Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA VII/A/2017

Im 19:1-2.17-18; 1 Kor 3:16-23; Mat 5:38-48;

PENGANTAR
    Di dalam tiga bacaan Kitab Suci pada hari ini, kita diingatkan akan tiga hal hakiki, yang sangat erat hubungannya satu sama lain. Pertama, Allah ada kudus. Kedua, kita ini adalah bait Allah, jadi juga harus kudus. Ketiga, karena kekudusan Allah adalah kasih-Nya, maka kita hanya dapat menjadi kudus, apabila kita bersedia hidup dengan penuh kasih.

HOMILI
    Sudah sejak dalam Perjanjian Lama kita manusia ini, dipanggil menjadi kudus. Dalam Kitab Imamat ditegaskan: "Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus (Im 19:2)". Dan ditambahkan lagi: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Im 19:18)." Secara singkat dan padat dapat ditarik kesimpulan kita dipanggil menjadi kudus seperti Allah dengan berbelas kasih.

    Manusia menurut Kitab Suci diciptakan menurut citra Allah. Karena Allah adalah kudus, maka manusia ciptaan-Nya ini harus juga kudus. Artinya, segenap hidupnya harus dihayati bagaikan sarana dan gambaran kehidupan dan kekudusan Allah itu. Sabda Allah yang tercermin dalam bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini harus merupakan api, yang selalu menyala dalam hati kita. Dan dalam api kekudusan Allah itu kasih-Nyalah yang sangat menyala sangat kuat dan hangat. Allah adalah sungguh kudus justru karena kasih-Nya.

    Ternyata Allah yang mahakudus inilah yang karena kasih-Nya telah menciptakan kita. Kasih Allah itulah yang merupakan kekudusan-Nya! Sejalan dengan pesan yang disampaikan kepada dalam Kitab Suci, yaitu bahwa manusia diciptakan Allah menurut citra-Nya, maka citra kekudusan-Nya yang berupa kasih harus merupakan kekudusan kita juga sebagai manusia ciptaan-Nya. Kasih sebagai ciri khas kekudusan manusia yang otentik harus menentukan dan menjiwai segenap hubungan kita dengan Allah dan sesama kita. Dengan berbuat baik kepada sesama atas dasar kasih seperti dilaksanakan oleh Allah, maka kita sungguh mengambil bagian dalam kekudusan-Nya! Sebaliknya, memang tidak mungkinlah kita menjadi kudus, apabila kita tidak mengasihi sesama. Betapa tekun pun kita ini dalam ibadat, banyak berdoa, bahkan rajin mengikuti Ekaristi, dan mengadakan ziarah berapa kalipun, apabila semua itu tidak dilakukan dengan latar belakang kasih yang murni, kita tidak akan menjadi kudus!

    Keadaan di dalam masyarakat kita, yang diwarnai dengan aneka perbedaan pandangan, sikap, perbuatan, perilaku egoistis, fanatisme, fundamentalisme, arogansi dalam pelbagai rupa atau cara, bukankah semua itu menunjukkan, bahwa di dalam masyarakat kita masih terdapat aneka gejala penipuan diri atau kebohongan pribadi di antara warga-warganya? Ada fanatisme dalam agama, tetapi sekaligus ada perilaku hidup dan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya. Menganut suatu agama, bagi banyak orang ternyata tidak berarti sungguh hidup untuk menghayati ajaran agama yang dianutnya itu.

    Dalam suratnya kepada umat di Korintus Paulus berkata: "Saudara-saudara, camkanlah sungguh-sungguh, bahwa kamu adalah Bait Allah, dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu. Sebab Allah adalah kudus dan kamulah Bait Allah itu. Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri (1 Kor 3:16-18)." Kita diingatkan oleh Paulus, agar kita selalu sadar, bahwa kita harus kudus seperti dikehendaki oleh Allah sendiri. Dan kekudusan kristiani sejati harus terungkapkan dalam kesungguhan penghayatan kasih kita kepada Allah dan sekaligus kepada sesama kita. Kita adalah sungguh kudus apabila kita sungguh mengasihi Allah dan sesama kita!

    Dengan demikian kita harus makin yakin dan sadar, bahwa kebencian, rasa dendam, kekerasan, tidak sudi memaafkan, bahkan perbuatan yang sekali pandang tampaknya baik, seperti memberi derma, bahkan juga banyak berdoa serta beribadat, semuanya itu bukan merupakan tanda atau ciri kekudusan sejati, apabila tidak timbul atau dilakukan atas dorongan kasih sejati! Bukan banyaknya doa lahiriah ataupun jumlah derma materiil yang kita berikan kepada sesama merupakan ukuran, yang dipakai Tuhan untuk menilai kesungguhan kasih kita sebagai orang kudus kepada Allah maupun sesama kita.

    Akhirnya Injil Matius hari ini mengingatkan kepada kita, sejauh manakah kasih kita merupakan tanda kekudusan atau kesempurnaan kita seperti yang dikehendaki oleh Allah. "Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu di surga." Hanya hati yang kudus akan dapat mengasihi dan menolong sesamanya yang berkenan kepada Bapa kita di surga. Kasih yang kudus adalah senjata paling berdaya untuk mengatasi segala kesulitan dalam hidup kita. Kasih dan kekudusan memang tak terpisahkan satu sama lain!

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/