Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XVI/C/2019

Kej 18:1-10a; Kol 1:24-28; Luk 10:38-42;

PENGANTAR
    Menurut Injil Lukas, ketika Yesus mengunjungi keluarga Marta dan Maria, keduanya menyambut-Nya sepenuhnya. Marta langsung sibuk sekali melayani Yesus, sementara Maria justru hanya duduk untuk mendengarkan sabda-Nya. Kata-kata Yesus yang disampaikan kepada Marta dan Maria akan kita renungkan dalam perayaan Ekaristi ini. "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya" (Luk 10:41-42).

HOMILI
    Injil Lukas yang kita dengarkan hari ini memang pendek dan sederhana, tetapi apabila dibaca dan didengarkan sebagai sabda Allah kepada kita, ternyata di dalamnya tersimpan suatu sabda yang sangat fundamental untuk hidup kita. Di dalamnya tersimpan suatu nasihat yang amat berguna bagi kita, yang kini hidup di dunia zaman sekarang, yang terus berkembang dan penuh kesibukan. Tanpa kita sadari, semua kesibukan kita itu terutama ditujukan kepada hal-hal yang tampak, yang bersifat jasmani, yang materiil, untuk kepentingan raga, namun kurang atau nyaris demi kepentingan rohani, kepentingan jiwa kita. Marilah kita belajar dari Marta dan Maria, dua wanita yang dalam Injil hari ini bertemu dengan Yesus.

    Kita semua ini sedang menempuh perjalanan hidup sehari-hari. Dalam Injil hari ini Lukas berceritera, bahwa Yesus sedang berada pula dalam perjalanan menuju Yerusalem untuk melaksanakan tugas perutusan-Nya. Ketika tiba di kampung Betania, ia singgah di rumah Marta dan Maria. Ketika menerima kedatangan Yesus itu ternyata cara sambutan keduanya perempuan itu berbeda. Marta sangat sibuk berjerih payah menyediakan apapun, yang menurut adat istiadat merupakan yang terbaik untuk menyambut seorang tamu. Sementara itu Maria hanya duduk di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan sabda-Nya.

    Dalam ceritera pendek itu terungkap suatu pesan, bahwa kita selama hidup atau selama "berada dalam perjalanan", tidak boleh bersikap acuh tak acuh terhadap keperluan dan kebutuhan hidup kita, tetapi juga berarti bahwa kita ini janganlah terus-menerus sibuk dengan secara berkesudahan! Dengan bahasa gerejawi atau secara rohaniah dapat ditegaskan, bahwa Yesus dalam kata-kata-Nya kepada Maria tidak mau menunjukkan pertentangan antara aktif dan kontemplatif (secara sederhana : kerja dan doa). Ia hanya mau menunjukkan tekanan khusus faktor masing-masing, yaitu doa dan kerja, namun sekaligus juga perlunya kombinasi atau gabungan antar keduanya, yaitu apa yang rohani dan yang jasmani.

    Karena manusia ialah ciptaan Allah, ia tidak dapat menentukan dirinya sendiri, maka ia tidak boleh total menyibukkan diri dalam kegiatan, kerja, aktivisme. Demi keutuhan dan kemampuannya, manusia membutuhkan waktu tenang untuk dirinya sendiri, yaitu dalam pergaulannya dengan Allah. Bukan hanya berbuat demikian tanpa henti, melainkan juga untuk mengumpulkan kekuatan lagi agar dapat mengabdi Allah dalam pengabdian kepada sesama.

    Karena hidup kita ini adalah suatu perjalanan, maka kita harus menyediakan waktu untuk istirahat, tetapi sekaligus untuk memeriksa arah perjalanan yang kita tempuh, agar dapat melanjutkannya dengan semangat baru dan kepastian harapan. Kita harus mau dan berani menghentikan kegiatan (aksi) untuk memasuki doa (kontemplasi). Semangat dan isi doa atau kontemplasi inilah yang harus menjiwai segenap kegiatan. Hanya kegiatan yang dijiwai dengan hubungan dengan Allah, adalah kegiatan yang utuh dan paling sempurna. Bila latar kegiatan kita, apapun wujudnya, tiada hubungannya dengan Allah, melulu menurut perhitungan sendiri dan demi kepentingan sendiri, kegiatan itu tidak berkenan kepada Allah. Sebab bukan merupakan pengabdian kepada-Nya, melainkan pengabdian kepada diri sendiri. Bukankah kegiatan/aktivitas apapun bentuknya serupa itu di hadapan Tuhan merupakan suatu penghayatan hidup keagamaan/religius yang palsu?

    Maria yang hanya duduk pada kaki Yesus dibenarkan oleh-Nya. Tidak berarti bahwa Maria harus melulu berdoa atau berkontemplasi saja! Jikalau demikian, bukankah kata-kata pujian-Nya kepada Maria juga bertentangan dengan apa yang dikatakan dan dilakukan Yesus sendiri dalam hidup-Nya? Yesus selalu giat dan sibuk, tetapi tidak pernah lepas dari hubungan-Nya dengan Allah Bapa-Nya. Ia mencari waktu untuk berdoa! Sebenarnya Yesus membenarkan dan memuji hati Maria, karena jiwanya siap sedia dan membuka diri sepenuhnya kepada-Nya, ketika Ia mau datang dan bersabda kepadanya!

    Apa pesan Injil hari ini kepada kita? Kita ini sedang dalam perjalanan hidup! Suatu perjalanan kita kepada Allah. Maka kita harus selalu melihat dan men-dengarkan sabda-Nya. Bukan hanya untuk tinggal demikan saja, yaitu dalam kontemplasi / doa saja, melainkan sambil secara tetap berhubungan dengan Allah, kita justru mau melanjutkan perjalanan hidup kita, yaitu bekerja dan melak-sanakan kegiatan pengabdian kepada sesama. Itulah sebenarnya yang dilakukan oleh Yesus sendiri dalam perjalanan hidup-Nya. Justru dalam hubungan-Nya (kontemplasi-Nya) dengan Allah Bapa yang mengutus-Nya, Ia menempuh bagian terakhir hidupNya di Yerusalem untuk dihukum, menderita dan disalib untuk menyelamatkan kita. Itulah kesatuan antara kontemplasi dan aksi Yesus yang paling sempurna dan merupakan model kombinasi kontemplasi dan aksi yang utuh. Aksi dan kontemplasi tak terpisahkan. Hidup yang hanya mementingkan aksi, bukan sekaligus berlandasan pada kontemplasi adalah suatu kegagalan.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/