Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU PALMA C/2019

Yes 50:4-7; Flp 2:6-11; Luk 22:14-23.56;

PENGANTAR
    Dalam Injil Lukas kita dalam Minggu Palma ini telah mendengarkan kisah sengsara Kristus seutuhnya. Timbul pertanyaan yang mendasar mengapa Yesus yang datang untuk menyelamatkan hidup kita, Ia justru harus mengakhiri hidup-Nya sendiri di salib? Siapakah sebenarnya dan apa motif atau alasan orang-orang yang harus bertanggungjawab atas kematian Yesus itu?

HOMILI
    Orang-orang yang pandangannya berlatar belakang politik akan berpendapat bahwa tanggung jawab kematian Yesus itu ada di tangan Pilatus dan otoritas pemerintaha Romawi. Jadi lebih bersifat politik dari pada karena hal keagamaan. Di lain pihak di kalangan orang-orang Yahudi di golongan keagamaan khususnya kaum ulama, mereka melihat penyaliban Yesu sebagai hukuman atas banyak pelanggaran-Nya melawan adat istiadat, peraturan keagamaaan dan hukum Taurat. Bahkan dianggap sebagai menghojat Allah.

    Salah satu akibat peristiwa sengsara, hukuman mati dan penyaliban Yesus dua puluh abad yang lalu itu sampai sekarang pun masih ada, tetap aktual dan relevan. Ada pendapat orang secara pribadi, ada pula pendapat sebagai kelompok, atau juga sebagai suatu negara yang sikapnya sangat "pro Israel" sebagai negara di Palestina sekarang ini. Teapi sebaliknya tidak kurang pula orang-orang yang anti-Semitisme.

    Kita sendiri sekarang ini sebagai umat kristiani diajak menurut iman dan berpegang pada ajaran Gereja, untuk merenungkan dan memahami makna sengsara dan kematian Yesus di salib. Kita harus menghindari jangan memahami misteri sengsara Yesus secara politis atau terdorong oleh fanatisme keagamaan!

    Dalam kenyataan, baik otoritas politik maupun otoritas religius/keagamaan, yakni Prokurator Romawi maupun Pimpinan Sanhedrin (Majelis Keagamaan Yahudi), kedua-duanya mengambil bagian dalam putusan hukuman mati atas Yesus, meskipun menurut pendapat masing-masing. Memang sangat penting diketahui, bahwa dalam catatan sejarah tidak ada penegasan apapun yang hakiki tentang hal ini.

    Tetapi dari kisah sengsara Yesus dalam Injil Lukas, dan menurut ajaran kita sebagai orang beriman kristiani, harus tahu dan menyadari, bahwa kita semua tanpa kekecualian (kecuali Bunda Maria) ikut bertanggungjawab atas kematian Yesus, yang telah berlangsung demi dosa-dosa kita semua.

    Marilah kita memandang Yesus di salib! Apakah yang dilakukan Yesus dalam penderitaan-Nya? Justru tergantung di salib itu tampaklah martabat Yesus yang mahaluhur. Ia mengatasi apapun segalanya yang manusiawi, tampaklah kesa-baran-Nya yang tiada batasnya. Tidak sedikitpun tampak di dalam sikap, gerak maupun kata-kata-Nya, yang menggambarkan kekecewaan dan keputusasaan. Dan tidak tampak sedikitpun yang bertentangan dengan Injil yang diwartakan-Nya. Tidak ada yang bertentangan dengan khotbah-Nya di bukit tentang apa yang disebut kebahagiaan. Dan menjelang kematian-Nya, Yesus di salib justru mohon pengampunan bagi mereka yang menyalib diri-Nya….!

    Keadaan dan reaksi Yesus terhadap penganiayan kejam yang diderita-Nya bersifat total sebagai manusia dengan segala kelemahan-Nya seperti kita semua. Yesus pernah gemetar dan waktu berdoa di Getsemani peluh-Nya bertetesan sebagai darah, dan Ia mohon supaya piala penderitaan yang diminum-Nya disingkirkan daripada-Nya. Ia juga minta murid-muridNya supaya mendoakan Dia, bahkan Ia menangis dan berseru : "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?". Dari gambaran yang diperoleh tentang Yesus dalam Kitab Suci itu, kita harus menyadari, bahwa melalui dosa-dosa kita, kita ikut bertanggungjawab atas penderitaan dan kematian-Nya di salib.

    Dan apa yang menyolok dalam diri Yesus dalam penderitaan-Nya? Ia diam saja! (Mat 26:63). Ia diam di depan Kaifas, Ia diam di hadapan Pilatus, Ia diam berhadapan dengan Herodes, yang ingin melihat Yesus mengadakan mukjizat di depan-Nya (lih.Luk 23:8). "Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki" (1 Ptr 2:23).

    Dalam suasana diam di Golgota itu akhirnya hanya terdengar suara nyaring Yesus: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku". Kemudian terdengar suara kepala pasukan Romawi yang memimpin eksekusi hukuman mati itu : "Sungguh, orang ini adalah orang yang benar". Di depan Yesus yang tergantung di salib sebagai Orang Yang Benar itu, marilah kita berlutut dan mengakui diri kita sebagai orang berdosa. Marilah kita mohon kepada-Nya agar kita sungguh dapat menjadi "orang-orang yang benar".

    

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/