Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
Materi iman

  peta alkitab  
  audio alkitab  
   
   

 

 

Wahyu Yohanes

 

Pengantar
Kitab Suci Alkitab sesungguhnya bukanlah "sebuah buku" , melainkan " sebuah kumpulan buku-buku" . Proses penyusunan dan pengumpulan buku-buku ini memakan waktu ribuan tahun. Oleh karena jangka waktu penyusunan yang panjang itu, maka tidak heran kalau Kitab Suci Alkitab terdiri atas macam-macam bentuk dan tipe penulisan (literatur), seperti ceritera (narrative), sejarah (history), roman dan puisi kepahlawanan, esey, surat dan ada sejumlah tulisan yang susah untuk dikelasifikasikan.

A. Buku Paling Banyak Disalah Mengerti
Sadar akan hal itu, maka tidak heran kalau ada bagian-bagian tertentu dalam buku-buku Alkitab yang sering ditafsir salah.Menurut para ahli, kitab-kitab itu adalah sebagian dari Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran, sebagian dari Kitab nabi Ezekiel dan Nabi Daniel. Tapi yang paling sulit dimengerti dan karena itu sering disalahtafsir adalah Kitab Wahyu Yohanes.

B. Bentuk Karangan yang Unik
Salah satu sebab mengapa Kitab ini dirasa sulit dan disalahtafsir adalah "bentuk karangannya" yang tidak lazim. Para ahli menyebutnya dengan nama Kitab " Apokaliptik ". Hampir tak ada literatur modern yang mempunyai bentuk penulisan serupa dengan Kitab Wahyu Yohanes (selanjutnya: KWY). Bentuk literatur seperti KWY merupakan keunikan yang hanya dapat ditemukan di Timur Tengah antara tahun 200 BC sampai tahun 200 AD. Sebab itu, ketika John (Yohanes) , pengarang manusia dari Kitab ini, ingin menyampaikan pesan yang penuh wibawa kepada Gereja-gereja di Asia Kecil, ia amat cerdas mengunakan literasi yang sudah ada. Dengan menyesuaikan diri dengan bentuk tulisan apokaliptik yang sudah menjadi bagian dari budaya umatnya, Yohanes dapat dengan leluasa "mengingatkan, mengajar, mendorong dan membangun harapan, serta menguatkan iman umatnya. Oleh karena umat/pendengarnya sudah biasa dengan bentuk tulisan apokaliptik, maka Yohanes sang penulis tidak perlu kuatir soal kemungkinan salah mengerti "bahasa sandi" yang akan dipakainya.

C. Masalah Kita
dari sudut yang menguntungkan itu, Yohanes memaklumkan Firman Allah dengan memakai wahana apokaliptik yang sudah biasa dikalangan umatnya waktu itu. Jikalau kini kita merasa sulit memahaminya, maka itu merupakan masalah kita, karena kita hidup 2000 tahun kemudian dan dalam konteks kebudayaan yang sangat berbeda. Yohanes menulis kitab ini sesuai konteks dan karakter pendengarnya di Timur Tingah pada 2000 tahun yang lalu.

D. Kenabian dalam Kitab Suci
Sejak awal pengarang menyatakan buku ini adalah buku profetis (1:3). Tapi mesti diingat bahwa dalam Kitab Suci "nabi" tidak selamanya mesti merupakan seorang peramal akan masa depan, tapi ia hanya seorang juru bicara dari Allah. Berdasarkan para ahli Kitab Suci berpendapat bahwa KWY berbicara semata-mata tentang peristiwa yang sedang terjadi pada waktu kitab ini ditulis, yaitu tentang PENGANIAAN UMAT KRISTEN PADA ABAD PERTAMA oleh IMPERIUM KAFIR ROMAWI. Sebuah teks KWY menunjukan hal ini. Yohanes dalam kalimat pendahuluannya mengatakan bahwa ini "mesti akan terjadi segera" (1:1). Yohanes berbicara tentang peristiwa yang sedang terjadi pada masanya: "karena waktu yang sudah ditentukan sudah dekat" (1:3). "Masa depan" yang diramalkan adalah masa depan dalam "pengertian yang luas": kebaikan dan keburukan (Evil and Good) selalu berperang, tapi pada akhirnya kebaikanlah yang akan menang.

