Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
 
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 
Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

0.Sakramen Penebusan (Redemptionis Sacramentum)

PRAKATA (1-13)

BAB I: PERATURAN LITURGI SUCI (14-35)
1. Uskup Diosesan, Imam Agung bagi kawanannya (19-25)
2. Konferensi Uskup (26-28)
3. Para Imam (29-33)
4. Para Diakon (34-35)


BAB II : PARTISIPASI KAUM AWAM DALAM PERYAAN EKARISTI (36-47)
1. partisipasi aktif dan sadar (36-42)
2. Bidang-bidang pelayanan kaum Awam Kristiani dalam perayaan Misa Kudus (43-47)


BAB III : TATA PERAYAAN MISA YANG BENAR (48-79)
1. Bahan Ekaristi Mahakudus (48-50)
2. Doa Syukur Agung (51-56)
3. Bagian-Bagian lain dari Misa (57-74)
4. Penggabungan pelbagai Ritus dengan Perayaan Misa.(75-79)


BAB IV : KOMUNI SUCI (80-107
1. Syarat-syarat untuk menyambut Komuni Suci (80-87)
2. Membagi Komuni Suci (88-96)
3. Komuni Para Imam (97-99)
4. Komuni dalam Dua Rupa (100-107)


BAB V : BEBERAPA HAL LAIN MENYANGKUT EKARISTI
1. Tempat Perayaan Ekaristi (108-109)
2. Berbagai kemungkinan lain berkaitan dengan Misa (110-116)
3. Bejana-bejana suci (117-120)
4. Busana Liturgis (121-128)


BAB VI : PENYIMPANAN EKARISTI MAHAKUDUS DAN PENGHORMATAN EKARISTI DI LUAR MISA (129-
1. Menyimpan Ekaristi Mahakudus (129-133)
2. Bentuk-bentuk Penghormatan Ekaristi Mahakudus di luar Misa (134-141)
3. Perarakan dan Kongres Ekaristi (142-145)


BAB VII : PELAYAN-PELAYAN TAK LAZIM KAUM AWAM (146-168)
1. Pelayan tak lazim untuk Komuni Suci (154-160)
2. Membawakan Homili (161)
3. Ibadat-ibadat khusus tanpa Imam (161-167)
4. Mereka yang telah meninggalkan jabatan klerikal (168)


BAB VIII : TINDAKAN PEMULIHAN (169-184)
1. Kejahatan amat besar (Graviora Delicta) (172)
2. Pelanggaran Berat (173)
3. Penyelewengan-penyelewengan lain (174-175)
4. Uskup Diosesan (176-180)
5. Takhta Apostolik (181-182)
6. Keluhan tentang Pelanggaran di Bidang Liturgi (183-184)

1.Dalam Ekaristi Mahakudus Bunda Gereja mengenal dengan iman kokoh dan menerima dengan sukacita sakramen penebusan. Sakramen itu dirayakannya dan dihormatinya sambil bersembah sujud. Dengan jalan itu Gereja mewartakan wafat Kristus Yesus dan memaklumkan kebangkitan-Nya sampai ia datang dalam kemulian untuk, sebagai tuhan dan pemimpin yang tak terkalahkan sebagai imam abadi serta raja alam semesta. Menyerahkan kepada Bapa yang mahakuasa dan maha agung sebuah kerajaan kebenaran dan kehidupan.

2.Di dalam Ekaristi Mahakudus terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja,yakni Kristus, Anak Domba paskah kita, Ekaristi itu pun adalah sumber dan puncak seluruh kehidupan kristiani dan merupakan daya cipta pada sumber eksitensi Gereja. Ajaran Gereja mengenai hal ini semuanya telah di uraikan dengan penuh kepedulian dan dengan kewibawaan besar selama segala abad yang telah berlalu melalui laporan-laporan konsili-konsili serta tulisan-tulisan para Paus, Bahkan belum lama ini, dalam Ensikliknya Ecclesia de Eucharistia, Paus Yohanes paulus II menekankan lagi segi-segi tertentu hal ini yang amat penting di bawah sorotan situasi Gereja dewasa ini.

