Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

 

 

BUDAYA DALAM MISA KITA

 

A. Beberapa istilah

  1. Dalam kaitan antara liturgi dengan kebudayaan (interaksi dua unsur atau lebih):
  • Indigenization (1970-an, D.S. Amalorpavadass: dari indigenuous (pribumi) > Indianisasi: Ada 3 tahap:[a] ciptakan setting India untuk ibadat dengan perkenalkan tata gerak, bentuk penghormatan, benda suci, hening; [b] terjemahan yang memadai dan cipta lagu liturgis baru; [c] tempatkan buku suci India, khususnya Rig Veda, dalam Liturgi Sabda.)
  • Incarnation (Konsili Vatikan II, Ad Gentes art. 22: adaptasi sebagai inkarnasi, Yesus Kristus menjadi orang Yahudi, inkarnasi Gereja lokal mengacu pada inkarnasi Yesus. Lebih tepat sebagai dasar teologis daripada sinonim untuk adaptasi liturgis. Liturgi tak hanya diadaptasikan tapi juga diinkarnasikan! Bersatu dengan tradisi dan budaya Gereja lokal.)
  • Contextualization (1972, World Council of Churches: hidup dan misi Gereja perlu menjadi relevan dengan kondisi masyarakat kontemporer di sekitarnya. Konteks hidup Gereja mencakup pergulatan kebebasan politik, ekonomi, budaya; disukai Teologi Pembebasan. Konsep perjuangan demi keadilan-sosial memasuki liturgi, dalam bahasa dan simbol lain. Konteks adalah ekspresi vibran dari kebudayaan manusia.)
  • Revision (1963, Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium: buku liturgis Latin perlu direvisi [dari praktek pra-Konsili Vatikan II/Tridentin] supaya hakikat dan tujuan ritusnya menjadi lebih jelas. SC 34: Revisi itu hendaknya sederhana namun anggun, singkat, jelas, tanpa pengulangan yang tak berguna; selaras dengan daya tangkap umat dan tidak membutuhkan penjelasan [corak klasik: sobrietas romana].)
  • Adaptation (Istilah resmi, khususnya dalam SC, art. 37-40:  sinonim antara aptatio dan accomodatio, beda: adaptasi jadi wewenang Konferensi Para Uskup (Komlit), akomodasi jadi wewenang pemimpin/pelayan liturgi, temporer. Adaptasi adalah program umum Gereja untuk memperbarui atau updating/aggiornamento. Cara mencapainya? Dengan revisi dan adaptasi dengan kebutuhan zaman. Adaptasi adalah program umum pembaruan, sementara inkulturasi salah satu cara untuk mencapainya.)
  • Inculturation (1973, G.L. Barney, misionaris Protestan dari New York; 1975, Kongregasi General Yesuit ke-32: dari enculturation [= sosialisasi, proses pembelajaran di mana seseorang masuk dalam budayanya], karena bahasa Latin tak ada awalan en- maka dipilih in-, jadilah inculturatio. Dengan bergeser, maka maknanya pun berubah dalam pemakaian teologis, liturgis, misiologis; 1979, Yohanes Paulus II perkenalkan ke dalam dokumen resmi Gereja [“salah satu untur misteri inkarnasi”]; 1979, C. Valenziano, profesor PIL Roma, menggunakannya dalam kaitan dengan liturgi: “sebagai metode yang dapat memberi interaksi timbal balik antara liturgi dengan berbagai bentuk kesalehan umat”. A. Shorter: ”relasi kreatif dan dinamis antara pesan kristiani dengan satu atau beberapa budaya”; Sinode Luar Biasa 1985, deklarasi 4: “tak hanya adaptasi eksternal, tapi transformasi interior dari nilai-nilai kultural otentik melalui integrasi mereka ke dalam Kristianitas dan pengakaran Kristianitas dalam berbagai budaya manusia”.)
  • Acculturation  (cukup lama diartikan sama dengan inkulturasi, namun sebenarnya berbeda. A. Shorter: “pertemuan antara satu budaya dengan budaya lain, atau pertemuan antara dua budaya” (juxtaposition), dengan dasar “saling menghormati dan toleransi”, baru tahap dasar eksternal, kontak luaran. Akulturasi adalah syarat penting untuk inkulturasi. Rumus akulturasi: A + B = AB, inkulturasi A + B = C. Contoh keliru akulturasi dalam liturgi: misa + devosi!)

2. Dalam Pedoman Umum Misale Romawi (Bab 9):

  • Adaptasi (aptatio, penyerasian)
  • Akomodasi (accomodatio, penyesuaian)
  • Inkulturasi (inculturatio)

 

B. Apa itu inkulturasi liturgi (inkulit)?

  • Suatu proses yang mengintegrasikan unsur-unsur yang relevan dari budaya lokal ke dalam liturgi Gereja lokal.

