Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No KGK: contoh masukkan no. KGK : 67, 834 atau 883-901, 1125-1140
Materi iman
Dokumen Gereja
Dok.: No. : Pilih Dokumen yg di tuju & masukkan no. dok. yg dicari - 0 (nol) daftar isi- (cat. kaki lihat versi Cetak)

 

 

KONSTITUSI APOSTOLIK
“MISSALE ROMANUM”

Constitutio Apostolica “Missale Romanum

PEDOMAN UMUM
MISALE ROMAWI
Institutio Generalis
Missalis Romawi

PRAKATA

       1. Ketika Kristus, Tuhan Kita, hendak merayakan perjamuan paskah bersama murid-muridnya, untuk menetapkan kurban Tubuh dan Darah-Nya, Ia menyuruh para murid menyiapkan ruang perjamuan yang luas, lengkap dengan pembaringan-pembaringan ( Luk 22:12 ). Gereja selalu berpendapat bahwa perintah Yesus itu berlaku juga untuk    dirinya. Maka dari itu, Gereja selalu mengatur perayaan Ekaristi Mahakudus dan memberikan pedoman tentang sikap batin, tata ruang, tata perayaan, dan rumus teks yang diperlukan untuk perayaan Ekaristi. Demikian juga pada zaman ini kita mengalami sekali lagi bagaimana Gereja, dengan iman dan cinta yang setia terhadap misteri   Ekaristi yang mahaagung, menunaikan tanggungjawab ini. Hal ini kita lihat dalam pedoman yang diberikan atas mandat Konsili Vatikan II, serta dalam Misale ( =Missale,  Buku Misa ) baru yang mulai sekarang digunakan dalam gereja latin untuk perayaan Ekaristi. Di sini tampak pula kelangsungan tradisi, meskipun ada hal-hal yang diperbaharui.

Kesaksian Iman yang Tak Berubah

       2. Konsili Trente sudah menandaskan secara sungguh-sungguh, bahwa sedari hakikatnya Misa adalah kurban;17 hal ini memang sesuai dengan tradisi Gereja universal. Ajaran ini ditegaskan kembali oleh Konsili Vatikan II yang mengutarakan kata-kata mutiara tentang Misa sebagai berikut:”Dalam perjamuan malam terakhir, ketika akan diserahkan, Juruselamat kita mengadakan kurban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dalam kurban ini Ia mengabadikan kurban salib untuk selama-lamanya sampai Ia datang kembali. Di sini kepada Gereja, mempelai-Nya yang terkasih, Ia mempercayakan kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya.” 18

       Ajaran Konsili ini senantiasa diungkapkan pula dalam rumus-rumus Misa. Misalnya saja ajaran yang secara singkat padat tertera dalam buku Sacramentarium Leoniaum: “Setiap kali kenangan akan kurban ini dirayakan, karya penebusan kita terlaksana. “19 Keyakinan ini dijabarkan secara cermat dan tepat dalam Doa-Doa Syukur Agung. Sebab bila dalam Doa Syukur Agung imam melakukan pengenangan ( anamnesis ), ia menghadap Allah, juga atas nama seluruh umat, bersyukur kepada-Nya dan mempersembahkan kurban yang hidup dan suci, yang merupakan persembahan Gereja sebagai kurban sejati, yakni Putra-Nya sendiri, yang berkat kematian-Nya telah mendamaikan kita dengan Allah. 20 Imam pun berdoa agar Tubuh dan Darah Kristus menjadi kurban yang berkenan pada Allah dan membawa keselamatan bagi seluruh dunia. 21

 

       Dengan demikian, dalam Misale baru, tata doa ( lex orandi ) Gereja sesuai dengan tata iman ( lex crecendi ) yang abadi. Sebab menurut iman Gereja kita diajar, bahwa antara kurban salib dan pengulangannya secara sakramental dalam Misa tidak ada perbedaan. Perbedaannya terletak hanya dalam cara pengurbanannya. Jadi kurban salib dan kurban Misa itu satu dan sama, yakni kurban yang dipersembahkan dan diwariskan oleh Kristus Tuhan pada perjamuan malam terakhir. Ini diperintahkan kepada para rasul, supaya dilakukan sebagai kenangan akan Dia. Maka Misa itu sekaligus merupakan kurban pujian dan syukur, kurban pendamai dan pelunas.