E. SIMBOLISME
Salah satu karakter dari KWY adalah bahwa ia amat kaya akan bahasa simbolis, seperti angka, pribadi dan pristiwa historis, dan situasi yang kritis, unsur yang membentuk bumi dan langit, serta surga. Semuanya ini digunakan oleh pengarang untuk "satu maksud saja" yaitu menolong umat Kristen abad pertama untuk mengerti tentang apa yang sedang terjadi, sambil memberikan mereka keteguhan iman dan menyanggupkan mereka untuk berseru "Datanglah ya, Tuhan Yesus" (22:20). Berikut ini adalah beberapa simbol dalam KWY dan artinya.

 

1. Pengunaan simbolis dari Angka :
Para ahli mengatakan bahwa umat pada masa Yohanes tidak mengalami kesulitan untuk memahami angka sebagai suatu jumlah kualitatif dan sekaligus sebagai angka yang juga mempunyai arti lain. Contoh: tujuh merupakan lambang kesempurnaan, enam (keadaan tujuh kurang satu) berarti ketaksempurnaan, duabelas adalah lambang suku-suku Israel atau Gereja sebagai Israel baru, empat adalah lambang dunia (ini berasal dari empat arah kompas – Timur, Barat, Utara dan Selatan), seribu adalah lambang keluasan, sedangkan empatpuluh adalah lambang kecukupan.

Tidak terlalu sulit untuk ditemukan angka-angka simbolis dalam Kitab Suci. Kita ambil contoh angka empatpulu h: Dalam kisah tentang Air Bah dikatakan bahwa hujan turun 40 hari dan 40 malam lamanya (Kej 7:17); Israel mengembara di padang gurun selama 40 tahun lamanya (Kel 16:35); Musa tinggal di atas gunung selama 40 hari dan 40 malam lamanya (Kel 24:18); Yesus berpuasa selama 40 hari dan 40 malam lamanya (Mt 4:2). Setiap angka 40 dalam kisah-kisah di atas tidak bisa dimengerti secara harafiah. Setiap angka 40 dalam kisah di atas menunjukkan kecukupan waktu untuk menyelesaikan sesuatu yang dimaksudkan.

 

2. Angka-angka dalam KWY:
Dalam KWY, angka tujuh (lambang totalitas atau kesempurnaan) muncul 54 kali. Ketika pengarang menyampaikan pesan kepada tujuh gereja di Provinsi Asia (1:4), maka yang ia maksudkan tujuh Gereja adalah seluruh Gereja.

Dalam bab 5, pengarang menggambarkan Kristus sebagai seorang yang mempunyai tujuh tanduk dan tujuh mata . Dengan lukisan ini, pengarang mau mengungkapkan Kristus yang penuh kuasa (tanduk – senjata- adalah simbol kekuatan/keperkasaan) dan amat bijaksana (mata adalah simbol pengetahuan). Dalam KWY kita juga mendengar adanya tujuh gulungan kitab, tujuh malaikat, dan tujuh trompet. Angka dubelas mucul 23 kali, angka empat muncul 16 kali, dan angka seribu muncul 6 kali dalam bab 20.

Dalam KWY juga ditemukan pengunaan angka simbolis yang disebut gematria. Proses terjadi sebagai berikut: Huruf-huruf dalam bahasa Hibrani disusun menurut nilai bilangan. Karena itu ketika angka-angka dijumlahkan, maka mereka akan melambangkan sebuah nama. Ini menghantar kita kepada sebuah angka yang amat terkenal dan sering disalahmengerti di dalam seluruh KWY, yaitu 666 .

