DEWAN KEPausAN UNTUK MEMAJUKAN KESATUAN UMAT KRISTIANI
Bahan-bahan untuk
PEKAN DOA UNTUK KESATUAN UMAT KRISTIANI
dan untuk sepanjang tahun 2009
“Agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37:17)
Disiapkan dan diterbitkan bersama oleh:
Dewan KePausan Untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani
dan Komisi Faith and Order Dewan Gereja-Gereja Sedunia
Catatan mengenai kutipan-kutipan Kitab Suci:
Kutipan-kutipan Kitab Suci yang dicantumkan dalam buku ini diambil dari Alkitab Deuterokanonika terbitan Lembaga Alkitab Indonesia – Lembaga Biblika Indonesia.
Kepada Mereka yang mengorganisasi Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani
Mengupayakan Kesatuan: Sepanjang Tahun
Menurut tradisi, waktu untuk menyelenggarakan Pekan Doa Untuk Kesatuan Umat Kristiani di belahan utara adalah 18-25 Januari. Tanggal-tanggal itu diusulkan oleh Paul Wattson pada tahun 1908 yang meliputi hari-hari antara Pesta Santo Petrus dan Pesta Santo Paulus, dan karena itu memiliki suatu makna simbolik. Di belahan selatan, di mana Januari merupakan hari libur, Gereja-Gereja sering memilih hari-hari lain untuk menyelenggarakan Pekan Doa, misalnya sekitar Pentakosta (yang disarankan oleh gerakan Faith and Order pada tahun 1926), yang juga merupakan tanggal simbolik oleh kesatuan Gereja.
Dengan memperhatikan kelonggaran mengenai tanggal, kami mendorong Anda untuk memahami bahan yang disajikan dalam buku ini sebagai suatu undangan untuk menemukan kesempatan-kesempatan yang tepat sepanjang tahun 2009 untuk mengungkapkan tingkat persekutuan yang sudah dihayati oleh Gereja-Gereja, dan untuk berdoa bersama guna memohon kesatuan penuh yang dikehendaki oleh Kristus.
Menyesuaikan Teks
Bahan ini ditawarkan dengan pengertian bahwa, kalau mungkin, ia disesuaikan untuk penggunaan tingkat lokal. Dalam melakukan penyesuaian, haruslah diperhitungkan kebiasaan liturgis dan devosional setempat. Penyesuaian seperti itu hendaknya dilaksanakan secara ekumenis. Di sejumlah tempat badan/lembaga-lembaga ekumenis sudah ditetapkan untuk menyesuaikan teks ini. Di tempat-tempat lain, kami berharap bahwa kebutuhan untuk menyesuaikan bahan ini akan menjadi suatu dorongan untuk menciptakan badan/lembaga-lembaga seperti itu.
Menggunakan Bahan Pekan Doa
- Untuk Gereja-Gereja dan komunitas-komunitas Kristiani yang melaksanakan Pekan Doa bersama-sama lewat suatu ibadat bersama, hendaknya disusun tata perayaan ibadat yang ekumenis.
- Gereja-Gereja dan komunitas-komunitas Kristiani dapat juga memadukan bahan-bahan Pekan Doa ini ke dalam ibadat-ibadat mereka sendiri. Doa-doa dari ibadat ekumenis “delapan hari” ini beserta doa-doa tambahannya dapat digunakan sebagai pilihan yang tepat untuk disisipkan ke dalam perayaan ibadat yang bersangkutan.
- Komunitas-komunitas yang selama Pekan Doa ini melaksanakan ibadat setiap hari dapat mengambil bahan ibadat yang disediakan pada bagian “Renungan Alkitab dan Doa-doa Selama Delapan Hari”, [hlm. ...]
- Mereka yang selama Pekan Doa ini ingin melaksanakan pendalaman Kitab Suci dapat menggunakan teks-teks biblis dan renungan yang disediakan pada bagian “Renungan Alkitab dan Doa-doa Selama Delapan Hari”, [hlm. ...] sebagai acuan. Dalam setiap pendalaman, diskusi dapat langsung mengantar kepada doa permohonan sebagai penutup acara.
- Bagi mereka yang selama Pekan Doa ini ingin berdoa secara pribadi, teks-teks biblis dan renungan yang disediakan pada bagian “Renungan Alkitab dan Doa-doa Selama Delapan Hari”, [hlm. ...] dapat sangat bermanfaat untuk memusatkan doa-doa mereka. Mereka dapat sungguh merasakan bahwa mereka bersekutu dengan orang-orang lain di seluruh dunia yang sedang berdoa agar kesatuan Gereja Kristus semakin nyata.
Yehezkiel 37:15-28
[15] Firman Tuhan datang kepadaku, [16] "Hai engkau anak manusia, ambillah sepotong papan dan tulislah di atasnya: Yehuda dan orang-orang Israel yang bersekutu dengan dia. Kemudian ambillah papan yang lain dan tulislah di atasnya: Yusuf -- papan Efraim -- dan seluruh kaum Israel yang bersekutu dengan dia. [17] Lalu gabungkanlah kedua papan itu menjadi satu, sehingga keduanya menjadi satu dalam tanganmu.