       3. Selanjutnya, diajarkan oleh Konsili Trente,22 bahwa dalam Misa Tuhan sungguh-sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur. Ajaran iman tentang misteri agung ini ditandaskan pula oleh Konsili Vatikan II 23 dan oleh dokumen pengajaran Gereja lainnya tanpa mengubah apa-apa.24 Kenyataan ini diungkapkan dalam perayaan Misa, bukan hanya dalam kata-kata konsekrasi, yaitu pada saat roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, melainkan juga dalam sikap khidmat dan tanda-tanda penghormatan serta penyembahan yang ditunjukan dalam perayaan ekaristis. Dari sebab itu, pada hari Kamis Putih dan pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, umat kristen diajak menghormati Sakramen agung ini secara istimewa.       

       4. Hakikat – pelayanan imamat tampak jelas dalam perayaan Ekaristi, yaitu dalam tempat dan tugas yang khusus diperuntukkan bagi imam. Pelayanan itu dipercayakan kepada imam, yang selaku pribadi Kristus mempersembahkan kurban dan memimpin umat beriman yang berhimpun. Tugas khusus imam itu diuraikan dengan jelas dalam prefasi Mika Krisma pada hari Kamis dalam Pekan Suci. Sebab pada hari itu diperingati penetapan imamat. Dalam prefasi itu digambarkan, bahwa kuasa imamat itu diserahkan dengan penumpangan tangan. Di situ disebutkan juga tugas-tugas imam, sehingga menjadi jelas, bahwa dalam pelayanan imamat, Kristus melangsungkan kuasa-Nya sendiri sebagai imam agung Perjanjian Baru.

       5. Akan tetapi, hakikat-pelayanan imamat ini terwujud juga dalam bentuk lain, yaitu imamat rajawi umat beriman. Arti imamat umat beriman ini akan menjadi jelas dalam cahaya imamat jabatan. Sebab inti imamat umat ialah bahwa umat beriman mempersembahkan kurban rohani yang terlaksana melalui jabatan para imam dalam persatuan dengan kurban Kristus, satu-satunya pengantara.25 Perayaan Ekaristi merupakan tindakan seluruh Gereja. Dalam perayaan itu hendaknya setiap orang melakukan tugas masing-masing, tidak kurang dan tidak lebih, menurut kedudukannya dalam umat Allah. Maka dari itu beberapa segi dalam perayaan Ekaristi yang pada abad-abad yang lalu kadang-kadang kurang diperhatikan, sekarang mendapat perhatian lebih banyak: Umat Allah yang ditebus dengan Darah Kristus adalah umat yang dihimpun oleh Tuhan dan dipuaskan dengan sabda-Nya. Mereka itulah umat yang di panggil untuk memanjatkan permohonan seluruh umat manusia kepada Allah. Mereka itulah umaat yang mempersembahkan kurban Kristus sambil bersyukur atas misteri keselamatannya dalam Kristus. Akhirnya, mereka itu jugalah umat yang tumbuh menjadi satu karena persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus. Umat ini pada dasarnya memang umat kudus, namun mereka harus tumbuh terus-menerus dalam kekudusan dengan dengan berpartisipasi secara sadar, aktif, dan penuh makna dalam misteri Ekaristi.26