Yang dimaksudkan Yohanes dengan 666 itu adalah Kaisar Nero pada zamannya. Pada bulan Juli tahun 64, kebakaran menimpa kota Roma. Dikatakan Kaisar Nero sendiri yang membakar sebagian kota Roma itu. Tapi kemudian ia menuduh orang Kristenlah yang melakukannya, dan dengan demikian ia mempunyai alasan untuk mulai melakukan penganiayaan terhadap orang Kristen. Baik Petrus dan Paulus mati dibunuh ditangannya. Orang Kristen waktu itu tahu persis siapa yang bertanggungjawah atas kematian sahid dari dua rasul agung mereka (Petrus dan Paulus) dan menjadi awal penderitaan mereka. Orang Kristen melihat kekejaman dan kejahatan sebagai penjelmaan kekuatan setan. Karena itu, mereka mengidentifikasi kejahatan Kaisar Nero sebagai setan besar dan jahat seperti yang disebutkan Yohanes dengan nama binatang 666 . Penjelasannya demikian: Kata Hibrani untuk Kaisar Nero adalah NRWN QSR . Dengan memjumlahkan nilai bilangan pada huruf-huruf Hibrani ini (N=50, R=200, W=6, N=50, Q=100, S=60, R=200) maka didapatlah angka 666. Jadi binatang jahat yang namanya 666 itu adalah Kaisar Nero yang menganiaya orang Kristen pada zaman Yohanes.

3. Binatang dari Laut:
" Kemudian saya melihat seekor binatang buas keluar dari laut …" (13:1a). Ini adalah lambang Kekaisaran Roma. Karena Romawi terletak di depan laut Mediteran. Menurut orang pada zaman Yohanes, laut merupakan lambang "chaos " (ketakberaturan, kekacauan), kejahatan dan pusat kekuasaan setan. Tujuh kepala pada binatang itu (13.1a) melambangkan tujuh bukit yang terkenal di Roma. Sedangkan sepuluh tanduk (13.1a) adalah para petinggi di provinsi-provinsi Kekaisaran Roma yang biasanya memakai mahkota pada kepala mereka (13:1b), seakan-akan mereka adalah raja-raja kecil. Karena julukan ini dikenakan kepada Kristus, maka yang Kristus yang dimaksudkan adalah anti-Kristus, atau Kristus tandingan.

4. Penyembahan kepada Kaisar:
"Dan pada kepalanya terdapat nama-nama yang menghujat…" (13:1b). Hubungkan ini dengan bab ayat 4: "Mereka menyembah naga itu…. mereka juga menyembah binatang…" (13:4a, 4b). Yang dimaksudkan di sini adalah kultus penyembahan terhadap Kaisar Romawi pada waktu itu (NB: menurut kepercayaan orang Kafir Romawi waktu itu, Kaisar adalah penjelmaan dewa dan karena itu ia harus disembah sebagai dewa). Jutaan orang Kristen abad pertama di Roma dianiaya dan dibunuh sebagai Martir, karena mereka tidak mau menyembah kaisar sebagai dewa.

5. Kaisar Nero Bangkit lagi :
"Satu dari kepala-kepala binatang itu mengalami luka berat…" (13:3). Ini juga merupakan lukisan untuk Kaisar Nero. Nero dilukiskan sebagai "binatang bengis yang akhirnya luka " karena pada akhirnya masanya ia tidak terlalu populer. Para anggota senat menentangnya perihal penganiayaan terhadap orang Kristen. Ia malah akhirnya dia mati karena bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri.

Sebuah rumor kemudian beredar bahwa Nero tidak mati sungguh-sungguh, tapi akan hidup lagi dan kembali bertahta sebagai Kaisar Roma. Yohanes pengarang KW tidak percaya akan hal itu. Tapi ia percaya bahwa seorang Kaisar " Nero" yang lain bakal muncul lagi dan melanjutkan penganiayaan terhadap orang Kristen. Dan dia itu adalah Kaisar Domitianus.

