Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
|---|---|
| 150. | Bila dianggap perlu, sesaat sebelum konsekrasi, putra altar dapat membunyikan bel sebagai tanda bagi umat. Demikian pula sesuai dengan kebiasaan setempat,pelayan dapat membunyikan bel pada saat hosti dan piala diperlihatkan kepada umat sesudah konsekrasi masing-masing. Kalau dipakai pedupaan seorang pelayan mendupai roti/piala pada saat diperlihatkan kepada umat sesudah konsekrasi masing-masing. |
| 151. | Sesudah konsekrari, setelah imam berkata Agunglah misteri iman kita, umat melagukan atau melambungkan salah satu aklamasi anamnesis yang dipilih dari rumus-rumus yang tersedia. Pada akhir Doa Syukur Agung, imam mengambil piala dan patena dengan hosti diatasnya dan mengangkatnya sambil melagukan atau mengucapkan doksologi dengan pengantaraan Kristus, Umat menanggapi doksologi ini dengan aklamasi Amin. Kemudian imam meletakkan piala dan patena diatas korporale. |
| 152. | Sesudah Doa Syukur Agung selesai, dengan tangan terkatup imam mengucapkan pengantar doa Bapa Kami. Kemudian, sambil merentangkan tangan imam melambungkan doa Bapa Kami bersama dengan umat. |
| 153. | Sesudah Bapa kami, sambil merentangkan tangan, imam membawakan embolisme sendirian. Umat menanggapinya dengan aklamasi Sebab Engkaulah raja. |
| 154. | Kemudian, sambil merentangkan tangan, dengan suara lantang imam mengucapkan doa Tuhan Yesus Kristus bersabda ?? Sesudah itu, imam menghadap ke arah umat, dan mengucapkan salam-damai. ( Semoga ) Damai Tuhan ....., sambil membuka tangan, lalu mengatupkannya lagi. Umat menjawab : sekarang dan selama-lamanya. Kemudian, kalau perlu, imam menambahkan : Marilah kita saling menyampaikan salam-damai. Imam dapat memberikan salam-damai kepada para pelayan, tetapi tidak meninggalkan panti imam, sehingga jalannya perayaan tidak terganggu. Demikian juga kalau, karena alasan yang kuat, ia ingin memberikan salam-damai kepada beberapa anggota jemaat. Pada saat yang sama, sesuai dengan keputusan Konferensi Uskup, semua saling menyatakan salam-damai, persekutuan, dan kasih. Sementara menyampaikan salam-damai, umat berkata Damai Tuhan, dan dijawab Amin |
| 155. | Kemudian, imam mengambil hosti kudus, memecah-mecahnya diatas patena, dan memasukkan sepotong kecil di dalam piala sambil berdoa dalam hati : Semoga Tubuh dan Darah?...Sementara itu, paduan suara dan seluruh umat melagukan Anakdomba Allah (bdk.no,83). |
| 156. | Lalu, sambil mengatupkan tangan , imam berdoa dalam hati: Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup?..atau: Ya Tuhan Yesus Kristus , semoga Tubuh dan Darah-Mu?.. |
| 157. | Sesudah doa itu imam berlutut, lalu mengambil hosti kudus, mengangkatnya sedikit di atas patena atau si atas piala, dan sambil menghadap ke arah umat ia berkata: Inilah Anakdomba Allah?.Bersama dengan umat ia lalu melanjutkan : Ya Tuhan, saya tidak pantas?. |
| 158. | Sambil menghadap ke arah altar imam lalu berdoa dalam hati: Semoga Tubuh Kristus selalu melindungi aku, dan dengan khidmat ia menyambut Tubuh Kristus. Kemudian ia mengambil piala, berdoa dalam hati: Semoga Darah Kristus selalu melindungi aku, dan dengan khidmat menyambut Darah Kristus. |
| 159. | Ketika imam menyambut Tubuh Kristus, dimulailah nyanyian komuni (bdk.no.86). |
| 160. | Sesudah itu imam menganbil patena atau sibori dan menuju tempat umat akan menyambut Tubuh ( dan Darah ) Kristus. Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antarmereka. Umat menyambut entah sambil berlutut entah sambil berdiri, sesuai ketentuan Konferensi Uskup. Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh ( dan Darah ) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah-kaidah mengenai komuni. |
| 161. | Kalau komuni dibagikan hanya dalam rupa roti, imam mengangkat sedikit dan menunjukkan hosti kepada masing-masing orang yang menyambut sambil berkata : Tubuh Kristus. Masing-masing orang menjawab : Amin, lalu menyambutnya entah dengan lidah entah dengan tangan. Begitu diterima, hosti hendaknya langsung dimakan. Kalau komuni diterimakan dalam rupa roti dan anggur, hendaknya diperhatikan petunjuk-petunjuk di bawah (bdk.no.284-287). |