Kelangsungan Tradisi yang Tak Terputus

       6. Konsili Vatikan II mengamanatkan agar Tata Perayaan Ekaristi di tinjau kembali. Antara lain dituntut, agar beberapa bagian dalam perayaan itu dipulihkan “ selaras dengan tradisi kuno para Bapa suci. “27 Kata-kata ini juga dipergunakan oleh S. Pius V, ketika beliau pada tahun 1570 mengumumkan Misale Trente dalam Konstitusi Apostolik “Quo primum “. Kata-kata itu menunjukkan, bahwa kedua Misale Romawi tersebut mengandung tradisi yang sama, meskipun berselang empat abad. Bila tradisi itu direnungkan dengan lebih mendalam, maka jelaslah bagaimana Misale yang pertama itu disempurnakan oleh Misale yang sekarang ini.

       7. Zaman empat abad yang lalu itu merupakan zaman yang sangat sulit. Bahaya besar mengancam kepercayaan katolik terhadap nilai Misa sebagai kurban, nilai imamat jabatan, dan nilai kehadiran Kristus  secara nyata dan lestari dalam lambang Ekaristi. Maka dari itu, S. Pius V sangat berminat, agar tradisi iman asli yang diserang dengan tidak semena-mena itu, dipertahankan tanpa mengadakan banyak perubahan dalam perayaan suci. Memang, Misale 1570 itu hampir tidak berbeda dengan Misale sebelumnya, terbitan tahun 1474. Misale itu pun mengikuti dengan setia Misale dari zaman Paus Innocentius III. Lagi pula, berdasarkan naskah yang terdapat dalam perpustakaan Vatikan, memang diadakan beberapa perbaikan teks dalam Misale Pius V. Namun naskah-naskah itu tidak memungkinkan bahwa penyelidikan terhadap “pengarang-pengarang kuno dan ternama“ waktu itu menghasilkan sesuatu yang melampaui komentar-komentar liturgi dari abad pertengahan.

       8. Sebaliknya, dewasa ini, “ tradisi para Bapa suci “ yang dicita-citakan oleh peyusun Misale Pius V itu, telah diketemukan berkat tulisan para sarjana yang tak terbilang banyaknya. Sebab pada tahun 1571 untuk pertama kalinya diterbitkan Sacramentarium Gregorianum. Kemudian berulang kali dicetak juga edisi kritis Sacramentarium Romanum dan Ambrosianum. Juga diterbitkan buku-buku liturgis kuno dari Hispania dan Gallia yang memuat amat banyak doa dengan nilai rohani yang tinggi, yang sampai zaman Trente belum diketahui.

       Lagi pula, tradisi abad-abad pertama, yaitu tradisi sebelum terbentuknya Ritus Timur dan Ritus Barat, telah dikenal dengan lebih baik pada zaman kita, karena begitu banyak dokumen liturgi yang diketemukan.

       Di samping itu, karena kemajuan ilmu patristik, teologi tentang misteri Ekaristi mengalami pengaruh dari ajaran para bapa Gereja, terutama bapa-bapa yang terkenal pada zaman kuno, seperti S.Ireneus, S.Ambrosius, S. Sirilus dari Yerusalem, dan S. Yohanes Krisostomus.

       9.   Dari sebab itu, mengikuti “tradisi para Bapa suci” tidak berarti bahwa asal apa yang diwariskan para leluhur yang paling dekat dengan kita itu dipelihara, tetapi juga bahwa seluruh sejarah Gereja ditinjau dan dipertimbangkan, termasuk semua cara dan bentuk ibadat yang pernah dipakai untuk mengungkapkan iman yang satu dan sama, kendati bentuk-bentuk ibadat begitu berbeda satu sama lain karena terdapat di daerah-daerah Semit, Yunani, dan Latin. Tinjauan yang lebih luas dan mendalam ini menyadarkan kita bagaimana Roh Kudus menganugerahkan kesetiaan yang luar biasa kepada umat Allah untuk menjaga harta warisan iman yang tak berubah, meskipun doa dan ritus masing-masing begitu berbeda.

