Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XV/C/2019

Ul 30:10-14; Kol 1:15-20; Luk 10:25-37;

PENGANTAR
    Sekarang ini, 20 abad sesudah Yesus mendirikan Gereja-Nya, kita sebagai umat kristiani diingatkan kembali akan suatu masalah penting, yang akan kita dengar kembali dalam Injil Lukas (10: 25-37). Pada dasarnya, masalahnya ialah bahwa kita harus mengasihi "sesama" manusia. Dalam Injil Lukas hari ini, marilah kita berusaha memahami apa yang disampaikan oleh seorang Yahudi kepada Yesus ini : "Siapakah sesamaku manusia?". Sekarang inidalam 20 abad kemudian, pertanyaan tentang istilah "sesamaku" itu tetap aktual dan relevan bagi kita semua.

HOMILI
    Dalam ceritera Injil Lukas hari ini, Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli TauratYahudi tentang kasih terhadap "sesama". Yesus mengadakan suatu perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati. Dalam masyarakat Yahudi waktu itu ada perbedaan pendapat mengenai siapakah sebenarnya dapat disebut sesama sebagai warga Israel. Pada umumnya orang yang dianggap sebagai "sesama" ialah warga Yahudi setanah air, atau seorang warga negara lain namun sudah menjadi warga Yahudi.Tetapi bagi Yesus kategori "sesama" bersifat universal, bukan khusus, partikulir atau bersyarat. Pandangan tentang sesama bukan dilihat dari segi hubungan keluarga, etnis, suku, agama, melainkan dari segi humanitas atau kemanusiaan. Karena itu musuh atau lawan kita pun adalah sesama kita juga! Tetapi dalam kenyataannya orang-orang Yahudi "tidak bergaul dengan orang Samaria" (Yoh 4:9). Orang Samaria adalah penduduk pendatang dari luar negeri, bukanlah orang Yahudi.

    Dalam perumpamaan itu Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa kasih kita kepada sesama tidak boleh hanya universal saja, tetapi harus nyata dihayati secara kongkret. Bagaimana perilaku orang Samaritan dalam perumpamaan itu? Seandainya ia tidak ambil pusing ataupun acuh tak acuh dan melewatinya saja, bukankah sikapnya itu sangat memalukan? Tetapi bukan demikianlah sikap orang Samaria itu. Ia justru langsung menolong dan berusaha menyelamatkan si korban, membawanya ke tempat di mana ia dapat dilayani. Bahkan ia bersedia akan membayarnya lagi apabila ada kelebihan beaya yang harus dilunasi.

    Pelajaran baru apakah yang ingin disampaikan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya dalam perumpamaan ini? Pelajaran baru itu bukan hanya berarti bahwa kita harus melaksanakan kasih universal secara nyata. Ada kelebihannya. Pelajaran Yesus yang baru itu telah diungkapkan-Nya dengan mengajukan suatu pertanyaan kepada ahli Taurat : "Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini (yaitu seorang imam, seorang Lewi dan seorang Samaria) adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Ternyata Yesus menyampaikan kepada kitasuatu pandangan baru tentang sesama, bukan bertentangan dengannya melainkan untuk melengkapinya. Artinya, janganlah kita menunggu dahulu sampai sesama kita yang menderita itu menjumpai kita, atau mungkin kebetulan berjumpa. Kita harus selalu siap mengenal atau mencari "sesama" kita itu! Kita semua terpanggil menjadi sesama dan berbuat bagi sesama. Bukan hanya menunggu! Apalagi acuh tak acuh terhadap keadaan sesama!

    Masalah tentang "sesama" yang diajukan oleh ahli Taurat itu dibalik oleh Yesus! Suatu masalah yang abstrak dan ibaratnya terlalu akademis, diubah menjadi suatu masalah nyata yang hidup dan kongkret. Karena itu pertanyaan yang harus kita hadapi dan kita jawab bukankah "Siapakah sesamaku?", melainkan "Di sini dan sekarang ini, aku ini adalah sesama dari siapa?"

    Dalam bukunya yang berjudul "Yesus dari Nasaret"Paus Emeritus Benediktus XVI menggambarkan Benua Afrika sebagai seorang yang menderita, yang dirampok, dilukai dan dibiarkan menderita di tepi jalan. Penduduk Afrikalah tentang memandang bangsa-bangsa di Benua Utara (Eropa dan Amerika) yang penuh kekayaan, namun bersikap dan bertindak hanya sebagai orang yang lewat saja, atau bahkan ada yang merampok hasil alam Afrika.

    Bagi kita semua di Indonesia, perumpamaan ini dapat kita pakai juga untuk secara tulus dan jujur melihat keadaan bangsa kita sekarang ini. Pertanyaan kita sebagai umat kristiani "Siapakah sesamaku?" Apabila pertanyaan itu disampaikan kepada Yesus, kiranya Yesus akan menjawab : "Sesamamu bukan hanya keluargamu sendiri, bukan hanya sesama umat kristiani, baik Katolik maupun Protestan, maupun kaum Muslim, Budha atau Hindu, tetapi juga orang-orang yang kaya maupun yang miskin".

    Inilah pengertian kristiani yang benar tentang sesama dan tentang kasih universal. Namun demi keutuhan pelaksanaannya, kita masih harus menambahkan pengertian yang mutlak perlu ini. Yaitu yang paling penting bukanlah mengetahui siapakah sesamaku, melainkan mengetahui dan menyadari siapakah aku ini, di sini dan sekarang ini? Aku ini sesama dari siapa, sehingga aku dapat menjadi orang Samaritan yang baik.

    Pengertian kristiani tentang sesama ini berlaku bagi siapapun, tetapi dalam pelaksanaannya kita harus sadar akan kekristenan kita, dan menggunakan sarana-sarana yang tersedia bagi kita. Khususnya dalam hidup keagamaan, terutama dalam perayaan Ekaristi, kita semua harus sungguh merasa, bahwa kita adalah sungguh sesama,sebab kita ini semua bersatu dalam Kristus yang satu dan sama, dan kita sambut bersama di dalam penerimaan Ekaristi. Menerima Ekaristi, namun tidak menyadari diri untuk bertindak sebagai sesama terhadap orang lain, itu berarti kita menipu diri kita sendiri, bukan seperti orang Samaria yang baik hati.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/