Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

SIMBOLISME LITURGI EKARISTI DALAM GEREJA KATOLIK
Sebuah Konsepsi dan Aplikasi Simbol

ABSTRAK

Liturgi merupakan pengalaman keimanan dan sekaligus pengalaman estetis yang mengandung unsur ritual emotional, dan memiliki tujuan kreatif yaitu pembentukan simbol, dan isi yang disimbolkan tidak lain menuju ke arah realitas, yakni kehadiran Kristus yang menyelamatkan. Pengalaman religiusitas dalam upacara liturgi ekaristi tidak hanya sebagai pengalaman filosofis atau intelektual, tetapi juga melibatkan perasaan dan tindakan manusia. Sedangkan bangunan gereja katolik sebagai rumah Tuhan merupakan bangunan sakral yang memuat pengalaman estetik, memuat tanda dan lambang alam surgawi yang mencerminkan misteri Allah dan sifat keagungan Tuhan. Ruang ibadah gereja menerapkan nilai-nilai simbolik yang sakral melalui penyediaan berbagai fasilitas ibadah, penggunaan tanda, dan perwujudan suasana ruang, baik pada zoning, dinding, lantai, plafon, jendela, perabot, dekorasi dan lain-lain. Yang mampu membawa umat pada pengalaman realitas yang dirayakan dalam liturgi.

PENDAHULUAN

            Sebuah objek menurut pendekatan semiotik Pierce, dibedakan ke dalam tiga jenis tanda, yakni indeks, ikon, dan simbol. Disebut indeks, jika obyek mempunyai kaitan langsung antara penanda dan makna (ada hubungan sebab-akibat). Disebut ikon, jika terdapat kemiripan/persamaan antara penanda dengan yang direpresentasikan. Dan disebut simbol, jika hubungan antara penanda dan makna bersifat konvensional. Penerapan model semiotik dalam kajian budaya tidak selalu meliputi ketiganya. Analisis dari bahasa ritual, mitos, seni/citra-citra artistik dan agama sebagai hasil pengalaman manusia, menggunakan pengertian simbol yang berbeda dari yang dimaksud Pierce. Masinambow (2001:34) menyebutkan simbol dalam pengertian itu bersifat konotatif dan asosiatif; didalam signified, simbol itu memuat berbagai potensi makna yang muncul secara asosiatif dalam penggunaan maupun interpretasi dari simbol tersebut. Dan untuk membaca sebuah artefak hasil budaya agama tertentu, Alex Sobur (2004:154) menjelaskan simbol-simbol keagamaan didasarkan pada suatu hubungan intrinsik antara tanda dan obyek yang diacu oleh tanda itu, baik dalam bentuk metonimi (meta [transfer]-anoma [nama]) maupun metafora (meta [transfer, melewati, melebihi], phor [menghasilkan, memuat]). Hubungan intrinsik tersebut menciptakan relasi antara perasaan dan bentuk, yang secara aplikatif dapat dilihat pada liturgi, tata ibadah, penataan interior dan fasilitas ibadah di gereja-gereja katolik.

            Ibadah dalam agama katolik merupakan kumpulan orang yang dipanggil dan dimiliki oleh Tuhan. Sifat gereja yang “Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik”, menunjukkan adanya kesatuan relasi antar anggota (interaksionisme simbolik), kesatuan iman dalam satu ikatan persatuan melalui pengakuan iman, sakramen, ibadah, liturgi dan kepemimpinan gereja. Kesatuan ini bukan keseragaman yang dipaksakan atau tidak mengindahkan kebebasan wajar gereja-gereja partikular (keuskupan). Sifat gereja “yang satu’’ menuntut suatu communio dengan gereja Roma atau sekurang-kurangnyanya tidak terpisahkan daripadanya (ex-communicatio) (Heuken,1991:345). Gereja adalah “kudus”, menyimbolkan Kristus kepalanya dan Roh Kudus yang berkarya dalam gereja memanggil umat hidup kudus ditengah-tengah dunia ini. Gereja adalah “Katolik”, karena mewartakan seluruh Injil Kristus dan terbuka bagi segala bangsa dan kebudayaan. Sedangkan gereja sebagai “Apostolik”, menuntut pewartaan dalam bahasa yang mudah dimengerti manusia abad 20 ini (Ardhi, 1993:20). Keempat sifat gereja tersebut tercermin dalam liturgi gereja katolik. Liturgi sebagai pengalaman keimanan dan sekaligus pengalaman estetis memiliki tujuan yang kreatif, yaitu pembentukan simbol, dan isi yang disimbolkan tidak lain menuju ke arah realitas, yakni kehadiran Kristus yang menyelamatkan, yang terekspresikan melalui tindakan ibadah, penataan ruang beserta fasilitas-fasilitas ibadah liturgi.
           

