Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

4.?Sungguh,pembaruan liturgi yang di canangkan oleh konsili,di kalangan umat telah merupakan sumbangan besar untuk partisipasi yang lebih sadar,? Sekalipun demikian, ?terdapatlah pula segi-segi yang mencemaskan?. Dalam konteks ini disebut penyelewengan-penyelewengan, bahkan yang sungguh berat, terhadap liturgi dan sakramen-sakramen maupun terhadap tradisi dan wewenang Gereja, yang dewasa ini tidak jarang mengganggu upacara-liturgis di dalam lingkup-lingkup gerejani yang berbeda-beda, Di tempat-tempat tertentu sejumlah penyimpangan seperti di maksud, sudah hampir menjadi kebiasaan harian: suatu hal yng tentu saja tidak dapat diizinkan dan harus dihentikan.

5.Ketaatan kepada norma-norma yang di maklumkan oleh Gereja hanya mungkin jika ada kesamaan pikiran dan perkataan, kesamaan aksi lahiriah dan kesepakatan hati, ketaatan lahriah melulu terhadap norma-norma tentu saja bertentangan dengan semangat liturgi suci, memupuk cinta akan orang yang miskin dan tersingkir, selain itu,kata-kata dan tata cara liturgis, yang telah dimatangkan selama berabad-abad lamanya, merupakan suatu pernyataan iman serta pemahaman akan Kristus; melaluinya kita belajar berpikir seperti dia berpikir; sambil menyelaraskan kata-kata ini dengan budi,kita mengangkat hati kita kepada kita, segala sesuatu yang dikemukakan dalam intruksi ini, tertuju pada penyelarasan pemahaman kita sendiri dengan pemahaman Kristus, seperti diungkapan dalam kata-kata dan tata cara liturgi.

6.Penyelewengan-penyelewengan ?turut mengaburkan iman serta ajaran katolik mengenai sakramen ajaib ini?. karena itu, segala penyelewengan itu juga menghalangi kaum beriman untuk ?mengalami kembali apa yang dialami kedus murid Emaus: dan terbukalah mata mereka dan mereka pun mengnal dia.? Dihadapan kuasa dan keilahian Allah serta kebaikaNya yang cemerlangyang menjadi nyata secara istimewa dalam sakramen Ekaristi, pantaslah semua umat beriman memiliki dan menyatakan kesanggupannya untuk mengakui kebesaran Allah; kesanggupan itu telah mereka terima melalui penebusan yang diperoleh melalui sengsara Putra Allah yang tunggal.

7.Tak jarang penyelewengan-penyelewengan itu bersumber pada salah pengertian mengenai makna kebebasan. Dalam Kristus, Allah tidak menjamin bagi kita suatu kebebasan semu yang memberi kita peluang untuk berbuat apa saja yang kita kehendaki, melainkan suatu kebebasan yang dengannya kita boleh berbuat apa yang tepat dan benar. Ini berlaku bukan hanya untuk perintah-perintah yang berlangsung dari Allah,melainkan juga untuk hukum dan undang-undang yang dimaklumkan oleh Gereja, tentu dengan memperhatikan secara wajar cirri-ciri khas setiap peraturan, karena itu,semua harus menuruti penetapan-penetapan yang berasal dari pimpinan Gereja yang sah.

8.Maka dengan amat sedih dapat kita catat adanya ?inisiatif-inisiatif ekumenis, yang tentu saja punya maksud baik, namun kadang-kadang mengarah kepada praktek-praktek Ekaristi yang berlawanan dengan tata tertib iman yang diajarkan oleh Gereja. ?Padahal Ekaristi itu? adalah karunia yang terlalu agung untuk dijadikan sasaran kebingungan atau pelecehan. ?Karena itu perlulah sejumlah hal dibetulkan atau digariskan peraturannya dengan lebih jelas. Sehingga dari segi ini pun Ekaristi akan tetap bersinar dalam misterinya yang cemerlang.?

