Renungan Alkitab dan Doa-doa Selama Delapan Hari
Hari Pertama
Komunitas-komunitas Kristiani Menghadapi Perpecahan Lama dan Baru
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37)
Bacaan
- Yeh. 37:15-19,22-24a: Satu dalam tangan-Mu.
- Mzm. 103:8-13, atau 18: Tuhan adalah penyayang dan pengasih, dan berlimpah kasih setia.
- 1 Kor 3:3-7,21-23:Di antara kamu ada iri hati dan percekcokan ... sementara kamu semua adalah milik Kristus.
- Yoh. 17:17-21: Supaya mereka semua bersatu... agar dunia percaya
Renungan
Orang-orang Kristiani dipanggil menjadi alat kasih Allah yang bernyala-nyala dan mendatangkan damai di dalam dunia yang diwarnai aneka macam perpecahan dan pengasingan. Dengan dibaptis dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan dengan mengakui iman akan Kristus yang disalibkan dan bangkit, kita menjadi satu umat milik Kristus sendiri, suatu umat yang diutus untuk menjadi Tubuh Kristus di dunia dan bagi dunia. Untuk ini, Kristus berdoa bagi para murid-Nya: semoga mereka bersatu, supaya dunia percaya.
Perpecahan antar umat Kristiani dalam masalah-masalah fundamental yang menyangkut iman dan kemuridan Kristiani sungguh-sungguh merongrong kemampuan kita untuk memberi kesaksian di hadapan dunia. Di Korea, seperti di kalangan banyak bangsa lain, Injil Kristus diwartakan dengan suara yang saling bertengkar, yang menuturkan suatu pewartaan sumbang tentang Kabar Baik. Di sini ada godaan untuk melihat perpecahan-perpecahan masa kini, dengan latar belakang konflik yang menyertainya, sebagai pembenaran alami terhadap sejarah Kristiani kita; kita tidak mampu melihat perpecahan itu sebagai suatu kontradiksi internal yang sungguh-sungguh bertentangan dengan amanat bahwa Allah telah mendamaikan dunia dalam Kristus.
Penglihatan Yehezkiel tentang dua papan, yang bertuliskan nama-nama kerajaan Israel kuno yang terpecah-belah, yang menjadi satu dalam tangan Allah, merupakan suatu gambaran kuat mengenai kuasa Allah untuk mewujudkan rekonsiliasi, untuk melaksanakan bagi suatu bangsa yang diliputi perpecahan sesuatu yang tidak dapat mereka sendiri lakukan. Kiasan ini sangat menyentuh hati orang-orang Kristiani yang terpecah-belah, karena menggambarkan sumber rekonsiliasi yang ditemukan di jantung pewartaan Kristiani sendiri. Pada kedua papan kayu yang membentuk Salib Kristus itu, Tuhan yang menguasai sejarah mengambil sendiri luka-luka dan perpecahan umat manusia. Dalam totalitas pemberian diri-Nya di salib, Yesus memadukan dosa umat manusia dengan kasih setia Allah yang menyelamatkan. Menjadi Kristiani berarti dibaptis dalam kematian Yesus; terdorong oleh kerahiman-Nya yang tanpa batas, lewat kematian itu Tuhan Yesus menuliskan pada kayu salib nama-nama umat manusia yang terluka, sambil mendekapkan mereka kepada diri-Nya dan memulihkan relasi mereka dengan Allah dan dengan satu sama lain.
Kesatuan Kristiani adalah persekutuan yang didasarkan atas belonging kita kepada Kristus, kepada Allah. Dengan semakin bertobat kepada Kristus, kita mendapati diri kita didamaikan oleh kuasa Roh Kudus. Doa untuk kesatuan umat Kristiani adalah suatu pengakuan iman kita akan Allah, suatu pembukaan hati lebar-lebar kepada Roh Kudus. Dikaitkan dengan usaha-usaha kita yang lain untuk mengupayakan kesatuan di kalangan orang-orang Kristiani – dialog, kesaksian dan perutusan bersama – doa untuk kesatuan merupakan alat yang istimewa; lewat doa ini Roh Kudus sedang bekerja agar rekonsiliasi dalam Kristus dinyatakan dengan jelas dalam dunia yang akan diselamatkan oleh Kristus.
