Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
|---|---|
| 7. | Tak jarang penyelewengan-penyelewengan itu bersumber pada salah pengertian mengenai makna kebebasan. Dalam Kristus, Allah tidak menjamin bagi kita suatu kebebasan semu yang memberi kita peluang untuk berbuat apa saja yang kita kehendaki, melainkan suatu kebebasan yang dengannya kita boleh berbuat apa yang tepat dan benar. Ini berlaku bukan hanya untuk perintah-perintah yang berlangsung dari Allah,melainkan juga untuk hukum dan undang-undang yang dimaklumkan oleh Gereja, tentu dengan memperhatikan secara wajar cirri-ciri khas setiap peraturan, karena itu,semua harus menuruti penetapan-penetapan yang berasal dari pimpinan Gereja yang sah. |
| 8. | Maka dengan amat sedih dapat kita catat adanya ?inisiatif-inisiatif ekumenis, yang tentu saja punya maksud baik, namun kadang-kadang mengarah kepada praktek-praktek Ekaristi yang berlawanan dengan tata tertib iman yang diajarkan oleh Gereja. ?Padahal Ekaristi itu? adalah karunia yang terlalu agung untuk dijadikan sasaran kebingungan atau pelecehan. ?Karena itu perlulah sejumlah hal dibetulkan atau digariskan peraturannya dengan lebih jelas. Sehingga dari segi ini pun Ekaristi akan tetap bersinar dalam misterinya yang cemerlang.? |
| 9. | Akhirnya, penyelewengan-penyelewengan itu sering berlandaskan ketidakpahaman, dan dapat menyingkirkan unsur-unsur yang maknanya tidak dipahami secara lebih mendalam dan yang nilai sejarahnya tidak diperhatikan. Karena ?doa-doa liturgis dan madah serta nyanyian liturgis semuanya diresapi ilham dan dorongan? Kitab Suci sendiri, ?dan justru dari kitab suci itu, tata cara serta kitab suci itu sendiri,? Tanda-tanda lahiriah ?yang dipergunakan dalam liturgi suci untuk menandai realita-realita ilahi yang tak kelihatan,telah dipilih oleh Kristus atau pun oleh Gereja?. Akhirnya, susunan dan bentuk upacara-upacara suci, menurut masing-masing Ritus Timur dan Ritus Barat, adalah sesuai dengan praktek Gereja universal, Hal yang sama berlaku kebiasaan-kebiasaan yang secara universal ditereima melalui tradisi yang tak putus-putus semenjak zaman rasul, Menjadi Gereja untuk meneruskannya dengan setia dan penuh perhatian kepada generasi-generasi mendatang, semuanya diamankan dan dilindungi dengan bijaksana melalui norma-norma liturgis. |