Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
Materi iman

 

 

Apologetik Penghormatan Salib / Mencium Salib

Penghormatan Salib [dengan mencium], atau berlutut merupakan Tradisi di Gereja Katolik, seni religius Katolik berupa benda 2 dimensi (seni lukis/mosaic) maupun 3 dimensi (seni pahat/patung). Perlu diingat bahwa Gereja Katolik berpegang pada Alkitab [Canon Alexandria, yang berisi 46 PL dan 27 PB ] dan Tradisi (para rasul dan para bapa Gereja). Gereja Orthodox, juga sama, mereka berpegang pada Alkitab [Canon Alexandria, berisi 46 PL dan 27 PB] dan Tradisi (para rasul dan para bapa Gereja).
Gereja Orthodox mengenal "penghormatan" IKON, yang berupa lukisan, sulaman, mosaic atau relief ukiran.

Mengapa kedua Gereja ini (Katolik dan Orthodox) berpegang pada hal yang sama?
Karena memang berawal dan bersumber SATU. Mengapa mereka berdua berpegang pada alkitab dan Tradisi? Karena berdasarkan fakta sejarah Tradisi sudah ada, sebelum Alkitab ditulis; Gereja sudah ada [sejak saat Yesus menunjuk Petrus] sebelum para rasul menulis Injil atau berkeliling yang menghasilkan Kisah Para Rasul dan Surat-surat.

Seperti yang pernah saya tuliskan, pada masa Abraham belum ada kitab apa-apa Juga masa Nuh, Musa; setelah Musa baru ada Taurat Musa (Pentateukh, 5 kitab Torah Moshe).
Pada masa Yesus, belum ada satupun "Kitab Perjanjian Baru"; yang ada tulisan-tulisan terpisah [Nebiim, Pesahim dan Tehillim] juga Talmud.
Perjanjian baru ditulis kira-kira dari tahun 50M sampai 90M, jadi sebelum itu dan di masa itu para rasul dan ketujuhpuluh murid berpegang pada Tradisi lisan "dari guru kepada muridnya". Para rasul dan murid-murid selama itu berkotbah dan mengajar tanpa Alkitab!

Bagaimana bentuk cikal bakal Alkitab?
Tulisan panjang dengan nomor (ayat?) tanpa pasal, dan surat-surat (yang tentu saja tanpa nomor pasal dan ayat). Penyusunan secara sitematis bagian Perjanjian Lama, dipilah kitab-kitab, dibagi dalam perikop, diberi nomor pasal dan ayat; baru dilakukan pada masa Ptolemaios II Philadelphos [285 - 246 SM], yang memerintahkan 70 orang ahli kitab Yahudi [yang "menurut tradisi" dipilih 6 orang dari setiap suku Israel yang berjumlah 12] menyalin dalam susunan yang rapi [Septuagint].

Kisah Yesus dan ajaranNya, perjalanan dan korespondensi para rasul serta pandangan apokaliptik Yohanes dituangkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Pengajaran, teladan, nasihat dan tatanan/aturan dari para rasul, ketujuhpuluh murid dan para bapa Gereja, itulah yang menjadi Tradisi Gereja. Dari tiga hal : Tradisi, Gereja dan Alkitab; justru Alkitab yang termuda usianya. [Alkitab Katolik & Orthodox th 405M, Alkitab Protestan pada abad 16].

Di bawah ini adalah kutipan penjelasan resmi dari Gereja Orthodox mengenai "penghormatan" [Veneration] kepada orang suci yang disimbolkan/ditampilkan dalam bentuk Ikon. Isinya tidak jauh berbeda dengan sudut pandang Gereja Katolik. Bukan kayu atau catnya yang disembah, juga bukan salib/ikon itu; tetapi orang yang digambarkan/dipahatkan disitu. [relative veneration]. Penghormatan [Veneration, Dulia, proskynesis] berbeda dengan Penyembahan [Worship, Latria, Latreia],

An icon, it is true, is made of wood and paint, but it is only a symbol. Further, it is neither an object of absolute veneration nor of worship. On the contrary, icons are only relatively venerated, for the true object of veneration is ultimately the person depicted in the icon, not the image itself. Moreover, a clear distinction is to be drawn between veneration (proskynesis), with which the icons should be honored, and worship (latreia), which belongs to God alone.