Doa
Allah yang mahamurah, Engkau telah mengasihi dan mengampuni kami dalam Kristus, dan telah berusaha mendamaikan seluruh bangsa manusia dalam kasih yang menyelamatkan. Sudilah memandang kami, yang bekerja dan berdoa untuk kesatuan komunitas-komunitas Kristiani yang terpecah-belah. Berilah kami pengalaman menjadi saudara dan saudari dalam kasih-Mu. Semoga kami menjadi satu, satu dalam tangan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Hari Kedua
Orang-orang Kristiani Menghadapi Perang dan Kekerasan
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)
Bacaan
Yes. 2:1-4: Mereka tidak lagi akan berlatih perang.
Mzm. 74:18-23: Janganlah pernah melupakan umat-Mu yang miskin.
1 Ptr. 2:21-25: Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah disembuhkan.
Mat. 5:38-48: Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Renungan
Perang dan kekerasan merupakan hambatan utama untuk kesatuan yang dikehendaki Allah bagi umat manusia. Dalam analisis yang terakhir, perang dan kekerasan merupakan akibat dari perpecahan tak tersembuhkan yang bercokol di dalam diri kita, dan juga merupakan akibat dari kecongkakan manusia yang menghalangi kita untuk memulihkan landasan sejati keberadaan kita.
Orang-orang Kristiani Korea ingin sekali mengakhiri perpecahan yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun antara Korea Utara dan Korea Selatan; mereka juga sangat rindu menyaksikan damai bersemi di mana-mana di seluruh dunia. Kogoncangan yang terjadi di Semenanjung Korea tidak hanya mengungkapkan kepedihan satu bangsa yang masih terpecah-belah, tetapi juga menandakan mekanisme perpecahan, permusuhan, dan balas dendam yang merongrong umat manusia.
Apa yang dapat mengakhiri rangkaian perang dan kekerasan ini? Yesus menunjukkan kepada kita kuasa yang dapat menghentikan lingkaran-setan kekerasan dan ketidakadilan bahkan dalam situasi-situasi yang paling ganas. Kepada murid-murid-Nya, yang menanggapi kekerasan dan kerusuhan dengan cara-cara yang digunakan dunia, secara paradoksal Yesus mengajarkan penolakan kekerasan (Mat. 26:51-52).
Yesus mengungkap kebenaran sejati yang ada di balik kekerasan umat manusia. Karena patuh kepada Bapa, Yesus mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian. Salib mengungkapkan paradoks dan konflik yang terkandung dalam kodrat manusia. Kematian keji yang menimpa Yesus itu merupakan awal dari suatu ciptaan baru yang memaku dosa manusia, kekerasan dan perang pada salib Yesus.
Yesus Kristus mengajarkan gerakan tanpa kekerasan yang tidak hanya berlandaskan humanisme. Ia mengajarkan pembangunan kembali ciptaan Allah; Ia juga mengajarkan harapan serta iman akan datangnya langit baru dan bumi baru. Pengharapan ini didasarkan pada kemenangan final atas kematian yang dicapai Yesus pada kayu salib; pengharapan ini mendorong kita untuk bertekun dalam mengupayakan kesatuan umat Kristiani dan dalam berjuang melawan segala bentuk perang serta kekerasan.
