Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXXII/B/2018

1 Raj 17:10-16; Ibr 9:24-28; Mrk 12:38-44;

PENGANTAR
    Di dalam pertemuan kita bersama untuk merayakan Ekaristi ini, Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memperkenalkan kepada kita dua orang janda yang memang miskin, namun dalam keterbatasan kondisi hidup mereka, keduanya menghayati hidup mereka penuh harapan akan kebaikan Tuhan. Marilah kita dengan hati terbuka berusaha memahami pesan Kitab Suci kepada kita tentang kemurahan hati Allah dan berusaha menghayatinya dengan teladan kedua janda itu.

HOMILI
    Elia adalahseorang nabi, yang dalam hidup dan tugas panggilannya selalu berhubungan dengan Allah. Sebagai nabi ia pergi ke sebuah tempat, bernama Sarfat yang berarti "tempat percobaan". Dan penduduknya hidup anti Allah, anti Yahwe. Besarlah risiko yang dihadapi Elia pergi ke Sarfat, namun ia pergi ke sana untuk melaksanakan tugasnya, yakni mengingatkan penduduknya akan Yahwe, yang akan mengadili mereka sesuai dengan hidup dan perbuatan mereka.

    Tetapi di Sarfat ada juga seorang janda yang sangat miskin, sangat berkekurangan. Namun Elia minta kepadanya mencarikan air dan roti bagi dirinya. Janda itu mendengarkan dan melaksanakan perintah Elia, seperti Elia sendiri juga bersedia mendengarkan dan melaksanakan perintah Allah untuk melaksanakan tugas panggilannya sebagai nabi. Janda itu yakin dalam hatinya, bahwa Allah pasti akan memberikan kepada Elia, kepada dirinya sendiri dan kepada anaknya apa yang dibutuhkan untuk hidup mereka!

    Ternyata seperti Allah menggunakan Elia untuk menjaga dan meneguhkan kebutuhan hidup si janda dan anaknya begitu juga berkat kesediaaan dan kemurahan hati si janda, Allah meneguhkan kepercayaan dan kekuatan Nabi Elia untuk melaksanakan tugas kenabiannya.

    Dalam Injil Markus hari ini Yesus memuji pemberian sumbangan sangat kecil oleh seorang janda. Terbukti bahwa ukuran yang dipakai Yesus untuk menilai besar atau kecilnya suatu sumbangan apapun bentuknya, sungguh lain dengan ukuran yang pada umumnya dipakai dalam masyarakat. Ternyata bagi Yesus nilai sumbangan tidak diukur dengan berapa besar atau berapa banyaknya yang kita berikan kepada sesama, bahkan yang kita persembahkan kepada Tuhan, misalnya kepada orang miskin, atau dana sosial, atau persembahan kepada Tuhan dalam misa kudus dalam kantong kolekte pada hari Minggu. Yang lebih kita perhatikan ialah masih berapa banyaknya sisa milik kita yang masih tertinggal.

  Si janda menurut Injil Markus adalah miskin. Ia seorang janda! Dan kelangsungan hidupnya sangat tergantung dari orang-orang lain. Suaminya sudah tidak ada, mungkin ditolong oleh sanak-saudara apabila masih ada, atau dari beberapa orang di kampung. Seluruh hartanya hanya dua peser! Ia tidak memiliki status hidup yang minimal wajar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakatnya belum mengenal suatu lembaga sosial untuk mengurus kaum berkekurangan. Si janda itu tergantung total dari rahmat Allah. Ia miskin dalam hidup fisiknya, namun ia sangat kaya kepercayaannya kepada kerahiman Allah!

   Yesus memang tidak pernah mengutuk orang karena kaya. Tetapi Ia menegaskan, bahwa bagi orang kaya memang sulit menjadi murid-Nya untuk memasuki Kerajaan Allah yang didirikan-Nya. Kita memang dapat bertanya :

1. Apakah Yesus memuji si janda, yang menghabiskan miliknya yang begitu sedikit untuk dipersembahkan di Bait Allah?

2. Apakah Yesus mau mengajukan orang miskin sebagai tokoh ideal.

3. Apakah Yesus mengajurkan agar supaya semua orang menjadi miskin? Kita harus tahu mendengarkan dan memahami apa yang dimaksudkan.

    Yesus. Kiranya pada umumnya tidak ada orang yang ingin hidup hanya atas bantuan orang lain untuk kebutuhan minimal hidupnya. Kita dapat sebaliknya bertanya : Apakah uang hanya bertujuan untuk disimpan di bank, dan bukan digunakan untuk memenuhi tujuan adanya uang itu? Apakah uang tidak lebih baik digunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkannya?

    Ilmu ekonomi antara lain memang mengajarkan bagaimana kita dapat memperoleh secara efektif keuntungan dan kesejahteraan yang lebih besar. Namun sebagai orang beriman, kita tidak hanya ingin memperoleh keuntungan dan kesejahteraan bagi diri kita sendiri saja dan hanya untuk di bidang jasmani, melainkan juga bagi sesama kita, baik di bidang jasmani maupun rohani.

    Injil Markus hari ini mengingatkan kita semua, bahwa kita ini meskipun di dunia ini berada dalam situasi dan kondisi yang berlainan, namun memiliki martabat sebagai makhluk ciptaan Allah yang sama, dan memiliki Allah sebagai Bapa yang satu dan sama. Karena itu kita harus selalu berusaha sadar, bahwa kita semuanya sebenarnya tergantung total dari Allah. Kalau kita kebetulan hidup berkecukupan atau kaya, kita jangan lupa, bahwa Allah-lah yang membuat kita ini kaya. Namun Ia juga menghendaki agar kita yang berkecukupan dan kaya, di hadapan-Nya jangan menganggap dan merasa diri kita sebagai pemilik total!

    Sebagai orang beriman, kita harus tahu dan sadar, bahwa kita ini ditugaskan Allah untuk hidup dan berbuat sebagai pengurus, bendahara atau pengatur milik Allah. Apa yang kita miliki adalah milik Allah! Dan milik Allah yang diberikan kepada kita itu, bukan hanya untuk kita sendiri, tetapi juga demi kepentingan orang lain secara sungguh manusiawi, artinya secara adil dan demi cinta milik kasih.

    Kedua janda yang diperkenalkan kepada kita itu adalah teladan orang, yang memiliki iman murni, yang berlandasan pada kasih rangkap yang utuh: kasih kepada Allah dan kasih Allah kepadanya. Ia tahu hidup dan bertindak sebagai pengurus atau pengatur dalam memperlakukan milik Allah, meskipun begitu kecilnya sebagai miliknya, dengan bijaksana. Si janda menjadi teladan bagi kita bahwa keterbatasan milik dalam hidup jangan menghilangkan harapan kita. Si janda memberi pesan kepada kita untuk hidup penuh harapan akan kebaikan Tuhan. Dan bila kita dianugerahi milik yang besar, si janda memberi pesan agar kita sungguh murah hati untuk menolong kaum berkekurangan.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/