Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXII/C/2019 - HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

Sir 3:17-18.20.28-29; Ibr 12:18-19.22-24a; Luk 14:1.7-14;

PENGANTAR
    Gereja Katolik Indonesia hari ini mau meningkatkan pengertian umatnya tentang Kitab Suci (KS) untuk dapat menghayati hidup kristiani sejati. St. Hironimus yang menerjemahkan Kitab Suci asli ke dalam bahasa Latin menegaskan, bahwa kita tidak dapat mengenal apalagi mengikuti Yesus Kristus Penyelamat kita, yang telah menentukan sikap, sabda dan perberbuatan-Nya untuk menebus kita. Berpegang pada keyakinan tersebut, marilah kita hari ini dalam perayaan Earisti ini, mendengarkan KS dengan mengikuti Injil Luk 14:1.7-14. Terutama dalam perayaan Ekaristi, sebagai perjamuan makan, Yesus sendirilah yang berbicara menyapa kita, agar kita sungguh dapat menghargai KS dan dalam perjumpamaan kita dengan Kristus, kita sungguh menjadi umat kristiani sejati.

HOMILI
    Perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus tentang perjamuan makan dengan seorang Farisi, yang berkedudukan penting, ternyata sangat penting pula untuk kita dewasa ini. Ceritera tentang perjamuan ini hanya terdapat dalam Injil Lukas, yang sering disebut sebagai Injil kerahiman.

    Yesus menunjukkan pandangan dan sikap-Nya terhadap orang miskin dan orang kaya. Yesus berada dalam perjamuan makan di rumah orang Farisi yang penting. Yesus memperhatikan keadaan,gaya dan tingkah laku tuan rumah maupun tamu-tamu undangan. Apa sebenarnya intisari ceritera Injil Lukas hari ini? Inti perumpumaan itu sanga mendalam!

    1. Ajaran Yesus pertama. Bagi orang yang kaya, berkuasa dan merasa "benar", sangat sukar untuk bersikap rendah hati terbuka terhadap Tuhan. Ia penuh percaya akan diri sendiri, akan milik, milik, kehebatan dan keamanannya. Padahal satu-satunya keamanan dan kepastiannya sebagai manusia harus berlandanan pada hubungan persahabatan dan pengabdiannya kepada Allah. Dengan kata lain, kedudukannya sebagai pelayan terhadap Allah dan sesama manusia menurut teladan Yesus dari Nasaret. Mengangkat diri demi kepentingan diri belaka bertentangan dengan panggilannya sebagai makhluk Tuhan. Kekayaan bukanlah kejahatan, adalah baik dan berguna, namun bukan hanya untuk diri sendiri. Ada risiko menjadi orang kaya: serba puas namun menjadi arogan, sombong dan lupa akan Allah dan sesama.

    2. Ajaran Yesus kedua dalama Injil Lukas hari ini: Orang terbiasa dan dianggap sebagai normal untuk mengundang orang-orang, yang diharapkan akan membalas mengundang kembali, dengan aneka upaya supaya mereka mengundang kembali, dengan aneka cara apapun. Yesus memutarbalikkan norma itu! Sebaliknya, undanglah mereka yang tidak pernah diundang! Undanglah orang miskin dan mereka yang hidup di tepi masyarakat! Justru undanglah mereka yang tidak dapat diharapkan akan mampu membalas atau memberikan kembali sesuatu apapun!

    Ajaran Yesus itui merupakan "Etiket Yesus", seperti dihidangkan dalam Injil Lukas hari ini. Sebagai tuan rumah kita dapat menggembirakan tamu-tamu kita, ramah tamah, penuh prsaudaraan. Namun menurut Injil Lukas (14:12-14) etiket penerimaan tamu tidak boleh disertai, diganggu atau disalahgunakan dengan mengharapkan akan dibalas dengan cara apapun, kecuali sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa kasih tamu undangan. Menurut Injil Lukas, Yesus justru terutama mengundang untuk datang di Kerajaan-Nya orang-orang, yang tidak punya milik maupun kedudukan penting dalam masyarakat!

    Allah adalah tuan rumah kita terakhir, dan kita harus sungguh bersikap sebagai tamu-tamu, yang tidak menuntut, tidak mengajukan syarat-syarat, tidak mengharapan balasan dari siapapun. Orang-orang yang jujur sudah mampu membaca empat golongan dalam masyarakat, yang disebut dalam Injil Lukas ini: "orang miskin, catat, lumpuh dan buta". Mereka itu ada di zaman Yesus, tetapi sekarang pun kia mengenal mereka di dalam masyarakat kita, di negara kita Indonesia yang sudah merdeka selama 74 tahun.

    Maria, Bunda Yesus pun menyebut mereka itu dalam kidung "Magnificat" (Luk 1:46-55). Tetapi terutama Yesus sendiri pada awal penampilan-Nya di depan masyarakat langsung menyebut orang-orang, yang diundang-Nya masuk ke dalam perjamuan makan Kerajaan-Nya, yaitu "orang-orang tawanan, orang-orang buta, orang-orang tertindas" (lih. Luk 4:16-30).

    Inilah pesan Injil hari ini kepada kita: Kita harus makin tahu, makin memahami serta menyadari, bahwa Yesus memang datang untuk mencari dan menyelamatkan kaum miskin, dan menyingkirkan orang-orang arogan, yang tanpa sadar berlaku angkuh terhadap Tuhan, Allahnya.

    Hari Kamis lalu, 26 Agustus 2010 adalah hari kelahiran ke 100 Santa Teresa dari Kalkuta di India. Dalam mengikuti atau meneladani jejak Yesus, St.Teresa itu dalam hidupnya menyelenggarakan "Etiket Perjamuan Yesus". Ia memahami dan berusaha melaksanakan etiket undangan Yesus seperti diperkenalkan oleh Lukas, untuk mengundang orang-orang miskin di Kalkuta, India, yang sebagai negara adalah yang terbesar jumlah penduduknya yang miskin di dunia ini. Bukankah itupun adalah tugas Gereja kita di Indonesia? Ajaran, perintah dan pelaksanaan kesejahteraan kaum miskin adalah tuntutan mutlak kebudayaan kemanusiaan, khususnya menurut ajaran Yesus Kristus,Tuhan kita!

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/