| 162. | Imam-imam lain yang kebetulan hadir dalam perayaan Ekaristi dapat membantu melayani komuni umat. Kalau imam-imam seperti itu tidak ada, padahal jumlah umat yang menyambut besar sekali, imam dapat memanggil pelayan komuni tak-lazim untuk membantu, yakni: akolit yang dilantik secara liturgis atau juga anggota jemaat yang sudah dilantuk secara liturgis untuk tugas ini.[*] Dalam keadaan darurat, imam dapat menugaskan anggota jemaat yang pantas hanya untuk kesempatan yang bersangkutan. Pelayan-pelayan seperti ini hendaknya tidak menghampiri altar sebelum imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan. Mereka selalu menerima dari tangan imam bejana kudus yang berisi Tubuh atau Darah Kristus untuk dibagikan kepada umat beriman. |
| 163. | Sesudah pelayan komuni selesai, imam kembali ke altar. Kalau kebetulan anggur kudus masih tersisa, imam langsung meminumnya sampai habis. Tetapi, kalau hosti kudus masih tersisa, imam dapat memakannya atau menyimpannya dalam tabernakel. Imam kembali ke altar dan mengumpulkan remah-remah hosti, kalau ada, lalu pergi ke sisi altar atau ke meja-samping dan membersihkan patena atau sibori di atas piala. Akhirnya, imam membersihkan piala sambil berdoa dalam hati: Ya Tuhan, semoga anugerah-Mu yang tadi kami sambut?., dan mengeringkannya dengan purifikatorium. Kalau bejana-bejana dibersihkan di altar, maka kemudian dibawa oleh putra altar ke meja samping. Tetapi boleh juga bejana-bejana itu, terutama kalau jumlahnya banyak, dibiarkan di altar atau di meja-samping; semua di tutup rapi dan diletakkan di atas korporale. Baru sesudah Misa, bila umat sudah pulang, bejana-bejana itu dibersihkan oleh akolit. |
| 164. | Setelah bejana-bejana dibersihkan, imam pergi ke tempat duduk, dan diadakan saat hening selama beberapa saat atau dilambungkan mazmur, madah, atau kidung pujian lain (bdk.no. 88). |
| 165. | Kemudian, sambil berdiri di depan tempat duduk atau di belakang altar, imam menghadap ke arah umat dan sambil membuka tangan berkata: Marilah kita berdoa, lalu mengatupkan tangan. Semua berdoa sejenak dalam hati, kecuali kakalu saat hening sudah dilaksanakan langsung sesudah komuni. Lalu, sambil merentangkan tangan imam mengucapkan doa komuni, dan, pada akhir doa, umat menyerukan aklamasi Amin. |
| 166. | Pengumuman untuk umat, kalau ada, dibacakan sesudah doa komuni. |
| 167. | Kemudian sambil membuka tangan imam memberi salam kepada umat : Tuhan sertamu, dan umat menjawab : Dan sertamu juga. Imam kembali mengatupkan tangan, lalu langsung menempelkan tangan kiri pada dada, mengangkat tangan kanan dan berkata : Semoga saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa, dan sambil memberkati umat ia meneruskan : Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Umat menjawab: Amin. Pada hari dan kesempatan tertentu rumus berkat itu didahului oleh rumus berkat meriah atau doa untuk jemaat sebagaimana terdapat dalam Lampiran Misale atau pada rumus Misa yang bersangkutan. Seorang uskup memberkati umat dengan rumus khusus sambil membuat tiga kali tanda salib atas umat. |
| 168. | Langsung sesudah berkat, imam mengatupkan tangan dan berkata : Perayaan Ekaristi sudah selesai. Umat menjawab : Syukur kepada Allah. Kemudian imam melanjutkan: Pergilah! Saudara diutus, dan umat menjawab: Amin. |
| 169. | Akhirnya sesuai ketentuan imam menghormati altar dengan menciumnya dan setelah membungkuk khidmat bersama para pelayan awam, ia meninggalkan ruang ibadat. |
| 170. | Kalau langsung sesudah Misa diadakan perayaan liturgi lain, maka Ritus penutup, yaitu salam, berkat, dan pengutusan umat ditiadakan. |
| 171. | Kalau diakon membantu dalam perayaan Ekaristi hendaknya ia mengenakan busana liturgis diakon dan melaksanakan tugasnya sebagai berikut: a. membantu dan mendampingi imam; b. membantu di altar: melayani piala dan Misale; c. memaklumkan injil dan dengan arahan dari imam, menyampaikan homili (bdk.no.66) d. memandu umat beriman dengan petunjuk-petujuk yang jelas dan memaklumkan ujud-ujud doa umat; e. membantu imam membagikan Tubuh dan Darah Kristus, dan membersihkan serta merapikan kembali bejana-bejana kudus; f. mengambil alih tugas pelayan-pelayan lain, kalau mereka berhalangan. |