KONSEPSI LITURGI EKARISTI

            Liturgi (leitourgia, dalam bahasa Yunani) berarti pelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa. Martasudjita menyebutkan liturgi sebagai perayaan misteri karya penyelamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung bersama gerejaNya di dalam ikatan Roh Kudus. Liturgi merupakan pengudusan (yang dilaksanakan Allah) dan pemuliaan (yang dilakukan umat yang dikuduskan), dengan melangsungkan ibadah Kristus sebagai Imam Agung dan mengamalkan tugas pertama dari tiga tugas pokok Kristus, yaitu sebagai Raja, Guru dan Imam.

            Salah satu upacara yang terpenting adalah liturgi ekaristi (berasal dari kata Yunani eucharista, digunakan untuk arti ‘syukur’), yang diselenggarakan secara rutin setiap hari Minggu atau bahkan ada gereja yang mengadakan setiap hari. Upacara ini terutama untuk memahami sesuatu yang diperankan oleh agama dalam kehidupan masyarakat. Agama bersinggungan dengan titik kritis yang ditandai oleh sifat khusus yang menimbulkan rasa hormat yang luhur dan merupakan pengalaman religius yang suci (kata religius berhubungan dengan kata religare, bahasa Latin yang berarti mengikat, sehingga religius berarti ikatan). Jadi upacara liturgi ekaristi bukan hanya sebagai pengalaman filosofis dan intelektual semata, tetapi juga melibatkan perasaan dan tindakan manusia.

Liturgi ekaristi bersifat sakramental, dengan Kristus sebagai sakramen awal dan gereja sebagai sakramen dasar. Liturgi bukan hanya bersifat sederhana, tetapi melalui perbuatan yang ekspresif, komunikatif, kaya dan sangat kompleks, dan dalam perkembangannya yang lebih sempurna ke arah sifat-sifat karya seni. Liturgi bukan perayaan perseorangan, melainkan perayaan bersama umat Allah. Liturgi merupakan ibadah resmi gereja yang dilakukan umat kepada Tuhan, dengan menekankan pada upacara dan aktivitas kebaktian, memiliki urutan yang harus dijalankan umat secara sistematis yang telah ditetapkan secara hirarkis dan mengutamakan suasana keheningan dan kontemplasi. Dalam pelaksanaan ibadahnya telah berkembang beberapa upacara liturgi ekaristi yang menggunakan berbagai macam bahasa dan tanda-tanda ritual dalam bentuk-bentuk simbol ekspresif (seni) lainnya atau bervariasi (diferensiasi). Transformasi simbolis terjadi melalui adanya pengalaman-pengalaman yang disesuaikan dengan sosio-kultural masyarakat pendukungnya, transformasi mendalam dari nilai-nilai budaya asli yang diintegrasikan ke dalam kristianitas dan penanaman kristianitas ke dalam aneka budaya manusia yang berbeda. Transformasi ini menunjukkan bahwa gereja tidak terikat pada suatu bentuk khusus budaya manusia, gereja tidak menganggap satu corak kesenianpun sebagai khas bagi dirinya (Konstitusi Sacrosanctum Concilium art 123, dalam Prier, 1999:10). Transformasi bisa berupa perubahan bentuk (shape), rupa (appearance), kualitas (quality), atau pembawaan (nature); dengan tujuan agar umat yang mengikuti ibadah terpesona oleh lagu, doa, lambang/hiasan, upacara; karena kesemuanya dapat dimengerti; karena kesemuanya bagus menurut penilaian yang dipakai dalam hidup kebudayaan  setempat (Prier, 1999 ; 13).

Pemahaman transformasi gereja tersebut, dapat disimpulkan sebagai pertemuan yang mendalam dari dua budaya, yaitu antara iman kristiani dengan suatu bangsa yang memiliki tradisi yang khas. Didalamnya terdapat pembentukan simbol-simbol ekspresif yang disesuaikan dengan kebudayaannya, tidak mengurangi/menyimpang kaidah-kaidah gerejani, dan justru dapat menambah semangat kesadaran religiusitas umatnya. Dalam hal ini, menurut Sumandiyo (1999:319-320), kepercayaan/agama sebagai sub sistem kebudayaan menjadi simbol konstitutif yang berfungsi menjamin kesinambungan / mempertahankan pola-pola yang ada (latent pattern - maintenance) dalam sistem, sesuai dengan aturan atau norma-norma. Sedangkan seni dan bentuk-bentuk komunikasi emosional umat sebagai simbol ekspresif sebagai sub sistem dari sistem kebudayaan, berfungsi memenuhi kebutuhan pencapaian tujuan (goal attainment). Simbol ekspresif dalam aktivitas ibadah, dianggap sebagai salah satu sarana yang mengandung kekuatan (energy) dan dapat memberi umpan balik kepada agama (kegiatan pemujaan), sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

