Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU PRAPASKAH IV/C/2019

Yos 5:9a.10-12; 2 Kor 5:17-21; Luk 15:1-3.11-32;

PENGANTAR
    Injil Lukas hari ini merupakan suatu perumpamaan yang sangat bagus dan mengharukan. Betapa baik hati dan berbelas kasih Allah sebagai seorang bapak terhadap anaknya. Perumpamaan Yesus dalam Injil Lukas itu merupakan suatu gambaran tentang betapa besar kerahiman Allah kepada kita sebagai orang berdosa. Bila kita sebagai orang berdosa mau bertobat, akan diterima kembali oleh-Nya disertai pengampunan penuh kasih yang tiada taranya.

HOMILI
    Di dalam Lukas Bab 15 terdapat tiga perumpaan tentang sesuatu yang hilang namun diketemukan kembali, yaitu tentang domba (ay.1-7), dirham (ay.8-10) dan anak yang hilang (ay.11-32). Kita semua yang jujur akan segera merasa, bahwa perumpamaan tenang anak yang hilang itu menggambarkan kehidupan kita masing-masing, baik sebagai orang tua maupun sebagai anak, sebagai anak bungsu maupun anak sulung. Tetapi ini juga berlaku dalam hubungan kita satu sama lain dalam status kita apapun. Menurut karakter, watak dan ciri khusus kita sendiri, kita dapat belajar banyak dari perumpamaan sederhana namun sangat mendalam ini.

    Paus Santo Yohanes Paulus II dalam dokumen Anjuran Apostolik, yang berjudul "Rekonsiliasi dan Penyesalan" ("Reconciliatio et Paenitentia") berkata sebagai berikut : "Perumpamaan tentang anak yang hilang itu pertama-tama adalah suatu ceritera tentang kasih takterperikan dari Allah Bapa, yang melimpahkan kepada putera-Nya sebagai anugerah rekonsiliasi seutuhnya, ketika Ia (Putera-Nya itu) datang kembali kepada-Nya. Perumpamaan itu mengingatkan kita akan kebutuhan transformasi hati yang mendalam, yakni dengan menemukan kembali belaskasihan Bapa. Dan sekalugus mengatasi kesalahpahaman dan permusuhan di antara semua saudara kita, baik laki-laki maupun perempuan".

    Ada empat pelajaran yang dapat kita peroleh dalam perumpaan Injil hari ini.

    1. Menurut adat kunaYahudi, anak sulung berhak menerima warisan rangkap dari ayahnya, sedangkan adiknya hanya menerima sepertiga. Tetapi si anak bungsu, yang minta bagian harta miliknya sebagai warisan, meskipun ayahnya masih hidup, sebenarnya menghina ayahnya. Si bungsu ini merasa terlalu lama bila harus menunggu sampai ayahnya meninggal dahulu supaya dapat memiliki milik warisannya. Ketika permintaannya dikabulkan, si bungsu itu menghabiskan segenap miliknya dengan hidup berfoya-foya dengan segenap akibatnya yang buruk. Akibatnya ia hidup sangat melarat, menderita dan nyaris bisa makan secara pantas. Kata "milik" harta si bungsu yang habis seperti disebut dalam Injil Lukas, bukanlah sekadar milik materiilnya. Yang ingin dikemukakan dalam Injil ialah, bahwa si bungsu itu bukan hanya kehilangan kekayaan materiilnya, melainkan terutama kehilangan martabat dirinya sendiri, nilai pribadinya sendiri. Ia juga sekaligus kehilangan harga dirinya sendiri sebagai manusa.

    2. Ayah kedua anaknya, si sulung dan si bungsu itu menurut banyak orang dapat dianggap memberi kesan sebagai seorang ayah, yang tidak bijaksana. Dinilai memalukan dan kurang mampu mendidik anaknya, dan mengikuti semua keinginannya. Ternyata ayah itu malahan menyambut si bungsu "yang telah hilang" itu dengan merangkul dan mencium dia, dan diberi pakaian yang terbaik. Tetapi Yesus membenarkan sikap dan perbuatan si Bapa itu terhadap si bungsu. Apa yang dilakukan si ayah itu adalah perbuatan kasih. Ia ikut merasakan apa yang diderita orang lain (sebagai "compassio", ikut merasakan menderita), sebagai ungkapan kelembutan hati dan kasihnya.

    3. Reaksi si anak sulung ialah marah ketika melihat apa yang terjadi ketika adiknya kembali, dan menyaksikan apa yang dilakukan ayahnya terhadap adiknya yang begitu tak pantas itu. Reaksinya itu sepintas lalu bisa dimengerti dan adil. Tetapi dari segi lain, meskipun si sulung itu merasa telah melaksanakan tugas pekerjaannya sebagai seorang putera dengan setia, namun dari keluhannya itu tidak terungkapkan rasa kasih atau kerelaan hatinya dalam melaksanakannya. Ia justru merasa seolah-olah diperlakukan oleh ayahnya sebagai pekerja belaka. Ia merasa tidak diberi penghargaan dan rasa terima kasih dari ayahnya. Ia taat dan setia melaksanakan tugas yang diberikan ayahnya kepadanya, namun ia merasa menghadapi ketidakadilan. Kehidupan dan perbuatan adiknya, yang begitu rendah nilainya, justru dianggap seolah-olah "tidak apa-apa" oleh ayahnya! Menurut si sulung ayahnya dianggap berhak dan berkewajiban menolak kedatangan adik bungsunya itu. Sebab si bungsu sudah merendahkan nama keluarga, tetapi diterima begitu baik, sedangkan si sulung yang setia merasa dianggap sebagai orang asing!

    4. Pesan Yesus dalam Injil hari ini ialah rekonsiliasi. Ternyata Tuhan menerima orang berdosa dan orang-orang yang dalam masyarakat di bidang sosial dan keagamaan tidak dihargai. Syarat mutlaknya ialah penyesalan dan pertobaan. Kepada si sulung ayahnya berkata : "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu". Penerimaan kembali adiknya yang hilang dan diketemukan kembali itu, tidak bertentangan dengan kesetiaan kakaknya kepada ayahnya. Pertobatan membuka pintu baru untuk memasuki rekonsiliasi, perdamaian dan hidup bersama penuh pengertian dan kasih. Setiap orang yang sungguh bertobat kepada Tuhan akan pula rela berrekonsiliasi dan berdamai dengan sesamanya.

    Hari ini secara litugis dalam bahasa Latin disebut Hari Minggu "Laetare", "Exsultate" : "Bergembiralah". Bersukacitalah". Mengapa? Kita ini di dalam perjalanan hidup, dan berusaha bertobat selama masa puasa dan pantang ini diingatkan, bahwa orang yang bertobat akan bergembira, sebab ia akan diterima kembali oleh Allah dengan penuh belaskasihan sebagai putera-Nya sendiri. Kita harus tetap gembira, sebab Allah mahabaik dan berbelaskasihan!

    

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/