6. Empatpuluh Dua Bulan :
"Kekuasaan binatang-binatang itu hanya berlangsung selama empatpuluhdua bulan….. "(13:5b). Ini adalah angka waktu simbolis yang melambangkan krisis besar atau penderitaan. Ia mendapat artinya dari tiga setengah tahun penganiayaan yang dilukiskan Nabi Daniel sewaktu orang Israel dibuang dan dianiaya di Babilon (Daniel 9:27, 11:31). Dan dari sejarah kita tahu, penganiyaan terhadap orang Kristen oleh Kaisar Roma perlahan-lahan berakhir pada abad III Masehi. Pada awal abad IV Kaisar Roma secara resmi menerima agama Kristen sebagai agama negara di seluruh Kekaisaran Roma.

 

7. Binatang dan Anak Domba:
Baik binatang maupun anak domba dilukiskan berada dalam keadaan luka berat (5:6 untuk anak domba, dan 13:3 untuk binatang). Kemudian Yohanes sang pengarang membuar perbandingan: Seperti anak domba (Kristus atau orang Kristen yang dianiaya) dibunuh dan kemudian bangkit, demikikian juga binatang kelihatannya mati tapi ia akan muncul lagi (17:8). Keduanya dikatakan mempunyai kekuasaan terhadap segala umat manusia, bahasa dan bangsa (13:7b). Roma pada waktu itu diakui sebagai penakluk dunia. Tidak ada satu kekuatan politik yang setara dengan Roma. Dengan itu kemudian Yohanes sang pengarang mau mengatakan bahwa betapa luasnya pengaruh iblis melalui kekaisaran Romawi yang kafir itu. Orang Kristen kemudian menyebut para penganiaya mereka sebagai Anti-Kristus yang nampak dalam wadah kekaisaran Roma yang kafir. Kaisar Nero dilihat sebagai penjelmaan iblis. Kaisar Domitianus dilihat sebagai kedatangan kembali Kaisar Nero yang sudah meninggal. Kaisar Domitianus (pengganti Nero) menuntut semua orang untuk menyembah dirinya sebagai dewa dan barangsiapa menolak maka dia akan dihukum mati.

8. Millennium:
Bilangan "seribu" tahun seperti yang disebutkan dalam bab 20 tidak bisa dimengerti dan ditafsir secara harafiah. Itu hanyalah sebuah angka awal dan akhir sebuah bilangan untuk menggambarkan suatu periode waktu yang amat panjang. Itu menggabarkan waktu sejarah antara Kebangkitan Yesus dan Pengadilan Akhir jaman. " Kemudian satan melihat seorang malaikat…Ia menangkap naga itu, ular purba, yaitu setan dan membelenggunya selama ribuan tahun….."( 20:1-2). Pengaruh setan kini terbatas kerena Jesus telah mengalahkan dosa dan kematian. " Bahagialah mereka yang mengambil bagian dalam kebangkitan pertama" (20:6a) Semua orang yang dibaptis mati bersama Kristus dan bangkit bersama Kristus. " Kematian kedua tidak menimpa mereka; mereka akan melayani Allah dan Kristus sebagai Imam… "20:6b). Artinya, umat beriman harus menderita kematian phisik (barangkali oleh kemartiran), tapi mereka akan melewati kematian kedua karena dosa dan dianugerahi karunia kehidupan kekal.

 

