam menjalankan pelayanan mereka mengikuti teladan Kristus Tuhan, yang makanan-Nya ialah: menjalankan kehendak Bapa, yang mengutus-Nya untuk menyelesaikan karya-Nya[ ]. Memang benarlah, untuk tiada hentinya menjalankan kehendak Bapa itu di dunia melalui Gereja, Kristus berkarya dengan pengantara para pelayan-Nya. Oleh karena itu Ia tetep menjadi dasar dan sumber keutuhan hidup mereka, bila mereka menyatukan diri dengan kristus dalam mengenal kehendak Bapa, maupun dalam penyerahan diri mereka bagi kawanan yang menjadi tanggung jawab mereka[ ]. Demikianlah, dengan menjalankan peranan Sang Gembala Baik, mereka akan menemukan dalam pengalaman cinta kasih kegembalaan itu sendiri ikatan kesempurnaan imamat, yang akan menyatukan kehidupan serta kegiatan mereka. Cinta kasih kegembalaan itu[ ] terutama bersumber pada korban Ekaristi, yang karena itu menjadi pusat dan dasar akar seluruh kehidupan imam, sehingga semangat imamat berusaha meresapkan dalam dirinya apa yang berlangsung di atas altar pengorbanan. Dan itu hanyalah tercapai, bila para imam sendiri melalui doa kian mendalam menyelami misteri kristus. Untuk dapat mewujudkan keutuhan hidup mereka secara konkrit juga, hendaknya para imam mempertimbangkan segala usaha mereka dengan menilai, di manakah letak kehendak Allah[ ], artinya: manakah kesesuaian antara kegiatan-kegiatan itu dengan kaidah-kaidah perutusan Gereja menurut Injil. Sebab kesetiaan terhadap Kristus tidak terceraikan dari kesetiaan terhadap Gereja-Nya. Maka cinta kasih kegembalaan meminta, supaya para imam selalu berkarya dalam ikatan persekutuan dengan para Uskup serta saudara-saudara seimamat lainnya, supaya mereka jangan percuma saja menjalankan kegiatan mereka[ ]. Dengan bertindak begitu para imam akan menemukan keutuhan hidup mereka sendiri justru dalam kesatuan perutusan Gereja. Begitulah mereka akan dipersatukan dengan Tuhan mereka, dan melalui Dia dengan Bapa, dalam Roh Kudus, sehingga dapat menikmati hiburan rohani serta kegembiraan yang meluap[ ]. |
| 15. | II. TUNTUTAN-TUNTUTAN ROHANI YANG KHAS DALAM KEHIDUPAN IMAM (Kerendahan hati dan ketaatan) Diantara keutamaan-keutamaan yang perlu sekali bagi pelayanan para imam layaklah disebutkan sikap hati yang selalu bersedia bukan untuk mencari kehendak sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus mereka[ ]. Sebab karya ilahi ? untuk melaksanakan itu mereka telah dikhususkan oleh Roh Kudus[ ] ? melampaui semua kekuatan manusiawi. ?Apa yang lemah bagi dunia, dipilih oleh Allah, untuk memalukan yang kuat? (1Kor 1:27). Maka menyadari kelemahannya sendiri, pelayan Kristus yang sejati bekerja dengan rendah hati, mempertimbangkan apa yang berkenan kepada Allah[ ], dan, bagaikan tawanan Roh[ ] dalam segalanya dibimbing oleh kehendak Dia, yang menghendaki keselamatan semua orang. Kehendak itu dapat ditemukan dan dilaksanakannya dalam situasi sehari-hari, dengan melayani dalam kerendahan hati mereka semua, yang oleh Allah dipercayakan kepadanya, dalam tugas yang menjadi tanggungannya dan dalam bermacam-macam peristiwa hidupnya. Karena pelayanan imamat itu pelayanan Gereja sendiri, maka hanya dapat dilaksanakan dalam persekutuan hirarkis seluruh Tubuh. Maka cinta kasih kegembalaan mendesak para imam, untuk dalam rangka persekutuan itu melalui ketaatan membaktikan kehendak mereka sendiri dalam pengabdian kepada Allah dan sesama, sambil menerima dan menjalankan dalam semangat iman apa yang diperintahkan atau dianjurkan oleh Paus dan oleh Uskup mereka sendiri serta oleh para pemimpin lainnya; sambil dengan sukarela mengorbankan kemampuan dan bahkan diri mereka sendiri[ ], dalam tugas manapun yang dipercayakan kepada mereka, juga dalam tugas yang agak rendah dan tidak terpandang. Sebab dengan demikian mereka melestarikan dan memantapkan kesatuan yang diperlukan dengan rekan-rekan mereka sepelayanan, terutama dengan mereka, yang oleh Tuhan ditetapkan sebagai pemimpin-pemimpin Gereja-Nya yang kelihatan; dan mereka berkarya demi pembangunan Tubuh Kristus, yang bertumbuh ?melalui segala sendi-sendi pelayanan?[ ]. Ketaatan itu, yang mengantar kepada kebebasan yang lebih dewasa putera-putera Allah, pada hakekatnya supaya para imam ? sementara dalam menunaikan tugas mereka, terdorong oleh cinta kasih, mereka dengan bijaksana merintis jalan-jalan baru untuk meningkatkan kesejahteraan Gereja, - penuh kepercayaan mengemukakan prakarsa-prakarsa mereka, serta menekankan kebutuhan-kebutuhan jemaat yang diserahkan kepada mereka, tetapi selalu bersedia pula mematuhi keputusan mereka, yang menjalankan fungsi utama dalam kepemimpinan Gereja Allah. Melalui kerendahan hati serta ketaatan yang sukarela dan penuh tanggung jawab itu para imam menjadi secitra dengan kristus, penuh citarasa seperti terdapat pada Kristus Yesus, yang ?mengosongkan Diri dengan mengenakan penampilan seorang hamba ? menjadi taat sampai mati? (Flp 2:7-9); Dia, yang dengan ketaatan-Nya itu telah mengalahkan dan menebus ketidaktaatan Adam, menurut sabda Paulus: ?Karena ketidak-taatan satu orang banyak orang telah menjadi pendosa; begitu pula karena ketaatan satu orang banyak orang menjadi benar? (Rom 5:19). |