Agar supaya dalam perayaan Liturgi suci, Gereja sebagaimana seharusnya menjaga juga di zaman misteri yang begitu agung, maka Sri Paus telah menugaskan kongregasi ibadat dan tata tertib sakramen, dalam kerjasama dengan kongregasi untuk ajaran iman, untuk merancang intruksi mengenai hal-hal yang menyangkut ketertiban dalam pelaksanaan Sakramen Ekaristi. Maka hal-hal yang terdapat dalam intruksi ini harus di pandang dalam kaitannya dengan Ensikklik Ecclesia de Eucharistia tersebut.

Dalam intruksi ini tidaklah di maksudkan untuk menyajikan sebuah rangkuman menganai segala norma menyangkut Ekaristi Mahakudus itu,melainkan terutama untuk menugaskan kembali beberapa unsure yang terdapat dalam norma-norma liturgi, yang sudah pernah diuraikan atau dituangkan dalam tulisan, dan hingga hari ini berlaku untuk menjamin apresiasi yang makin mendalam terhadap norma-norma liturgi itu, dan juga untuk menentukan norma-norma tertentu, melaluinya norma-norma yang mendahuluianya dijelaskan dan dilengkapinya; tak lupa juga untuk menunjukan kepada para uskup.imam. Diakon dan semua umat beriman bagaimana mereka masing-masing harus melaksanakannya sesuai dengan tanggung jawabnya serta situasi dan kondisi setempat.

3.Norma-norma yang dihadirkan dalam intruksi ini, harus dipandang sebagai bagian dari liturgi Ritus Romawi dan, sejauh berlaku, dari Ritus-Ritus lain dalam Gereja latin yang diakui dalam Hukum.

4.?Sungguh,pembaruan liturgi yang di canangkan oleh konsili,di kalangan umat telah merupakan sumbangan besar untuk partisipasi yang lebih sadar,? Sekalipun demikian, ?terdapatlah pula segi-segi yang mencemaskan?. Dalam konteks ini disebut penyelewengan-penyelewengan, bahkan yang sungguh berat, terhadap liturgi dan sakramen-sakramen maupun terhadap tradisi dan wewenang Gereja, yang dewasa ini tidak jarang mengganggu upacara-liturgis di dalam lingkup-lingkup gerejani yang berbeda-beda, Di tempat-tempat tertentu sejumlah penyimpangan seperti di maksud, sudah hampir menjadi kebiasaan harian: suatu hal yng tentu saja tidak dapat diizinkan dan harus dihentikan.

5.Ketaatan kepada norma-norma yang di maklumkan oleh Gereja hanya mungkin jika ada kesamaan pikiran dan perkataan, kesamaan aksi lahiriah dan kesepakatan hati, ketaatan lahriah melulu terhadap norma-norma tentu saja bertentangan dengan semangat liturgi suci, memupuk cinta akan orang yang miskin dan tersingkir, selain itu,kata-kata dan tata cara liturgis, yang telah dimatangkan selama berabad-abad lamanya, merupakan suatu pernyataan iman serta pemahaman akan Kristus; melaluinya kita belajar berpikir seperti dia berpikir; sambil menyelaraskan kata-kata ini dengan budi,kita mengangkat hati kita kepada kita, segala sesuatu yang dikemukakan dalam intruksi ini, tertuju pada penyelarasan pemahaman kita sendiri dengan pemahaman Kristus, seperti diungkapan dalam kata-kata dan tata cara liturgi.

6.Penyelewengan-penyelewengan ?turut mengaburkan iman serta ajaran katolik mengenai sakramen ajaib ini?. karena itu, segala penyelewengan itu juga menghalangi kaum beriman untuk ?mengalami kembali apa yang dialami kedus murid Emaus: dan terbukalah mata mereka dan mereka pun mengnal dia.? Dihadapan kuasa dan keilahian Allah serta kebaikaNya yang cemerlangyang menjadi nyata secara istimewa dalam sakramen Ekaristi, pantaslah semua umat beriman memiliki dan menyatakan kesanggupannya untuk mengakui kebesaran Allah; kesanggupan itu telah mereka terima melalui penebusan yang diperoleh melalui sengsara Putra Allah yang tunggal.