Doa
Ya Tuhan, Engkau telah menyerahkan diri-Mu sendiri pada kayu salib demi kesatuan seluruh umat manusia. Kami mempersembahkan kepada-Mu kodrat insani kami yang dihancurkan oleh egoisme, kesombongan, kesia-siaan, dan angkara murka. Tuhan, janganlah tinggalkan kaum tertindas yang menderita karena segala macam kekerasan, kemarahan dan kebencian, yang menjadi kurban kepercayaan yang sesat dan ideologi yang saling bertentangan. Tuhan, pandanglah kami dengan murah hati, dan perhatikanlah seluruh umat-Mu, supaya kami semua dapat menikmati damai dan sukacita yang merupakan bagian utuh dari tata ciptaan-Mu. Semoga semua orang Kristiani bekerjasama untuk mewujudkan keadilan-Mu, bukan hanya keadilan kami. Berilah kami keberanian untuk membantu sesama memanggul salib mereka, dan tidak membebankan salib kami sendiri atas bahu mereka. Tuhan, ajarkanlah kepada kami kebijaksanaan sejati supaya kami dapat memperlakukan musuh-musuh kami dengan kasih, bukan dengan kebencian. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Hari Ketiga
Orang-orang Menghadapi Ketidakadilan dan Kemiskinan Ekonomi
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu” (Yeh. 37)
Bacaan
Im. 25:8-14: Yubileum yang membebaskan.
Mzm. 146: Tuhan menegakkan keadilan bagi orang-orang yang diperas.
1 Tim. 6:9-10: Cinta uang adalah akar segala kejahatan.
Luk. 4:161-21: Yesus dan tahun yubileum sebagai pembebasan.
Renungan
Kita berdoa untuk datangnya Kerajaan Allah. Kita mendambakan suatu dunia di mana manusia, khususnya mereka yang paling papa, tidak meninggal sebelum masa yang ditentukan. Tetapi, sistem ekonomi dunia dewasa ini memperburuk situasi kaum papa dan memperparah kesenjangan sosial.
Dewasa ini komunitas dunia dihadapkan dengan krisis tenaga kerja yang semakin genting dengan segala akibatnya. Dengan demikian, pendewa-dewaan pasar (keuntungan), atau cinta uang menurut penulis Surat kepada Timotius, tampak sebagai ‘akar segala kejahatan’. Dalam konteks ini, apa yang dapat dan harus dikerjakan oleh Gereja-Gereja? Marilah kita mencermati tema yubileum dari Alkitab yang ditonjolkan Yesus untuk menggarisbawahi pelayanan-Nya.
Menurut kutipan dari Kitab Imamat, selama tahun yubileum harus dimaklumkan pembebasan; orang-orang yang terpaksa merantau karena alasan ekonomi harus dikembalikan ke rumahnya dan kepada keluarga mereka; kalau ada orang yang kehilangan segala hartanya ia harus dapat hidup di tengah masyarakat bukan sebagai orang asing. Uang tidak boleh dipinjamkan demi bunga dan makanan tidak boleh dijual demi keuntungan.
Yubileum menyiratkan suatu etika komunitas, pembebasan budak dan pengembalian mereka kepada rumah, pemulihan hak-hak keuangan dan pembebasan hutang. Bagi orang-orang yang menjadi kurban struktur masyarakat yang tidak adil, yubileum berarti pemulihan hukum dan pemulihan sarana-sarana hidup mereka.
Dalam dunia masa kini ‘banyaknya uang’ dilihat sebagai nilai tertinggi dan sebagai tujuan hidup. Prioritas-prioritas dunia masa kini hanya akan menjerumuskan kepada kematian. Sebagai Gereja, kita dipanggil untuk menghadapi situasi ini dengan menghayati bersama semangat yubileum dan dengan mengikuti Kristus, yakni menyebarluaskan kabar baik. Jikalau orang-orang Kristiani sudah mengalami penyembuhan dari perpecahan-perpecahan mereka, maka mereka akan menjadi lebih peka terhadap perpecahan-perpecahan lain, yakni perpecahan yang melukai umat manusia dan alam ciptaan.