[1] Integrasi = budaya lokal mempengaruhi cara doa-doa disusun atau dibawakan, bagaimana ritual dilakukan, dan bagaimana pesannya diungkapkan melalui bentuk-bentuk kesenian dalam liturgi.
[2] Integrasi = ritus, simbol, atau pesta dari budaya lokal dijadikan bagian dari liturgi Gereja lokal setelah ditilik secara kritis dan ditafsirkan dalam cahaya ajaran kristiani.

  • Ingat, inkulturasi adalah suatu “proses”, bukan karya yang sekali jadi. Masih perlu ditindaklanjuti melalui kritik dan evaluasi. Suatu upaya yang tidak begitu mudah. Kalau dilakukan secara terburu-buru dan kurang hati-hati tradisi liturgi yang otentik akan tercemar (PUMR 398).

C. Bagaimana pandangan Gereja?

Dalam hal ini liturgi harus menghargai budaya, namun sekaligus mengajak budaya itu untuk dibersihkan dan disucikan dalam iman Gereja.

  • Pertama-tama, orang Kristen dari suku dan budaya apa pun harus menerima Alkitab Perjanjian Lama dan Baru sebagai Sabda Allah. Itu bagian dari imannya. Liturgi atau tanda-tanda sakramental yang mereka sambut hanya dapat dimengerti secara penuh dalam konteks Kitab Suci dan kehidupan Gereja.
  • Lalu, hakikat liturgi jangan dilupakan. Liturgi adalah tempat pertemuan orang Kristen dengan Allah dan Kristus. Sekaligus, liturgi adalah karya Kristus sebagai Sang Imam-Kepala dan Gereja sebagai Tubuh-Nya. Di situ terjadi pemuliaan Allah dan pengudusan manusia. Dalam liturgi, Gereja mengungkapkan imannya secara simbolis dan bersama.
  • Untuk itulah diperlukan norma-norma dasar tentang liturgi. Peraturan diperlukan untuk menjamin kebenaran iman. Artinya, untuk menghindarkan kesalahan dan sekaligus untuk mewariskan iman secara utuh sehingga hukum doa (lex orandi) tetap selaras dengan hukum iman (lex credendi).

 

D. prasyarat

  • Harus dilihat dulu situasi tempat Gereja lokal berada. Ada Gereja yang mayoritas atau minoritas di tengah masyarakat. Ada pula yang berada di tengah masyarakat yang berbahasa dan budaya majemuk. Masing-masing punya tantangannya sendiri ketika berhadapan dengan budaya sekitarnya.
  • Lalu, perlulah dicari orang-orang yang kompeten baik dalam tradisi liturgi Romawi maupun apresisasi budaya lokal. Mereka diajak mempelajari sejarah dan makna liturginya, antropologi, eksegese, dan teologi. Bahkan, pengalaman pastoral imam/klerus pribumi setempat amat penting peranannya.
  • Konferensi para Uskup sebenarnya harus menaungi seluruh proses ini. Para uskup sebagai penggerak (promotor), pengatur (moderator), pengawas (custos) kehidupan liturgi di keuskupannya masing-masing (PUMR 387).

 

E. tujuan inkulit

Tujuannya sama dengan yang dimaksud Konsili Vatikan II untuk pembaruan liturgi pada umumnya. Bukan asal tercipta ritus baru, tapi untuk menjawab kebutuhan Gereja dalam kaitan dengan budaya tertentu.

  • Tujuan utama: untuk membantu mengungkapkan hal-hal kudus yang dilambangkan dalam liturgi secara lebih jelas, sehingga dapat mudah dipahami umat, dan mereka dapat mengambil bagian secara penuh dan aktif.
  • Tujuan jangka pendek: untuk menciptakan bentuk ibadat yang secara kultural sesuai dengan umat lokal, sehingga mereka dapat menganggapnya sebagai milik sendiri.

 

F. rambu-rambu, supaya tidak melenceng dari tujuan

  • Sebagai ungkapan iman dan hidup kristiani, jangan sampai inkulit itu berbau atau tampak seperti sinkretisme agama. Misalnya, dengan mengganti bacaan Kitab Suci kristiani dengan bacaan Kitab Suci agama lain. Doa, benda simbolis, busana, tata gerak, atau nyanyian dipinjam begitu saja dari budaya lokal tanpa tahu asal-usul dan fungsinya, tanpa di-kristen-kan dulu.
  • Harap dihindari juga munculnya makna ganda dari unsur budaya yang dipakai.
  • Yang lebih tegas lagi: sama sekali dilarang memasukkan ritus magis, takhayul, spiritisme, dan ritual yang berkonotasi seksual.
  • Perlu dipertimbangkan pula bila ada risiko pemisahan diri jemaat kristiani dari masyarakatnya.
  • Juga, perlu diwaspadai kemungkinan inkulturasi digunakan untuk tujuan politik.

