Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXV/C/2019

Am 8:4-7; 1 Tim 2:1-8; Luk 16:10-13;

PENGANTAR
    Uang merupakan salah satu godaan atau tantangan terbesar bagi kita manusia. Sebagai yang terbesar di antara kekuasaan dan daya selera manusia. Karena itulah mengapa Yesus menegaskan tuntutan-Nya, yang tak dapat ditolak dan ditolak. Karena itulah mengapa Yesus bersabda : "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (ay. 13).

HOMILI
    Uang atau harta merupakan salah satu di antara godaan atau tantangan bagi manusia; yang terbesar di samping kekuasaan dan hawa nafsunya. Itulah sebabnya Yesus menyatakan sebagai tuntutan aau perintah-Nya yang mutlak dan tak dapat ditawar maupun dihindari. Karena itu pada dasarnya setiap orang, siapa, kapan dan bagaimana pun harus mengambil dan menentukan sikap prinsipiil terhadap dilemma atau paradoks hidup kita itu secara utuh, bukan hanya selama hidup kita sekarang ini, maupun untuk hidup kekal kita kelak.

    Kita harus menentukan : memilih Tuhan atau Mamon. Artinya memilih antara Allah atau berhala, kerinduan akan Allah atau nafsu akan milik harta, sikap hidup dasar beragama kristiani atau memilih mengikuti materialisme. Allah adalah satu dan satu-satunya. Kecuali atau di samping Dia tidak ada nilai tertinggi apapun! Hidup sejati apakah itu memulaikan Allah atau menyembahkan berhala apapun atau siapapun! Manusia itu adalah memiliki Allah Tuhan, ataukah dimiliki atau dikuasai oleh harta! Kita sebagai manusia harus menomorsatukan atau mengutamakan ekonomi ataukah sungguh hidup beragama secara utuh, yakni dalam hidup baik, dalam sikap, kata dan perbuatan.

    Hidup kita berupa mengabdi Allah ataukah lebih mengabdi harta? Dalam hal ini kita jangan tersesat dalam pandangan atau pemikiran. Perintah atau tuntutan Yesus mengenai harta sungguh bukan hanya ditujukan kepada orang-orang kaya, sebab di kalangan kaum miskin juga banyak orang, yang pikiran dan keinginan juga lebih tertuju kepada harta atau uang, yang pikiran dan keinginan mereka bersikar sekitar harta lebih tegang daripada kaum kaya. Mengapa? Karena yang dimaksudkan Yesus ialah hal atau masalah mengenai mentalitas.

    Orang-orang Farisi berpendapat total berbeda. Ajaran Yesus justru dianggap pasebagai pandangan yang naif dan fanatic. Menurut mereka apa yang dikatakan Yesus adalah bukti pandangan orang yang tidak mengenal dunia dan orang-orangnya. Harta atau uang menguasai dan memerintah dunia kita dan sangat mempengaruhi pengaruh masyarakat. Karena itu kaum Farisi berpendapat, bahwa menjauhkan diri dari Mamon (harta) demi Allah merupakan ideal orang yang sangat naif atau bodoh. Orang Farisi melihat di balik tabir kehidupan manusia. Mereka hidup rangkap. Artinya, mereka ingin hidup serba menyenangkan, dan untuk itu dibutuhkan harta atau uang. Namun, sekaligus mereka ingin supaya dinilai dan dianggap sebagai orang-orang yang saleh dan sungguh beragama. Bahkan mereka minta supaya untuk penghayatan keagamaannya mereka minta diberi gaji, dan dengan demikian dalam menghayati keagamaan itu mereka dapat menggali uang.

    Itu berarti menyalahgunakan Allah untuk pengabdian kepada mamon. Begitulah kebijakan kaum Farisi! Itulah sebaliknya yang total tidak dikehendaki Yesus. Tuhan mengenal hati kita, yang mengenal apa yang baik, tetapi juga apa yang tidak baik atau jahat. Bila kita kita sungguh mau hidup sebagai orang yang sungguh beragama kristiani, kita harus tahu dan mau hidup dan bertindak menurut apa yang diajarkan dan dilaksanakan sendiri oleh Yesus. Dan apa yang diajarkan-Nya kepada kita adalah mutlak, tidak dapat kita tawar menurut mammon, khususnya mengenai harta. Sikap kita terhadap kehendak Allah ialah mengambil keputusan; ya atau tidak, dan tidak ada jalan tengah.

    Perlu kita tahu dan sadar, bahwa pada dasarnya Tuhan tidak menganggap harta, uang atau kekayaan. Kekayaan adalah anugerah Allah dan Ia menganugerahkannya kepada umat-Nya sesuai dengan kehendaknya. Tuhan memberi kekayaan kepada umat-Nya bukan hanya untuk dipakai mutlak untuk diri sendiri sebagai hak milik secara eksklusif atau secara mutlak. Kekayaan atau harta diberikan kepada kita untuk ikut meneruskan dan melaksanakan belaskasih-Nya kepada orang-orang lain. Hidup dan berusaha untuk memperoleh harta bukanlah perbuatan yang jahat atau keliru, yaitu hanya demi kepentingan diri sendiri, melainkan justru untuk dapat ikut melaksanakan perintah Allah untuk menolong sesame yang miskin atau tidak berharta.

    Hanya dengan demikianlah kita sungguh mencintai dan melaksanakan kehendak Allah dan bukan menyembah mammon dan dikuasainya dalam hidup kita.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/