Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXVII/B/2018

Kej 2:18-24; Ibr 2:9-11; Mrk 10:2-16;

PENGANTAR
    Dalam pertemuan kita bersama untuk merayakan Ekaristi ini, Gereja mengajak kita merenungkan makna salah satu dari tujuh sakramen yang diselenggarakan Kristus bagi umat-Nya, yaitu sakramen perkawinan. Isi ajaran pokok yang disampaikan Yesus kepada semua orang ialah : "Apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia!". Yesus mengajarkan kepada kita, khususnya dalam hidup berkeluarga, bahwa di mana ada kesatuan, di situ tiada perpisahan.

HOMILI
    Sejak dahulu sampai sekarang ajaran Yesus tentang sakramen perkawinan tetap sama : "Apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia!" Kesatuan suami isteri dalam perkawinan sudah berlaku dalam Perjanjian Lama (Bacaan I). Secara simbolis dan sederhana dikisahkan siapakah sebenarnya makhluk yang disebut perempuan. Adam sebagai orang laki-laki pertama berkata : "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki". Dan selanjutnya : "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kej 3,23-24).

    Dalam Kitab Kejadian itu diwartakan kepada kita, bahwa Allah pada dasarnya adalah kasih. Karena kasih pada dasarnya tidak bersifat statis, hanya tersimpan dalam dirinya sendiri, egosentris, melainkan disampaikan kepada orang lain. Karena itu Allah tidak mau sendirian, maka Ia menciptakan alam semesta. Dan akhirnya di dalam alam semesta itu Ia menciptakan manusia, yaitu Adam. Namun Ia juga tidak menghendaki Adam hanya seorang diri saja, yang menerima kasih-Nya. Maka Allah juga menciptakan manusia lain, yaitu Hawa sebagai teman hidupnya, yang akan juga menerima kasih-Nya.

    Untuk menekankan unsur hakiki kesatuan sebagai teman hidup bersama, maka digambarkan seolah-olah perempuan itui diambil dari tulang rusuk laki-laki. Secara alkitabiah ingin ditegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sebagai makhluk Allah adalah sepadan nilai pribadi masing-masing. Dan mereka itu juga semartabat di hadapan Allah, namun senilai dan semartabat pula kasih laki-laki dan perempuan satu sama lain sebagai teman hidup bersama dengan setia.

    Apa yang dalam ajaran intinya sudah terdapat dalam Perjanjian Lama, yaitu nilai hidup bersama laki-laki dan perempuan atas dasar kasih, diajarkan dan diteguhkan Yesus dalam Perjanjian Baru. Yesus mengajarkan dan menghayati ajaran-Nya itu dengan kasih-Nya sepanjang hidup dan perbuatan-Nya.

  Memang, Yesus tidak menikah, tidak hidup berkeluarga. Mengapa? Sebab Ia tidak mau membatasi kasih khusus-Nya kepada hanya satu orang saja. Kasih-Nya yang murni mutlak tertuju kepada semua orang yang dikasihi-Nya. Surat kepada Orang Ibrani (Bacaan II) menunjukkan kepada kita kasih Yesus yang utuh dan tulus sampai mati kepada semua orang. Dan dalam suratnya kepada umat di Efese Paulus secara simbolis menegaskan, bahwa Gereja, yaitu kita semua sebagai umat-Nya, disebut sebagai mempelai-Nya, yang dikasihi-Nya sepenuhnya (lih. Ef 5:22-33). Karena itu, kasih Kristus yang utuh dan penuh kepada umat-Nya,itulah yang harus menjadi lambang kasih pemersatu perkawinan sejati umat kristiani.

   Apa pesan Injil Markus yang ingin disampaikan kepada kita tentang perkawinan? Suatu perkawinan jangan dilihat dan dihargai pertama-tama dalam pelaksanaan upacaranya yang serba indah dan agung, atau hanya dalam peresmian perjanjian di dalam Gereja, dan di depan instansi sipil, maupun dalam resepsi meriah sesudahnya. Semua itu adalah baik! Namun yang paling utama ialah sikap dasar kesungguhan dan kesetiaan kedua pribadi yang bersangkutan sebagai mempelai untuk sungguh saling menghasihi di hadapan Tuhan.

    "Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Mrk 10:9). Memang perjanjian resmi antar manusia dapat dibatalkan. Namun janji setia dalam perkawinan di hadapan Tuhan justru harus memperkuat dan mempersatukan salih kasih suami isteri untuk selamanya. Mungkinkah itu?

    Betapa perlunya bagi setap orang untuk selalu mengenal dan meneguhkan diri sebagai orang yang tulus dan setia! Mutlak perlu calon-calon teman hidup bersama saling mengenal dengan baik. Hanya dengan kejujuran dan kesetiaan kepada Tuhan, kita ini akan mampu jujur dan setia juga kepada sesama, khususnya kepada calon teman hidup bersama. Menurut Kitab Suci, istilah untuk "menjadi satu daging", artinya ialah bahwa kesatuan kedua teman hidup, hanya mungkin apabila ada kejujuran dan kesetiaan satu sama lain. Sebaliknya, betapa pahit dan sedihnya apabila keduanya dipisahkan satu dari yang lain.

    Dalam Gereja, perkawinan kristiani juga disebut sebagai "Gereja domestik", Gereja rumah tangga. Seperti Gereja adalah tanda atau sakramen kasih Allah, demikian pula perkawinan sebagai "gereja kecil" adalah tanda atau sakramen kasih Kristus. Suami, isteri dan anak-anak dalam pergaulan sehari-hari memperlihatkan wajah kasih Kristus. Hendaknya suami isteri dan anak-anak saling memperhatikan. Tuhan sungguh hadir apabila di dalam keluarga ada kerukunan, kesatuan, kesetiaan, saling pengertian, dan kasih di antara segenap anggotanya.

    Ilmu pengetahuan dewasa ini telah menciptakan sarana-sarana komunikasi modern. Namun jangan sampai alat-alat modern itu justru menyingkirkan hubungan atau relasi antar pribadi yang terdekat satu sama lain. Utamakanlah pergaulan antara sesama dalam keluarga langsung secara pribadi dalam keluarga, dan bukan lewat benda atau alat. Kasih suami isteri dan anak-anak dalam perkawinan hanya terjamin, apabila ada kesediaan saling menerima dan memberi seperti Kristus.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/