[18] Kalau teman-teman sebangsamu bertanya kepadamu, ‘Tidakkah engkau bersedia memberitahukan kepada kami, apa artinya ini,’ [19] katakanlah kepada mereka, ‘Beginilah firman Tuhan Allah: Aku mengambil papan Yusuf -- yang ada dalam tangan Efraim -- beserta suku-suku Israel yang bersekutu dengan dia dan menggabungkannya dengan papan Yehuda, dan Aku akan menjadikan mereka satu papan, sehingga mereka menjadi satu dalam tangan-Ku. [20] Dan sementara engkau memegang papan-papan yang kautulisi itu dalam tanganmu di hadapan mereka, [21] katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan Allah: Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka. [22] Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel, dan satu raja akan memerintah mereka seluruhnya; mereka tidak lagi akan menjadi dua bangsa dan tidak lagi akan terbagi menjadi dua kerajaan. [23] Mereka tidak lagi akan menajiskan dirinya dengan berhala-berhala atau dewa-dewa mereka yang menjijikkan atau dengan semua pelanggaran mereka. Tetapi Aku akan melepaskan mereka dari segala penyelewengan mereka, dengan mana mereka berbuat dosa, dan mentahirkan mereka, sehingga mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahnya. [24] Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala. Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia. [25] Mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub, di mana nenek moyang mereka tinggal; sungguh, mereka, anak-anak mereka, dan cucu cicit mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya. [26] Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya. [27] Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. [28] Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, menguduskan Israel, pada saat tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya."
Beberapa Catatan tentang Pekan Doa 2009
Tema Biblis
Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani 2009 berakar dalam pengalaman Gereja-Gereja di Korea. Dalam konteks perpecahan nasional yang sedang melanda Korea, Gereja-Gereja di Korea memetik inspirasi dari Nabi Yehezkiel, yang juga hidup dalam suatu bangsa yang terpecah-belah secara memprihatinkan dan mendambakan kesatuan.
Baik sebagai nabi maupun sebagai imam, Yehezkiel dipanggil oleh Allah pada usia yang masih muda, yakni 30 tahun. Bekerja dari tahun 594 sampai dengan 571 SM, ia sangat dipengaruhi oleh pembaruan-pembaruan religius dan politis yang telah dirintis oleh Raja Yosia pada tahun 621 SM. Raja Yosia telah berusaha menghapuskan warisan buruk dari penaklukan Assyria atas Yehuda, lewat pembaruan-pembaruan yang memugar hukum dan ibadat sejati kepada Allah Israel. Tetapi, sesudah Yosia gugur dalam peperangan, putranya Raja Yoyakim mengagungkan Mesir dan menyembah beragam ilah yang merajalela di sana. Para nabi yang berani mengecam Yoyakim ditindas dengan kejam: Uria dianiaya dan Yeremia dibinasakan. Sesudah penyerbuan Babel dan penghancuran bait Allah pada tahun 587 SM, para pemimpin dan para guru bangsa – di antara mereka adalah Yehezkiel yang masih muda – ditangkap dan dibawa ke Babel. Di sana, seperti Yeremia, Yehezkiel mengecam para “nabi” yang memberikan harapan-harapan yang tidak realistis, dan karena hal ini ia harus menanggug kebencian dan penghinaan dari sesama orang Israel di pembuangan.
Tetapi, dalam penderitaan yang sedemikian besar, cinta Yehezkiel terhadap bangsanya semakin berkembang. Ia mengecam para pemimpin yang bertindak melawan perintah Allah; ia juga berusaha memimpin bangsanya kembali kepada Allah, dengan menekankan kesetiaan Allah kepada perjanjian-Nya dan solidaritas dengan umat Allah. Di atas semuanya, dalam situasi yang tampaknya tanpa harapan, Yehezkiel tidak putus asa tetapi memaklumkan suatu amanat harapan: maksud Allah untuk membarui dan menyatukan umat Allah masih belum dapat diwujudkan. Dalam usahanya ini, Yehezkiel didorong oleh dua penglihatan. Yang pertama adalah penglihatan yang sudah sangat lazim yakni lembah yang penuh dengan tulang-tulang kering yang, berkat tindakan Roh Allah, dibangkitkan dari kematian kepada kehidupan (Yeh. 37:1-14).
Bahan-bahan Pekan Doa tahun ini didasarkan pada penglihatan Yehezkiel yang kedua, yakni penglihatan tentang dua potong kayu, yang melambangkan dua kerajaan Israel yang terpecah-belah. Nama dua belas suku asli dalam kerajaan yang terpecah itu (dua di Utara, dan sepuluh di Selatan) tertulis pada kedua potong kayu, yang kemudian dipadukan kembali menjadi satu (Yeh. 37:15-23).