AKTIVITAS SIMBOLIS DALAM LITURGI EKARISTI
Semiotik dalam konsepnya Barthes, tentang sistem dan paradigma, disebutkan bahwa sistem merupakan suatu aturan main terhadap suatu teks, sehingga teks tersebut mempunyai makna. Sistem tak ubahnya gramatika dalam bahasa. Dan paradigma adalah varian dari elemen-elemen pembentuk sistem tersebut. Suatu sistem dapat mempunyai makna bila terdapat kecocokan pada paradigma yang digunakan (Ekomadyo, 2004:110). Dalam hal ini, tata urutan liturgi ekaristi mempunyai sistem atau gramatika yang tetap, yakni pembukaan, liturgi sabda, liturgi ekaristi, dan penutup. Susunan liturgi tersebut dilakukan berurutan dengan pimpinan Imam yang melibatkan partisipasi aktif seluruh umat. Imam memerankan Kristus, mengetuai penyerahan doa atas nama umat beriman kepada Allah. Adapun tata ibadah sebagai sub strukturnya adalah (1) pembukaan (lagu pembukaan, pemberian salam dengan kata pembukaan, pernyataan tobat dengan ‘Tuhan kasihanilah kami”, doa kemuliaan, dan doa pembukaan), (2) liturgi sabda  (bacaan I: perjanjian lama, mazmur tanggapan, bacaan II: perjanjian baru, Alleluia dengan bait pengantar Injil, bacaan III: Injil, homili, aku percaya, dan doa umat), (3) liturgi ekaristi (persembahan dan doa persembahan, doa syukur agung: prefasi yang kudus, merupakan ucapan syukur atas karya penyelamatan Allah, doa ekaristi dengan konsekrasi dan anmnese, komuni: doa Bapa Kami, salam damai, anak domba Allah dengan pemecahan hosti, menyambut komuni, syukur, doa sesudah komuni, (4) penutup (pengumuman dan doa pengutusan). Sedangkan dengan pendekatan semiotika Pierce tentang simbol, sentuhan-sentuhan estetis dalam religiusitas yaitu korban, pengakuan dan doa, merupakan interaksi simbolik yang menunjukkan hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhan, menunjukkan suatu tindakan ekspresif manusia, dan dialog Tuhan menemui umatnya (pengalaman religius ke arah Yang Transenden), menemukan jawaban dalam dialog dengan ‘yang lain’, tidak hanyanya imanen, tetapi menawarkan persatuan Tuhan dengan umatnya. Menurut Sumandiyo (1999:317), dialog tersebut dapat terjadi melalui tanda-tanda yang tampak, artinya Allah bersabda dan berkarya dalam diri manusia melalui sabda yang masuk telinga, melalui air yang membersihkan, melalui makan dan minum yakni simbol Tubuh dan Darah Kristus. Umat percaya bahwa dengan makan roti dan minum anggur menunjukkan kesatuan intim dan langsung dengan Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Alkitab, ‘Hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani’. Dan manusia menjawab dengan melakukan tindakan yang menggunakan semua indra. Tindakan tersebut antara lain: berdiri, berjalan (mengungkapkan hakikat umat Allah yang berziarah dan bergerak, duduk (melambangkan kesiapsediaan umat mendengarkan sabda Tuhan), tangan terkatub/menunduk/sikap berdoa (umat berkomunikasi dengan Tuhan), penumpangan tangan (Tuhan memberi berkat dan damai sejahtera), memuji-muji/melantunkan lagu pujian (ucapan pujian, hormat, sembah dan syukur umat kepada Tuhan), dan sebagainya. Dengan dasar “Sebab Tuhan berkenan kepada umatNya”, manusia melakukan aktivitas simbolik dengan menyatukan jiwa, roh, badan dan indra untuk memuji dan menyembah Allah.

