Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA PENTAKOSTA/A/2017

Kis 2:1-11; 1 Kor 12:3b-7.12-13; Yoh 20:19-23;

PENGANTAR
    Agar hidup kita "menggereja secara liturgis" dapat lebih mendalam dan meyakinkan, patutlah kita makin menyadari apa makna Pentakosta bagi hidup kita sebagai umat kristiani otentik seperti diajarkan Yesus Kristus sendiri. Pentakosta harus selalu dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus sebelumnya. Pada akhir tahap perjalanan hidup dan karya-Nya sebagai Penyelamat, Yesus mengalami : penderitaan, kematian, kebangkitan, kenaikan ke sorga, kemuliaan dan pengiriman Roh Kudus ke dunia (Pentakosta). Makna setiap peristiwa yang kita rayakan dalam ibadat liturgi tidak dapat kita pahami dan kita hayati pesannya, apabila apa yang dialami Yesus tidak kita hubungkan satu sama lain. Pentakosta adalah suatu pewartaan pemberian Roh Kudus. Tetapi Roh itu bukan hanya diberikan melulu demi kepentingan pribadi perorangan, melainkan bagi kepentingan bersama, demi kepentingan Gereja dan dunia, seperti akan kita dengarkan di dalam bacaan-bacaan hari ini.

HOMILI
    Murid - murid Yesus telah hidup bersama Dia beberapa tahun. Mereka telah mendengarkan ajaran-Nya, menyaksikan perbuatan-Nya. Yesus memberi makan kepada orang lapar, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, bahkan membangkitkan orang mati. Tetapi mereka juga menyaksikan Yesus ditolak, ditentang, diusir, diancam, di khianati dan mengalami penderitaan serta dihukum, akhirnya malahan mati di kayu salib.

    TNamun Ia bangkit lagi, dan selama 40 hari (waktu alkitabiah yang berarti waktu lama) berkali-kali Ia menampakkan diri kepada para rasul dan murid-murid-Nya, untuk menegaskan kepada mereka, bahwa Ia sungguh bangkit dan hidup kembali. Kemudian sesudah para murid itu diyakinkan akan kebangkitan dan kehadiran-Nya selama 40 hari, akhirnya Yesus naik ke surga.

    Meskipun telah yakin dan sadar, bahwa Yesus sungguh hidup lagi, namun para rasul belum merasa berani dan teguh dalam hati untuk tampil ke masyarakat untuk melaksanakan tugas mereka sebagai saksi-saksi-Nya. Mereka masih merasa belum mampu, dan masih waswas, tertekan sebagai kelompok kecil dalam masyarakat. Maka terjadilah peristiwa Pentakosta seperti diceriterakan oleh Lukas dalam Kisah Rasul. Terdengar suara dari langit seperti tiupan angin, menderu seperti taufan, dan muncullah lidah-lidah api yang hinggap pada diri mereka masing-masing, dan mereka berbicara dalam aneka bahasa.

    Apakah sebenarnya pesan Lukas dalam Kisah Rasul tentang peristiwa Pentakosta kepada kita?

    Lukas menggunakan bahasa alkitabiah. Ia mau mengatakan, bahwa murid-murid Yesus pada waktu Roh Kudus itu datang, mereka, mengalami perubahan batin. Seperti Lukas juga pernah berceritera dalam Injilnya bahwa kedua murid Yesus dari Emaus "hati mereka berkobar-kobar" (lih. Luk 24:32) ketika bertemu dengan Yesus, demikian juga pada saat menerima Roh Kudus, yang digambarkan bagaikan lidah-lidah nyala api, murid-murid Yesus berbicara dengan pelbagai bahasa yang berlainan. Mereka itu masing-masing dan bersama-sama merasakan adanya kekuatan yang membuat hati mereka berkobar-kobar dan mencurahkan kegembiraan hati mereka.

    Ternyata ada perubahan dalam diri murid-murid Yesus. Pada saat itu Yesus mendirikan Gereja-Nya! Dan didirikannya Gereja, yaitu umat yang percaya kepada Yesus Kristus, juga disaksikan orang-orang lain, yang lain bangsanya, sukunya, bahasanya, agamanya! Bukan berarti tiba-tiba para rasul bisa berbicara dengan aneka bahasa! Ternyata para murid itu berkat kekuatan Roh Kudus dapat berbicara atau membahasakan diri masing-masing sebagai murid Yesus dengan bahasa sikap, bahasa percakapan, bahasa hidup dan perbuatan sebagai umat kristiani, yang dapat didengarkan dan dipahami oleh barangsiapa pun, yang memang terbuka dan baik hatinya. Pada peristiwa Pentakosta murid-murid Yesus dapat menggunakan suatu bahasa universal, yang diberikan Roh Kudus kepada mereka, yaitu bahasa kasih! Kasih adalah bahasa yang dipahami semua orang.

    Itulah pesan Pentakosta yang disampaikan lewat Lukas kepada kita sekarang ini, baik sebagai individu perorangan, maupun kepada kita semua bersama sebagai Gereja, yang didirikan Kristus. Artinya kita harus mampu mewartakan dan menerangkan ajaran Kristus dengan bahasa yang dimengerti semua orang. Bahasa itu adalah bahasa kasih! Bukan hanya dengan niat, janji, kata, melainkan dengan sikap hidup dan tindakan nyata! Hanya dengan demikian peristiwa Pentakosta bukan hanya terjadi dahulu dan sekali saja, tetapi setiap kali dapat terwujud kembali dan dapat diaktualisasikan serta dialami kembali sekarang ini juga.

    Kebenaran iman atau keyakinan setiap orang, yang merasa dirinya sebagai orang kristiani sejati, meskipun yakin bahwa dirinya merasa memiliki Roh Kudus, namun apabila ia tidak membahasakan dirinya itu dengan bahasa dan tindakan kasih, maka kebenaran atau keyakinan iman yang dimilikinya itu tidak benar! Bukan iman dan keyakinan otentik kristiani, melainkan merupakan suatu keyakinan iman yang palsu.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/