Menurut Yehezkiel, perpecahan bangsa Israel itu mncerminkan – dan merupakan akibat dari – keberdosaan serta pengasingan mereka dari Allah. Mereka dapat menjadi satu bangsa lagi dengan membuang dosa-dosa mereka, dengan menjalani pertobatan, dan dengan berpaling kembali kepada Allah. Tetapi, akhirnya, Allah sendirilah yang menyatukan umat Allah dengan memurnikan, membarui, dan membebaskan mereka dari perpecahan mereka. Bagi Yehezkiel, kesatuan ini bukan hanya penyatuan kelompok-kelompok yang sebelumnya terpecah-belah tetapi, lebih dari itu, merupakan suatu ciptaan baru, yakni lahirnya suatu bangsa baru yang akan menjadi tanda pengharapan bagi bangsa-bangsa lain dan bagi seluruh umat manusia.
Tema pengharapan juga diungkapkan dalam teks lain yang sangat disayangi oleh Gereja-Gereja di Korea, yakni Wahyu 21:3-4. Ayat-ayat ini menunjuk kepada pemurnian umat Allah, untuk mewujudkan damai sejati, rekonsiliasi, dan kesatuan yang hanya dapat ditemukan di tempat di mana Allah tinggal, “Ia akan tinggal bersama-sama dengan mereka sebagai Allah mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Allah sendiri akan menyertai mereka; Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka. Maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis ...”
Tema-tema biblis inilah – kesatuan sebagai sesuatu yang dikehendaki Allah bagi umat-Nya; kesatuan sebagai anugerah Allah, yang menuntut pertobatan dan pembaruan; kesatuan sebagai suatu ciptaan baru; semua ini membangkitkan pengharapan bahwa umat Allah masih dapat disatukan; inilah yang telah mengilhami Gereja-Gereja di Korea dalam mempersembahkan bahan-bahan untuk Pekan Doa tahun 2009 ini.
Tema Teologis
Pada tahun 2009, umat Kristiani di seluruh dunia akan berdoa untuk memohon kesatuan, “agar mereka menjadi satu dalam tanganmu” (Yeh. 37:17). Yehezkiel – nama yang berarti “Allah membuatnya kuat” – dipanggil untuk membangkitkan pengharapan dalam hati bangsanya yang dirundung situasi religius dan politis yang memprihatinkan menyusul jatuhnya Israel dan pendudukan oleh musuh, serta pembuangan bangsa orang dari antara bangsanya.
Kelompok lokal dari Korea mendapati bahwa teks Yehezkiel itu memberikan beberapa paralel yang kuat antara situasi mereka sendiri dalam suatu negara yang terpecah-belah dan situasi kekristenan yang juga terpecah-belah. Kata-kata Yehezkiel memberi mereka pengharapan bahwa Allah akan menghimpun umat-Nya menjadi satu, dengan memanggil mereka menjadi milik Allah sendiri, dan dengan memberkati mereka untuk membuat mereka menjadi suatu bangsa yang kuat. Suatu pengharapan baru akhirnya dibangkitkan, yakni bahwa Allah akan menciptakan suatu dunia yang baru. Sama seperti dalam teks Yehezkiel, di mana keberdosaan tampak dalam perpecahan bangsa Israel yang dilecehkan lewat berhala dan pelanggaran, demikian juga keberdosaan tampak dalam bentuk perpecahan umat Kristiani yang telah mengakibatkan skandal besar dalam dunia dewasa ini.
Dengan membaca teks dari Perjanjian Lama ini, umat Kristiani dapat bercermin bagaimana kita dapat memahami penerapannya pada situasi perpecahan kita sendiri. Khususnya kita melihat bagaimana Allah menjadi Dia yang memulihkan kesatuan, yang mendamaikan umat dan menciptakan suatu situasi yang baru. Peran Israel yang disatukan, diampuni, dan dimurnikan menjadi suatu tanda pengharapan bagi seluruh dunia.
Seperti dicatat di atas, nubuat tentang dua potong kayu yang digabungkan menjadi satu ini adalah nubuat kedua yang ditemukan dalam Yehezkiel 37. Nubuat pertama, yang barangkali lebih familiar bagi Gereja-Gereja adalah penglihatan tentang tulang-tulang kering yang menjadi hidup kembali berkat tindakan Roh Allah. Dalam kedua nubuat ini Allah dilihat sebagai sumber kehidupan, pencipta suatu awal yang baru. Dalam nubuat pertama, Roh Allah adalah roh kehidupan. Dalam nubuat kedua, Allah sendiri menciptakan kesatuan, rekonsiliasi, dan damai di tengah suatu bangsa yang terpecah-belah. Dengan kata lain kehidupan baru diberikan lewat kesatuan dua pihak yang terpecah.
Di sini, umat Kristiani dapat melihat suatu pralambang yang menggambarkan apa yang akan diwujudkan oleh Kristus, yakni kehidupan baru yang datang lewat penaklukan kematian, dalam ketaatan kepada kehendak Bapa yang menyelamatkan. Dari dua potong kayu yang membentuk salib-Nya, Yesus mendamaikan kita dengan Allah; dan dengan ini, umat manusia dicurahi pengharapan baru. Kendati kedosaan kita, kendati kekerasan dan peperangan kita, kendati kesenjangan antara kaya dan miskin, kendali penyalahgunaan kita atas ciptaan, kendali bencana dan penderitaan, kendati diskriminasi, dan kendati adanya ketidak-satuan serta perpecahan kita, Yesus Kristus – lewat tangan-Nya yang terentang di salib – merangkul seluruh ciptaan dan memberikan shalom Allah kepada kita. Dalam tangan-Nya kita menjadi satu, seolah-olah kita ditarik kepada Dia yang ditinggikan pada salib.
