Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU ADVEN II/B/2017

Yes 40:1-5.9-11; 2 Pt 3:8-14; Mrk 1:1-8;

PENGANTAR
    Untuk Minggu Adven II ini Injil Markus menampilkan Yohanes Pembaptis sebagai seorang tokoh nabi, dan sebagai model seorang pribadi yang mempunyai sikap-dasar kehidupannya menurut kehendak Tuhan. Yohanes Pemandi adalah seorang pribadi yang sederhana, tidak berbelit-belit, dan terus terang, dan "to the point". Perlu kita mengenal Yohanes Pemandi sebagai tokoh model pribadi orang yang jujur, terbuka terhadap sabda Allah, menghayatinya serta meneruskannya kepada sesama.

HOMILI
    Sangat menarik, bahwa baik Yohanes Pemandi maupun Yesus sendiri pun, mengalami kehidupan di padang gurun. Apakah sebenarnya makna gambaran atau pengertian alkitabiah tentang padang gurun? Padang gurun dalam Kitab Suci dipakai sebagai tempat, di mana kita dapat mendengarkan dan menerima lebih jelas suara atau sabda Allah, untuk menemukan jalan-jalan baru yang benar dan tepat dalam hidup kita. Memang padang gurun dapat mempunyai dua arti yang berlainan, namun berkaitan satu sama lain.

    Sepintas lalu padang gurun memberi kesan sebagai tanah liar, belantara, tidak berpenduduk, panas dan serba kering. Tetapi bagi pengertian Ibrani atau Yahudi padang gurun juga mempunyai makna rohani sebagai tempat suci, di mana sabda Allah tidak dihalangi oleh apapun, sabda-Nya dapat didengarkan dan dihayati sepenuhnya. Dengan demikian kita dapat pergi ke padang gurun untuk mendengarkan sabda Allah secara bebas dan murni.

    Di padang gurun para nabi dapat merasa berada dan bertemu dengan Allah, dapat merasa mampu memahami kehendak-Nya. Di sana mereka dapat merasakan kebaikan Allah, tetapi juga keprihatinan-Nya, namun juga kasih dan belaskasihan-Nya. Inilah yang disebut keterbukaan suasana padang gurun menurut Kitab Suci.

    Yohanes Pembaptis adalah nabi Adven. Ia tampil sebagai seorang nabi, yang mewartakan dan mempersiapkan Almasih: Yesus Kristus! Kita di masa Adven di zaman kita sekarang ini juga dipanggil untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus. Secara simbolis kita hendaknya bersedia memasuki padang gurun dalam masyarakat kita. Bukan pertama-tama mempersiapkan perayaan besar-besaran serba mewah dan membanggakan, tetapi lebih berarti untuk secara sungguh-sungguh mempersiapan dan membuka hati kita, untuk mendengarkan dan menjumpai Allah, seperti dilakukan Yohanes Pemandi dan Yesus di padang gurun.

    Pengalaman Yohanes Pemandi di padang gurun sangat otentik dan efektif. Artinya, apa yang diwartakan dan apa yang dihajati dalam hidupnya adalah identik, satu dan sama, tidak berbeda. Keberanian dan kesungguhan keyakinan Yohanes Pemandi atas kebenaran, yang diwartakannya kepada semua orang termasuk kepada Kepala Negara, terbukti dalam pengorbanan hidupnya sendiri, yaitu sampai dibunuh dengan dipenggal kepalanya atas perintah Raja Herodes Antipas.

    Di dalam masyarakat di tengah dunia dewasa ini yang makin maju, makin kompleks dan menantang, kita perlu juga memasuki dunia padang gurun rohani. Di dunia ini makin banyak munculnya ketidakcocokan dan perbedaan, bahkan pertentangan antara suara hati dan hidup serta tindakan kita. Penghayatan hidup kita sering bertentangan dengan ajaran iman kita! Adanya perbedaan bahkan pertentangan kita saksikan sendiri juga di dalam masyarakat kita dan di dunia dewasa ini: di bidang agama, pilitik, ekonomi, sosial, budaya dengan pelbagai bentuknya. Itulah keramaian dan keributan masyarakat kita di dunia kita ini. Bukankah sambil mengalami semua itu kita alami sendiri, bahwa kerapkali kata, pikiran dan perbuatan kita sebagai umat seiman tidak sama, bahkan sering saling bertentangan? Pengertian dan pandangan kita tentang apa yang benar, yang baik, yang wajar, terpengaruh oleh situasi dan kondisi di mana kita berada. Kesediaan memaafkan, kepekaan terhadap kebutuhan orang lain, rasa gotong royong dan kebajikan-kebajikan lain di tengah keramaian masyarakat dunia kita sekarang ini makin berkurang.

    Kita sungguh membutuhkan padang gurun rohani. Para nabi, termasuk Yohanes Pemandi memberi pelajaran kepada kita untuk menghindari dan menghilangkan sikap batin atau sikap hati yang rangkap atau palsu, untuk bersikap dan berbuat dengan bermuka rangkap atau mempunyai dua wajah. Jangan sampai ada perbedaan di dalam diri kita, yaitu diantara yang dalam hati kita yang tidak tampak dan dalam perbuatan kita yang tampak!

    Yohanes Pembaptis menegaskan : Aku bukan Mesias. "Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak!". Tetapi ia diutus untuk menyiapkan kedatangan-Nya. Kita pun sekarang diutus di padang gurun ikut menyiapkan kedatangan Yesus Mesias kepada diri kita. Bukan di padang gurun di Palestina atau di wilayah Sinai yang luas. Tetapi di padang gurun kecil, yaitu di tengah kesibukan hidup dan pekerjaan kita sehari-hari. Marilah di tengah kehidupan sehari-hari itu kita tetap mendengarkan Allah yang bersabda kepada kita, menunjukkan arah perjalanan hidup kita, dan membimbing kita mendekati hati Yesus, yang kedatangan-Nya sangat kita rindukan. Amin.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/