Kedudukan dan tindakan simbol liturgi merupakan penghubung antara human kosmis dan komunikasi religius lahir dan batin, merupakan tindakan pengungkapan estetis, etis dan religius. Hal ini sesuai dengan pendapat Soren Kierkegaard (dalam Herusatoto, 2001: 13-14), yang menyatakan bahwa hidup manusia mengalami tiga tingkatan, yaitu estetis, etis dan religius. Dengan kehidupan estetis manusia mampu menangkap dunia, kemudian menuangkannya kembali dalam karya-karya seni. Dalam tingkatan etis, manusia mencoba meningkatkan kehidupan estetisnya dalam bentuk tindakan manusiawi, yaitu bertindak bebas dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada sesama. Dan akhirnya ia sadar bahwa hidup harus mempunyai tujuan. Segala tindakan dipertanggungjawabkan kepada yang lebih tinggi, Tuhan Yang Maha Esa. Tindakan manusia yang mengikuti bukan hanya masalah penonjolan keyakinan, tetapi tindakan yang kompleks, manusia tidak dapat bersikap acuh tak acuh, ia merasa berhadapan dengan Dia yang berdaulat, ia mengalami suatu metanoia (terjungkir balik), yang secara emosional mampu merombak hidupnya.

Tindakan religius tersebut merupakan ungkapan atau ekspresi manusia dalam perjumpaan dengan Tuhannya, yang didalamnya terdapat berbagai unsur ritual dan emosional (Hayon, 1986:55-56), dimana sifat keseluruhan dari manusia yang melakukan ibadah dilibatkan dalam pembentukan simbol ekspresif (seni). Jadi simbol liturgi bukanlah dalam arti kosong yang hanya memberi informasi saja sebagaimana tanda-tanda. Simbol liturgi merupakan simbol yang melaksanakan dan bahkan menghadirkan secara efektif apa yang disimbolkan (bahasa, cara mendaraskan ayat-ayat Kitab Suci, sikap badan bila berdoa, bentuk dan dekorasi tempat ibadah, merupakan ungkapan pengalaman religius yang menggunakan lambang-lambang), tidak hanya berdimensi horisontal-imanen, melainkan pula bermatra transenden, horisontal-vertikal; simbol bermatra metafisik (Daeng, 2000:82).

SIMBOLISME PADA RUANG IBADAH GEREJA KATOLIK
(Studi kasus interior gereja katolik Fransiskus Xaverius Kidulloji, Yogyakarta)

Intuisi dan penangkapan, bahkan pemahaman yang sudah jadi kerangka pandang mengenai indah yang mencerminkan estetika (pandangan, taste, rasa mengenai keindahan dan keburukan), tata itu bisa dilihat pada hasil-hasil kebudayaan yang fungsional seperti arsitektur dan interior. Ciri khas kebudayaan manusia beserta nilai-nilai moral dan intelektualnya tidak berasal dari alat-alat yang dikandungnya, melainkan dari bentuknya, dari struktur arsitekturnya. Dan fungsi simbolis dari keseluruhan bentuk arsitektural itu adalah menghidupkan tanda-tanda material dan membuatnya berbicara (tanda dan simbol masing-masing terletak pada dua bidang pembahasan yang berlainan; tanda adalah bagian dari dunia fisik, simbol adalah bagian dari dunia makna manusiawi (Cassirer, 1987: 48,54). Jadi meskipun benda mati, sebuah bangunan gereja tetap berjiwa karena hasil sentuhan manusia. Dan dari strukturnya, simbol tidak pernah tampil untuk dirinya sendiri, melainkan apa yang dilambangkan (nilainya yang tinggi terletak pada kandungan maknanya atau substansi bersama ide yang disajikannya). Simbol yang efektif adalah simbol yang memberi terang. Menurut Arnold Toynbee (dalam Dillistone, 2002:19) simbol sebagai ‘model’ harus disederhanakan dan dipertajam sehingga menjadi seperti sesuatu yang mirip peta-sketsa dari sebuah realitas yang hendak diwakili oleh simbol sebagai pemandu, sehingga kepekaan terhadap lambang-lambang merupakan syarat agar manusia sepenuhnya dapat merasakan pengalaman religius. Simbol mampu menciptakan hubungan antara perasaan dan bentuk, membukakan roh manusia kepada dimensi pengalaman estetis dan membukakan realitas tertinggi kepada dimensi makna instrinsikya. Dick Hartoko (1984:52) mengatakan, bahwa pengalaman estetik menyebabkan kita dapat menerobos kulit gejala-gejala lahiriah dan menangkap maksud yang tersembunyi di belakang gejala-gejala itu, yang membawa kita pada pengalaman religius sehingga setiap propan dapat menjadi sakral. Dalam hal ini, bangunan gereja Katolik sebagai rumah Tuhan merupakan bangunan sakral yang memuat pengalaman estetik nilai-nilai simbolik, memuat tanda dan lambang alam surgawi yang mencerminkan misteri Allah dan sifat keagungan Tuhan, yang mampu membawa kesatuan seluruh umat manusia dan menghasilkan pengalaman akan sesuatu ‘Yang Kudus’.