Doa
Allah yang mahaadil, di dunia ini ada tempat-tempat yang berkelimpahan makanan, tetapi ada juga tempat-tempat di nama tidak ada cukup makanan dan di mana kelaparan serta penyakit merajalela. Allah, pangkal damai, di dunia ini ada orang-orang yang mengambil manfaat dari kekerasan dan perang, sementara ada juga orang-orang yang karena perang dan kekerasan terpaksa meninggalkan rumah dan menjadi pengungsi. Allah yang mahamurah, bantulah kami memahami bahwa kami tidak dapat hidup melulu dari uang tetapi dari sabda Allah. Bantulah kami memahami bahwa kami tidak dapat mencapai kehidupan dan kesejahteraan sejati kecuali dengan mengasihi Engkau dan mematuhi kehendak serta ajaran-Mu. Semua ini kami mohon dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.
Hari Keempat
Orang-orang Kristiani Menghadapi Krisis Ekologi
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)
Bacaan
Kej. 1:31-2:3: Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik.
Mzm. 148:1-5: Ia memberi perintah, maka semuanya tercipta.
Rm. 8:18-23: Penghancuran ciptaan.
Mat. 13:31-32: Yang paling kecil dari segala jenis benih.
Renungan
Allah menciptakan dunia kita ini dengan kebijaksanaan dan cinta; dan ketika menyelesaikan karya agung penciptaan, Allah melihat bahwa semuanya baik adanya.
Tetapi, dewasa ini dunia dihadapkan dengan suatu krisis ekologi yang serius. Bumi menderita karena pemanasan global sebagai akibat dari konsumsi energi yang berlebihan. Dalam empat puluh tahun terakhir, luas area hutan di planet kita ini telah menyusut sekitar 50% sementara padang gurun terus semakin meluas bahkan dengan lebih cepat. Tiga perempat dari makhluk yang hidup di laut sudah musnah. Setiap hari lebih dari 100 spesies kehidupan mati, dan hilangnya keragaman makhluk hidup ini merupakan ancaman yang serius bagi umat manusia sendiri. Bersama Santo Paulus kita dapat menegaskan: segala makhluk telah diserahkan kepada kuasa kehancuran, ia mengerang kesakitan seperti orang yang sakit bersalin.
Kita tidak dapat mengingkari bahwa manusia memikul tanggung jawab yang berat atas hancurnya lingkungan. Ketamakan manusia yang tak terkendali menebarkan bayang-bayang kematian atas seluruh ciptaan.
Bersama-sama, orang-orang Kristiani harus berusaha sebaik-baiknya untuk menyelamatkan alam ciptaan. Menghadapi tugas yang maha raksasa ini, mereka harus memadukan segala usaha mereka. Hanya bersama-sama mereka dapat menjaga karya Sang Pencipta. Sungguh mustahil orang tidak menangkap tempat sentral yang diduduki oleh unsur-unsur alam dalam perumpamaan dan ajaran Yesus. Kristus menunjukkan hormat yang besar bahkan kepada benih yang paling kecil dari segala benih. Dengan mengacu kepada visi biblis mengenai ciptaan, orang-orang Kristiani dapat sehati sesuara memberikan sumbangan kepada masa depan planet kita yang hari ini kita renungkan.
Doa
Allah, Pencipta kami, dunia telah Kauciptakan dengan Sabda-Mu dan Engkau melihat bahwa dunia yang Kauciptakan itu sungguh baik adanya. Tetapi dewasa ini kami sedang menyebarkan kematian dan menghancurkan lingkungan. Bantulah kami agar dapat menyesali ketamakan kami; bantulah kami merawat semua yang telah Kauciptakan. Bersama-sama, kami ingin menjaga ciptaan-Mu. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.
Hari kelima
Orang-orang Kristiani Menghadapi Diskriminasi dan Kecurigaan Sosial
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)
Bacaan
Yes. 58:6-12: Jangan menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.