7.Tak jarang penyelewengan-penyelewengan itu bersumber pada salah pengertian mengenai makna kebebasan. Dalam Kristus, Allah tidak menjamin bagi kita suatu kebebasan semu yang memberi kita peluang untuk berbuat apa saja yang kita kehendaki, melainkan suatu kebebasan yang dengannya kita boleh berbuat apa yang tepat dan benar. Ini berlaku bukan hanya untuk perintah-perintah yang berlangsung dari Allah,melainkan juga untuk hukum dan undang-undang yang dimaklumkan oleh Gereja, tentu dengan memperhatikan secara wajar cirri-ciri khas setiap peraturan, karena itu,semua harus menuruti penetapan-penetapan yang berasal dari pimpinan Gereja yang sah.

8.Maka dengan amat sedih dapat kita catat adanya ?inisiatif-inisiatif ekumenis, yang tentu saja punya maksud baik, namun kadang-kadang mengarah kepada praktek-praktek Ekaristi yang berlawanan dengan tata tertib iman yang diajarkan oleh Gereja. ?Padahal Ekaristi itu? adalah karunia yang terlalu agung untuk dijadikan sasaran kebingungan atau pelecehan. ?Karena itu perlulah sejumlah hal dibetulkan atau digariskan peraturannya dengan lebih jelas. Sehingga dari segi ini pun Ekaristi akan tetap bersinar dalam misterinya yang cemerlang.?

9.Akhirnya, penyelewengan-penyelewengan itu sering berlandaskan ketidakpahaman, dan dapat menyingkirkan unsur-unsur yang maknanya tidak dipahami secara lebih mendalam dan yang nilai sejarahnya tidak diperhatikan. Karena ?doa-doa liturgis dan madah serta nyanyian liturgis semuanya diresapi ilham dan dorongan? Kitab Suci sendiri, ?dan justru dari kitab suci itu, tata cara serta kitab suci itu sendiri,? Tanda-tanda lahiriah ?yang dipergunakan dalam liturgi suci untuk menandai realita-realita ilahi yang tak kelihatan,telah dipilih oleh Kristus atau pun oleh Gereja?. Akhirnya, susunan dan bentuk upacara-upacara suci, menurut masing-masing Ritus Timur dan Ritus Barat, adalah sesuai dengan praktek Gereja universal, Hal yang sama berlaku kebiasaan-kebiasaan yang secara universal ditereima melalui tradisi yang tak putus-putus semenjak zaman rasul, Menjadi Gereja untuk meneruskannya dengan setia dan penuh perhatian kepada generasi-generasi mendatang, semuanya diamankan dan dilindungi dengan bijaksana melalui norma-norma liturgis.

10.Gereja sendiri tidak mempunyai kuasa atas hal-hal yang ditetapkan oleh Kristus sendiri dan yang merupakan bagian yang tak berubah-rubah dalam liturgi. jika diputuskan kaitan antara sakramen-sakramen dengan Kristus yang mengadakannya dan dengan peristiwa-peristiwa pada pembentukan awal Gereja, maka sesungguhnya bagi umat beriman hal itu tidak akan membawa manfaat melainkan sebaliknya akan sangat merugikan mereka. Maklumlah liturgi suci berhubungan erat dengan dasar-dasar ajaran iman, sehingga penggunaan teks dan tata cara yang tidak di sahkan, dengan sendirinya akan menyebabkan merosotnya ataupun hilangnya hubungan yang mutlak perlu antara lex orandi dan lex credendi.

11.Misteri Ekaristi ini ?terlalu agung bagi siapa pun juga untuk merasa bebas melakukannya sesuai dengan pandangannya sendiri, sehingga kekudusannya dan penetapannya yang universal menjadi kabur? sebaliknaya, siapa saja yang bertindak demikian dan melampiaskan saja kecendrungannya sendiri-juga bila dia seorang imam-melukai kesatuan hakiki Ritus Romawi, yang seharusnya dijaga ketat. Dia pun harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang sama sekali tidak menanggapi kelaparan dan kehausan akan Allah yang hidup yang dialami orang dewasa ini, perbuatan-perbuatan yang demikian tidak juga membawa manfaat untuk reksa pastoral yang otentik atau pembaharuan liturgi yang benar; sebaliknya. Karena ulah-ulah itu, umat beriman dirampasi dari harta kekayaan dan warisannya, Demikianlah perbuatan-perbuatan yang sewenang-sewenang itu bukannya jalan menuju ke pembaharuan yang sejati, melainkan melanggar hak umat beriman akan sebuah perayaan liturgis yang adalah pengukapan hidup Gereja sepadan dengan tradisi dan tata tertibnya, pada akhirnya sikap ini menyebabkan masuknya unsur-unsur yang merusak dan menghancurkan ke dalam Ekaristi itu sendiri, yang justru seharusnya-karena mulianya dan berdasarkan maknanya sendiri-menandai serta menghadirkan secara ajaib persekutuan hidup ilahi dan persatuan umat Allah, Alhasil ialah kebingungan di bidang ajaran Gereja, kekacauan dan scandalum dipihak umat Allah, dan?sebagai akibat hampir pasti-perlawanan yang kuat; dan semuanya itu akn banyak umat beriman merasa bingung dan sedih, khususnya dimasa kita ini ketika hidup kristiani sudah begitu dipersulit akibat menjalarnya ?sekularisasi? pula.