            Interior gereja Katolik sebagai wujud rupa elemen estetis dalam agama katolik, menampung dan mewadahi semua kegiatan ibadah liturgi. Secara simbolisme, tata ruang harus mampu membawa umat kepada realitas Ilahi dan martabat agung dari apa yang dirayakan dalam liturgi. Kristus sebagai Imam Agung dan ibadah sebagai pusat liturgi, secara aplikatif terwujud pada semua aspek penataan ruang. Salah satunya dapat dilihat dengan adanya pembagian zoning Imam Agung sebagai tempat yang Maha Kudus dan zoning umat. Pada saat umat melewati daerah panti imam/apse ini, umat harus berlutut menghormati tanda kehadiran tubuh Kristus dalam bentuk roti (hosti) yang terdapat dalam tabernakel. Hal ini sesuai dengan prinsip kesatuan dalam pembentukan liturgi, yakni tata ruang liturgi haruslah mencerminkan kesatuan umat Allah sebagai Tubuh Kristus. 

Keberadaan pemimpin liturgi dalam pembagian ruang gereja katolik Fransiskus Xaverius Kidulloji yakni di depan dengan altar (apse) sebagai pusat tempat perayaan liturgi ekaristi, sedangkan pembagian ruang untuk umat yang disebut nave mengarah pada altar utama, dengan pertimbangan prinsip tata ruang yang memperhatikan aneka fungsi dan aktivitas yang memungkinkan partisipasi aktif seluruh umat.

Tiga sirkulasi ruang yang membagi zoning umat pada bangunan gereja, berbentuk T, melambangkan dua pengertian, yakni ‘Jalan Keselamatan’, perjalanan umat menuju kerajaan Allah (dengan terapan bentuk menerus seperti hall menuju altar), dan konsep “Persatuan Umat”, kumpulan umat yang diibaratkan sebagai ‘gereja hidup’ (terlihat pada bentuk memusat dengan altar sebagai pusat komunikasi). Penataan ini melambangkan kumpulan umat Tuhan dalam perjalanan hidup (bahtera hidup) menuju kehidupan kekal (kerajaan Allah). Penerapan simbol ini bersifat figuratif, simbol selalu menunjuk kepada sesuatu di luar dirinya sendiri, sesuatu yang tingkatannya lebih tinggi (Dillistone,2002:127). Namun pada perkembangannya, pembagian zoning tidak selalu berbentuk T. Karena ruang harus mampu mewadahi jumlah umat yang relatif banyak, mengakibatkan faktor efisiensi ruang menjadi sangat penting dalam penataan kursi umat.

            Secara keseluruhan elemen pembentuk ruang (lantai, dinding, dan plafon) banyak menerapkan bentuk-bentuk geometris simetris. Bentuk geometris simetris merupakan perlambang dari kesempurnaan atau keagungan Tuhan dalam menciptakan hubungan keseimbangan dengan umatNya. Selain itu, bentuk simetris memiliki makna kestabilan, sifat yang dapat diandalkan, ketenangan, dan kekokohan, yang merupakan sifat-sifat perlindungan yang dicari oleh manusia. Pada ruang ibadah, penonjolan pola geometri pada plafon mengandung prinsip bahwa keagungan, kebesaran dan penghormatan kepada Yang Maha Kuasa memegang peranan utama. Struktur plafon menuju ke atas, berorientasi vertikal, melambangkan perwujudan bangunan gereja sebagai rumah Tuhan (makna penghayatan kepada Yang Di Atas). Plafon yang tinggi juga membantu dalam penciptaan suasana keagungan dan sirkulasi udara.

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Kiri: menuju area imam, bawahnya : menuju area entrance. Struktur bentuk ruang gereja secara keseluruhan menggambarkan alfa dan omega (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani). Melambangkan Allah sebagai awal dan akhir, asal dan tujuansegala sesuatu yang ada, dan ke-Ilahi-an Yesus Kristus sebagai Tuhan atas alam semesta dan segala zaman. Proporsi yang balance antara tinggi plafon dengan lebar / panjang ruang, serta bentuk dan pembagian ruangyang simetris, melambangkan hubungan kesatuan yang seimbang antara umat dengan Tuhan dan umat dengan umat lainnya (konsep hubungan vertikal-horisontal yang selaras, harmoni dan seimbang). (Foto: Dokumentasi penulis, 2006).