Penyesuaian dengan Keadaan Baru  

       10. Jadi, Misale baru ini memberikan kesaksian tentang adanya tata doa Gereja Roma dan memelihara harta warisan iman yang diwartakan oleh konsili-konsili yang terakhir. Akan tetapi, disamping itu, Misale baru ini merupakan suatu tahap penting dalam perkembangan liturgi.

       Para bapa Konsili Vatikan II memang mengulangi rumusan-rumusan dogmatik Trente, namum mereka berbicara pada zaman yang telah sangat berubah. Maka dari itu, mereka dapat mengemukakan saran dan petunjuk di bidang pastoral yang empat abad yang lalu tidak terpikirkan.

       11.   Konsili Trente sudah menjunjung tinggi segi kateketis dalam perayaan Ekaristi. Meskipun demikian, Trente belum dapat menarik segala konsekuensi yang praktis. Misalnya pada waktu itu banyak orang menuntut agar dalam kurban Misa boleh digunakan bahasa umat setempat. Namun karena tuntutan situasi Gereja pada zaman itu, Konsili Trente merasa wajib untuk menegaskan kembali ajaran gereja, bahwa kurban Misa itu pertama-tama adalah tindakan Kristus sendiri, sehingga hasil Misa yang sesungguhnya tidak tergantung dari partisipasi umat beriman.Ini dirumuskan sebagai berikut : “Meskipun Misa mengandung banyak pengajaran untuk umat, namun tidak disetujui oleh Konsili, bahwa Misa dirayakan dalam bahasa umat setempat."28 Bahkan dianggap terkutuklah siapa saja yang “ menolak kebiasaan dalam Gereja Roma untuk mengucapkan Kanon dan kata-kata konsekrasi dengan suara lembut, atau yang berpendapat bahwa Misa harus dirayakan dalam bahasa umat setempat.” Akan tetapi, kalau di satu pihak dilarang menggunakan bahasa umat setempat, maka di lain pihak para pastor diperintahkan untuk mengimbangi kekurangan itu dengan katekese yang sesuai: “ Supaya domba-domba Kristus jangan sampai kelaparan, …….maka Konsili memerintahkan para gembala umat beriman dan semua yang bertanggung jawab atas umat beriman, agar dalam Misa, mereka sendiri atau lewat orang lain, menjelaskan teks-teks yang dibacakan, dan menguraikan misteri kurban mahakudus ini, lebih-lebih pada hari-hari Minggu dan pesta. “30

        12. Konsili Vatikan II berhimpun dengan maksud untuk menyesuaikan Gereja dengan tuntutan tugas kerasulannya pada zaman ini. Maka dari itu, Konsili Vatikan II, seperti halnya Konsili Trente, sungguh-sungguh menyadari segi kateketis dan pastoral dalam liturgi.31 Jadi, meskipun setiap orang katolik tahu bahwa liturgi dalam bahasa latin itu sah dan bermanfaat, namun diakui juga bahwa “pemakaian bahasa umat setempat seringkali berguna bagi umat,” sehingga penggunaan bahasa umat setempat diizinkan.32 Izin ini di mana-mana disambut dengan begitu gembira, sehingga, di bawah bimbingan para uskup dan Takhta Apostolik sendiri, dewasa ini semua perayaan liturgi yang dihadiri umat boleh diselenggarakan dalam bahasa umat setempat, agar dengan demikian misteri yang dirayakan, dipahami dengan lebih jelas.

