Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXIV/A/2017

Sir 27:30-28:9; Rom 14:7-9; Mat 18:21-35;

PENGANTAR
    Pesan Yesus dalam Injil Matius hari ini (Mat 18:21-35) menunjukkan adanya kesediaan, untuk berkali-kali saling mengampuni atau memaafkan, apabila kita ingin disebut orang kristiani sejati. Petrus bertanya kepada Yesus : berapa kali kita harus memaafkan sesama kita yang berbuat tidak baik terhadap kita (ay. 21). Dan Yesus menjawab, bahwa pengampunan tidak mengenal batas (ay.22). Dan diterangkan-Nya dengan perumpamaan tentang seorang hamba, yang diampuni kesalahannya, tetapi sayang ia sebaliknya tidak mengenal ampun maupun belas kasihan (ay.23-30).

HOMILI
    Intisari atau jawaban pokok Yesus kepada pertanyaan Petrus, pada dasarnya bukan mengenai jumlah atau waktu berapa kali orang harus memaafkan sesamanya, melainkan lebih tentang bagaimana seharusnya sikap kita terhadap sesama sebagai orang yang saling bersalah atau berdosa maupun orang yang saling mengampuni. Dalam perumpamaan itu hamba pertama merasa takut, tak berharga dan sangat rendah ketika ia menghadap dan mohon kesabaran rajanya. Tetapi sesudah diampuni oleh raja, ia dapat menemukan kembali kekuatannya. Namun, justru menuntut pembayaran kembali hutang hamba lain rekannya, yang kecil jumlah hutangnya. Apabila rekannya ini tidak dapat mengembalikan hutangnya, yang jauh lebih kecil dari pada hutangnya sendiri, dan memasukkannya ke dalam penjara.

    Bukankah kerapkali demikian pula sebenarnya sikap kita terhadap sesama kita? Bagaimana sifat pengampunan kita terhadap mereka, yang kita anggap telah berbuat jahat terhadap diri kita?

    Pada akhir perumpamaan itu Yesus berkata: "Maka Bapa-Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu" (ay.35). Yesus mengingatkan kita, bahwa Allah Bapa-Nya akan menunjukkan sikap yang sama terhadap siapapun, seperti sikap si raja terhadap hambanya yang tak tahu berbelas kasihan.

    Kita akan bertanya : Apakah sebenarnya yang disebut pengampunan? Pengampunan mengandaikan sesuatu yang harus diampuni atau dimaafkan. Bisa hal kecil bisa hal besar, pendek kata ada orang yang berbuat tidak baik terhadap diri kita. Mengampuni atau memaafkan berarti tidak terpengaruh lagi oleh hal-hal tidak baik, yang pernah dialami. Marah, rasa dendam atau benci harus dilupakan! Maka Yesus menuntut dari murid-murid-Nya suatu pengampunan tanpa batas. Tetapi di dalam pengalaman hidup kita, kita akui bahwa mengampuni atau berbelas kasihan tanpa batas kepada sesama ternyata bukanlah hal yang mudah!

    Pengampunan tidak berarti bahwa kita segera langsung dapat berda-mai. Bukan juga berarti segera terlaksana suatu rekonsiliasi. Akan tetapi apabila ada niat baik, akan terjadi adanya suatu proses penyembuhan, yang menolong kita untuk menyingkirkan rasa marah, dendam atau benci. Jikalau kita tidak mengikuti nasihat Yesus tentang pengampunan, maka sungguh besarlah implikasi atau akibatnya buruk untuk hidup kita, baik sekarang maupun dalam hidup kita yang akan datang. Tahukah dan sadarkah kita, bahwa nasib keselamatan abadi kita kelak dinodai, dihambat, dan sangat dirugikan oleh ketidakmampuan kita untuk saling memaafkan atau mengampuni selama kita masih hidup di bumi ini?

    Sangat pentinglah nasihat yang diberikan oleh Sirakh dalam bacaan pertama hari ini (lih. Sir 27:30-28:9). Antara lain dikatakan: "Dendam kesumat dan amarah sangat mengerikan, dan orang berdosalah yang dikuasanya. Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Tuhan dengan seksama memperhitungkan segala dosanya. Ampunilah kesalahan sesama, maka niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga".

    Yesus telah mendirikan Gereja-Nya untuk meneruskan karya kesela-tan-Nya. Yesus datang menyatukan semua umat manusia. Ia telah merobohkan tembok-tembok segala bentuk perpisahan yang ada di antara sesama. Maka marilah kita semua sebagai anggota Gereja-Nya baik di antara kita sendiri, tetapi juga dengan siapapun lainnya, ikut memupuk dan menghayati semangat dan jiwa pengampunan satu sama lain. Rasa dendam dan benci melumpuhkan semangat hidup kita. Sebaliknya pengampunan dan rekonsiliasi satu sama lain adalah sumber damai dan kebahagiaan sejati di dalam Kerajaan Allah yang telah dirikan Yesus Kristus di bumi kita ini.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/