9 . Setan dibebaskan:
Apa maksudnya ketika Yohanes mengatakan: " Setelah ribuan tahun berlalu, setan akhirnya dilepaskan dari penjara…" (20:7)? Apakah itu artinya bahwa Allah akan mengijinkan setan untuk meraja kembali di dunia yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus? Maksudnya: setan keras kepala dan ulet. Ia masih ada di antara kita, walau Yesus telah mengalahkannya. Ibarat setelah setelah mencapai kemenangan dalam peperangan, toh tetap masih ada banyak hal yang harus dibenahi. Demikian juga kita orang Kristen hendaknya selalu mengadakan pertobatan yang terus-menerus. ketika Yohanes mengatakan bahwa setan akan dibebaskan dia sesungguhnya melukiskan kenyataan ini. Kita tidak tidak begitu saja otomatis menjadi Kristen, kecuali melalui usaha pembaharuan diri yang terus-menerus. Bandingkanlah apa yang dikatakan Yesus dalam Injil Mateus: " Aku berkata kepadamu, Allah akan mengubah batu-batu ini menjadi anak-anak Abraham" (Mt 3:9), dengan wahyu Yohanes: "Mereka….. mengelilingi kota suci di mana umat Allah berkemah " (20:9b). Kemah pada hakekatnya tidak pernah tetap. Seperti orang yang berkemah, umat Allah adalah orang yang sedang dalam perjalanan. Mereka membutuhkan bantuan yang tetap dari Allah kalau mereka mau menjadi tujuan akhir pejalanan yaitu surga.

 

F. Kesimpulan:
Pertama-tama, setelah mempelajar KWY, saya teringat akan karya sastra Indonesia pada jaman penjajahan Jepang. Judul buku-buku roman waktu kelihatannya aneh-aneh, seperti: "Pada Sebuah Kapal" karangan NH. Dini. NH Dini dalam bukunya mau mendidik bangsanya akan pentingnya nilai kemerdekaan dan karena itu harus diperjuangkan dengan bersatu padu mengusir penjajah. Maka untuk menghindari pelacakan dan sensor dari pemerintah Jepang, ia menggunakan bahasa-bahasa simbolis. Demikian juga buku karangan Pramudya Anantatur seperti "Rumah Kaca". "Rumah Kaca: yang dimaksudkan sebenarnya adalah pemerintahan bangsa Indonesia pada menjelang akhir pemerintahan Sukarno dan awal pemerintah Suharto. Seperti orang bisa melihat segala isi rumah kaca dari luar, demikian keburukan pemerintahan Indonesia pada masa peralihan dari Sukarno dan Suharto jelas dilihat dan diketahui banyak orang tapi sekaligus sangat susah dikritik karena kejamnya rejim. Maka untuk menghindari sensor, Anantur berusaha membungkus ceritera sejarah bangsa yang sebenarnya, dengan bahasa-bahasa simbolis.

Tampaknya, hal yang sama telah dilakukan pengarang Kitab Wahyu. Pengarang Kitab Wahyu mau menyampaikan Sabda Tuhan kepada umat Kristen yang sedang dianiaya oleh Kaisar Kafir Romawi dalam bahasa-bahasa simbolis untuk menghindari sedikit angkara-angkara dari para penganiya orang Kristen.

Kedua, mesti diakui bahwa karena bentuknya yang aneh dan tidak biasa ini, maka KWY ini dapat saja dimengerti salah. Hendaknya diingat bahwa kalau seseorang berbicara tentang iman Kristiani, maka ia harus selalu berbicara dengan melihat seluruh konteks ceritera Perjanjian Baru. Kalau orang melalaikan hal ini dan menafsir KWY secara harafiah, gambaran Kekristenan yang otentik akan hilang.

Orang yang terlalu terpikat dengan persoalan mengenai akhir zaman dapat menjadi buta terhadap kenyataan masa kini yang ada di depan mata mereka. Orang macam itu tidak akan tertarik untuk menjawab tantangan misi masa kini. Sebab kita perlu melihat dan membaca KWY dalam keseluruh konteks Perjanjian Baru. Di dalam Injil kita akan melihat bahwa Putera Manusia (Yesus Kristus) yang datang kembali, bukan hanya pada akhir jaman tapi juga sekarang ini di dunia ketika kita memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi pakaian kepada yang telanjang dan rumah kepada yang tak berumah. Karena hanya orang yang semacam inilah yang sesunguh nanti berhak untuk menyeruhkan doa penutup dari wahyu: Datanglah, Tuhan Yesus (22:20).

Rm. Alex Jebadu, SVD

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/