Dari situasi suatu negara yang terpecah-belah tetapi memiliki kemauan untuk mengatasi tidak hanya perpecahan politis tetapi juga perpecahan di kalangan Gereja-Gereja Kristiani, Gereja-Gereja Korea mengusulkan tema untuk Pekan Doa 2009, “Agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu.” Mereka mendapati bahwa pengharapan baru akan lahir dari permenungan mereka tentang tindakan Allah untuk mendamaikan dan membawa shalom kepada umat Allah.
Bahan-bahan untuk Delapan Hari
Bertolak dari teks sentral yang diambil dari Yehezkiel, renungan kita selama “delapan hari” Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani mengantar kita kepada kesadaran yang lebih mendalam tentang bagaimana kesatuan Gereja ini juga bermanfaat untuk pembaruan komunitas umat manusia. Dari kesadaran ini muncullah suatu tanggung jawab berat, yakni bahwa semua orang yang mengakui Kristus sebagai Tuhan hendaknya berusaha memenuhi doa-Nya “agar mereka semua menjadi satu supaya dunia percaya bahwa Engkau telah mengutus Aku” (Yoh. 17:21).
Itulah sebabnya rangkaian delapan hari ini dimulai dengan suatu renungan mengenai kesatuan umat Kristiani. Kita diajak merenungkan perpecahan ajaran dan sejarah perpecahan – kadang-kadang bahkan kebencian yang memberi sandungan – di kalangan umat Kristiani. Didukung oleh renungan ini, kita berdoa agar Allah, yang menghembuskan roh kehidupan ke dalam tulang-tulang kering dan yang mewujudkan kesatuan kita di dalam tangan-Nya di tengah keanekaragaman, akan menghembuskan kehidupan dan rekonsiliasi atas kekeringan dan perpecahan kita dewasa ini. Pada hari pertama ini, dan pada setiap hari selama delapan hari itu, kita diundang untuk berdoa bagi dunia kita yang sungguh memerlukan rekonsiliasi; khususnya, kita diundang untuk sungguh peduli akan peran yang akan dimainkan oleh kesatuan umat Kristiani dalam mewujudkan rekonsiliasi ini.
Pada hari kedua Gereja-Gereja berdoa untuk mengatasi dan mengakhiri perang serta kekerasan. Kita berdoa agar, di tengah macam-macam konflik, orang-orang Kristiani sebagai murid Pangeran Perdamaian dapat mewujudkan suatu rekonsiliasi yang berakar dalam pengharapan. Hari ketiga menawarkan suatu renungan mengenai kesenjangan yang menganga antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin. Keterikatan kita kepada uang, sikap kita terhadap orang miskin, merupakan suatu petunjuk mengenai kadar kemuridan kita dalam mengikuti Yesus, yang datang ke tengah-tengah kita untuk membebaskan kita dan untuk memaklumkan kabar baik kepada orang-orang miskin, pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan keadilan bagi semua orang.
Pada hari keempat kita berdoa agar semua orang Kristiani menyadari bahwa hanya dengan bersama-sama mereka akan mampu menjaga anugerah yang diberikan Allah kepada kita, merawat udara yang kita hirup, melindungi bumi yang menghasilkan buah dan makhluk yang memuliakan penciptanya. Pada hari kelima kita berdoa demi berakhirnya prasangka dan diskriminasi yang mewarnai masyarakat kita dewasa ini. Sebagaimana kita tahu, martabat kita datang dari Allah. Demikian juga kita tahu bahwa kesatuan kita sebagai orang Kristiani memberi kesaksian bahwa hanya satulah Dia yang menciptakan setiap orang dari kita sebagai makhluk unik yang dikasihi Allah. Kerajaan yang harus kita bangun adalah kerajaan keadilan dan cinta yang menghormati perbedaan, sebab dalam Kristus kita semua adalah satu.
Pada hari keenam, dalam doa kita mengenang semua orang yang menderita dan semua orang yang melayani mereka. Ayat-ayat mazmur membantu kita untuk menyadari bahwa bahasa yang kita ungkapkan dalam ratap tangis kepada Allah di saat kita dirundung sakit dan amarah dapat mengungkapkan hubungan yang erat dan setia dengan Allah. Tanggapan penuh kasih dari orang-orang Kristiani kepada mala petaka yang menimpa orang-orang yang menderita merupakan tanda Kerajaan Allah. Bersama-sama, Gereja-Gereja dapat sungguh membantu mendapatkan bantuan yang dibutuhkan oleh orang sakit, baik bantuan material maupun bantuan spiritual.
