Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI KAMIS PUTIH 2018

Kel 12:1-8. 11-14; 1 Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15;

PENGANTAR
    Dalam Pekan Suci ini kita memang diingatkan akan kesengsaraan dan kematian Kristus. Tetapi sebagai keseluruhan kita mengikuti dan mengambil bagian dalam seluruh hidup Yesus. Ia memang menempuh jalan penderitaan dan kematian, tetapi untuk menuju kepada kemenangan-Nya atas maut, yakni kebangkitan-Nya. Injil Yohanes hari ini memang tidak membicarakan hal Perjamuan Malam Terakhir. Ia lebih berceritera tentang pembasuhan kaki murid-murid-Nya. Namun dalam merayakan Hari Kamis Putih ini, marilah kita merenungkan baik surat Paulus tentang Ekaristi maupun Injil Yohanes yang membasuh kaki muird-muird-Nya. Marilah pada sore atau petang hari ini kita merenungkan hubungan antara pembasuhan kaki dan Ekaristi, yang dilaksanakan oleh Yesus.

HOMILI
    Petang hari ini marilah kita sungguh merasakan betapa berharga dan luhur pemberian diri Yesus kepada kita dalam bentuk Ekaristi. Seperti ditegaskan oleh Paulus dalam Bacaan II, pada meja perjamuan Ekaristi kita menerima Yesus sendiri. Sedangkan dalam Injil Yohanes kita melihat Yesus berlutut dengan rendah hati untuk membasuh kaki murid-murid-Nya. Karena itu pada perayaan Ekaristi ini kita semua dapat melihat dan bertemu dengan Yesus seutuhnya. Dalam Bacaan-Bacaan hari ini kita dapat melihat suatu gambaran tentang bagaimana Gereja, umat kristiani, yaitu kita semua ini, sebenarnya harus tahu bagaimana sikap hidup dan perbuatan kita, yang harus kita ambil terhadap Yesus, tetapi juga terhadap sesama kita.

    Ada dua hal yang ingin disampaikan dalam Injil Yohanes dan dalam surat Paulus kepada umat di Korintus : pembasuhan kaki dan Ekaristi. Sebelum makan sehari-hari pun orang Yahudi harus cuci tangan, apalagi untuk perjamuan malam Paskah. Kakinya pun harus dibersihkan, agar setiap orang sungguh bersih dan pantas untuk berhimpun dan makan hidangan Paskah Yahudi. Pada malam hari, dalam perjamuan malam terakhir, menjelang saat-saat Yesus akan memasuki pergulatan batin, penderitaan dan kematian-Nya, Yesus mau menghidangkan bukan sekadar roti dan anggur biasa, melainkan tubuh dan darah-Nya sendiri. Agar murid-murid-Nya sungguh tahu dan sadar akan makna perjamuan malam terakhir itu, maka Yesus mengingatkan mereka akan kebutuhan mutlak, yang harus mereka penuhi, yaitu kebersihan hati. Karena itulah Yesus langsung bertindak membasuh kaki murid-murid-Nya.

    Di sini tampaklah hubungan sangat erat antara kemurnian hati dan Ekaristi. Bila kita mau menerima Ekaristi, yang adalah Yesus sendiri, maka kita harus berada dalam kondisi batin yang sungguh bersih, tanpa pamrih, tanpa pertentangan, tanpa perhitungan. Kondisi batin pantas yang kita perlukan ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Meskipun Ia Guru, Ia membasuh kaki murid-murid-Nya sendiri. Hanya orang yang dibersihkan oleh-Nya sendiri, patut dan layak menerima Tubuh dan Darah-Nya. Kesombongan diri dalam bentuk apapun selalu berarti menolak kasih Allah. Bukankah Yesus mengingatkan kita, bahwa kebesaran atau keagungan diri yang sebenarnya adalah kerendahan hati. Mau dan sanggupkah kita membasuh kaki sesama kita? Apakah kita menganggap diri kita lebih tinggi dari pada Yesus, dan menolak membasuh kaki sesama kita?

    Pemberian dan pengorbanan diri Yesus sebagai Penyelamat kita, pada perjamuan malam terakhir dimulai dengan pembasuhan kaki, dan dilanjutkan dengan pemberian diri sebagai makanan. Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti, dan setelah mengucap syukur atas-nya, Ia memecah-mecahkan roti itu seraya berkata : "Inilah Tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu, perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku". Demikian juga Ia mengambil cawan sesudah makan, lalu berkata : "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimateraikan dalam darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenang-kan Daku".

Sebelum memberikan diri-Nya sendiri dalam perjamuan, Yesus me-ngampuni semua murid-Nya, termasuk Yudas yang mengkhianati-Nya! Mengapa? Karena Ia mengasihi setiap orang sampai akhir sehabis-habisnya. Yesus berkata : "Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat padamu".

    Di tengah masyarakat kita dewasa ini, di mana perbedaan-perbedaan semakin tampak : lemah lembut dan kasar, kaya dan miskin, adil dan tidak adil, merasa diri penting dan rendah hati, rela mengampuni dan rasa benci serta dendam, semua ini adalah hambatan untuk menerima Ekaristi secara pantas! Ekaristi yang adalah Yesus yang satu dan sama, menyatukan semua orang yang mau saling menerima. Tetapi kita hanya pantas menerima Yesus dalam Ekaristi, apabila kita sanggup dengan rendah hati membasuh kaki sesama kita. Tiada Ekaristi sejati tanpa pembasuhan kaki.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/