| 172. | Dalam perarakan masuk, sambil membawa Kitab Injil (Evangeliarium) yang sedikit diangkat, diakon berjalan di depan imam atau disampingnya. |
| 173. | Setibanya didepan altar, kalau membawa Kitab Injil, diakon tidak ikut memberi penghormatan tetapi langsung ke altar untuk menempatkan Kitab Injil diatas altar. Sesudah itu, bersama dengan imam, ia mencium altar. Akan tetapi, kalau tidak membawa Kitab Injil, diakon membungkuk khidmat ke arah altar bersama imam, dan bersama dia pula mencium altar. Bila dalam perayaan Ekaristi ini dipakai dupa, maka diakon membantu imam mengisi pedupaan dan mendampinginya mendupai salib serta altar. |
| 174. | Sesudah itu, bersama dengan imam diakon menuju tempat duduk. Ia duduk disamping imam dan membantu dia, kalau diperlukan. |
| 175. | Kalau dalam perayaan Ekaristi dipakai dupa, waktu bait pengantar Injil dilagukan, diakon membantu imam mengisi pedupaan. Kemudian ia membungkuk khidmat di depan imam dan meminta berkat dengan kata-kata: Bapa, mohon berkat. Imam memberkatinya sambil berkata: Semoga Tuhan menyertai saudara?Diakon membuat tanda salib dan menjawab: Amin. Sesudah itu diakon membungkuk ke arah altar, mengambil Kitab Injil dari altar, lalu pergi ke mimbar sambil membawa Kitab Injil yang sedikit diangkat. Para putra altar yang membawa pedupaan serta lilin bernyala berjalan di depan diakon. Sesampainya di mimbar, diakon, sambil membuka tangan memberi salam kepada umat sambil berkata: Tuhan sertamu. Kemudian sambil berkata: Inilah Injil Yesus Kristus, diakon membuat tanda salib dengan ibu jari pada Injil yang akan diwartakan, lalu pada dahi, mulut dan dadanya. Lalu ia mendupai Kitab Injil dan mewartakan Injil. Sesudah pembacaan, diakon menyerukan aklamasi Demikianlah sabda Tuhan, dan semua menjawab: Terpujilah Kristus. Lalu ia mencium Kitab Injil sambil berkata dalam hati Tuhan, karena pewartaan Injil ini, hapuskanlah dosa kami. Kemudian ia kembali ketempat duduk di samping imam selebran. Kalau yang memimpin Ekaristi seorang uskup, diakon membawa Kitab Injil kepadanya untuk dicium, atau diakon sendiri menciumnya sambil berkata dalam hati: Tuhan, karena pewartaan Injil ini, hapuskanlah dosa kami. Dalam perayaan meriah, kalau dianggap baik, uskup dapat memberkati umat dengan Kitab Injil. Akhirnya, diakon membawa Kitab Injil ke meja samping atau ke tempat lain yang anggun dan serasi. |
| 176. | Kalau lektor yang terampil dan terlantik tidak hadir, diakon dapat juga membawakan bacaan-bacaan sebelum Injil. |
| 177. | Sesudah doa umat dibuka oleh imam, diakon membawakan ujud-ujud doa umat dari mimbar, sesuai dengan ketentuan. |
| 178. | Sesudah doa umat selesai, waktu persiapan persembahan, imam tetap duduk di kursinya. Diakon menyiapkan altar dibantu oleh akolit; tetapi pengaturan bejana-bejana kudus dilaksanakan oleh diakon sendiri. Waktu imam menerima bahan persembahan umat,diakon juga membantunya. Kemudian ia menyerahkan kepada imam patena dengan roti yang akan dikonsekrasikan. Sesudah itu diakon menuangkan anggur dan sedikit air ke dalam piala, sambil berkata dalam hati: Sebagaimana dilambangkan?, lalu menyerahkannya kepada imam. Namun dapat juga diakon menyiapkan piala, yaitu mengisinya dengan anggur dan air, pada meja samping. Bila dipakai dupa , diakon mendampingi imam waktu mendupai bahan persembahan, salib dan altar. Kemudian ia atau akolit mendupai imam dan umat. |
| 179. | Selama Doa Syukur Agung diakon berdiri di samping imam, sedikit dibelakangnya, sehingga kalau perlu ia dapat membantu melayani piala dan Misale. Mulai dari epiklesis sampai saat imam memperlihatkan piala kepada umat sesudah konsekrasi, seturut ketentuan, diakon berlutut. Kalau ada beberapa diakon, pada saat konsekrasi, salah satu dapat mengisi pedupaan dan mendupai hosti serta piala pada saat diperlihatkan kepada umat. |