Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA V/2017

Yes 58:7-10 1Kor 2:1-5 Mat 5:13-16

PENGANTAR
    Kutipan Injil menurut Matius diambil dari pesan Yesus, yang telah dikumpulkan dalam Khotbah di Bukit, yang tercatat dalam Injil Matius Bab 5-7. Di situ ditampung ajaran baku Yesus bagi setiap orang, yang ingin menjadi murid-Nya sejati. Dalam Mat 5:13-16 yang akan kita dengarkan hari ini, Yesus bersabda: "Kamu adalah garam dunia", dan "Kamu adalah terang dunia". Apakah kiranya makna pesan Yesus itu bagi kita sebagai Gereja-Nya,untuk tampil dalam masyarakat sebagai garam dan terang bagi dunia di dalam masyarakat kita sekarang ini?

HOMILI
    Sejak dahulu garam merupakan kebutuhan baku untuk hidup manusia. Garam memberi rasa lezat. Memberi daya untuk memelihara lama atau mengawetkan sesuatu. Bahkan garam menimbulkan suatu rasa haus akan sesuatu yang lain lagi. Kenyataan sehari-hari inilah yang dipakai Yesus untuk menyampaikan syarat, yang mutlak diperlukan untuk meneruskan Kabar Gembira, yaitu Injil-Nya, sebagai santapan makanan yang lezat kepada masyarakat.

    Dalam Perjanjian Lama pun garam dipakai secara simbolis untuk tujuan keagamaan. Misalnya: "Dalam setiap persembahanmu yang berupa korban sajian, haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu, beserta segala persembahanmu haruslah kauper-sembahkan garam. (Im 4:23)". Bahkan juga dipakai istilah "perjanjian garam (Bil 18:19)". Perjanjian garam ini berarti suatu hubungan atau relasi yang menetap, dan makan garam bersama orang lain itu berarti memasuki ikatan setia satu sama lain .Paulus menegaskan: "Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang (Kol 4:6)". Mengapa demikian? Jawabannya: "Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu akan mengasinkannya? (Mrk 9:50)".

    Apa maknanya bahwa garam bisa menjadi hambar atau kehilangan rasa asinnya? Bagi kita sekarang ini, garam selalu tetap asin dan tidak hampar! Di zaman Yesus garam tidak dibuat dan dimurnikan dari unsur-unsur campuran seperti garam kita sekarang ini. Karena tercampur dengan unsur-unsur lain, rasa garam itu dapat berubah dan bisa kehilangan rasa khususnya. Nah, sifat garam inilah yang dipilih Yesus untuk menggambarkan sifat setiap orang, apabila mau sungguh menjadi murid-Nya, yaitu: tetap setia atau tidak setia sebagai murid Yesus!

    Singkatnya, setiap orang yang ingin menjadi murid Yesus sejati harus tahu kapan dan bagaimana ia harus mengubah sikap dasar hidupnya, yaitu apabila "hidangan masakan ajaran Yesus" dirasakan sebagai hambar dan tidak cocok lagi dengan seleranya sendiri. Ia harus tahu dan mau berusaha mempertahankan dan memupuk kembali keadaan hidupnya menurut iman yang benar, apabila arah hidupnya makin terasa bertentangan dengan "rasa" injili atau alkitabiah yang otentik. Ia harus setia akan serta loyal terhadap janjinya kepada Tuhan melalui baptisnya dan dalam penerimaan sakramen-sakramen Gereja-Nya. Cukup tegas Paulus mengatakan, bahwa murid Yesus sejati adalah orang yang tahu "berbicara" (artinya: berpikir, bersikap, berkata dan bertindak) sesuai dengan nasihatnya: "Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hampar, sehingga kamu tahu, bagiamana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang (Kol 4:6)". Selanjutynya, kita harus tahu, apakah hubungan antara dua pesan Yesus "Kamu adalah garam dunia" dan "Kamu adalah terang dunia?" Pertama-tama karena Yesus sendiri adalah Terang Dunia! Karena itu murid-murid-Nya harus juga menjadi terang dunia. Terang mempunyai makna khusus, yaitu harus menghilangkan kegelapan! Artinya, menghilangkan kejahatan dan dosa, yang timbul dari kebodohan, ketidaktahuan, praduga dan kepentingan diri sendiri melulu. Sedangkan Yesus sendiri adalah terang, sebab wajah-Nya bersinar dan menunjukkan diri seperti ada-Nya, yaitu sebagai segala-galanya yang baik dan benar. Nah, itulah pula yang harus menjadi teladan bagi para murid Yesus sebagai terang dunia. Itulah yang juga dikatakan Yesaya: "Terang mu akan merekah laksana fajar (Yes 58:8; lih. ay. 7-10)". Yang dilakukan Yesus dan apa yang juga harus dilakukan murid-murid-Nya ialah apa yang dikatakan Yesaya: "Membawa kerumahmu orang miskin yang tak punya rumah(Yes 58:7)", "melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian (ay.8)", "memuaskan hati orang yang tertindas" (ay.10). Apabila itulah yang dilakukan murid-murid Yesus, maka terjadilah apa yang dahulu dikatakan oleh Yesaya : "Terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapan-mu akan seperti rembang tengah hari (Yes 58"10)".

    Demikianlah Injil Matius hari ini memperingatkan kita secara sederhana namun tegas dan jelas akan keadaan dan tugas kita sebagai umat yang telah dibaptis sebagai murid Yesus sejati. Bukan sebagai orang yang bersikap acuh tak acuh dan pasif sebagai orang beriman di kalangan keluarga dan masyarakat. Kita harus tahu dan mau mewartakan dan melaksanakan Injil kepada semua orang dengan kata dan perbuatan sebagai garam maupun terang dunia.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/