12.Sebaliknya, menjadi hak sekalian umat beriman bahwa liturgi, khususnya perayaan Misa Kudus, dilangsungkan sungguh sesuai dengan hasrat Gereja, sesuai dengan penetapan-penetapannya seperti di gariskan dalam buku-buku liturgi dan dalam hukum-hukum dan peraturan lainnya, demikian pula, umat katolik berhak untuk sebuah kurban Misa Kudus yang dirayakan bagi mereka secara utuh, sesuai dengan Ajaran Gereja, dan akhirnya, adalah hak komunitas katolik bahwa Ekaristi yang Maha Kudus itu dilaksanakan baginya sedemikian rupa sehingga sungguh mencolok sebagai sakramen kesatuan, seraya menjauhkan segala cela dan ulah yang dapat menimbulkan perpecahan dalam Gereja.

13.Semua peraturan dan peringatan yang dikemukakan dalam inturksi ini, mempunyai kaitan-sekalipun atas cara-cara yang berbeda-dengan perutusan Gereja, yang bertanggung jawab agar misteri sebesar ini dirayakan secara benar dan pantas, dalam bab terakhir intruksi ini akan di bahas sejauh mana setiap norma berkaitan dengan norma tertinggi seluruh hukum Gereja ialah kepedulian akan keselamatan jiwa-jiwa.

14.Wewenang untuk mengatur liturgi semata-mata ada pada pimpinan Gereja, yaitu Tahta Apostolik, dan menurut kaidah hukum, pada Uskup.

15.Paus di Roma, "Wakil Kristus dan Gembala Gereja universal di dunia ini, yang karenanya berdasarkan tugasnya mempunyai kuasa jabatan tertinggi, penuh, langsung dan universal dalam Gereja yang selalu dapat dijalankanya dengan bebas", dan juga melalui komunikasi dengan para gembala dan dengan anggota-anggota kawananya.

16."Takhta Apostoliklah, yang berwenang untk mengatur liturgi suci seluruh Gereja, menerbitkan buku-buku liturgi serta memberikan recongnitio (mensahkan) terjemahannya kedalam bahasa-bahasa pribumi, dan juga mengawasi agar dimanapun peraturan-peraturan liturgi, khusus yang menyangkut perayaan kurban Misa yang begitu agung itu, ditepati dengan setia.

17."Menjadi kongregasi ibadat dan tata terbit sakramen umtuk memperhatikan hal-hal yang menjadi wewenang Takhta Apostolik menyangkut penetapan peraturan dan upaya memajukan liturgi suci, secara istimewa sakramen-sakramen, dengan mengindahkan wewenang kongregasi ajaran iman. Tata tertib sakramen-sakramen diperhatikannya dan di berinya bobot, khususnyasejauh menyangkut perayaanya secara sah dan menurut peraturan yang berlaku". Akhirnya, kongregasi tersebut dengan seksama berusaha menjamin bahwa peraturan liturgi dituruti dengan teliti dan bahwa penyelewengan-penyelewengan dicegah atau di hilangkan dimana saja ditemukan". Dalam konteks ini, sesuai dengan tradisi Gereja universal, perhatian utama diberi kepada perayaan Misa Kudus dan juga kepada penghormatan yang diberikan kepada engkau Kudus di luar Misa.