Mzm. 133: 133:1 Alangkah baik dan indahnya, apabila saudara-saudara hidup bersama dengan rukun.
Gal. 3:26-29: Kamu semua satu di dalam Kristus Yesus.
Luk. 18:9-14: Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar.
Renungan
Pada awal mula, umat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah itu bersatu padu dalam tangan Allah. Tetapi, dosa menyusup ke dalam hati laki-laki dan perempuan, dan sejak itu kita membangun segala macam syak-wasangka. Diskriminasi pun dapat terjadi hanya karena perbedaan suku atau identitas etnik, karena perbedaan identitas seksual atau karena kenyataan sebagai laki-laki dan perempuan. Di tempat-tempat lain, syak-wasangka dan diskriminasi bahkan telah melekat pada agama tertentu dan melumpuhkannya, dan hal ini menjadi alasan untuk menutup diri. Semua faktor diskriminatif ini sungguh melecehkan manusia dan menjadi sumber konflik serta penderitaan yang amat besar.
Dalam pelayanan-Nya di bumi, Yesus menunjukkan diri sebagai orang yang sangat peduli terhadap martabat laki-laki dan perempuan. Ia terus-menerus menolak segala bentuk diskriminasi; Ia juga menolak kesombongan yang dimiliki oleh sejumlah rekan sezaman-Nya atas dasar sikap-sikap yang diskriminatif. Orang yang adil tidak selalu sama dengan yang kita bayangkan. Pelecehan tidak memiliki tempat dalam hati orang-orang beriman.
Mazmur 133 membandingkan suka cita yang dihayati oleh saudara dan saudari dengan indahnya minyak yang berharga atau segarnya embun yang turun dari Gunung Hermon. Kita diberi karunia untuk merasakan suka cita seperti itu setiap kali kita menyingkirkan prasangka kelompok dalam himpunan-himpunan ekumenis.
Pemulihan kesatuan seluruh umat manusia merupakan tugas perutusan semua orang Kristiani. Bersama-sama, mereka harus berjuang melawan segala bentuk diskriminasi. Pemulihan itu juga merupakan harapan bersama sebab kita semua satu di dalam Kristus, dan di sini tidak ada lagi Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan.
Doa
Ya Tuhan, tolonglah kami menyadari diskriminasi dan pengucilan yang merusak masyarakat. Arahkanlah pandangan kami dan bantulah kami menyadari prasangka-prasangka yang tersembunyi di dalam diri kami. Ajarlah kami memusnahkan segala bentuk pelecehan, dan ajarlah kami merasakan betapa senangnya hidup bersama dalam kesatuan. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Hari Keenam
Orang-orang Kristiani Menghadapi Bencana dan Penderitaan
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)
Bacaan
2 Raj. 20:1-6: Ingatlah akan daku, ya Tuhan!
Mzm. 22:1-11: Mengapa Engkau meninggalkan aku?
Yak. 5:13-15: Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit.
Mrk. 10:46-52: Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?
Renungan
Betapa seringnya Yesus berjumpa dengan orang sakit dan berkenan menyembuhkan mereka! Kesadaran akan kemurahan Tuhan kita terhadap orang sakit sangat kuat di kalangan Gereja-Gereja kita yang masih terpecah-belah ini. Orang-orang Kristiani selalu mengikuti teladan Tuhan dengan menyembuhkan orang sakit, membangun rumah sakit, balai pengobatan, mengorganisasi karya-karya pengobatan, dan mempedulikan tidak hanya jiwa tetapi juga tubuh anak-anak Allah.
Ini bukanlah tanggapan yang luar biasa; orang sehat cenderung mengandalkan kesehatannya dan lupa akan mereka yang tidak dapat ambil bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat karena sakit atau cacat. Tetapi orang sakit? Mereka barangkali merasa tersingkir dari Allah, dari kehadiran-Nya, dari berkat dan kuasa penyembuhan-Nya.