 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Kiri: pola plafon pada area umat mengarah ke bentuk kerucut, menuju ke atas, Yang Ilahi. Pola segi empat memberi kesan kestabilan, dipertegas dengan perulangan garis lurus. Kanan: Plafon yang tinggi dengan pola polos di area narthex (dekat pintumasuk). (Foto: Dokumentasi penulis, 2006).

Upaya peninggian lantai di panti imam dilakukan dengan tujuan dapat menunjang fungsi atau kegiatan yang terjadi dalam ruang dan memberi karakter yang dapat memperjelas sifat ruang. Peninggian lantai ini digunakan untuk menciptakan perbedaan daerah teritorial panti imam (Imam Agung yang Maha Kudus) dan panti umat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Kiri: peninggian lantai memperjelas perbedaan area imam dan area umat, menghadirkan hirarki arah yang intrinsik. Kanan : bentuk pola geometris berbentuk bintang pada lantai di area sirkulasi umat menyimbolkan bintang Tuhan yang menuntun / membimbing manusia menuju Jalan Keselamatan.

Penempatan perulangan pola secara keseluruhan di lantai memperkuat area umat yang simetris. (Foto : Dokumentasi penulis, 2006).

Dinding merupakan elemen pembatas antara daerah sakral dan propan. Dinding depan panti imam terdapat triumphal arch, menyebabkan adanya arah hirarki yang intrinsik, menunjukkan Imam sebagai pusat ibadah. Pada dinding ini juga terdapat salib yang besar, dominan, dan penempatannya sangat sentral. Salib merupakan simbol yang dihormati semua orang Kristen, dan karena sifatnya yang sangat simbolis sebagai lambang pengorbanan jiwa dan raga Kristus, maka harus berhati-hati dan jangan sampai kehilangan maknanya ketika diulang-ulang dalam penerapannya di semua aspek interior gereja.

Di atas salib, terdapat lukisan kaca (rosewindow) dengan bentuk dasar geometrik lingkaran dan pola bintang, menyimbolkan kekekalan dan Kristus pusat alam semesta. Di lingkaran tidak ada awal dan akhir, sehingga bintang dalam lingkaran, menyimbolkan terang Tuhan yang kekal, memperkuat simbol area Imam Agung yang kudus. Di bawah salib terdapat tabernakel berwarna kuning emas, untuk menyimpan Sakramen Maha Kudus, memiliki makna kemah atau tenda suci. Makna ini dilatarbelakangi oleh kisah perjanjian lama mengenai Tabut Perjanjian yang dibawa bangsa Israel menuju Kanaan. Tabut selalu diletakkan dalam ruang Maha Suci, dalam Kemah Yahwe yang menandakan kehadiranNya.

Berlawanan arah dengan dinding panti imam (di area narthex), terdapat stained glass dengan gambar orang kudus, merangsang penghormatan umat kepada Allah melalui tokoh tersebut. Di area ini diletakkan bejana air suci, mengambil konsep dari perjanjian lama yakni sebelum masuk bait Allah harus menyucikan diri. Sedangkan dinding di sebelah kanan kiri terdapat 14 salib yang telah diberkati, didampingi dengan visualisasi lukisan yang melambangkan Jalan Salib. Perhentian Jalan Salib digunakan untuk ibadah Jalan Salib, yaitu salah satu bentuk devosi kepada kesengsaraan Yesus. Devosi kepada salib ditujukan untuk mengingatkan umat tentang penyaliban Yesus di bukit Golgota. Devosi kepada penyaliban ini sesungguhnya dimaksudkan untuk tindakan penebusan oleh Allah, yang merupakan ungkapan simbolis untuk pengalaman tentang apa yang menyangkut diri kita pada akhirnya (Dillistone, 2002:127). Perhentian Jalan Salib ini biasanya ditempatkan di sisi area umat (aisle) yaitu pada dinding-dindingnya.

Selain aspek fisik ruang, cahaya yang menembus dari lukisan kaca dan jendela di semua dinding gereja, membantu penciptaan suasana keagungan dalam ruang. Cahaya merupakan lambang rahmat Tuhan yang menembus kefanaan hidup manusia dan meneranginya dengan terang Ilahi. Mengingatkan manusia (dalam Perjanjian Baru) tentang hubungan secara langsung Allah dengan tiga pengalaman manusia : Allah adalah Roh, Allah adalah Kasih, Allah adalah Terang. Dalam alam raya objektif matahari adalah simbol pusat, sumber terang dan hidup bagi manusia, sehingga cahaya yang masuk ke dalam ruang ibadah gereja dapat diartikan sebagai simbol kehadiran Kristus sebagai terang dunia, menghalau kegelapan di dunia, menyiratkan harapan dan kebangkitan. Menurut Dillistone (2002: 62-63), terang mampu menghasilkan suatu efek yang gaib, misterius dan keramat. Terang dapat mengisyaratkan, bahkan menunjuk kepada, suatu sumber transenden atau kepada sifat meresapi yang imanen, mengingatkan tentang pernyataanNya yang dramatis ‘Aku adalah terang dunia’, menunjuk kepada sifat dasar perutusan Yesus dan kepada arti penting hidup, wafat dan kebangkitanNya. Pendapat ini memperjelas bahwa simbol matahari yang memancarkan sinar-sinarnya merupakan simbol yang paling mengena untuk menyampaikan ajaran tentang Allah Tritunggal.


