Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id
Dokumen:
Nomor:
masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak)
Dokumen:
Kata:
masukkan kata yang akan dicari (catatan kaki lihat versi Cetak)

118.Begitu pula hendaknya disiapkan:
a. di tempat duduk imam: Misale dan bila diperlukan, buku nyanyian;
b. di mimbar: Buku Bacaan Misa ( lectionarium );
c. di meja samping:
(1) piala, korporale, purifikatorium dan bila diperlukan, palla;
(2) patena dan, kalau diperlukan sibori-sibori ;
(3) hosti untuk komuni imam selebran, diakon, para pelayan,dan umat;
(4) ampul berisi air dan ampul berisi anggur, kecuali kalau barang-barang ini diantarkan oleh umat waktu perarakan persembahan;
(5) bejana air suci, kalau ada pemberkatan dan perecikan dengan air suci;
(6) patena untuk komuni umat;
(7) perlengkapan untuk membasuh tangan.
Sangat dianjurkan agar piala ditutup dengan kain; warnanya dapat putih atau sesuai dengan warna liturgi hari yang bersangkutan.

119.Di sakristi hendaknya disiapkan busana liturgis (bdk. no. 337-341) untuk imam, diakon, dan pelayan-pelayan lain sesuai dengan bentuk perayaan :
a.
untuk imam: alba, stola, dan kasula;
b. untuk diakon: albam stola, dan dalmatik. Namun dalmatik juga dapat ditiadakan, jika tidak diperlukan atau jika perayaannya tidak begitu meriah;
c. untuk pelayan lainnya: alba atau busana lain yang sudah disahkan.[*]

Semua petugas yang memakai alba, juga menggunakan singel dan amik, kecuali kalau bentuk alba tidak memerlukannya.

Kalau ada perarakan masuk, hal-hal berikut juga perlu disiapkan:
(1) Kitab Injil (Evangeliarium) ;
(2) pada hari Minggu dan hari raya: pedupaan dan wadah dupa ( kalau dipakai pedupaan );
(3) salib dan lilin bernyala untuk dibawa dalam perarakan.

120.Setelah jemaat berkumpul, imam dan para pelayan, dengan mengenakan busana liturgis masing-masing, berarak menuju altar. Urutannya sebagai berikut :
a. Pelayan yang membawa pedupaan berasap, bila dipakai dupa.
b. Pelayan-pelayan yang membawa lilin bernyala, mengapit akolit atau pelayan lain yang membawa salib.
c. Para akolit dan pelayan-pelayan yang lain.
d. Lektor; dapat membawa Kitab Injil ( Evangeliarium ), bukan Buku Bacaan Misa (Lectionarium) yang sedikit diangkat.
e. Imam yang memimpin perayaan Misa.

Kalau dipakai dupa, sebelum perarakan mulai, imam membubuhkan dupa ke dalam pedupaan dan memberkatinya dengan tanda salib tanpa mengatakan apa-apa.

121.Pada waktu perarakan menuju altar, dilagukan nyanyian pembuka (bdk. no. 47-48)

122.Setibanya di depan altar, imam dan para pelayan membungkuk khidmat.
Kalau dalam perarakan ini dibawa salib, maka salib itu dipajang di dekat altar sehingga berfungsi sebagai salib altar, dan hanya salib itulah yang harus digunakan; kalau ada salib lain, lebih baik salib perarakan ini dipajang di tempat lain ( diluar panti imam ). Lilin-lilin yang dibawa oleh para pelayan, ditempatkan di dekat altar.

123.Imam menuju altar dan menciumnya sebagai tanda penghormatan. Kalau dianggap perlu, imam lalu mendupai salib dan berkeliling mendupai altar.

124.Kemudian, imam pergi ke tempat duduk. Semua tetap berdiri, dan bila nyanyian pembuka selesai, imam bersama dengan seluruh umat membuat tanda salib sementara imam berkata: Dalam (Demi) nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, dan umat menjawab: Amin
Lalu imam memberi salam kepada umat. Ia menghadap ke arah umat, membuka tangan dan mengucapkan salah satu rumus salam yang tersedia. Kemudian imam atau seorang pelayan lain dapat menyampaikan kata pengantar amat singkat tentang Misa yang dirayakannya.

125.Kemudian menyusul pernyataan tobat. Sesudah itu, dilagukan atau diucapkan Tuhan Kasihanilah sesuai dengan petunjuk rubrik (bdk.no.52).

126.Seturut ketentuan, kemudian dilagukan atau diucapkan kemuliaan (bdk.no. 53).

<<   >>