Pada hari ketujuh orang-orang Kristiani disadarkan bahwa mereka menghadapi pluralisme yang mendambakan kesatuan dalam Allah. Tanpa kesatuan ini akan sulitlah membangun suatu kerajaan damai bersama semua orang yang berkehendak baik. Ujud-ujud doa kita mencapai kepenuhannya pada hari kedelapan, yakni ketika kita berdoa agar semangat Sabda Bahagia mengatasi roh dunia ini. Orang-orang Kristiani menyandang harapan bahwa segala sesuatu akan dibarui dalam tatanan baru yang dibangun oleh Kristus. Hal ini memampukan orang-orang Kristiani menjadi pembawa harapan dan pembangun rekonsiliasi di tengah-tengah peperangan, kemiskinan, diskriminasi, dan konteks-konteks lain di mana manusia menderita dan segala makhluk merintih.
Persiapan Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani 2009
Naskah Dasar
Draft pertama dari bahan Pekan Doa tahun ini disiapkan oleh suatu kelompok yang beranggotakan wakil-wakil dari Konferensi Uskup Korea (Catholic Bishops’ Conference of Korea - CBCK) and Dewan Nasional Gereja-Gereja Korea (National Council of Churches in Korea – NCCK), yakni: Dr Chai Soo-il, professor pada Universitas Han Shin, PROK / NCCK; Dr Kim Woong-Tae, Presiden Sekolah Tinggi Dong-Sung, CBCK; Dr Shim Kwang-Sup, professor pada Methodist Theological Seminary, KMC, NCCK; Nn. Jung Hae-Sun, sekretaris eksekutif, NCCK; Fr. Kang Diego, anggota misionaris Consolata di Korea, CBCK; Nn. Han Mi-Sook, anggota gerakan Focolare, Korea, CBCK. Kami sungguh-sungguh berterima kasih kepada mereka atas kerja keras dan ketajaman visi mereka.
Pertemuan Persiapan Internasional di Marseilles, Prancis
Selama beberapa tahun, salah seorang anggota tim persiapan internasional untuk Pekan Doa terus mendesak agar tim menyelenggarakan pertemuannya di Marseilles. Ia bercerita tentang gerakan sosial yang amat menarik di kota ini: suatu kelompok yang beranggotakan para pemimpin agama dari berbagai denominasi, iman, dan kebudayaan telah dibentuk di dekat kantor walikota. Kelompok ini memiliki suatu cita-cita untuk membangun komunikasi yang akrab antara kelompok-kelompok iman, mengembangkan relasi, dan mencegah polarisasi antar aneka kelompok penduduk di kota ini.
Organisasi ini dikenal sebagai Marseille Espérance (Harapan Marseilles). Sambil bergandeng tangan, para anggota kelompok ini telah berbicara lantang melawan kegiatan-kegiatan baik lokal maupun internasional yang mengandung unsur intoleransi atau kebencian terhadap agama (pelecehan makam, serangan 11 September di New York, dll.). Kelompok ini sungguh percaya bahwa persatuan mereka yang membela toleransi telah membantu mencegah sejumlah kerusuhan lintas-iman dan lintas-budaya yang telah melanda kota-kota Eropa. Karena tidak mau mengikatkan diri pada salah satu partai politik, mereka selalu tinggal diam pada masa pemilihan. (Sekularisme adalah asas yang ketat dari kehidupan publik Prancis.) Dengan menyerahkan dialog teologis kepada kelompok-kelompok lain, mereka memusatkan perhatian utamanya pada perdamaian di seluruh kota.
Demikianlah, pada 24-29 September 2007, tim persiapan internasional mengadakan pertemuan di Centre Notre Dame du Roucas, yang dikelola oleh Chemin Neuf, suatu komunitas Katolik Roma yang sangat ramah dengan suatu panggilan ekumenis. Tim berhimpun di suatu rumah yang bermandikan sinar mentari dengan pemandangan ke arah laut dan dekat dengan basilika Notre Dame de la Garde. Tim persiapan internasional ini terdiri dari orang-orang Protestan, Ortodoks, dan Katolik, bersama dengan dua anggota dari kelompok Korea yang menyusun naskah dasar (dan dua penasihat mereka). Dalam pertemuan ini tim mengolah naskah yang disusun di Korea, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan kini disunting untuk penggunaan internasional. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh kepercayaan dan keceriaan, yang merupakan buah dari sikap saling hormat antara para anggota tim. Pada akhir pertemuan, wakil-wakil dari Dewan KePausan untuk Memajukan Kesatuan Umat Kristiani dengan hangat menyampaikan ucapan terima kasih kepada Direktur Faith and Order, Tom Best, dan Carolyn McComish, yang dalam waktu singkat akan mengundurkan diri. Dewan KePausan bertema kasih atas kerjasama mereka selama bertahun-tahun dalam karya kelompok persiapan internasional.
