Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU PRAPASKAH V/A/2020

Yeh 37:12-14; Rom 8:8-11; Yoh 11:1-45;

PENGANTAR
    Nabi Yehezkiel melukiskan keadaan bangsa Yahudi yang terbuang dan terjajah di daerah Babilonia. Dan dalam abad keenam sebelum Kristus, situasi dan kondisi keadaan mereka digambarkan bagaikan liang-liang kubur. Tetapi Allah menghidupkan dan membawa mereka kembali ke tanah airnya. Dalam Injilnya Yohanes hari ini mewartakan kabar gembira kepada kita, bahwa apabila kita seperti Marta dan Maria percaya kepada Yesus sebagai Almasih, akan dibangkitkan kembali dari kematian kita, baik kematian yang badani maupun yang rohani.

HOMILI    

    Ceritera panjang tentang pembangkitan kembali Lazarus merupakan puncak tanda kesungguhan Yesus sebagai Almasih, sebagai pemberi dan penyelamat hidup kita. Peristiwa itu terjadi tidak lama sebelum kemudian Ia sendiri kemudian diadili dengan hukuman mati oleh orang-orang yang menolak menerima Dia sebagai Penyelamat sejati. Mengapa Yesus tidak langsung datang mengunjungi Lazarus ketika Ia mendengar sahabat yang dikasihi-Nya itu sakit bahkan sudah mati? Baru beberapa hari kemudian Ia datang. Kita sendiri pun heran, sering menghadapi teka-teki hidup manusia. Mengapa? Adalah suatu ironi atau teka-teki bahwa Yesus yang datang untuk memberi hidup, tak lama kemudian harus mengalami sendiri kematian juga, bahkan kematian di salib! Teka-teki itu dijawab jelas dengan fakta lain: ada kebangkitan Lazarus dan kebangkitan Yesus sendiri!

    Kepada Marta Yesus menegaskan: "Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati, dan setiap orang yang percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya" (Yoh 11:25). Kemudian Ia bertanya : "Percayakah engkau akan hal ini?" Pertanyaan Yesus kepada Marta itu sekarang pun ditujukan kepada kita. Bukankah sekarang pun bagi kita jawaban Marta harus merupakan jawaban kita? : "Ya, Tuhan, kami pun percaya, meskipun kami menghadapi hidup penuh keragu-raguan dan ketakutan dalam kegelapan hati dan pikiran. Kami percaya kepada-Mu, sebab Engkau memiliki dan menyampaikan sabdaMu tentang kehidupan kekal. Kami ingin tetap percaya kepada-Mu, karena Engkau menganugerahkan kepada kami suatu harapan penuh kepastian akan suatu hidup sesudah hidup kami sekarang ini. Suatu hidup yang utuh dan otentik di dalam Kerajaan-Mu penuh terang dan damai".

    Kita harus berani mengakui, bahwa kita ini seperti Marta dan Maria berkali-kali mengungkapkan kata-kata atau keluhan yang pahit kehilangan harapan ini: "Tuhan, seandainya Engkau ada di sini" (Yoh 11:32), ibu atau bapaku, ataupun saudaraku bahkan sahabat-sahabatku pasti tidak akan begitu mendadak atau meninggal di luar dugaan kami". Tetapi dalam Injil hari ini Yohanes berkata : "Ketika Yesus melihat Maria menangis, masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu" (Yoh 11:33). Dan tertulis juga selanjutnya : "Maka Yesus menangis"! Inilah kiranya secara sangat singkat namun sangat kena terlukiskan kabar gembira pesan Injil Yohanes pada hari ini tentang Yesus sebagai Penyelamat kita!

    Injil hari ini mewartakan kepada kita, bahwa Yesus menunjukkan kepada kita Allah sebagai seorang pribadi yang bersatu dengan kita dalam penderitaan, kesedihan, dukacita bahkan kematian! Allah yang menangis bersama kita. Allah bukan datang menghilangkan bencana, kesukaran, penderitaan dan kesengsaraan hidup. Seandainya Allah datang langsung menyingkirkan segala bencana dan kesukaran hidup, maka Ia hanya tampil bagaikan seorang "Allah mesin" (deus ex machina). Jikalau demikian, maka agama dan iman kepercayaan kita akan sekadar merupakan suatu bentuk kekuatan magis, ibarat suatu sulapan, pertunjukan sulap belaka.

    Timbull pertanyaan : Di manakah Allah hadir di tengah bencana dan kesengsaraan manusia? Allah sungguh hadir di tengah segala sesuatu, gembira di dalam apa yang menggembirakan, tetapi juga bahkan justru di mana ada kesesangsaraan dan kematian, di situlah Allah menangis! Ia adalah Allah kita, yang selalu berada dan hadir bersama dengan kita di tengah segala kancah dan situasi hidup kita, begitu solider dan manusiawi. Kita disadarkan bahwa kemuliaan dan keluhuran Allah kita itu justru menjadi nyata dalam kesediaan Putera-Nya sebagai Sabda Ilahi-Nya menjadi daging manusiawi : inkarnasi yang berarti Allah menjadi manusia dalam segala kondisi hidupnya, kecuali dosa.

    Sebagai pelengkapan untuk keutuhan pengertian kita tentang kematian, kita harus sadar bahwa kematian kita bukan hanya kematian badani, tetapi, inilah yang justru mudah dilupakan manusia!, juga kematian rohani! Kita harus juga dibangkitkan dari kematian rohani! Hati dan batin banyak orang mati karena mengalami situasi hidup, yang menyedihkan, merasa tak mampu mengatasi aneka kesukaran yang dialami, kehilangan harapan, tak melihat terang dalam kegelapan hidupnya. – Kita semua harus pula menyadari kebutuhan kita yang mutlak untuk bangkit kembali, untuk hidup lagi penuh harapan. Yesus berkata : "Akulah kebangkitan dan hidup!" (Yoh 11:25). "Percayakah engkau akan hal ini?" (Yoh 11:26).

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/