Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

8.Sebaliknya, dewasa ini, "tradisi para Bapa suci "yang dicita-citakan oleh peyusun Misale Pius V itu, telah diketemukan berkat tulisan para sarjana yang tak terbilang banyaknya.
Sebab pada tahun 1571 untuk pertama kalinya diterbitkan Sacramentarium Gregorianum. Kemudian berulang kali dicetak juga edisi kritis Sacramentarium Romanum dan Ambrosianum. Juga diterbitkan buku-buku liturgis kuno dari Hispania dan Gallia yang memuat amat banyak doa dengan nilai rohani yang tinggi, yang sampai zaman Trente belum diketahui.

Lagi pula, tradisi abad-abad pertama, yaitu tradisi sebelum terbentuknya Ritus Timur dan Ritus Barat, telah dikenal dengan lebih baik pada zaman kita, karena begitu banyak dokumen liturgi yang diketemukan.

Di samping itu, karena kemajuan ilmu patristik, teologi tentang misteri Ekaristi mengalami pengaruh dari ajaran para bapa Gereja, terutama bapa-bapa yang terkenal pada zaman kuno, seperti S.Ireneus, S.Ambrosius, S. Sirilus dari Yerusalem, dan S. Yohanes Krisostomus.

9.Dari sebab itu, mengikuti "tradisi para Bapa suci" tidak berarti bahwa asal apa yang diwariskan para leluhur yang paling dekat dengan kita itu dipelihara, tetapi juga bahwa seluruh sejarah Gereja ditinjau dan dipertimbangkan, termasuk semua cara dan bentuk ibadat yang pernah dipakai untuk mengungkapkan iman yang satu dan sama, kendati bentuk-bentuk ibadat begitu berbeda satu sama lain karena terdapat di daerah-daerah Semit, Yunani, dan Latin. Tinjauan yang lebih luas dan mendalam ini menyadarkan kita bagaimana Roh Kudus menganugerahkan kesetiaan yang luar biasa kepada umat Allah untuk menjaga harta warisan iman yang tak berubah, meskipun doa dan ritus masing-masing begitu berbeda.

10.Jadi, Misale baru ini memberikan kesaksian tentang adanya tata doa Gereja Roma dan memelihara harta warisan iman yang diwartakan oleh konsili-konsili yang terakhir. Akan tetapi, disamping itu, Misale baru ini merupakan suatu tahap penting dalam perkembangan liturgi.

Para bapa Konsili Vatikan II memang mengulangi rumusan-rumusan dogmatik Trente, namum mereka berbicara pada zaman yang telah sangat berubah. Maka dari itu, mereka dapat mengemukakan saran dan petunjuk di bidang pastoral yang empat abad yang lalu tidak terpikirkan

11.Konsili Trente sudah menjunjung tinggi segi kateketis dalam perayaan Ekaristi. Meskipun demikian, Trente belum dapat menarik segala konsekuensi yang praktis. Misalnya pada waktu itu banyak orang menuntut agar dalam kurban Misa boleh digunakan bahasa umat setempat. Namun karena tuntutan situasi Gereja pada zaman itu, Konsili Trente merasa wajib untuk menegaskan kembali ajaran gereja, bahwa kurban Misa itu pertama-tama adalah tindakan Kristus sendiri, sehingga hasil Misa yang sesungguhnya tidak tergantung dari partisipasi umat beriman.Ini dirumuskan sebagai berikut : "Meskipun Misa mengandung banyak pengajaran untuk umat, namun tidak disetujui oleh Konsili, bahwa Misa dirayakan dalam bahasa umat setempat."[*]
Bahkan dianggap terkutuklah siapa saja yang "menolak kebiasaan dalam Gereja Roma untuk mengucapkan Kanon dan kata-kata konsekrasi dengan suara lembut, atau yang berpendapat bahwa Misa harus dirayakan dalam bahasa umat setempat." Akan tetapi, kalau di satu pihak dilarang menggunakan bahasa umat setempat, maka di lain pihak para pastor diperintahkan untuk mengimbangi kekurangan itu dengan katekese yang sesuai: "Supaya domba-domba Kristus jangan sampai kelaparan, ??.maka Konsili memerintahkan para gembala umat beriman dan semua yang bertanggung jawab atas umat beriman, agar dalam Misa, mereka sendiri atau lewat orang lain, menjelaskan teks-teks yang dibacakan, dan menguraikan misteri kurban mahakudus ini, lebih-lebih pada hari-hari Minggu dan pesta."[*]

12.Konsili Vatikan II berhimpun dengan maksud untuk menyesuaikan Gereja dengan tuntutan tugas kerasulannya pada zaman ini. Maka dari itu, Konsili Vatikan II, seperti halnya Konsili Trente, sungguh-sungguh menyadari segi kateketis dan pastoral dalam liturgi. [*] Jadi, meskipun setiap orang katolik tahu bahwa liturgi dalam bahasa latin itu sah dan bermanfaat, namun diakui juga bahwa "pemakaian bahasa umat setempat seringkali berguna bagi umat," sehingga penggunaan bahasa umat setempat diizinkan.[*] Izin ini di mana-mana disambut dengan begitu gembira, sehingga, di bawah bimbingan para uskup dan Takhta Apostolik sendiri, dewasa ini semua perayaan liturgi yang dihadiri umat boleh diselenggarakan dalam bahasa umat setempat, agar dengan demikian misteri yang dirayakan, dipahami dengan lebih jelas.

13.Penggunaan bahasa umat setempat dalam liturgi, betapapun pentingnya, hanyalah merupakan alat, yaitu untuk mengungkapkan dengan jelas dan secara kateketis misteri yang dirayakan. Maka dari itu, Konsili Vatikan II menegaskan kembali beberapa keputusan Trente yang belum ditaati di semua tempat. Misalnya saja diharuskan adanya homili pada hari-hari Minggu dan pesta,[*] dan diizinkan agar di antara ritus-ritus kudus disisipkan penjelasan-penjelasan singkat.[*]

Terutama satu harapan, yang juga dikemukan oleh bapa-bapa dalam konsili Trente, telah dilaksanakan oleh Konsili Vatikan II, yaitu, agar umat beriman berpartisipasi dalam Misa dengan
lebih sempurna dan "tidak hanya berkomuni secara rohani, tetapi juga secara sakramental." Mengenai hal ini dinasihatkan oleh Konsili Vatikan II, "agar umat beriman berpartisipasi lebih sempurna di dalam Ekaristi, yakni : sesudah imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, umat beriman pun hendaknya ikut menyambut dari kurban yang sama."[*]

14.Terdorong oleh semangat pastoral yang sama, Konsili Vatikan II telah berhasil meninjau kembali penetapan Konsili Trente tentang komuni-dua-rupa. Sebab dewasa ini tidak dipersoalkan lagi ajaran bahwa komuni-roti saja sudah merupakan komuni penuh. Namun Konsili mengizinkan komuni-dua-rupa pada kesempatan-kesempatan tertentu, supaya dengan demikian lambang sakramen menjadi tampak lebih jelas dan misteri Ekaristi dipahami secara lebih mendalam oleh umat beriman yang merayakannya.[*]

<<   >>