 

 

 

Gambar 4. Sepanjang dinding di area umat, terdapat 14 lukisan dan salib, sebagai simbol Jalan Salib, mengingatkan umat tentang kesengsaraan Yesus. Kolom berderet sejaj

 

Gambar 5. Lukisan kaca sebagai unsur dekoratif dan patung Maria-bayi Yesus, sebagai simbol orang Kudus, merangsang penghormatan umat kepada Allah melalui tokoh tersebut (Foto : Dokumentasi penulis, 2006).

Fasilitas ibadah yang terdapat pada panti imam antara lain altar, mimbar, sedilia (tempat duduk imam, para prodiakon paroki, misdinar dan konselebran), kredens, tabernakel (tempat sakramen Maha Kudus), dan lampu Tuhan. Altar utama merupakan pusat seluruh gedung gereja, berupa meja besar untuk mengadakan upacara ekaristi dan kegiatan liturgi lainnya. Di sini diletakkan roti, anggur, bejana-bejana suci, dan buku-buku ibadat kudus.
Altar lebih tinggi dari panti umat, selain untuk memudahkan umat melihat dan mengikuti jalannya upacara, juga mengingatkan umat kepada bukit Kalvari. Altar sebagai meja perjamuan (perjamuan pada hakekatnya merupakan perayaan kenangan, puji syukur dan harapan), juga mengingatkan kepada umat tentang perjamuan terakhir Yesus dengan murid-muridNya. Di atasnya terdapat buku liturgi, roti dan anggur (bila diadakan ekaristi), salib, lilin, kadang-kadang karangan bunga. Salib mengingatkan umat pada Yesus Kristus yang telah mengorbankan diriNya. Lilin lebih merupakan simbol daripada alat penerangan, yaitu simbol Kristus sebagai terang dunia yang hadir di antara umatNya, karya ilahi di dunia ini. Sedangkan mimbar adalah tempat membacakan bacaan kitab suci (perjanjian lama, surat rasul atau epistola dan injil), berkotbah, pembacaan mazmur, pembacaan doa umat dan pengumuman. Selain itu, terdapat lampu Tuhan yang merupakan lampu suci berwarna merah yang terus menyala dekat tabernakel sebagai tanda bahwa didalamnya tersimpan sakramen Maha Kudus, dan sebutan lampu Tuhan melambangkan Tuhan hadir dalam sakramen tersebut.

 

Gambar 6. Kiri : altar gereja sebagai pusat dalam ruang. Tampak relief di depan altar mengingatkan umat tentang perjamuan Yesus bersama murid-muridNya. Lilin di atas altar merupakan simbol dari firman Tuhan ‘Akulah Terang Dunia’. Dua lilin mewakili naturNya sebagai manusia dan Allah. Kanan : mimbar khusus untuk membacakan sabda Tuhan. Tampak di depan mimbar terdapat ukiran orang-orang kudus. (Foto : Dokumentasi penulis, 2006)

Selain hal-hal tersebut di atas, warna juga berperan untuk mendukung fungsi-fungsi liturgisnya. Penggunaan warna liturgi menyesuaikan kalender liturgi (kesesuaian antara makna dengan peristiwa liturgi), antara lain kuning menyimbolkan kemuliaan, kemenangan dan kegembiraan, merah melambangkan Roh Kudus, darah, api, cinta kasih, pengorbanan dan kekuatan, putih mengungkapkan kegembiraan dan kesucian, ungu mengungkapkan tobat, duka dan mati raga, hijau melambangkan harapan, syukur dan kesuburan, hitam mengungkapkan kesedihan dan berkabung. Penggunaan warna-warna tersebut pada interior gereja mampu memberikan kesan dan makna yang berbeda bagi umat, mampu menyebabkan sikap pasif dan aktif manusia di dalamnya. Warna-warna khusus memiliki kekuatan yang mempengaruhi (impuls). Tenaga impuls tertinggi dimiliki oleh oranye, kuning, merah, hijau dan merah lembayung. Warna tersebut merupakan warna hangat yang memberi impuls untuk berpengaruh aktif, merangsang dan mungkin menggelisahkan. Tenaga impuls terkecil dimiliki oleh biru, biru kehijauan dan ungu (warna dingin dan pasif). Warna ini memberi efek menenangkan dan merohanikan (Neufert, 1996:33), sehingga umat dapat beribadah dengan kidmat.