Sebuah ikon, benarlah, terbuat dari kayu dan cat, tetapi itu hanyalah simbol. Lebih lanjut, itu bukan sebuah oblek "penghormatan mutlak" ataupun penyembahan. Sebaliknya, ikon-ikon hanya dihormati secara relatif, karena obyek penghormatan sesungguhnya adalah seseorang yang terlukis pada ikon, bukan lukisan itu sendiri. Lebih lanjut, harus dipaparkan suatu perbedaan yang jelas antara penghormatan [veneration, proskynesis], dengan mana ikon sepatutnya dihormati, dan penyembahan [worship, latreia], yang hanya bagi Allah.

In sum, it was altogether unlawful to worship icons, for God alone is worshipped and adored; they could and should, however, be venerated. This insistence that icons should be honored brings us to the Church's second crucial argument - the christological. This argument maintains that a pictorial representation of the Lord or of the saints is entirely permissible and, in fact, necessary because of the incarnation.

Dalam garis besar, secara keseluruhan menyembah ikon adalah suatu yang terlarang, penyembahan dan adorasi hanya untuk Allah; tetapi mereka [ikon2] bisa dan semestinya, setidaknya, dihormati. Tujuan ini bahwa ikon semestinya dihormati membawa kita pada argumen krusial Gereja yang kedua - secara kristologis. Argumen ini menunjukkan bahwa suatu representasi gambaran dari Tuhan atau para kudus seluruhnya diperkenankan, dan faktanya, perlu karena perwujudan itu [dengan menjadi manusia].

That is to say, the son of God can be depicted pictorially precisely because he became visible and describable by taking on our flesh and becoming man. Any repudiation of the Lord's icon is tantamount to a denial of the incarnation. Fittingly enough, the defeat of iconoclasm is celebrated annually by the Orthodox Church on the first Sunday of Lent. This "Feast of Orthodoxy" commemorates the final restoration of images (11 March, 843).

Ini untuk mengatakan, Putera Allah dapat digambarkan dengan tepat karena Dia menjadi nampak dan tergambarkan dengan mengambil kedagingan kita dan menjadi manusia. Setiap penolakan terhadap gambaran [ikon] Tuhan sama saja dengan penyangkalan perwujudan [Tuhan menjadi manusia]. kekalahan ikonoklasme dirayakan setiap tahun oleh Gereja Orthodox pada hari Minggu pertama Prapaska. "Pesta Ke-ortodox-an" ini memperingati restorasi akhir gambar-gambar (11 Maret 843).

Semoga dapat membuat kita lebih mengerti dan menghargai Tradisi, dan bisa memahami beda penghormatan dan penyembahan. Dalam kehidupan sekular, semisal kita [maaf] mengencingi foto presiden atau raja, maka kita akan dikenai tuduhan "penghinaan". Alkitab di Indonesia adalah cetakan LAI, cetakan manusia dan hasil karya manusia [demikian juga dengan kitab suci agama lain], tetapi perbuatan tak sepatutnya terhadap "buku suci" disebut Sacrilegia dan dianggap sebagai "penghinaan" atau "pelecehan" terhadap suatu agama. Yang kita lakukan pada fotonya, bukan orangnya; tetapi nyata bahwa gambar [image] merupakan simbol atau 'perwakilan' dari orangnya. Kita bisa memberi hormat [ala militer?] kepada bendera nasional, membungkukkan badan atau cium tangan [kepada manusia yang kita hormati] atau menghormati 'image'nya dalam tatanan bermasyarakat dan bernegara. Kalau kita melayat orang meninggal, dengan berbagai cara sesuai budaya, ada 'penghormatan terakhir' kepada seseorang [yang faktanya sudah jadi mayat]. Adakah yang aneh atau janggal menghormati Yesus, para kudus, rasul-rasul dalam bentuk 'simbolik' juga, yang notabene "pendiri" dan "pengembang" agama Kristen?. Yang perlu diingat adalah bahwa tanpa mereka, terutama Yesus, tidak ada Kristen!

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id