Iman Hizkia yang sangat kuat menopang dia menanggung penyakitnya. Dalam masa duka cita itu, Hizkia menemukan kata-kata untuk mengenang Allah, sumber rahmatnya. Sungguh, orang-orang yang menderita malah dapat menggunakan kata-kata dari Alkitab untuk meratap dan menggugat Allah: Mengapa Engkau meninggalkan aku? Apabila kita memiliki relasi yang tulus dengan Allah, yang dilandasi dengan bahasa kesetiaan dan bahasa syukur akan masa-masa yang membahagiakan, maka kita juga akan mampu menciptakan ruang untuk suatu bahasa yang, kalau perlu, dapat mengungkapkan duka cita, kepedihan atau kemarahan dalam doa.
Orang sakit bukanlah obyek; mereka bukan hanya sasaran perawatan. Sebaliknya, mereka adalah subyek iman; seperti para murid Yesus, mereka harus belajar dari kisah Injil Markus. Para murid ingin secepatnya melanjutkan perjalanan bersama dengan Yesus; mereka tidak peduli akan orang sakit yang ada di pinggir kerumunan orang banyak. Ketika orang sakit itu berteriak, ia dianggap menghambat perjalanan mereka. Kita biasa merawat orang sakit, tetapi tidak begitu biasa mendengarkan teriakan keras mereka; kita bahkan merasa terganggu oleh teriakan itu. Dewasa ini, barangkali mereka berteriak untuk mendapatkan obat bagi negara-negara miskin, dan hal ini menyentuh permasalahan paten dan keuntungan. Para murid yang berusaha mencegah orang buta itu agar tidak menghampiri Yesus telah menjadi utusan yang harus menyampaikan jawaban Tuhan yang agak berbeda dan penuh perhatian: Mari, Ia memanggil kamu.
Barulah ketika mengantar orang sakit kepada Yesus para murid mulai memahami apa yang dikehendaki Yesus, yakni: meluangkan waktu untuk berjumpa dengan orang sakit dan berbicara dengan mereka, menanyakan apa yang mereka kehendaki dan mereka butuhkan. Suatu komunitas-penyembuh hanya dapat berkembang kalau orang-orang sakit sungguh mengalami kehadiran Allah lewat hubungan timbal balik dengan para saudari dan saudara mereka dalam Kristus.
Doa
Ya Allah, dengarkanlah umat-Mu ketika mereka berseru kepada-Mu dalam kesakitan dan kepedihan. Semoga orang-orang yang sehat selalu mensyukuri kesehatannya, dan melayani orang-orang sakit dengan tangan terbuka dan hati penuh kasih. Ya Allah, perkenankanlah kami semua hidup dalam rahmat dan penyelenggaraan-Mu, menjadi komunitas penyembuh yang sejati, yang bersama-sama memuliakan nama-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Hari Ketujuh
Orang-orang Kristiani Menghadapi Pluralitas Agama
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu”(Yeh. 37)
Bacaan
Yes. 25:6-9: Inilah Tuhan yang kita nanti-nantikan.
Mzm. 117:1-2: Pujilah Tuhan, hai segala bangsa!
Rom. 2:12-16: Orang yang melakukan hukum Taurat akan dibenarkan.
Mrk. 7:24-30: Dengan mengatakan ini, kamu dapat pulang ke rumah dengan hati bahagia.
Renungan
Hampir setiap hari kita mendengar kekerasan di berbagai belahan dunia antara para penganut iman yang berbeda. Tetapi, kita belajar bahwa Korea merupakan tempat di mana iman yang berbeda-beda – Buddhis, Kristiani, Konfusius – pada umumnya hidup berdampingan dalam damai.
Dalam suatu madah pujian yang agung, Nabi Yesaya berbicara tentang semua air mata yang diseka dan tentang suatu pesta mewah yang dihidangkan bagi segala suku dan bangsa! Pada suatu hari, kata Nabi Yesaya, semua bangsa di bumi akan memuji Allah dan bersuka cita karena keselamatan yang Ia berikan. Tuhan yang mereka nanti-nantikan adalah tuan dari pesta abadi dalam nyanyian pujian Yesaya.