18.Menjadi hak umat beriman bahwa pimpinan Gereja mengatur Liturgi Suci secara penuh dan tepat-guna supaya terhindarkan kesan bahwa liturgi itu menjadi "milik pribadi seseorang, entah selebran atau komunitas di mana misteri-mistri itu dirayakan"

19.Uskup diosesan, pelayan utama misteri-misteri Allah dalam Gereja particular yang dipercayakan kepadanya, adalah moderator, promoter dan penjaga seluruh hidup liturgis kawanannya, karena "Uskup", yang dianugerahi kepenuhan sakramen Tahbisan, adalah "pelayan rahmat Imam Agung", teristimewa dalam Ekaristi yang dipersembahkannya atau disuruhnya untuk dipersembahkan, melaluinya Gereja senantiasa hidup dan berkembang.

20.Sungguh benar, Gereja menunjukkan diri dengan cara paling agung kapan saja Misa dirayakan, teristimewa di Gereja Katedral, dengan partisipasi penuh dan aktif dari seluruh umat Allah yang kudus, yang, bersatu dalam doa bersama, menghadap satu altar dengan Uskup sebagai pemimpin upacara, dikelilingi oleh para imamnya, bersama para diakon serta pelayan-pelayan. Selain itu, "tiap perayaan Ekaristi yang dilaksanakan menurut hukum, dipimpin oleh Uskup, yang kepadanya dipercayakan jabatan untuk menghadapkan ibadat agama Kristiani kepada Sang Ilahi serta mengaturnya sesuai dengan perintah Tuhan dan hukum Gereja, diretapkan lebih lanjut sesuai dengan kebijakannya sendiri untuk Keuskupannya".

21.Jadi Uskup diosesan berhak "dalam batas kewenangannya, menetapkan norma-norma liturgis dalam Diosisnya, yang harus ditaati emua". Namun, Uskup harus berusaha untuk tidak meniadakan kebebasan-kebebasan tertentu yang tercantum dalamnorma-norma buku-buku liturgi dengan tujuan supaya perayaan dapat disesuaikan secara cerdas dengan corak gedung Gereja atau dengan kelompok orang beriman yang hadir atau dengan situasi pastoral yang khusus, sedemikian rupa sedemikian rupa sehingga perayaan suci yang universal itu sungguh disesuaikan dengan pemahaman manusia.

22.Uskup memimpin Gereja partikular, dan adalah tugasnya untuk megatur, mengarahkan, menyemangati dan kadang-kadang juga menegur mereka yang dipercayakan kepadanya; inilah suatu tugas suci, yang telah diterimanya melalui pentahbisannya sebagai sebagai Uskup dan yang dipenuhinya untuk membangun kawanannya dalam kebenaran dan kesucian. Pantaslah ia menerangkan arti yang tercantum dalam tata cara serta teks-teks liturgis itu dan memupuk semangat Liturgi pada para Imam, Diakon serta kaum awam sehingga semuanya dibimbing untuk secara aktif merayakan Ekaristi dan memetik buahnya; demikian pula ia harus berusaha agar seluruh tubuh Gereja dapat bertumbuh dalam pemahaman yang sama, dalam persekutuan cinta, baik di dalam lingkup keuskupan, maupun di tingkat nasional dan internasional.

23.Kaum beriman "sepantasnya mempercayakan diri kepada Uskup seperti Gereja pasrah kepada Yesus Kristus, dan Yesus Kristus pada Bapa, sehingga semuanya berada dalam persekutuan harmonis dan memuliakan Allah dengan selimpahnya". Semuanya, termasuk para anggota tarekat-tarekat hidup bakti serta tarekat-tarekat sekulir dan juga berbagai perkumpulan dan gerakan mana pun, harus tunduk kepada wewenang Uskup diosesan, dalam segala yang menyangkut liturgi, kecuali bila ada hak-hak yang secara sah telah diberikan, Maka Uskup mempunyai baik hak maupun kewajiban untuk menjaga serta memperhatikan Gereja-Gereja serta kapala-kapala dalam wilayah keuskupannya dari segi liturgi, Hal ini berlaku juga bagi Gereja dan kapela yang didirikan oleh Tarekat-tarekat tadi atau yang dipimpin mereka, jika umat beriman biasanya dating beribadat disitu.

24.Dari pihak umat, mereka mempunyai hak agar Uskup mencegah terjadinya penyelewengan-penyelewengandalam tata tertib Gereja, terutama menyangkut pelayanan sabda, perayaan sakramen dan sakramentali, ibadat kepada Allah dan devosi kepada para kudus.

