Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA VII/A/2020

Im 19:1-2.17-18; 1 Kor 3:16-23; Mat 5:38-48;

PENGANTAR
    Dalam Bacaan pertama tertulis : "Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus. Janganlah membenci saudaramu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Akulah Allah" (Im 19:2.18). Sementara itu dalam Bacaan kedua Paulus menegaskan, bahwa kita ini dalam Kristus adalah Bait Allah. "Kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah" ( Kor 3:23). Perintah Yesus dalam Injil agar kita saling mengasihi berlaku bukan hanya di tengah keluarga, komunitas, rekan-rekan dan sahabat, namun bahkan juga terhadap musuh-musuh kita. Dalam perayaan Ekaristi ini marilah kita merenungkan makna perintah kasih tanpa batas, yang diperitahkan Yesus kepada kita.

HOMILI    

    Dalam Bacaan pertama tertulis: "Kuduslah kamu, sebab Aku,Tuhan Allahmu, kudus. Janganlah membenci saudaramu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Akulah Allah" (Im 19:2.18). Nah, di sini tampaklah tujuan setiap manusia sebagai ciptaan Allah, yaitu bahwa manusia dipanggil menjadi kudus.

    Menurut Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, intisari tujuan hidup manusia sejati ialah kekudusan. Dengan demikian menurut Kitab Suci, begitulah keadaan dan kehidupan yang harus berlangsung di dalam Gereja, sebagai umat Allah, yang didirikan Kristus sampai akhir zaman. Manusia diciptakan menurut citra Allah. Karena Allah adalah kudus, maka manusia juga harus kudus. Segenap hidup manusia harus menyerupakan gambaran dan menjadi alat untuk menampakkan kekudusan ilahi dalam kehidupan diri pribadinya itu.

    Kekudusan Alah itu adalah sabda Allah, yang hadir dalam hati kita bagaikan api yang harus selalu menyala. Api sabda Allah itulah yang harus menghancurkan kejahatan dalam diri kita dalam segala bentuknya. Sabda Allah itu harus mengubah cara dan daya pikiran, sikap dan perbuatan (atau mindset and attitude) hidup kita.

    Dalam kasih-Nya yang kudus inilah Allah telah menciptakan kita. Kasih Allah itu merupakan kekudusan-Nya. Karena itu kekudusan-Nya itulah yang harus menjiwai seluruh hubungan kita dengan sesama dalam keluarga, dalam hidup dan tugas kita masing-masing. Dengan berbuat baik kepada sesama atas dasar kasih seperti Allah, maka kita mengambil bagian dari kekudusan-Nya! Tetapi sebaliknya, kita yang diciptakan menurut citra tidak mungkin menjadi kudus, tidak mungkin akan serupa dengan Allah apabila kita tidak mengasihi sesama, siapapun orang itu juga. Bahkan meskipun kita banyak beribadat, banyak berdoa, rajin mengikuti perayaan Ekaristi, juga mengadakan ziarah ke mana pun juga, namun apabila tidak dilaksanakan atas dasar kasih, maka semua itu tidak akan membuat kita menjadi kudus.

    Dalam situasi dan kondisi masyarakat kita, di pelbagai bidang kehidupan dan perbuatan, kita dapat menilai adanya atau tidak adanya kekudusan di kalangan warganya. Ketenteraman, damai sejahtera, kerjasama, sikap saling memahami, menghargai dan mengasihi, itulah yang merupakan bukti tentang adanya gejala kekudusan di antara warga masyarakat. Sebaliknya apabila dalam masyarakat terjadi banyak pertentangan, kerusuhan, kekerasan antar pelbagai golongan atau kelompok, adanya ketidakadilan, korupsi, kemiskinan, dan kejahatan lain, di situ tidak ada kekudusan. Bahkan justru juga di kalangan hal agama, terdapat pertentangan. Semua itu bertentangan dengan pengertian tentang kekudusan. Keyakinan apapun yang tidak berlandasan pada kekudusan Allah yang merupakan ungkapan kasih merupakan ungkapan agama palsu.

    Salah satu masalah besar yang harus diatasi oleh kalangan semua warga masyarakat atau lembaga-lembaga resmi Pemerintah ialah kejahatan korupsi. Semua orang harus menyadarkan diri bahwa adanya korupsi, pertentangan agama dan sebagainya, pada dasarnya disebabkan oleh tidak atau belum adanya pengertian tentang hubungan antara manusia dengan Allah seperti semestinya. Setiap agama apapun macam dan bentuknya, tetapi ajarannya dengan benar tidak dihayati, tidak akan membawa kita ke dalam hubungan yang benar dan baik dengan Allah.

    Kekurangan dasar yang menyebabkannya ialah bahwa kita tidak sadar, bahwa kita harus menjadi kudus atau menjadi suci. Kita kerapkali kurang serius dalam usaha menjadi kudus seperti dikehendaki Allah sendiri. Padahal seperti diajarkan Kitab Suci kekudusan kristiani harus terungkap di dalam kesungguhan kasih kita kpada Allah namun sekaligus kepada sesama. Kesungguhan kekudusan kita sebagai orang kristiani harus dan hanya otentik, apabila segenap sikap dan penghayatan hidup kita sungguh terungkap dalam sikap dan pelaksanaan kasih.

    Kekerasan, kebencian, rasa dendam, tidak sudi memaafkan atau mengampuni, bahkan perbuatan yang tampaknya baik, seperti mmberi derma, bahkan banyak berdoa dan beribadat,- semuanya itu bukan merupakan bukti atau tanda kekudusan yang benar, apabila tidak timbul dan dilakukan atas dorongan kasih sejati. Bukan banyaknya doa lahiriah maupun jumlah derma materiil kita akan dipakai Tuhan sebagai ukuran kesungguhan kasih kita sebagai orang yang kudus! Hanya hati yang kudus akan sungguh dapat mengasihi dan memberikan derma atau bantuan yang berkenan kepada-Nya. Kasih yang kudus merupakan senjata kita paling berdaya untuk mengatasi segala kesulitan. Tuhan bersabda : "Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus!"

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/