 

G. Apa saja yang dapat digarap?

Banyak sekali wilayahnya.

  • Misalnya: bahasa, musik-nyanyian, tata gerak-tarian, dan unsur kesenian lain (busana, peranti, perabot, arsitektur)  yang dapat membantu umat berliturgi, berdoa bersama kepada Tuhan.
  • Khususnya dalam ritus inisiasi, perkawinan, dan pemakaman kristiani bahkan boleh dipakai yang sesuai dengan adat setempat. Untuk Misa atau perayaan Ekaristi memang agak terbatas.

 

H. Dua metode (Anscar J. Chupungco, OSB)

Metode yang benar merupakan kunci bagi inkulturasi yang benar. Kedua metode berikut ini saling melengkapi dan bisa tumpang tindih, tergantung pada situasi dan keadaan lokal.

  1. Perpaduan Kreatif (Creative Assimililation)
  1. Integrasi unsur kultural ke dalam liturgi (kreativitas zaman patristik: Tertulianus, Hipolitus, Ambrosius), bantuan tipologi biblis (reinterpretasi unsur kultural dalam konteks tokoh/peristiwa biblis).
  2. Kelemahan: jika sekedar melihat kemiripan (ritus/bahasa liturgis ~ ritus/ bahasa kultural), bahkan menggunakan tipologi biblis sebagai pembenaran/ penegasan (memaksakan teks Alkitab untuk menampung unsur kultural); bahayanya akan kelebihan muatan dengan unsur yang sekunder dan remeh atau pengulangan-pengulangan yang tak perlu.
  3. Dari Kultur ke Liturgi (memperkenalkan unsur-unsur baru).

 

  1. Persepadanan Dinamis (Dynamic Equivalence)
  1. Re-ekspresi Ordo liturgis (teks resmi dari Vatikan/ET= Editio Typica) dalam bahasa/ritus/simbol dari komunitas lokal. Mengganti unsur-unsur Ordo liturgis dengan sesuatu yang bermakna/bernilai sesuai dalam kultur komunitas dan dapat menyampaikan pesan seperti yang dimaksud oleh Ordo liturgis itu. Tipe terjemahan = isi/content > bentuk/form, tetap menghargai karakter khusus dan khasnya, yang mungkin punya dimensi universal juga (transkultural). Lawan Dynamic Equivalence = Formal Correspondence (persesuaian bentuk), cuma taraf tampilan luar (bahasa > hurufiah, literal).
  2. Kelemahan: cukup rumit, perlu usaha keras, teliti, tekun, serius, sabar. Biasanya acuan/referensi yang kurang memadai, baik dari ET maupun Kultur itu sendiri.
  3. Dari Liturgi (ET) ke Kultur (nilai/values, praktek tradisional/pranata/institutions, pola budaya/cultural patterns), maka lahirlah Liturgi yang inkulturatif (menerjemahkan isi ritus liturgis ke pola kultur yang baru).

 

I. Tahapan metodologis

  1. Fokuskan pada teks/ritual dari buku resmi terbitan Vatikan/ET (= editio typica) atau terjemahan resminya;
  2. Pilih bagian yang memungkinkan untuk digarap, lalu telusuri sejarah, teologi, struktur, unsur fundamental, dan latar belakangnya;
  3. Identifikasi nilai, pranata, pola (elemen-elemen kultural) yang ada pada unsur ET itu;
  4. Bandingkan yang terkandung dalam ET dengan Kultur komunitas lokal, cari kemiripan dan perbedaannya;
  5. Ungkapkan kembali titik temu antara ET dengan Kultur dalam bentuk liturgi “baru”, yang sesuai dan selaras. Pertimbangkan juga: kritik doktrinal dan moral, tipologi biblis, keuntungan pastoral dan spiritualnya;
  6. Sosialisasi (diajarkan, dijelaskan, dilatihkan) pada umat sebelum dipaktikkan;
  7. Praktik, perayaan inkulit eksperimen;
  8. Evaluasi setelah praktik beserta upaya penyempurnaannya.

 

J. Peluang-peluang dalam Misa

  1. Ritus Pembuka: penyambutan-perarakan masuk, salam, ritus tobat-kemuliaan, doa pembuka
  2. Liturgi Sabda: perarakan Leksionari/Evangeliari, homili, doa umat
  3. Liturgi Ekaristi: persiapan persembahan (perarakan bahan persembahan), Doa Syukur Agung (prefasi, konsekrasi, doksologi trinitaris), pemecahan roti
  4. Ritus Penutup: berkat, pembubaran umat

 

 C. H. Suryanugraha, OSC
(seijin Aegidius Eko Aldilanto O. Carm.)

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/