       13. Penggunaan bahasa umat setempat dalam liturgi, betapapun pentingnya, hanyalah merupakan alat, yaitu untuk mengungkapkan dengan jelas dan secara kateketis misteri yang dirayakan. Maka dari itu, Konsili Vatikan II menegaskan kembali beberapa keputusan Trente yang belum ditaati di semua tempat. Misalnya saja diharuskan adanya homili pada hari-hari Minggu dan pesta, 33 dan diizinkan agar di antara ritus-ritus kudus disisipkan penjelasan-penjelasan singkat. 34

       Terutama satu harapan, yang juga dikemukan oleh bapa-bapa dalam konsili Trente, telah dilaksanakan oleh Konsili Vatikan II, yaitu, agar umat beriman berpartisipasi dalam Misa dengan lebih sempurna dan “tidak hanya berkomuni secara rohani, tetapi juga secara sakramental.”35 Mengenai hal ini dinasihatkan oleh Konsili Vatikan II, “agar umat beriman berpartisipasi lebih sempurna di dalam Ekaristi, yakni : sesudah imam menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, umat beriman pun hendaknya ikut menyambut dari kurban yang sama.” 36

       14. Terdorong oleh semangat pastoral yang sama, Konsili Vatikan II telah berhasil meninjau kembali penetapan Konsili Trente tentang komuni-dua-rupa. Sebab dewasa ini tidak dipersoalkan lagi ajaran bahwa komuni-roti saja sudah merupakan komuni penuh. Namun Konsili mengizinkan komuni-dua-rupa pada kesempatan-kesempatan tertentu, supaya dengan demikian lambang sakramen menjadi tampak lebih jelas dan misteri Ekaristi dipahami secara lebih mendalam oleh umat beriman yang merayakannya.37

       15. Dengan demikian, sebagai pengajar kebenaran Gereja tetap setia dalam tugasnya untuk menjaga “ yang lama “, yakni harta warisan tradisi ; sekaligus Gereja menunaikan tugas lainnya, yakni mempertimbangkan dan mempergunakan  “ yang baru “ dengan bijaksana ( bdk. Mat 13:52 ).

       Sebagian dari Misale Romawi baru itu lebih mengarahkan doa-doa Gereja kepada keperluan zaman keperluan zaman kita. Hal ini berlaku terutama dalam Misa-Misa Ritual dan Misa untuk Pelbagai Keperluan dan Kesempatan. Dalam rumus-rumus itu secara indah yang lama dipadukan dengan yang baru. Maka di samping banyak rumus diambil alih secara utuh dari warisan Gereja yang sangat kuno, sebagaimana terbukti juga dalam terbitan-terbitan Misale Romawi sebelumnya, ada rumusan-rumusan lain yang disesuaikan dengan keadaan zaman sekarang. Ada lagi yang diciptakan baru, sering dengan meminjam pikiran dan perkataan dari dokumen-dokumenKonsili yang lalu; misalnya doa-doa untuk Gereja, doa untuk kaum awam, doa untuk menguduskan pekerjaan, doa untuk keluarga semua bangsa dan untuk pelbagai keperluan khas zaman kita.

       Gereja kini sangat terbuka terhadap dunia dan menyadari kedudukan dunia secara baru. Maka sudah sewajarnyalah bila dalam menggunakan rumus-rumus dari tradisi yang sangat kuno, kalimat-kalimatnya kadang kala diubah, supaya lebih sesuai dengan bahasa teologi modern serta lebih tepat mencerminkan sikap Gereja masa kini. Misalnya saja sejumlah teks yang mengandung penilaian tentang harta dunia dan berkaitan dengan pemakaiannya telah diubah; demikian pula ungkapan-ungkapan mengenai tata cara tobat yang berasal dari zaman lain dalam sejarah Gereja.

       Dengan demikian kaidah-kaidah liturgi Konsili Trente dalam beberapa hal telah dilengkapi dan disempurnakan oleh kaidah-kaidah Konsili Vatikan II. Maka, kini umat beriman diantar lebih dekat kepada liturgi kudus. Itulah buah dari segala usaha yang digalakkan selama empat abad terakhir, tetapi terutama pada abad kita, berkat studi liturgi yang direstui dan dimajukan oleh S. S. S. Pius X dan para penggantinya.

 

<<< Sebelumnya [Home] Selanjutnya >>>

[Home] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24][25] [26] [Daftar Singkatan]

 

 

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id