Alkisah, Yesus berjumpa dengan seorang perempuan bukan Yahudi yang meminta Dia menyembuhkan putrinya. Mula-mula Yesus tidak mau menolong dia, dengan nada sinis. Tetapi perempuan itu tidak menyerah, dengan berkata kurang lebih sebagai berikut: “anjing yang ada di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Yesus menegaskan bahwa sikap perempuan itu merupakan bagian dari perutusan-Nya kepada orang-orang Yahudi dan juga orang-orang non-Yahudi. Maka Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan janji bahwa putrinya akan sembuh.
Gereja-Gereja sungguh memiliki komitmen kepada dialog untuk mewujudkan kesatuan umat Kristiani. Pada tahun-tahun terakhir ini, dialog juga telah dikembangkan dengan umat yang menganut iman lain, khususnya para “ahliwaris Kitab” (Yudaisme, Islam). Perjumpaan dengan mereka tidak hanya memberikan pencerahan tetapi juga membantu memajukan sikap hormat dan hubungan baik antar-sesama, dan membangun damai di mana terjadi konflik. Kalau kesaksian Kristiani kita dipadukan dengan keutamaan iman akan Kristus, maka upaya kita untuk menanggulangi syak-wasangka dan konflik akan semakin efektif. Dan kalau kita dengan penuh perhatian mendengarkan sesama yang beriman lain, kita dapat mempelajari lebih banyak hal tentang betapa lapangnya kasih Allah bagi semua orang, dan betapa luas kerajaan-Nya!
Dialog antar orang-orang Kristiani hendaknya tidak menjurus kepada hilangnya identitas Kristiani tertentu tetapi kepada suka cita karena kita mematuhi doa Yesus agar kita menjadi satu, sebagaimana Ia dan Bapa adalah satu. Kesatuan tidak akan terwujud hari ini atau bahkan besok; tetapi bersama-sama, juga dengan orang-orang yang menganut iman lain, kita berjalan menuju tujuan akhir kita yakni cinta dan keselamatan.
Doa
Tuhan, Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu karena kebijaksanaan yang kami perolah dari Kitab-kitab-Mu. Berilah kami keberanian untuk membuka hati dan pikiran kami kepada sesama umat Kristiani dan bahkan kepada mereka yang menganut iman lain. Berilah kami rahmat untuk mengatasi hambatan-hambatan berupa sikap acuh tak acuh, kecurigaan atau kebencian; dan perlihatkanlah kepada kami hari-hari terakhir, ketika orang-orang Kristiani dapat berjalan bersama menuju pesta abadi, di mana segala air mata akan diseka dan semua perselisihan akan dikalahkan oleh kasih. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Hari Kedelapan
Warta Pengharapan Kristiani di Tengah Dunia yang Terpecah-belah
“agar mereka menjadi satu dalam tangan-Mu.”(Yeh. 37)
Bacaan
Yeh. 37:1-4: Aku akan membuka kubur-kuburmu.
Mzm. 104:24-34: Engkau membarui muka bumi.
Why. 21:1-5a: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!
Mat. 5:1-12: Berbahagialah kamu ...