 

Gambar 7. Kiri : kursi umat, mewadahi aktivitas simbolik umat, duduk dan berlutut, mengambil sikap doa, dll. Kanan : stilasi pola struktur salib Yunani (semua sisi sama panjang) sebagai elemen dekoratif pada kursi umat. Salib merupakan lambang pengorbanan jiwa dan raga Kristus demi umat manusia. (Foto : Dokumentasi penulis, 2006).

SIMPULAN

Upacara liturgi ekaristi bukan hanya sebagai pengalaman filosofis dan intelektual semata, tetapi melibatkan pengalaman keimanan dan sekaligus pengalaman estetis yang memiliki tujuan kreatif, yaitu pembentukan simbol, dan isi yang disimbolkan tidak lain menuju ke arah realitas, yakni kehadiran Kristus yang menyelamatkan, yang terekspresikan melalui tindakan ibadah, penataan ruang beserta fasilitas-fasilitas ibadah liturgi. Simbol liturgi merupakan simbol yang melaksanakan dan bahkan menghadirkan secara efektif apa yang disimbolkan, mampu menciptakan hubungan antara perasaan dan bentuk yang membawa manusia kepada dimensi pengalaman estetis dan membukakan realitas tertinggi kepada dimensi makna instrinsikya. Nilainya yang tinggi terletak pada kandungan maknanya atau substansi bersama ide yang disajikannya. Dalam hal ini, bangunan gereja Katolik sebagai rumah Tuhan merupakan bangunan sakral yang memuat pengalaman estetik, memuat tanda dan lambang alam surgawi yang mencerminkan misteri Allah dan sifat keagungan Tuhan. Sehingga secara simbolisme, tata ruang harus mampu membawa umat kepada realitas ilahi dan martabat agung dari apa yang dirayakan dalam liturgi dan mencerminkan kesatuan umat Allah sebagai Tubuh Kristus.

REFERENSI

  • Ardhi, FX, 1993, Arti Gereja, Kanisius, Yogyakarta
  • Cassirer, Ernst, 1987, Manusia dan Kebudayaan, Gramedia, Jakarta.
  • Daeng, Hans. J., 2000, Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
  • Dillistone, F.W., 2002, The Power Of Symbols, Kanisius, Yogyakarta.
  • Ekomadyo, Agus Suharjono, 2004, Naskah Jawa-Arsitektur Jawa : Pendekatan Semiotika Dalam Kajian Terhadap Arsitektur Di Indonesia, Wastu Lanas Grafika, Surabaya.
  • Hartoko, Dick, 1984, Manusia dan Seni, Kanisius, Yogyakarta.
  • Hayon, Niko, 1986, Ekaristi : Perayaan Keselamatan Dalam Bentuk Tanda, Nusa Indah, Ende. Flores.
  • Herusatoto, Budiono, 2001, Simbolisme Dalam Budaya Jawa, PT. Hanindita Graha Widia, Yogyakarta.
  • Heuken, S.J., Adolf, 1991, Ensiklopedia Gereja Jilid A-G, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.
  • Martasudjita, E., 1998, Memahami Simbol-simbol Dalam Liturgi : Dasar Teologi Liturgis, Makna Simbol, Pakaian, Warna, Ruang, Tahun, dan Musik Liturgi, Kanisius, Yogyakarta.
  • Masinambow, E.K.M., 2001, Semiotik Mengkaji Tanda Dalam Artifak, Balai Pustaka, Jakarta.
  • Neufert, 1996, Data Arsitek, Erlangga, Jakarta.
  • Prier, Karl-Edmund, 1999, Inkulturasi Musik Liturgi, Pusat Musik Liturgi, Yogyakarta.
  • Sumandiyo, Y., Mei 1999, Pembentukan Simbol Ekspresif Dalam Upacara Liturgi Ekaristi Berlatar Budaya Jawa, Jurnal SENI, VI/04, ISI, Yogyakarta.
  • Sobur, Alex, 2004, Semiotika
Laksmi Kusuma Wardani
Dosen Jurusan Desain Interior - Fakultas Seni dan Desain
Universitas Kristen Petra Surabaya

 

 

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/