25.Komisi-komisi atau dewan-dewan atau panitia-panitia yang didrikan oleh Uskup untuk menangani "berkembangnya liturgi, Musik dan kebudayaan rohani dalam dosisnya", harus bertindak sesuai dengan pandangan dan norma-norma Uskup, mereka tergantung dari wewenangnya serta persetujuannya untuk dapat melaksanakan tugas mereka dengan cara yang tepat, sehingga tetap Uskup sendirilah yang memimpin diosisnya.

Adapun mengenai badan dan kelompoknya itu dan semua daya upaya sekitar liturgi; sebagaimana sudah seharusnya para Uskup mempertimbangkan apakah sejauh ini segala usaha badan-badan itu telah membawa hasil, dan mempertimbangkan juga dengan seksama perubahan atau perbaikan mana yang sudah sepantasnya diadakan dari segi susunanya dan kegiatannya, sehingga semangat mereka dihidupkan kembali, Perlulah selalu diperhatikan bahwa para ahli itu harus dipilih dari antara mereka yang dikenal setia dalam iman Katolik dan punya pengetahuan secukupnya di bidang teologi dan kebudayaan.

26.Hal yang sama berlaku untuik komisi-komisi sejenis yang telah didirikan oleh Konferensi Uskup sesuai dengan keinginan konsili, yakni Komisi-komisi yang anggota-anggotanya terdiri dari Uskup-Uskup yang secara dibedakan dari orang-orang ahli yang membantu mereka. Di mana jumlah anggota sebuah konferensi Uskup tidak mencukupi untuk dengan mudah membentuk sebuah komisi liturgi yang terdiri atas anggota-anggotanya sendiri, maka harus diangkat suatu dewan atau kelompok ahli, tetapi selalu diketahui oleh seorang Uskup. kelompok itu sejauh mungkin mempunyai fungsi yang sama, sekalipun tidak memakai nama yang sama "komisi liturgi"

27.Sudah sejak tahun 1970, Takhta Apostolik memperingatkan bahwa semua eksperimen sekitar perayaan Misa Kudus harus berhenti, pernyataan ini diulangi dalam tahun 1988 maka baik Uskup-Uskup secara pribadi maupun Konferensi Uskup tidak mempunyai wewenang untuk mengizinkan eksperimen dengan teks-teks liturgi atau semua hal lain yang ditetapkan dalam buku-buku liturgi. Untuk eksperimen sejenis di masa mendatang, dibutuhkan izin dari Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen. Izin itu harus diberi secara tertulis dan permohonannya harus dimasukkan oleh Konferensi Uskup. Sesungguhnya permohonan yang demikian tidak akan dikabulkan tanpa alasan serius. Adapun kegiatan-kegiatan inkulturasi di bidang liturgi, hendaknya diperhatikan dengan teliti dan lengkap norma-norma khusus yang sudah ditetapkan.

28.Semua norma yang berhubungan dengan hal-hal liturgi, yang sesuai dengan hukum telah ditetapkan oleh sebuah Konferensi Uskup untuk wilayahnya, harus dihadapkan kepada Kongregasi Ibadat dan Tata-tertib Sakramen untuk diberi recognitio. Tanpa recognitio itu, semua norma itu tidak mempunyai kekuatan hukum.

29.Para Imam sebagai pembantu yang sah, bijaksana dan perlu dari para Uskup, dipanggil untuk melayani Umat Allah. Mereka bersatu dengan Uskup dalam imamat, sekalipun diberi tugas-tugas yang berbeda-beda. "Di masing-masing jemaat setempat, mereka dalam arti tertentu menghadirkan Uskup, yang mereka dukung dengan semangat percaya dan kebesaran hati. Sesuai dengan jenjangnya, mereka ikut mengemban tugas serta keprihatinan Uskup dan ikut menunaikannya dengan tekun setiap hari. Dan "karena keterlibatan dalam Imamat dan perutusan itu, hendaklah para Imam memandang Uskup sebagai bapa mereka dan mematuhinya dengan penuh hormat." Selain itu, "karena peduli akan apa yang menguntungkan anak-anak Allah, hendaklah mereka berusaha untuk turut memperhatikan karya pastoral seluruh diosis, bahkan seluruh Gereja".

  >>

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/