Renungan
Aku akan menempatkan Roh-Ku di dalam tubuhmu dan kamu akan hidup. Iman yang didasarkan pada Kitab Suci dipenuhi dengan pengharapan yang radikal bahwa kata terakhir dalam sejarah adalah kata-kata Allah, dan bahwa kata terakhir yang diucapkan Allah bukanlah kata-kata penghakiman tetapi kata-kata penciptaan yang melahirkan suatu ciptaan baru. Sebagaimana terungkap dalam renungan hari-hari yang lalu, orang-orang Kristiani hidup di tengah-tengah suatu dunia yang diwarnai dengan aneka perpecahan dan pengasingan. Tetapi sikap Gereja tetaplah sikap berharap. Sikap yang selalu berharap ini tidak didasarkan pada apa yang dapat diperbuat oleh manusia, tetapi pada kuasa dan keinginan lestari Allah untuk mengubah kehancuran dan perpecahan menjadi kesatuan dan keutuhan, kebencian yang mendatangkan kematian menjadi cinta yang mendatangkan kehidupan. Bangsa Korea terus-menerus menanggung konsekuensi tragis dari perpecahan nasional, tetapi di kalangan mereka juga muncul pengharapan Kristiani yang bernyala-nyala.
Pengharapan Kristiani tetap hidup bahkan di tengah penderitaan yang amat berat sebab pengharapan itu lahir dari cinta Allah yang teguh yang diungkapkan pada salib Kristus. Pengharapan bangkit bersama dengan kebangkitan Yesus dari kubur, ketika kematian dan kuasa maut dikalahkan; pengharapan menyebar bersama dengan turunnya Roh Kudus pada Hari Pentakosta, yang membarui muka bumi. Kristus yang bangkit adalah awal dari kehidupan baru yang autentik. Kebangkitan Kristus memaklumkan berakhirnya hukum lama dan menaburkan benih-benih ciptaan baru yang abadi; di sana segala sesuatu akan didamaikan dalam Dia, dan Allah akan menjadi segala-galanya dalam segala-galanya.
Lihatlah, Aku membuat segala sesuatu menjadi baru. Pengharapan Kristiani dimulai dengan pembaruan ciptaan, sedemikian rupa sehingga terpenuhilah maksud asli dari karya penciptaan yang dilakukan oleh Allah. Dalam Kitab Wahyu 21, Allah tidak berkata ‘Aku menciptakan semua hal yang baru” tetapi “Aku membuat segala sesuatu menjadi baru.” Pengharapan Kristiani bukanlah suatu penantian panjang yang pasif akan datangnya akhir dunia tetapi keinginan yang aktif untuk terjadinya pembaruan dunia. Pembaruan ini sudah dimulai dalam peristiwa kebangkitan dan Pentakosta. Pengharapan ini bukanlah pengharapan akan datangnya puncak apokaliptik sejarah yang menghancurkan dunia kita, tetapi pengharapan akan terjadinya perubahan fundamental dan radikal dari dunia yang sudah kita kenal ini. Awal baru yang ditampilkan Allah akan mengakhiri segala dosa, perpecahan, dan keterbatasan dunia; awal baru ini juga akan mengubah ciptaan sehingga ia pantas ambil bagian dalam kemuliaan Allah dan ikut menikmati keabadian-Nya.
Pengharapan inilah yang mendorong dan menopang orang-orang Kristiani ketika mereka berhimpun untuk berdoa memohon kesatuan. Kekuatan doa untuk kesatuan ini adalah kekuatan yang datang dari pembaruan yang dikerjakan Allah terhadap dunia yang Ia ciptakan; kebijaksanaan yang mendasari doa ini adalah kebijaksanaan Roh Kudus yang menghembuskan hidup baru ke dalam tulang-tulang kering dan membuatnya hidup; ketulusan doa untuk kesatuan ini tercermin pada keterbukaan diri kita secara penuh kepada kehendak Allah, yakni keterbukaan untuk diubah menjadi alat-alat kesatuan yang dikehendaki Kristus bagi murid-murid-Nya.
Doa
Allah yang mahabaik, Engkau selalu menyertai kami di tengah-tengah penderitaan dan kekalutan; dan sampai akhir zaman Engkau tetap akan menyertai kami. Bantulah kami menjadi umat yang sungguh penuh pengharapan, yang tulus menghayati Sabda Bahagia, dan gigih mengupayakan kesatuan yang Engkau dambakan. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Link Terkait :