Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXII/C/2013

Sir 3:19-21.30-31   Ibr 12:18-19.22-24a   Luk 14:1.7-14

PENGANTAR
          Makan bersama  adalah ungkapan yang sangat baik untuk  mempererat hubungan kekeluargaan  atau kebersamaan antar sesama.  Injil Lukas hari ini menunjukkan  kepada kita,  bagaimana Yesus menggunakan  kesempatan makan bersama dengan seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk memberi pelajaran kepada kita. Isi pokok ajaran-Nya ialah: Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.

HOMILI
          Yesus memberi  nasihat agar kita, bila diundang untuk perjamuan makan atau  pertemuan  penting  dengan banyak orang, janganlah  mencari tempat duduk yang sangat  terhormat. Lebih baik  mengikuti  pengatur  tatatertib, jangan sampai dipersilahkan berpindah ke tempat pada tingkat yang lebih rendah.

          Tetapi Yesus juga member nasihat, jangan sampai kita memang memilih tempat  sederhana  pada  tingkat  yang rendah, namun dengan perhitungan agar si pengatur  tatatertib nanti justru  akan datang  untuk mempersilahkan kita berpindah ke tempat pada tingkat tinggi. Cara berbuat secara ini bukanlah suatu  kerendahan hati, melainkan justru sebaliknya, yakni suatu siasat kesombongan agar dipuji orang-orang lain. Latar belakang untuk berbuat demikian itu adalah sifat manusia yang pura-pura dan palsu atau suatu kesederhanaan namun dengan perhitungan. Tetapi jangan sampai kita menyangka,  bahwa Yesus  menolak atau melarang suatu tatakrama, tatatertib ataupun etika pergaulan yang baik dalam masyarakat.  Adat istiadat  yang  baik harus dihargai dan  dipelihara.

          Dalam Injil yang  kita dengarkan hari ini Yesus sebenarnya mau memberi ajaran kepada kita, bukan langsung mengenai “perjamuan makan di dunia” sekarang ini saja, melainkan “perjamuan makan di dalam Kerajaan Allah” yang  didirikan-Nya. Karena itu, suasana dan tatatertib, tetapi terutama sikap dasar setiap orang yang diundang untuk ikut hadir dalam perjamuan di Kerajaan Allah itu, harus total berlainan dari sikap orang yang diundang untuk perjamuan di dalam masyarakat kita.

          Mengapa?  Dalam  perjamuan makan di dalam  Kerajaan  Allah  adalah Allah sendiri, lewat Yesus Kristus yang mengundang kita.  Nah, ajaran, teladan, perintah- perintah Yesuslah yang merupakan tatatertib dalam perjamuan makan tersebut. Apa syarat-syaratnya? Di depan Allah tiada seorang pun dapat merasa diri lebih besar, lebih penting, lebih berhak diterima dan dihargai oleh Allah melebihi orang lain.  Maka sadar akan kedudukan kita di hadapan Allah, yang sama martabatnya dan sama-sama dikasihi-Nya, jangan sampai di antara  kita ini kita saling melihat, bersikap, maupun berbuat sebagai orang yang merasa lebih berharga dan dibanggakan orang-orang lain.

Bukankah di hadapan Tuhan kita ini sebenarnya merasa sebagai orang yang jauh dari sempurna, punya kebaikan dan kelebihan, namun sekaligus juga punya kekurangan bahkan juga berdosa. Beranikah kita dalam menghadap Tuhan dalam perjamuan makan dalam Kerajaan Allah itu mencari dan memilih tempat yang terhormat melebihi lain-lainnya?

          Tetapi Kerajaan Allah yang didirikan Kristus itu bukan baru mulai kelak, melainkan sudah ada, yaitu sejak Yesus bangkit kembali, naik ke surga untuk mengirimkan Roh-Nya, yang akan memimpin Kerajaan-Nya itu.  Kita sebagai Gereja, sebagai persekutuan umat beriman, sudah dapat dan dalam kenyataannya sudah selalu diundang  untuk  berhimpun  merayakan  perjamuan makan bersama dalam Ekaristi.

          Dalam hadir dan merayakan Ekaristi sebagai perjamuan makan dalam Kerayaan Allah inilah kita harus patuh akan sikap, ajaran, perintah dan teladan Yesus Kristus, sebagai orang  yang sederhana, rendah hati. Adakah orang  yang  lebih sederhana, rendah hati  dari pada Yesus sendiri?  Adakah sikap taat dan  rendah hati terhadap Allah yang melebihi Yesus, Putera-Nya sendiri, yang rela dan siap menanggung penderitaan dan mati di salib? Ternyata sikap, hidup dan perbuatan tanpa pamrih dan sungguh rendah hati terhadap Allah dan sesama yang dikasihi-Nya, - itulah  ternyata yang mendapat penghormatan Allah yang tertinggi.

          Tetapi sikap rendah hati ini bukan hanya dalam ibadat, khususnya dalam perayaan Ekaristi, tetapi juga kita laksanakan dalam perjamuan, pertemuan, pelayanan kita dalam hidup sehari-hari kepada sesama.
 

 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/