Dalam pertemuan pekan ini, tim diundang untuk bertatap muka dengan para anggota Marseille Espérance. Dalam pertemuan ini tim diajak mempelajari kegiatan-kegiatan Marseille Espérance dan kemudian mengunjungi aneka tempat penting bagi Marseille Espérance di dalam kota, antara lain sebuah gereja tua Saint Victor dan masjid setempat. Kami berterima kasih kepada Marseille Espérance atas sambutan yang hangat, atas keramahan dan pemaparan kegiatan-kegiatan mereka; juga atas minat mereka terhadap karya tim persiapan internasional. Tim internasional berdoa agar karya Marseille Espérance terus berlanjut tidak hanya untuk menjaga perdamaian di dalam kota, tetapi juga agar, lewat teladan toleransi religiusnya, Marseille Espérance memperkaya kehidupan penduduk Marseilles.
Tema Ibadat
“Agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37:17)
Dalam teks dari Yehezkiel ini (37:15-19,22-24a), kita menemukan keinginan Allah yang bernyala-nyala agar suku-suku Israel yang terpecah-belah itu bersatu. Berkat ilham Allah, Yehezkiel menyatukan kedua potong kayu itu. Tata gerak profetis ini merupakan simbol dari penyatuan kembali kerajaan Israel Utara dan Selatan: “Gabungkanlah keduanya menjadi satu papan, sehingga keduanya menjadi satu dalam tanganmu” (Yeh. 37:17).
Untuk mewujudkan karya pembaruan dalam bentuk kesatuan ini, Allah menyandarkan diri pada nabi-Nya. Dengan demikian, Yehezkiel dibebani perutusan untuk memaklumkan kepada Israel bahwa Allah sendirilah yang ingin menyatukan suku-suku Israel dan “menggenggam mereka dalam tangan-Nya”.
Yehezkiel harus juga memanggil bangsa Israel untuk bertobat guna mempersiapkan jalan bagi negara masa depan, yakni negara rekonsiliasi dan damai yang hanya akan terwujud lewat pertobatan tulus kaum Israel. Tugas sang nabilah memaklumkan dalam nama Tuhan bahwa pertobatan itu sangat mendesak. Siapa saja yang menginginkan kesatuan seturut Perjanjian harus berpaling dari berhala dan dibersihkan oleh Allah. “Aku akan menyelamatkan mereka dari segala kemurtadan yang telah menjerumuskan mereka dan akan membersihkan mereka. Kemudian mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allah mereka.” Harapan akan dinyalakan kembali lewat pembaruan kesetiaan mereka kepada Allah.
Pada masa Yehezkiel, Israel merindukan kesatuan nasional. Kita, orang-orang Kristiani, yang diutus kepada segala bangsa, berharap dan berdoa agar tercipta persekutuan penuh dalam Kristus. Dengan demikian, ibadat yang didasarkan pada Yehezkiel 37 ini memanggil kita untuk memahami – dalam terang Kristus – panggilan sang nabi demi kesatuan umat Allah.
Tata Cara Ibadat
Perayaan dimulai dengan membunyikan gong, pertanda persekutuan kita dalam doa bersama umat Kristiani di Korea. Dalam semangat Yehezkiel yang memanggil bangsanya kepada pertobatan, Ritus Tobat mendesak kita – sebagai hamba Allah yang setia dan sebagai pelayan kesatuan Kristiani – untuk meniti lorong-lorong pembaruan personal dan eklesial yang mengantar kepada persekutuan penuh.
Ibadat Sabda dibuka dengan mengundang kita untuk meneguhkan iman kita bahwa Bapa sungguh-sungguh mendambakan kesatuan (Yeh. 37:15-19,22-24a). Surat kepada Jemaat di Roma (Rom. 8:18-25) meyakinkan kita bahwa bersama dengan seluruh ciptaan kita digenggam dalam tangan Allah dan bahwa Roh Kudus berdoa bagi kita. Injil (Yoh. 17:8-11) mengukuhkan bahwa karunia kesatuan spiritual telah dimenangkan bagi kita lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Lewat Doa Permohonan kita ambil bagian dalam harapan serta doa Yesus untuk kesatuan sempurna antar kita. Di samping itu, kita juga ambil bagian dalam ketidaksabaran Yesus untuk menyaksikan kita bekerja dalam kesatuan cinta untuk mewujudkan dunia baru, lewat keadilan dan perdamaian.
Pada Penutup Ibadat, kita memaklumkan dengan Surat kepada Jemaat di Roma 8:38 bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari cinta Kristus, karena dalam Dia Allah Bapa kita telah membarui segala sesuatu. Allah mengutus kita untuk memberi kesaksian tentang ciptaan baru. Ini merupakan suatu dorongan bagi semua orang Kristiani. Lewat komitmen ekumenis, mereka pun memberikan sumbangan untuk menciptakan tatanan baru, yakni kesatuan dalam Kristus yang telah bangkit.
Perlengkapan yang diperlukan untuk ibadat: gong, Alkitab, dua belas papan kayu, dan tali untuk mengikatnya.
Tata Cara Ibadat
Pembuka
Gong dibunyikan tiga kali untuk menunjukkan dimulainya ibadat.
P: Pemimpin Ibadat; L: Lektor / Pembaca; U: Umat.
