Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXIV/A/2011

Sir 27:30-28:9  Rm 14:7-9  Mat 18:21-35

PENGANTAR
          Injil Matius yang akan kita dengarkan hari ini (Mat 18:21-35) menunjukkan keharusan adanya penyesalan, lebih tepat pertobatan, dan kesediaan untuk berkali-kali saling memaafkan atau mengampuni, bila kita ingin disebut orang kristiani sejati. Dua masalah diajukan kepada kita: 1. Pertanyaan Petrus kepada Yesus: berapa kali kita memaafkan sesama kita yang berbuat tidak baik (berdosa) terhadap kita (ay. 21-22). 2. Jawaban Yesus: pengampunan tidak mengenal batas (ay.22), dan diterangkan-Nya dengan perumpamaan tentang seorang hamba, yang tidak kenal ampun maupun belaskasihan (ay.23-24).

HOMILI
          Sangat menarik, bahwa Yesus tidak menjawab pertanyaan Petrus berapa kali orang harus memaafkan sesamanya, melainkan bagaimana seharusnya sikap orang yang bersalah/berdosa maupun orang yang memaafkan/mengampuni. Dalam perumpamaan itu hamba pertama merasa takut, tak berharga dan rendah ketika ia menghadap dan mohon kesabaran si raja. Tetapi sesudah diampuni oleh raja, ia dapat menemukan kembali kekuatannya, tetapi lalu menuntut pembayaran kembali hutang hamba lain sebagai rekannya. Apabila rekannya ini tidak dapat mengembalikan hutang-nya, yang jauh lebih kecil dari pada hutangnya sendiri, akan dimasukkannya ke dalam penjara.

Bukankah demikian pula sebenarnya sikap kita terhadap sesama kita? Bagaimana sifat pengampunan kita terhadap mereka, yang kita anggap telah berbuat jahat terhadap diri kita? – Pada akhir perumpamaan itu kesimpulan yang diberikan Injil adalah kata-kata Yesus ini: “Demikianlah Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak meng-ampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (ay.35). Yesus mengingatkan kita, bahwa Allah Bapa-Nya akan menunjukkan sikap yang sama terhadap siapapun, seperti sikap si raja terhadap hambanya yang tak tahu berbelaskasihan.

          Maka timbullah pertanyaan: apakah sebenarnya yang disebut pengampunan? Pengampunan mengandaikan sesuatu yang harus diampuni/ dimaafkan. Bisa kecil bisa besar, pendek kata ada orang yang berbuat tidak baik terhadap diri kita. Menurut kata aslinya pengampunan berarti me-nyingkirkan atau membuang jauh-jauh. Mengampuni/memaafkan berarti tidak terpengaruh lagi oleh sesuatu yang tidak baik, yang pernah dialami. Kemarahan, rasa dendam atau benci dilupakan! Maka Yesus menuntut dari murid-murid-Nya pengampunan tanpa batas. Nah, kita akui bahwa mengampuni atau berbelaskasihan tanpa batas kepada sesama ternyata bukanlah hal yang mudah!

          Pengampunan tidak berarti bahwa kita segera langsung sudah berdamai, sudah terlaksana rekonsiliasi. Namun, bila ada niat baik mulailah adanya suatu proses penyembuhan, yang menolong kita untuk menyingkirkan rasa dendam atau benci. Bila kita tidak mengikuti nasihat Yesus tentang pengampunan, maka sungguh besar implikasi atau akibatnya untuk hidup kita baik sekarang maupun hidup yang akan datang. Tahukah dan sadarkah kita, bahwa nasib keselamatan abadi kita kelak dinodai, dihambat, dan sangat dirugikan oleh ketidakmampuan kita untuk saling memaafkan/mengampuni selama masih hidup di bumi kita ini?

          Karena itu sungguh bagus apa yang dikatakan oleh Sirakh dalam bacaan pertama (Sir 27:30-28:9). Antara lain dikatakan: “Dendam kesumat dan amarah sangat mengerikan, dan orang berdosalah yang dikuasanya. Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan.Tuhan dengan seksa-ma memperhitungkan segala dosanya. Ampunilah kesalahan sesama, maka niscaya dosa-dosamu akan dhapus juga” (27:30-28:1-2)

Yesus telah mendirikan Gereja-Nya untuk meneruskan karya keselatan-Nya. Yesus datang menyatukan semua umat manusia, Ia telah merobohkan tembok-tembok segala bentuk perpisahan antar sesama. Maka marilah kita semua sebagai anggotanya, baik di antara kita sendiri maupun dengan siapapun lainnya, baik dalam hubungan maupun pergaulan dalam keluarga dan lingkungan sesama, ikut memupuk dan menghayati semangat dan jiwa pengampunan satu sama lain. Rasa dendam dan benci melumpuhkan semangat hidup kita. Tetapi pengampunan dan rekonsiliasi satu sama lain adalah sumber damai dan kebahagiaan sejati Kerajaan Allah di bumi kita ini.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/