9.Akhirnya, penyelewengan-penyelewengan itu sering berlandaskan ketidakpahaman, dan dapat menyingkirkan unsur-unsur yang maknanya tidak dipahami secara lebih mendalam dan yang nilai sejarahnya tidak diperhatikan. Karena ?doa-doa liturgis dan madah serta nyanyian liturgis semuanya diresapi ilham dan dorongan? Kitab Suci sendiri, ?dan justru dari kitab suci itu, tata cara serta kitab suci itu sendiri,? Tanda-tanda lahiriah ?yang dipergunakan dalam liturgi suci untuk menandai realita-realita ilahi yang tak kelihatan,telah dipilih oleh Kristus atau pun oleh Gereja?. Akhirnya, susunan dan bentuk upacara-upacara suci, menurut masing-masing Ritus Timur dan Ritus Barat, adalah sesuai dengan praktek Gereja universal, Hal yang sama berlaku kebiasaan-kebiasaan yang secara universal ditereima melalui tradisi yang tak putus-putus semenjak zaman rasul, Menjadi Gereja untuk meneruskannya dengan setia dan penuh perhatian kepada generasi-generasi mendatang, semuanya diamankan dan dilindungi dengan bijaksana melalui norma-norma liturgis.

10.Gereja sendiri tidak mempunyai kuasa atas hal-hal yang ditetapkan oleh Kristus sendiri dan yang merupakan bagian yang tak berubah-rubah dalam liturgi. jika diputuskan kaitan antara sakramen-sakramen dengan Kristus yang mengadakannya dan dengan peristiwa-peristiwa pada pembentukan awal Gereja, maka sesungguhnya bagi umat beriman hal itu tidak akan membawa manfaat melainkan sebaliknya akan sangat merugikan mereka. Maklumlah liturgi suci berhubungan erat dengan dasar-dasar ajaran iman, sehingga penggunaan teks dan tata cara yang tidak di sahkan, dengan sendirinya akan menyebabkan merosotnya ataupun hilangnya hubungan yang mutlak perlu antara lex orandi dan lex credendi.

11.Misteri Ekaristi ini ?terlalu agung bagi siapa pun juga untuk merasa bebas melakukannya sesuai dengan pandangannya sendiri, sehingga kekudusannya dan penetapannya yang universal menjadi kabur? sebaliknaya, siapa saja yang bertindak demikian dan melampiaskan saja kecendrungannya sendiri-juga bila dia seorang imam-melukai kesatuan hakiki Ritus Romawi, yang seharusnya dijaga ketat. Dia pun harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang sama sekali tidak menanggapi kelaparan dan kehausan akan Allah yang hidup yang dialami orang dewasa ini, perbuatan-perbuatan yang demikian tidak juga membawa manfaat untuk reksa pastoral yang otentik atau pembaharuan liturgi yang benar; sebaliknya. Karena ulah-ulah itu, umat beriman dirampasi dari harta kekayaan dan warisannya, Demikianlah perbuatan-perbuatan yang sewenang-sewenang itu bukannya jalan menuju ke pembaharuan yang sejati, melainkan melanggar hak umat beriman akan sebuah perayaan liturgis yang adalah pengukapan hidup Gereja sepadan dengan tradisi dan tata tertibnya, pada akhirnya sikap ini menyebabkan masuknya unsur-unsur yang merusak dan menghancurkan ke dalam Ekaristi itu sendiri, yang justru seharusnya-karena mulianya dan berdasarkan maknanya sendiri-menandai serta menghadirkan secara ajaib persekutuan hidup ilahi dan persatuan umat Allah, Alhasil ialah kebingungan di bidang ajaran Gereja, kekacauan dan scandalum dipihak umat Allah, dan?sebagai akibat hampir pasti-perlawanan yang kuat; dan semuanya itu akn banyak umat beriman merasa bingung dan sedih, khususnya dimasa kita ini ketika hidup kristiani sudah begitu dipersulit akibat menjalarnya ?sekularisasi? pula.

<<   >>