Salam
P Semoga rahmat dan damai dari Allah Bapa kita, dari Tuhan kita Yesus Kristus, dan dari Roh Kudus selalu besertamu.
U Dan sertamu juga.
Mazmur Pembuka: Mzm. 146 (atau madah/mazmur lain yang sesuai).
Perarakan para pemimpin ibadat bersama dengan para peserta sambil membawa Alkitab dan papan untuk diikat bersama sebagai suatu simbol kesatuan yang diilhami oleh teks Yehezkiel. Pembawa papan berjalan di depan salib atau pada jarak liturgis di depan gereja.
Saat hening sejenak.
P Hampirilah Allah. Marilah kita menghampiri Allah, yang berbelas kasih kepada kita dan yang menjadi sumber pengharapan serta kerinduan kita.
Ajakan ini dapat diucapkan dalam bahasa Korea untuk menggarisbawahi kenyataan bahwa umat Kristiani di negara inilah yang tahun ini membantu kita berdoa untuk kesatuan umat Kristiani: Kadja Heemang-e dju-nim-kke.
Ritus Tobat
P Ibadat tahun ini telah diusulkan oleh umat Kristiani di Korea, satu bangsa yang terpecah menjadi dua negara. Kita akan mendengarkan Nabi Yehezkiel yang dalam penglihatan menyaksikan Allah menyatukan dua potong kayu. Kita berhimpun sebagai orang-orang Kristiani dari komunitas yang terpecah-belah. Kita mohon ampun, karena ketidaksatuan kita telah menjadi sandungan bagi dunia. Kita juga mohon ampun atas ketidakmampuan kita untuk menjadi duta rekonsiliasi di dunia ini. Maka kita harus mengambil langkah pertobatan pribadi dan gerejawi untuk sampai kepada persekutuan penuh dalam Kristus!
Saat hening sejenak.
Sementara saat hening ini, para pembawa potongan papan – yang duduk di depan jemaat atau bersama dengan para pelayan ibadat – menyebar ke tengah jemaat sebagai tanda perpecahan kita dan dosa kita melawan kesatuan dalam Kristus.
P Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan. Tuhan, dengarkanlah suaraku!
U Tuhan, kami berseru kepada-Mu, tetapi amat sering kami berseru dengan suara yang tidak padu.
P Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.
U Kami memohon kesatuan tetapi kami tidak mau berkurban demi rekonsiliasi.
P Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan, siapakah yang dapat tahan?
U Siapakah yang dapat tahan? Kami datang ke hadapan-Mu dengan membawa kegagalan kami dalam menanggapi penderitaan dan perpecahan dunia.
P Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.
U Kyrie eleison. Christe eleison. Kyrie eleison.
P Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.
U Jiwaku menanti-nantikan Tuhan, lebih dari penjaga menantikan fajar.
P Yehezkiel mengucapkan firman Tuhan ini: Aku akan membebaskan mereka dari segala kejahatan mereka; Aku akan membersihkan mereka. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka. Mereka akan menjadi satu dalam tangan-Ku. Ya Allah, Engkaulah satu-satunya harapan kami.
U Tolonglah kami menjadi alat rekonsiliasi-Mu.
Liturgi Sabda
Bacaan pertama: Yeh. 37:15-19,22-24a
Nyanyian: Jadilah Mereka Satu (PS 617)
Bacaan kedua: Rom. 8:18-25
Alleluya
Injil: Yoh. 17:8-11
Renungan
Hening sejenak.
Doa Permohonan
P Dengan penuh iman kita berdoa kepada Allah – Bapa, Putra, dan Roh Kudus:
“Tuhan, dengarkanlah doa kami.” (dapat dilagukan).
L1 Marilah kita berdoa bagi komunitas-komunitas Kristiani lokal kita, bagi Gereja-Gereja kita, dan bagi kelompok-kelompok ekumenis; juga bagi semua yang hadir di sini, dan bagi mereka yang tidak hadir dalam ibadat kita hari ini.
Tuhan, ampunilah kami ketika kami bersikap acuh tak acuh satu sama lain, dan turunkanlah penyembuhan-Mu ke atas luka-luka serta perpecahan yang membuat kami tetap tercerai-berai.
U Tuhan, dengarkanlah doa kami.
L2 Marilah kita berdoa agar memiliki penghargaan yang lebih mendalam terhadap pembaptisan kita ke dalam satu Tubuh Kristus.
Tuhan, topanglah setiap orang dari kami dan juga komunitas-komunitas kami sementara kami melanjutkan langkah menuju kesatuan yang Engkau dambakan bagi semua murid-Mu.
U Tuhan, dengarkanlah doa kami.
L1 Marilah kita berdoa bagi para pemimpin rohani dan para pemimpin Gereja kita, agar Roh Kudus terus menerangi mereka dan memberi mereka rahmat untuk bekerja dalam suasana harmonis, dalam suka cita, dan kasih. Marilah kita berdoa juga bagi semua pejabat pemerintah.
L2 Tuhan, bantulah mereka agar dapat bekerja untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian, dan berilah mereka kebijaksanaan untuk memperhatikan kebutuhan semua orang khususnya mereka yang paling membutuhkan.
U Tuhan, dengarkanlah doa kami.
L1 Marilah kita berdoa bagi semua bangsa dan masyarakat yang hidup di tengah perpecahan dan konflik internal yang parah.
L2 Tuhan, kami mengingat khususnya bangsa Korea, Utara dan Selatan. Semoga, kendati ada perpecahan dan perpisahan politis, upaya mereka untuk mewujudkan kesatuan dapat membawa hasil, dan semoga kesatuan mereka menjadi tanda pengharapan bagi semua orang yang mengupayakan rekonsiliasi di tengah-tengah percekcokan.
U Tuhan, dengarkanlah doa kami.
L1 Marilah kita memanjatkan syukur bagi orang-orang yang atas ilham Tuhan telah memperoleh tempat penting dalam kehidupan iman kami, dan bagi semua orang yang mengungkapkan pengampunan, kemurahan, dan cinta Tuhan.
L2 Semoga pemberian dan kemurahan hati mereka mengilhami keinginan kami untuk memberikan diri dan melayani sesama dengan seluruh kehidupan kami.
U Tuhan, dengarkanlah doa kami.
L1 Marilah kita berdoa bagi semua orang yang mewartakan Injil dan menghadapi tantangan yang berat dari zaman kita.
L2 Tuhan, semoga kami masing-masing belajar memainkan peran kami dalam meringankan bencana global dan ekologis yang mengakibatkan penderitaan manusia dan merongrong ciptaan-Mu.
U Tuhan, dengarkanlah doa kami.
L1 Marilah kita berdoa bagi semua Gereja.
L2 Kami mohon pertolongan-Mu, Tuhan, agar suatu saat nanti semua Gereja dapat berhimpun di sekeliling satu meja perjamuan dan ambil bagian dalam persekutuan para kudus.
U Tuhan, dengarkanlah doa kami.
Bapa Kami
P Setiap orang dalam bahasanya sendiri, marilah kita mengucapkan doa yang diberikan Yesus kepada kita:
U Bapa kami ...
P Sebagai tanda komitmen kita untuk mengupayakan rekonsiliasi, marilah sekarang kita saling memberikan salam damai.
Salam damai diiringi dengan nyanyian yang sesuai, misalnya Salam Damai, Kubawa Damai.
Tindakan Simbolis
Sekarang para pembawa papan memadukan papan kayu yang mereka bawa, dua-dua (diikat dalam bentuk salib), sebagai tanda bahwa rekonsiliasi ini merupakan prakarsa dan karya Allah yang menyatukan kita dalam tangan-Nya.
Syahadat Nikea
P Marilah kita bersatu hati dalam mendaras Syahadat Nikea.
Sementara pengakuan iman dimaklumkan, salib dapat diangkat; secara simbolis pengangkatan ini menghubungkan salib itu dengan papan-papan yang sudah diikat berdua-dua. Di gereja-gereja di mana kolam pembaptisan berada di tempat yang sentral, tindakan simbolis ini dapat dilaksanakan di sana, sebagai kenangan akan pembaptisan yang telah membuat kita “disatukan dalam tangan Allah”.
U Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan; dan akan satu Tuhan Yesus Kristus. Putra Allah yang tunggal. Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita. Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia. Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus. Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci. Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati, kerajaan-Nya takkan berakhir.
Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra, Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat.
Doa Penutup dan Pengutusan
Disarankan seorang muda.
L Aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau pun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm. 8:38-39)
P Kita akan meninggalkan tempat ibadat ini untuk kembali kepada situasi konkret hidup kita masing-masing. Marilah kita tetap teguh dalam iman dan harapan, karena Allah Bapa kita telah membarui segala sesuatu dalam Yesus Kristus. Ia mengutus kita untuk menjadi saksi kasih-Nya dan untuk memainkan peran dalam mewujudkan ciptaan baru. Semoga Allah, yang mengetahui suka cita kita, kemarahan kita, dan kepedihan kita, selalu menuntun kita; dan semoga kita berani dan tetap setia menjalani hidup yang sepadan dengan iman Kristiani.
U Tuhan, tinggallah bersama kami.
Nyanyian
Sebaiknya dipilih suatu nyanyian yang memuji rekonsiliasi Allah dengan umat-Nya lewat salib. Sementara nyanyian dilambungkan, para pembawa papan kayu mengambil kayu mereka dan memberikannya kepada anggota jemaat yang mewakili aneka komunitas Kristiani yang hadir, sebagai tanda ikatan persekutuan antara mereka.
Berkat
P Saudara dan Saudari dalam iman, umat Kristiani yang hari ini berhimpun di sini, lewat kekuatan salib Saudara ingin menjadi tanda rekonsiliasi.
Semoga Tuhan memberkati Saudara dan selalu menjaga Saudara.
Semoga Tuhan membuat wajah-Nya bersinar atas Saudara dan bermurah hati kepada Saudara.
Semoga Tuhan mengarahkan pandangan-Nya kepada Saudara dan memberikan damai-Nya kepada Saudara.
U Amin.
Link Terkait :